
Hengki dan Uci masih berdiri di bukit pinggir pantai. Nampaknya Hengki hendak mengambil kesempatan dalam suasana romantis tersebut. Pria itu semakin mendekat pada Uci, dan hendak melayangkan kecupan ke bibir kekasihnya itu.
Namun, Hengki tidak dapat mendaratkan kecupan ke bibir Uci, karena gadis itu sengaja menghalangi Hengki dengan menutupi bibirnya menggunakan tangan. Ya, Uci dengan tegas menolak ciuman dari Hengki.
Hengki pun mulai menjauh dan mengurungkan niatnya untuk mencium pacarnya itu. Suasana pun mulai menjadi canggung. Dan Hengki merasa cukup malu karena nya.
"Maaf, Mas! Uci hanya ingin dicium oleh pria yang akan menjadi suami Uci nantinya," ujar Uci memaparkan alasannya menolak ciuman dari Hengki.
Hengki mengulas senyum. Bukannya kesal karena ciumannya ditolak, Pria itu pun makin dibuat jatuh hati oleh Uci.
"Maaf kalau Uci membuat Mas kesal. Tapi ini sudah menjadi prinsip Uci sejak dulu! Uci yang akan memberikan ciuman pertama Uci pada suami Uci nanti," ungkap Uci.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak meminta pendapatmu dulu," sahut Hengki mulai dibuat sungkan pada Uci.
Wajar saja jika Hengki menginginkan satu ciuman. Toh, Uci adalah pacarnya. Tapi sayangnya Uci tidak mau. Hanya pacar saja tidak bisa membuat Uci menyerahkan semuanya, termasuk ciuman pertamanya. Uci ingin suaminya nantilah yang akan mendapatkan ciuman pertamanya.
"Aku minta maaf, Mas," ucap Uci tanpa henti.
"Tidak perlu minta maaf. Harusnya aku yang malu. Aku benar-benar salut padamu," ujar Hengki memuji-muji Uci.
"Kamu sudah menjaga diri dengan baik," sambung Hengki.
Ya, pria itu justru makin dibuat jatuh cinta pada Uci. "Aku semakin yakin kalau aku tidak salah memilih wanita," sahut Hengki kemudian.
"Mas tidak marah padaku?" tanya Uci merasa tak enak hati karena sudah menolak Hengki.
__ADS_1
"Kenapa harus marah? Justru aku sangat berterima kasih padamu. Justru aku sangat bangga padamu," ujar Hengki. "Aku janji, aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi sebelum aku menghalalkan mu. Kelak akulah yang akan mengambil semua hal yang telah kamu jaga untuk suamimu. Terima kasih banyak kamu sudah menjaga diri sampai kita bertemu."
"Mas yakin sekali. Memangnya siapa yang bilang ingin menikah dengan Mas?" cibir Uci.
"Jangan bilang begitu! Kamu akan menyesal jika kamu menolak pinangan dari pria tampan sepertiku!" celetuk Hengki.
Uci tertawa kecil. Gadis itu sudah cemas hal ini akan memicu pertengkaran dengan Hengki. Tapi siapa sangka, pria itu ternyata tidak keberatan dengan prinsip yang sudah dipegang teguh oleh Uci. Pria itu ternyata tidak keberatan dengan pilihan yang diambil oleh Uci.
"Terima kasih ya, Mas!" ucap Uci pada Hengki.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Hengki.
"Terima kasih sudah membantu menjaga diriku! Terima kasih sudah membantuku menjaga sesuatu yang seharusnya aku jaga! dan tidak memaksakan kehendak."
****
Sore hari, Mama Artika nampak sibuk bersiap dengan pakaian rapi dan hendak pergi dari rumah. "Papa langsung saja ke sana! Nanti mama menyusul!" ujar Mama Artika pada Pak Bram melalui telepon.
Wanita paruh baya itu sudah membuat janji makan malam bersama dengan Pak Bram dan membuat reservasi di sebuah restoran mewah. Tidak hanya itu, Mama Artika juga berencana mengundang calon menantunya yang tidak lain ialah Uci.
Wanita paruh baya itu berniat untuk mengundang Uci makan malam bersama dengan keluarganya. Mama Artika hendak pergi ke Cafe Skylar dan mengundang Uci secara langsung untuk hadir di rumahnya guna menikmati makan malam bersama. Tentu saja hal ini dilakukan oleh Mama Artika demi Arifin. Karena wanita paruh baya itu sudah berniat untuk menjodohkan Arifin dan juga Uci, Mama Artika pun berencana untuk mendukung dan membantu Arifin mendekati Uci.
"Lebih baik aku pergi sekarang!" Mama Artika pun bergegas pergi ke Cafe Skylar. Niat hati ingin menghampiri Uci untuk mengundang makan malam, tapi wanita paruh baya itu justru melihat pemandangan tidak terduga.
Baru saja Mama Artika keluar dari mobil, wanita itu sudah melihat Uci yang berada di luar cafe bersama dengan seorang pria yang sangat familiar. Siapa lagi pria itu kalau bukan Hengki? Mama Artika melihat dengan jelas saat Uci dan Hengki saling berinteraksi.
__ADS_1
"Bukannya itu Hengki?" gumam Mama Artika memandangi putra bungsunya itu dari kejauhan.
Mama Artika pun bergegas kembali ke mobil dan mengamati putranya itu dari jauh. Nampak terlihat jelas sekali keakraban diantara Uci dan Hengki. Bukan hanya akrab, bahkan keduanya pun terlihat mesra.
"Mas Hengki, kenapa menjemput lebih awal? Aku masih ada sedikit pekerjaan di dalam," sapa Uci pada Hengki. Gadis itu menyempatkan diri menyapa kekasihnya sangat Uci tengah membersihkan sampah.
"Aku sudah tidak ada pekerjaan, karena itu aku langsung ke sini saja. Aku juga hanya menunggu sebentar, kan? Sebentar lagi kamu akan keluar, kan?" tanya Hengki sembari mengusap-usap rambut Uci dengan lembut. Tidak hanya mengusap-usap, Hengki juga menyingkirkan anak rambut Uci ke belakang telinga. Benar-benar interaksi yang cukup intim dan tidak mungkin akan dilakukan oleh pria dan wanita tanpa hubungan khusus.
"Kenapa Hengki ada di sini? Kenapa Hengki terlihat akrab sekali dengan uji?" gumam Mama Artika mulai penasaran dengan hubungan Uci dan juga Hengki.
Mama Artika pun mengingat kembali wanita yang pernah dibahas oleh Hengki. Hengki pernah berkata kalau dirinya ingin melamar seorang gadis. Tapi sayangnya pria itu belum sempat mengenalkan gadis yang dimaksud oleh Hengki. Mama Artika pun mulai curiga, kemungkinan besar gadis yang dimaksud oleh Hengki adalah Uci.
Tak hanya itu, Mama Artika juga mulai teringat kembali dengan perkataan Erin yang membahas mengenai Uci dan Hengki. Erin pernah berkata kalau Uci dan Hengki saling mengenal dan bahkan menjalin hubungan khusus. Mama Artika benar-benar tidak menyangka jika perkataan Erin ternyata bukanlah sebuah kebohongan.
"Ternyata Hengki dan Uci benar-benar saling kenal? Apa mungkin mereka juga mempunyai hubungan yang tidak aku tahu?" gumam Mama Artika mulai dibuat bingung dan merasa bersalah pada Hengki dan juga Arifin.
Perasaan Mama Artika pun mulai kacau begitu ia melihat Arifin yang ikut muncul di tengah-tengah Hengki dan Uci. Mereka bertiga saling berbincang ringan dengan akrab, tanpa tahu jika Mama Artika tengah mengawasi.
"Arifin?" gumam Mama Artika mulai merasa bersalah pada putra sulungnya yang hendak ia jodohkan dengan Uci itu. "Apa yang sudah aku lakukan?"
Mama Kartika pun bergegas meninggalkan Cafe Skylar dan mengurungkan niatnya untuk mengundang Uci menikmati makan malam. Meskipun wanita paruh baya itu belum mendapatkan penjelasan apapun dari Hengki, tapi Mama Artika yakin putra bungsunya itu memiliki hubungan yang tidak biasa dengan Uci, dan tidak seharusnya Mama Artika menghancurkan kebahagiaan dua putranya.
"Apa yang sebenarnya terjadi tanda tanya apa gadis yang dimaksud oleh Hengki itu adalah ... Uci?"
****
__ADS_1