Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 47


__ADS_3

Bab 47


Hengki menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari nya. "Mas ke toilet dulu ya? Tunggu di kantor."


Hengki beralih menatap Ahsan, "kembali bekerja."


Ahsan mengangguk, dan pergi untuk mencuci motor. Tinggalah Uci seorang diri, menatap punggung Hengki yang menjauh dan berganti pada Ahsan yang terlihat enggan mencuci motor. Uci tak sabar menunggu, ia memilih mendekat ke arah Ahsan.


"Ada apa sih san? Ngomong sama mbak."


"Nggak tau mbak aku mesti ngomong kek gimana? Aku kan cuma orang baru dan masuk karena embak."


"Terus?"


"Ada senior yang nyuruh-nyuruh, pas ku lagi istirahat. Yang namanya kerja kan mbak pasti juga capek. Makanya aku ngelawan, mas Hengki datang, tapi dia nya belain senior. Aku bisa apa mbak. Dari pada nggak kerja, di marahin ya aku terima." Ungkap Ahsan mencuci motor.


"Oohh, ya sudah sih, sementara nurut dulu. Nanti kalau mbak udah dapat kos, dan bisa nyariin kamu kerjaan yang lain, kamu bisa keluar dari sini."


"Mbak mau nyariin kerjaan buat ku? Jangan yang kasar kek gini mbak. Capek." Keluh Ahsan."kerjaan kek mbak Uci nih, enak, santai, gajinya gede."


Uci tersenyum kecil dengar permintaan sang adik. Lucu sekali, padahal Ahsan bahkan tak lulus sekolah SMA karena terlalu banyak tingkah, ini malah minta kerjaan yang pasti butuh ijazah dan skill yang bagus. Dari arah toilet di belakang, Hengki terlihat keluar.


"Mbak nemuin mas Hengki dulu, ya?"


"Eeh, mbak, bentar. Duwit."


Uci tertegun, "uang yang kemarin udah abis?"


"Udah mbak. Kan di bagi dua sama Vita. Lagian kami juga butuh makan."


Uci mengeluarkan dompetnya, lalu menarik uang biru satu lembar. "Nih,"


"Limpul mbak? Tambahin lah."


"Itu dulu ya, nanti ku tambahin." Ucap Uci berlalu.


Uci dan Hengki berjalan beriringan ke kantor. "Kan udah kubilang ke kantor. Ngapain masih ngetime di sana." Celetuk Hengki.


"Mas mau cerita?"


"Apa kata adikmu?"

__ADS_1


"Yah, senioritas gitu." Ucap Uci. Ia paling hapal dengan adiknya, ia sangat tau seperti apaa Ahsan. Tapi ketika Ahsan bercerita, Uci mendengarkan aja dan tidak berkomentar banyak. Karena jika di tanggapi tidak sesuai dengan maunya, hanya berakhir dengan marah-marah tak jelas seperti Bu Sumi.


"Duduk sini!" Hengki memutar kursi di depan sebuah meja yang diatasnya terdapat komputer. Uci duduk. Hengki mengklik beberapa file folder. Kemudian sampai pada bagian yang terhubung oleh CCTV.


"Mas nggak akan mengatakan apapun. Tapi biar mas tunjukan cctv nya, biar benda ini yang jelasin ke kamu." Ungkap Hengki. Uci mengangguk.


Mata Uci melebar saat melihat layar di komputer. Menampilkan Ahsan yang hanya malas-malasan, bahkan terlihat dia menunjuk-nunjuk. Lalu saat seseory mencoba menegurnya, terlihat sekali Ahsan yang marah-marah. Bahkan beberapa pekerja seperti sedang menahan dua orang yang hendak berkelahi. Saat itu, Hengki datang dan menjadi pemisah.


Uci berganti memandang Hengki,"mas, aku..."


"Sebenarnya, dalam CCTV ini di lengkapi dengan suara. Tapi, mas nggak mau kamu dengar."


Uci merasa tak enak hati pada Hengki. "Apa dia menyebut-nyebut tentang hubungan kita?"


Hengki mengangguk sebagai jawaban. Uci tertawa getir. Ia sangat ingin menolong mantan keluarga nya tapi, memang mereka sudah tidak tertolong lagi.


"Maaf, mas. Mas jadi repot gara-gara Uci."


"Mas bisa atasi ini,"


"Apa yang harus aku lakukan mas?"


"Tapi, mas pasti..."


"Biar mas atasi, kamu jangan stres, pernikahan kita tinggal 5 hari lagi. Dua hari lagi kita bahkan tak bisa bertemu. Masalah kedua adikmu, biar mas yang urus."


Hengki menangkup pipi Uci, menatap dengan pandangan kasih. Jempol Hengki bergerak menyentuh bibir ranum Uci. Mengusap lembut di sana. Wajah Hengki semakin mendekat, debaran semakin kencang menggedor rongga dada Uci. Mungkinkah Hengki akan mencoba untuk menciumnya lagi kali ini? Dan melupakan janjinya? Tangan Hengki bergeser ke belakang kepala Uci, menyusup diantara rambut hitam yang lembut dan berkilau. Bibir Hengki semakin mendekat, bukan ke bibir Uci, tapi ke kening wanita yang jantungnya semakin tak sehat saja.


Saat ini Hengki sangat ingin mencium bibir kekasihnya itu. Jika tidak terhalang oleh prinsip Uci yang ingin menjaga untuk suami sah di malam pertama. Dan janjinya yang dua kali ia ucapkan saat Uci menolaknya. Saat menjadi kekasih dan saat mereka menjadi tunangan.


Waktu bergulir, setelah Hengki mengantar Uci pulang. Ia pergi ke kafe skylar untuk pengecekan rutin sebelum tutup. Jika dulu saat Uci parttime di sana Hengki melakukan nya di awal shift pagi. Kali ini ia briefing di akhir shift.


Vita menatap pria tampan yang kini sedang melepas helm nya dan masuk melalui pintu samping. Di kafe skylar memang di dominasi dengan dinding berbahan kaca, jadi bisa terlihat dari luar ataupun dalam.


"Mbak Uci beruntung sekali, punya pacar seganteng dan sekaya mas Hengki tapi bersikap sederhana sampai ibuk berpikir dia gambel. Tambah lagi mbak Uci ternyata anak orang kaya. Ya ampun... Aku iri sekali. Kenapa dia beruntung sekali." Gumam Vita berjalan melamun sambil melihat ke arah Hengki.


Sial baginya, malah menubruk bangku sampai terjatuh.


"Aduuhh,"pekik Vita.


"Kamu nggak papa? Kok bisa sampai jatuh sih, Ta?" Cetus Hengki membantu Vita berdiri. Vita terus menatap Hengki, merass Hengki sangat perhatian padanya. Jarak wajahnya dengan wajah Hengki sangat dekat sampai ia bersemu merah.

__ADS_1


"Duduk dulu, ta." Ucap Hengki lagi menuntun Vita ke kursi terdekat. "Ada yang sakit nggak?"


Vita menggeleng cepat.


"Syukurlah kalau begitu."


"Ada apa mas?" Tanya salah satu waiters mendekat.


"Ini Vita jatuh tadi. Tolong bantu dia ya." Pinta Hengki, sampai waiters itu semakin dekat dan hampir menginjak kaca yang berserak di lantai, " Awas nanti kena pecahan kaca." Hengki memperingatkan sampai waiters itu sedikit terlonjak dan menghindari pecahan kaca.


"Biar aku aja yang beresin. Bantu Vita ya?"


"Siap, mas!"


Hengki mengambil sapu dan serokan. Lalu mengumpulkan semua pecahan kaca ke dalam seorokan. Vita memperhatikan dengan perasaan kagum dan suka."mas Hengki baik sekali dan sangat perhatian." Batin Vita yang wajahnya semakin memerah."andai saja aku bisa jadi kekasihnya, betapa bahagianya aku... Kapan aku bisa seberuntung itu?" Ia membantin lagi.


Hari berganti, kali ini Uci ingin melihat adik perempuan nya yang bekerja di kafe Skylar.


"Mas, kita ke Skylar ya? Aku kangen. Skalian pingin lihat Vita." Pinta Uci saat Hengki menjemput nya dengan sepeda motor jadul kebanggaan Hengki.


Hengki terdiam sesaat,"Boleh,"


"Vita nggak buat masalah kan di sana?"


"Buat masalah sih enggak,"


Uci menatap Hengki menyelidik,


"Udah, cepat naik." Titah sang kekasih dengan senyuman di wajah tampannya.


"Mas," panggil Uci yang kini sudah duduk manis di belakang Hengki dan memeluk perut pria itu.


"Heemm?"


"Vita nggak bikin masalah buat mas kan?"


"Ci, mas sayang banget sama kamu, dan mas pingin kamu tau itu. Perasaan ini nggak akan pernah pudar, ci. Kamu percaya kan sama mas?"


Ungkapan dari Hengki justru membuat tanya di hati Uci.


_______

__ADS_1


__ADS_2