Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 42


__ADS_3

Bab 42


"Mereka nggak boleh nikah."


Seisi ruang tamu terkejut mendengar suara Erin yang lantang.


"Uci dan Hengki nggak boleh menikah."


"Apa maksudmu Erin? Kenapa kamu bilang begitu?" Mama Gina menuntut penjelasan.


"Kenapa? Nggak boleh ya nggak boleh!"


"Iya, tapi kenapa?" Tanya mama makin bingung.


Erin malah menangis, "kalian, sama sekali tidak mengerti perasaanku!" Jeritnya berlalu ke kamar.


"Erin! Erin!" Mama Gina berteriak memanggilnya, namun Erin terus berlari ke kamarnya, tanpa memperdulikan.


"Biar papa aja yang ke atas." Ujar papa Hari, "Uci, selamat ya. Dan Hengki, om tunggu kedatangan keluargamu ke rumah." Sambungnya berlalu menyusul Erin.


Mama Gina memijit pelipisnya, ia tau jika Erin menyukai Arifin. Tapi jika Arifin sendiri saja tidak menyukai kenapa mesti dipaksakan? Ia tau bahkan mama Artika sempat kesal karena sikap Erin yang kurang ajar pada Sahabatnya itu.


"Kenapa, dia jadi seperti itu? Sikapnya yang egois, dan arogan itu. Astaga..."


"Mama, mama baik-baik aja, kan?" Uci khawatir,"minum dulu teh hangatnya,ma."


"Makasih, ci." Ucap mama menyeruput tehnya. "Apa aku salah dalam mendidik Erin? Padahal kalian keluar dari rahim yang sama. Tapi, sifat kalian, sangat berbeda."


"Enggak ma." Uci menggeleng,"Uci yakin mama sudah memberikan yang terbaik bagi mbak Erin. Uci yakin, mbak Erin pasti bisa berubah."


"Uci anak mama...." Mama Gina mengusap kepala Uci dengan sayang."terima kasih karena sudah menjadi anak mama yang baik."


"Kalau begitu, saya pulang dulu, Tan. Akan saya bicarakan dengan keluarga." Ucap Hengki pamit. Melihat reaksi papa dan mama nya Uci, Hengki tak perlu cemas karena restu sudah pasti di dapat dari kedua belah pihak. Masalah Erin, Hengki yakin papa Hari dan Mama Gina pasti bisa mengatasinya.


Di kamar Erin. Anak sulung mama Gina dan papa Hari itu duduk memeluk bantal dan menumpahkan semua air mata disana. Suara ketukan pintu terdengar di susul suara papa Hari yang membuka pintu.


"Ini papa, papa masuk ya?"


Erin tak terlalu memperdulikan sang papa yang mulai melangkah masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Erin."


"Kenapa sih pa? Wanita itu terus berusaha merebut semua milik Erin."tangis Erin memprotes.


"Siapa yang merebut?"


"Dia!" Sungut Erin mengusap kasar pipinya yang basah."Dia mengambil semua dari ku pa. Papa, mama, rumah ini... Lalu Arifin."


"Dia tidak mengambil semua itu, Erin. Mama dan papa, kami milik kalian berdua, cinta papa dan mama tidak berkurang sedikitpun untuk mu meski ada Uci." Terang papa Hari memberi sang anak sulung pengertian."dan rumah ini terlalu besar untukmu sendiri. Kalian berdua anak papa dan mama, jadi memang sudah di sepatutnya untuk berbagi. Harta papa dan mama tidak akan habis jika hanya untuk kalian, sayang."


Papa Hari mengusap punggung Erin. Sang anak sulung menyenderkan tubuhnya di dada papa Hari. "Kamu selalu hidup dalam limpahan kasih sayang dan materi dari kami. Tapi, Uci, sejak kecil dia hidup kekurangan karena orang yang jahat pada keluarga kita. Bahkan di detik terakhir, dia hampir saja harus menikah dengan pria yang seumuran dengan papa. Jika saja Hengki tidak datang tepat waktu dan mengungkap semuanya. Entah bagaimana nasip adikmu itu. Dia sudah menjalani hari yang berat selama beberapa tahun ini, Rin. Bayangkan saja jika yang di culik waktu itu adalah kamu... Apa kamu sanggup? Apa kamu masih bisa bersikap seperti ini?"


Erin menatap sang ayah, "papa.. jika dia menikah dengan Hengki, bagaimana dengan ku dan Arifin pa."


"Papa nggak memihak siapa pun, Rin. Papa hanya ingin kamu juga mengerti. Saat papa mendengar mamamu mengirimkan mu ke luar negeri, jujur saja papa merasa berat dan sakit. Tapi, apa yang mamamu lakukan itu karena kamu sudah bersikap tidak sopan pada Tante Artika. Kamu tau siapa mama Artika? Dia adalah mama nya Arifin. Jika kamu ingin menikah dengan Arifin, seharusnya kamu bersikap sopan padanya. Bukan memaki ataupun mengumpati mereka. Satu nilai buruk sudah mereka tancapkan padamu. Dan tentang Arifin, apa kamu yakin dia memiliki rasa padamu?"


Erin sadar, Arifin memang tidak mencintainya. Tapi ia masih memiliki harapan, suatu saat Arifin akan mencintai dirinya seperti yang selama ini ia lakukan.


"Aku ingin menikah dengan Arifin pa."


"Kalian tak bisa menikah jika Arifin saja tak mencintaimu, Rin."


"Papa dan mama juga akan merasa malu jika memaksakan untuk menjodohkan kamu dan Arifin. Sementara Arifin tak cinta, dan Artika kecewa padamu."


"Erin, tidak semua yang kita inginkan bisa kita miliki. Percayalah, jika kamu memaksa hanya akan melukai semua orang termasuk dirimu sendiri." Sambung papa Hari.


Papa hari mengankup wajah Erin dan menatapnya lembut, jempolnya menyeka pipi sang anak sulung yang basah."Kamu cantik Erin. Kamu berharga, carilah pria lain yang mencintaimu apa adanya. Bukankah kamu sudah berkelana ke luar negri? Papa yakin, di sana ada seseorang yang akan tetap mengejar mu, dan mencintaimu apa adanya. Sekarang, cobalah untuk bersikap sopan pada orang yang lebih tua. Berhenti bersikap egois dan menerima kenyataan bahwa keluarga itu tak menerima mu."


Erin tergugu, menangis sejadinya dan memeluk sang papa. Selama ini ia memang paling dekat dengan papanya.


Di rumah Keluarga Pak Bram.


"Mama..." Suara riang keluar dari mulut Hengki yang tiba-tiba pulang setelah beberapa hari pergi lagi ke jalanan.


"Aaahh, ya ampun, siapa lagi ini yang datang?" Sinis mama Artika melirik Hengki."Kenapa kamu kemari, huumm?"


"Mama, kenapa ketus begitu pada si bungsu yang ganteng ini?"


"Hahaha... Aku tak punya anak sepertimu, keluyuran dan tak pulang."

__ADS_1


"Sekarang anak mu ini pulang." Ujar Hengki memeluk tubuh sang mama.


"Menepi, menepi. Mama gerah, apa lagi kamu pulang pasti punya maksud tertentu. Katakan!"


"Aku sudah melamarnya, ma."


"Apa?"


"Aku sudah melamar Uci, dan dia terima."


Wajah mama tampak berubah, tak hanya mama papa Bram dan Arifin pun sama terkejutnya.


"Aku sudah melamar Uci, dan dia menerimanya, kami akan menikah. Tante Gina dan om Hari setuju. Mereka menunggu kalian datang untuk berembuk." Jelas Hengki tak kuasa menahan sudut bibirnya yang terus terangkat ke atas.


"Benarkah? Kalian akan menikah?" Ulang mama Artika tak percaya," Pa?"


"Kalau semua sudah positif, sebaiknya kita secepatnya ke sana untuk melamar secara resmi." Usul papa Bram."benar kan Vin? Kamu tidak keberatan kan jika Hengki dan Uci menikah?" Sambung papa Bram menoleh ke arah Arifin.


Arifin memang tampak terkejut sampai ia salah tingkah sendiri,"kenapa aku harus keberatan? Kenapa papa jadi bertanya padaku?"


"Yah, kita kan sama-sama tau jika kamu dan Erin itu sangat dekat, mungkin saja kamu keberatan."


"Uuhhh, papa jangan menggodaku. Aku tak suka pada Erin, kalian tau bagaimana sifatnya, sangat tidak cocok untuk di jadikan istri ataupun ibu."


"Mamaa juga tak akan setuju jika Arifin menikah dengan Erin." Timpal mama.


Papa Bram tergelak, ia juga tidak suka pada Erin. Apalagi, Erin pernah memaki sang istri dihadapannya, berlaku tak sopan pada orang tua yang harusnya di hormati.


"Lagi pula, meskipun Hengki dan Uci menikah, aku dan Erin tetap boleh menikah, kan ma?" Kini Arifin malah mengoda sang mama.


"Ooh jadi kamu lebih suka menghabiskan waktu dengan wanita seperti Erin. Ya silahkan saja. Tapi jangan mengadu dan mengeluh pada mama."


"Mama, lupakan masalah itu, bagaimana dengan kami? Apa kita bisa melamar dalam Minggu ini?" Sela Hengki yang sudah tak sabar ingin menghalalkan Uci.


"Cie, yang sudah nggak sabar." Goda mama.


"Serius nih,"


"Kapan pa?"

__ADS_1


"Terserah kalian aja, besok malam juga nggak papa." Cetus papa Bram.


"Besok malam mau, Ki?"


__ADS_2