Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 15


__ADS_3

Bab 15


"Uci!" panggil Hengki pada Uci begitu pria itu sampai dikontrakkan Uci. Tak lama kemudian, Uci pun keluar dari kontrakan kecil yang ia tinggali.


Gadis itu cukup terkejut melihat Hengki yang datang dengan penampilan rapi. "Mas Hengki? Rapi banget!" komentar Uci.


Tentu saja Hengki sengaja berpenampilan rapi. Pria itu berniat mengajak Uci untuk menikmati kencan bersama. Tentunya Hengki ingin memberikan kesan yang baik dengan tampilan yang bersih dan rapi di depan sang pujaan hati.


"Bagaimana? Aku terlihat tampan, kan?" celetuk Hengki sembari tertawa kecil pada Uci.


Uci pun mengamati dengan seksama penampilan Hengki dari ujung kaki hingga kepala. "Sangat tampan!" ungkap Uci sembari menunjukkan dua jempol tangannya pada Hengki.


Keduanya pun bergegas meninggalkan kontrakan dengan menaiki motor klasik milik Hengki. Pria itu mengajak Uci berkeliling dan menikmati langit senja yang indah di sore hari.


"Mas Hengki bilang ingin memberiku kejutan, kan? Kejutan apa?" tanya Uci pada Hengki.


"Nanti kamu juga tahu! Bukan kejutan namanya kalau aku memberitahumu sekarang!" sahut Hengki.


Hengki pun mulai melajukan kendaraan roda duanya menuju ke arah pantai. Di sore hari seperti ini, memang tempat bagus yang bisa ia tuju hanyalah pantai. Hengki bisa mengajak Uci untuk menikmati indahnya matahari tenggelam bersama.


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Uci.


"Coba tebak! Kira-kira aku akan mengajak kamu ke mana?" cetus Hengki.


"Mas bilang ingin mengajakku makan malam, bukan?" tanya Uci.


"Tapi kan ini belum malam! Kamu sudah lapar? Kamu ingin makan sekarang?"


"Tidak juga, sih!" sahut Uci.


"Kita jalan-jalan saja dulu! Setelah itu baru nanti aku akan mentraktir makan malam sepuasnya untukmu!" ujar Hengki.


Uci pun makin dibuat penasaran dengan maksud Hengki. "Sepertinya Mas sedang senang, ya? Apa Mas menang lotre? Atau Mas naik gaji?"


Hengki tersenyum-senyum sendiri. Mungkin sebentar lagi pria itu akan benar-benar memenangkan lotre.


"Mas juga ingin sekali bisa memenangkan lotre! Tolong bantu Mas nanti, ya!" sahut Hengki membuat Uci semakin kebingungan.


Tak lama kemudian, akhirnya dua insan itu pun tiba di pantai. Untungnya pantai tidak terlalu ramai. Hengki segera mengajak Uci untuk menaiki salah satu bukit atas pantai untuk bisa melihat sunset.

__ADS_1


"Untuk apa mas mengajakku ke pantai?" tanya Uci.


"Untuk apa lagi? Tentu saja untuk mengajakmu melihat sunset!" ungkap Hengki.


Pria itu pun menggandeng tangan Uci, hingga akhirnya mereka tiba di atas bukit. Suasana pinggir pantai benar-benar indah. Ditambah lagi semburat jingga yang terlihat jelas menghiasi langit, membuat Uci makin terpesona dengan pemandangan pantai.


"Wah, bagus sekali pemandangan di sini!" gumam Uci dengan manik mata berbinar.


"Bagus, kan?" Hengki benar-benar lega melihat wajah girang yang ditunjukkan oleh Uci. Setidaknya pria itu tidak salah memilih tempat.


Perlahan, matahari mulai menghilang, tenggelam ke dasar lautan. Tak lama lagi, langit jingga pun akan ikut berubah warna.


Sementara Uci tengah menikmati damainya suasana, Hengki sendiri justru terlihat begitu gelisah di samping Uci. 'Aku bilang sekarang atau nanti saja ya?' batin Hengki.


"Ternyata sunset di pantai sini indah sekali, ya?" ujar Uci.


"Benar. Bukan hanya sunsetnya saja yang indah ...."


Uci menoleh ke arah Hengki. Tiba-tiba saja, pria itu meraih tangan Uci dan menggenggam erat jemari gadis itu.


"Aku ingin mengatakan sesuatu!" ucap Hengki.


Jantung Hengki mulai berdebar kencang. Pria itu mengatur nafas sejenak sebelum kembali membuka suara.


"Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku juga tidak tahu apakah kamu akan terkejut dengan perkataanku atau tidak," ujar Hengki mulai membuka perbincangan.


'Sebenarnya Mas Hengki ingin mengatakan apa?' batin Uci.


"Katakan saja, Mas!" sahut Uci.


Hengki terlihat semakin gelisah. "Aku ingin mengatakan hal ini sejak lama. Tapi aku takut, aku hanya akan merusak hubungan baik yang sudah terjalin di antara kita."


Perkataan Hengki pun makin membuat Uci merasa curiga. Sepertinya pria itu ingin mengungkapkan perasaannya pada Uci saat ini juga.


"Aku menyukaimu!" ungkap Hengki tiba-tiba.


Uci mematung. Perkataan Hengki sukses membuat Uci sesak nafas. 'Apa maksud Mas Hengki?' batin Uci.


"Aku menyukai kamu ... bukan sebagai teman. Tapi sebagai wanita."

__ADS_1


Uci masih diam. Gadis itu membiarkan Hengki berbicara panjang lebar dan meluapkan seluruh isi hati yang selama ini sudah lama terpendam.


"Aku menyukai kamu. Sangat suka. Aku suka suara kamu. Aku suka senyuman kamu. Aku suka semuanya tentang kamu," ungkap Hengki.


Pria itu memberanikan diri menatap mata Uci. Memang dirinya tidak bisa menyiapkan sesuatu yang romantis untuk mengungkapkan isi hatinya. Tapi ia harap, dengan caranya yang sederhana perasaannya tetap dapat tersampaikan dengan baik.


"Aku sudah lama menyukai kamu, Uci. Aku menyayangi kamu. Aku mencintai kamu," sambung Hengki.


Uci menelan ludah kasar. Lidahnya mendadak menjadi kelu. Gadis itu benar-benar tak tahu bagaimana ia harus memberikan tanggapan atas perkataan Hengki.


"Bagaimana pendapat kamu tentang aku?" tanya Hengki.


Kini giliran gadis itu yang harus membuka suara. Sementara, pikiran Uci sendiri sedang kacau. Uci benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Hengki sekarang.


Suasana menjadi hening seketika. Uci masih tidak sanggup untuk berbicara.


'Kenapa Uci diam saja?' batin Hengki mulai dibuat gundah.


"Kamu marah, ya?" tanya Hengki pada Uci.


Jujur saja, Hengki sangat takut jika hubungannya dengan Uci akan rusak karena pernyataan cintanya. Tapi pria itu juga tak mau lagi memendam rasa yang ada di hatinya lebih lama.


"Uci? Kenapa kamu melamun?" tegur Hengki.


"Hm? Tidak! Aku tidak melamun."


Hengki tersenyum kecut. "Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku. Pasti kamu terkejut?" cetus Hengki.


Tentu saja Uci sangat terkejut. Sebelumnya, mereka tidak membahas hal apa pun mengenai perasaan, tapi tiba-tiba Hengki mengatakan hal seperti ini pada Uci.


"Aku ... agak terkejut mendengar perkataan kamu," sahut Uci dengan senyum canggung.


"Apa kamu juga memiliki rasa yang sama denganku?" tanya Hengki.


Uci sendiri juga tidak tahu dengan isi hatinya sendiri. Uci tidak yakin hal yang ia rasakan pada Hengki saat ini adalah cinta. Memang Uci merasa nyaman berada di dekat Hengki. Tapi Uci tidak yakin, perasaan aman dan nyaman yang ia miliki saat ini adalah bentuk cinta untuk Hengki.


Hal yang ia rasakan pada Hengki, benar-benar berbeda dengan hal yang ia rasakan di saat uji tengah berada di sekitar Arifin. Setiap kali Uci berada di dekat Arifin, Uci merasakan debaran kencang di hatinya. Namun, gadis itu tidak merasakan hal tersebut di saat dirinya berada di dekat Hengki.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menerima perasaan Mas Hengki?' batin Uci bimbang.

__ADS_1


Ternyata inilah kejutan yang dimaksud oleh Hengki sebelumnya. Kejutan yang benar-benar sukses membuat Uci terkejut.


*****


__ADS_2