
Bab 8
[Mas di mana? Masih sibuk kerja?]
Uci mengirimkan pesan singkat pada Hengki sembari memasukkan uang ke dalam amplop kecil. Hari ini Uci akan mulai mencicil pinjamannya pada sahabat baiknya itu.
Meskipun ia sangat dekat dengan Hengki, tapi Uci tidak bisa bersikap seenaknya pada Hengki. Utang tetaplah utang. Tidak peduli status mereka yang sudah berteman baik, Uci tetap harus menjalankan kewajibannya untuk membayar lunas uang yang sudah ia pinjam.
[Kenapa? Kamu ingin bertemu? Biar aku saja yang ke sana!]
Uci mengulas senyum. Sambil membawa amplop yang sudah berisikan uang cicilan, gadis itu bersiap untuk menjumpai Hengki. Tak lupa ia juga membawakan beberapa bungkus makanan untuk diberikan pada Hengki.
[Biar aku saja yang datang! Aku berangkat sekarang!]
Uci pun lekas bergegas menuju ke tempat carwash di mana Hengki bekerja. Satu-satunya tempat yang bisa ia datangi untuk mencari Hengki hanyalah tempat carwash itu. Tempat kerja Hengki juga tidak jauh dari kontrakan Uci. Gadis itu berlari kecil menghampiri Hengki, begitu ia melihat Hengki yang tengah duduk bersantai di tempat carwash.
"Mas Hengki!" panggil Uci sembari melambaikan tangan dengan semangat pada Hengki.
"Untuk apa kamu kemarin? Aku sudah bilang biar aku saja yang ke sana!" omel Hengki.
"Tidak apa-apa. Pekerjaan Mas masih juga belum selesai, kan?" sahut Uci.
Gadis itu memeriksa kembali isi kantong plastik yang ia bawa kemudian menyerahkannya pada Hengky. "Tadi aku membuat risol di kontrakan. Ini untuk kamu!"
Hengki membulatkan mata, kemudian menerima bungkus plastik yang disodorkan oleh uji dan. "Wah, ada angin apa ini tiba-tiba kamu memasak di kontrakan?" cibir Hengki.
"Lebih baik aku mau masak saja. Lebih hemat dan juga lebih enak," celetuk Uci.
"Terima kasih, ya!"
"Aku juga ingin memberikan ini!" cetus Uci kemudian memberikan amplop uang untuk Hengki.
"Apalagi ini?" tanya Hengki dengan dahi berkerut.
"Buka saja!" seru Uci.
Hengki melirik sekilas ke arah Uci. "Bukan surat cinta, kan? Aku belum ingin menikah!" celetuk Hengki.
Uci mencubit pinggang Hengki dengan geram. "Jangan harap aku akan memberimu surat semacam itu!" cibir Uci.
Hengki tergelak. Tawa pria itu mendadak terhenti begitu ia melihat uang yang tersimpan di dalam amplop yang ia buka.
__ADS_1
"Aku hanya bisa mencicilnya sedikit demi sedikit! Aku akan melunasinya secepat mungkin!" ujar Uci kemudian.
Hengki melempar senyum tipis. Pria itu benar-benar menghargai usaha Uci dan tidak ingin menodai perjuangan gadis itu. Uci pasti akan terluka jika Hengki tidak menerima cicilan uang itu.
"Baiklah! Aku akan mencatatnya nanti! Terima kasih banyak!" ucap Hengki.
Uci mulai dapat bernapas lega. Hengki benar-benar memahami dirinya. Uci tidak ingin dikasihani, dan Hengki juga tahu untuk tidak melukai harga diri Uci.
Meskipun miskin dan tengah kesulitan, tapi Uci tak pernah mau menerima bantuan secara cuma-cuma. Karena itulah Hengki menerima uang cicilan dari Uci hanya demi membuat gadis itu merasa nyaman.
"Makan dulu risolnya! Masih hangat!" ujar Uci.
"Sini duduk! Kita makan bersama!" ajak Hengki pada Uci.
Mereka berdua pun menikmati risol bersama sembari berbincang ringan selamat tempat carwash tidak ada pelanggan. "Setelah ini kamu ada kegiatan tidak?" tanya Hengki.
"Kenapa?" tanya Uci.
"Sebenarnya hari ini aku libur. Kamu ingin pergi berjalan-jalan denganku?" ajak Hengki.
"Jalan-jalan ke mana?"
"Kamu pernah pergi ke pameran barang-barang vintage?" tanya Hengki.
"Belum!"
"Apa kamu mau mencoba melihat pameran?" ajak Hengky.
Uci mengangguk dengan girang. Sudah lama juga tidak meluangkan waktu untuk menghibur diri.
"Boleh!" sahut Uci.
Hengki memang menyukai barang-barang vintage. Pria itu nampak menikmati saat berjalan-jalan melihat pameran barang-barang yang ia suka.
"Kamu mau beli minuman apa?" tawar Hengki.
"Air mineral saja!" sahut Uci.
"Mana boleh hanya air mineral! Aku belikan yang lain, ya?" cetus Hengki.
Mereka pun menikmati pameran sembari meneguk minuman segar yang dibelikan oleh Hengki. Keduanya berkeliling di tempat pameran hingga matahari tenggelam.
__ADS_1
"Sepertinya Mas suka sekali pameran seperti ini," tukas Uci.
"Aku memang suka sesuatu yang berhubungan dengan barang-barang vintage. Motor klasikku juga keren, kan?" celetuk Hengki.
Uci hanya manggut-manggut tanpa banyak berkomentar. Setelah puas berkeliling, keduanya pun mulai bersiap untuk memilih menu makan malam yang akan mereka santap bersama.
"Kamu sudah lapar?" tanya Hengki pada Uci.
"Mas ingin makan sekarang?"
"Kita makan sekarang saja, ya!"
Keduanya pun bergegas mencari tempat makan di pinggir jalan. Hengki pun mengajak Uci untuk menyantap sate yang dijual tak jauh dari tempat pameran.
"Sudah lama sekali aku tidak menikmati waktu santai seperti ini," ujar Uci.
"Kamu terlalu sibuk bekerja. Kamu harus lebih sering meluangkan waktu untuk bersantai seperti ini," sahut Hengki.
"Aku juga ingin bisa menikmati waktu berlibur. Aku juga ingin bisa menikmati waktu memanjakan diri. Tapi sepertinya sulit," cetus Uci dengan wajah muram.
"Meluangkan waktu kamu untuk mengistirahatkan diri kamu! Tubuh kamu pasti juga capek. Jangan terlalu memaksakan diri!"
Rasa stress karena tekanan dari keluarganya membuat Uci sampai lupa mengurus dirinya sendiri dan membahagiakan dirinya sendiri. "Aku akan meluangkan waktu lebih sering untuk mengurus diri," tukas Uci.
Malam semakin larut. Sebelum tengah malam, Hengki pun bergegas mengajak Uci untuk pulang dan mengakhiri kencan dadakan mereka.
"Kita pulang sekarang saja bagaimana?" ajak Hengki.
"Sudah malam, ya? Benar-benar tidak terasa, ya?"
Masih dengan mengendarai motor klasik Hengki, keduanya pun memulai perjalanan pulang menuju ke rumah masing-masing. Di tengah perjalanan, Hengki menyempatkan diri untuk mampir ke minimarket sejenak untuk membeli sesuatu.
"Aku mampir sebentar, ya? Ada yang ingin aku beli!" ujar Hengki.
"Tentu!" Hengki segera membelokkan motornya dan memarkirkan kendaraan roda duanya itu di depan minimarket yang tidak memiliki banyak pengunjung.
Saat hendak masuk ke dalam minimarket, Hengki dan juga Uci tanpa sengaja berpapasan dengan seseorang yang sangat familiar. Uci membelalakkan mata begitu ia berjumpa dengan seorang pria yang tidak lain ialah bosnya sendiri, Arifin.
"Tuan Arifin?"
****
__ADS_1