Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 6


__ADS_3

Bab 6


Uci terus menundukkan kepala usai ia mendapatkan senyuman dari Arifin. Pertemuan keduanya dengan Arifin membuat perasaan gadis itu merasa tidak enak.


'Aku tidak akan terkena masalah di sini, kan?' batin Uci mulai cemas.


Ingin sekali gadis itu segera kabur dan meninggalkan pabrik. Uci teringat kembali dengan keributan yang sempat terjadi di cafe tempo hari. Masih melekat jelas di ingatan Uci saat dirinya dimaki-maki oleh wanita yang datang bersama dengan Arifin.


'Sepertinya orang itu masih mengingatku,' batin Uci makin merasa tidak nyaman.


Begitulah pertemuan kedua antara Uci dan Arifin. Sangat singkat dan tanpa percakapan apa pun. Mengingat Arifin juga adalah pimpinan perusahaan, sementara Uci masih karyawan level bawah, tidak ada alasan juga untuk mereka berdua saling berinteraksi.


Meskipun mereka masih saling mengenali satu sama lain, tapi dalam pertemuan tersebut, Uci dan Arifin tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa mempunyai kesempatan untuk saling bertegur sapa.


Barulah siang harinya, saat Uci hendak mengambil jatah makan siang, gadis itu berjumpa dengan Arifin. Uci benar-benar terkejut saat dirinya tengah mengantri mengambil makanan di kantin. Siapa sangka ia bisa kembali bertemu dengan Arifin di tempat yang tak biasa.


'Kenapa Tuan ini ada di sini?" batin Uci.


Tidak seperti bos pada umumnya, Arifin ternyata lebih memilih menikmati makan siang di kantin bersama dengan para karyawan daripada menikmati makan siang di luar bersama dengan para atasan lainnya. Arifin juga dapat berbaur dengan para karyawan dengan baik tanpa merasa tinggi hati karena jabatannya sebagai pemilik PT.


'Jarang-jarang ada bos yang ingin makan di kantin,' batin Uci.


Pria itu juga bersikap ramah pada karyawan, termasuk pada Uci. Ya, Arifin menyempatkan diri bertegur sapa dengan Uci di saat dirinya tengah mengantri makan siang.


"Kamu yang di Cafe Skylar tempo hari itu, kan?" tanya Arifin untuk memastikan kalau dirinya tidak salah orang.


Karena sudah mendapatkan sapaan, tentu saja Uci harus membalas. Tak sopan juga jika gadis itu mengabaikan sikap ramah seseorang, terlebih lagi dari atasannya sendiri di tempat kerja.


"Betul, Tuan! Saya yang menumpahkan minuman ke celana Tuan tempo hari," terang Uci nampak malu sekali saat Arifin membahas kembali mengenai keributan waktu itu.

__ADS_1


"Wah, saya benar-benar tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan kamu di sini! Ternyata kamu bekerja di sini juga?" tanya Arifin.


Uci tertegun. Ia kira dirinya akan dipermalukan. Tapi ternyata Arifin sangat ramah dan juga sopan. Pria itu juga tidak mencoba mengungkit kesalahan Uci yang sempat bersikap ceroboh menumpahkan minuman ke pakaiannya tempo hari.


"Betul, Tuan. Saya bekerja di sini. Saya juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Tuan lagi di sini," sahut Uci.


Tadinya Uci merasa cemas dan gelisah saat melihat wajah Arifin. Takut jika karirnya akan terancam karena keributan di cafe sebelumnya. Tapi setelah berbincang sejenak dengan Arifin, kegelisahan gadis itu pun langsung sirna. Keramahtamahan Arifin telah berhasil menghilangkan kegundahan dan rasa bersalah yang menyiksa uji selama beberapa hari terakhir.


"Kamu sudah selesai mengambil makanan?" tanya Arifin. "Kita duduk di sana saja, ya!" ajak Arifin tanpa sungkan meminta pegawainya itu untuk menikmati makan siang bersama dengan dirinya.


'Tuan Arifin mengajakku memakan makan siang di meja yang sama?' batin Uci tidak percaya.


"Kenapa bengong? Ayo cepat!" seru Arifin.


Uci pun mengekori Arifin dan duduk di meja yang sama dengan bosnya itu. Kehadiran Arifin di kantin tentu saja berhasil mencuri perhatian para pegawai lainnya. Terlebih lagi pria itu saat ini tengah menikmati makan siang ditemani oleh salah seorang pegawai wanita.


'Tidak apa-apa kan kalau aku mau memakan makan siang dengan bos? ' batin Uci merasa tak nyaman melihat dirinya yang menjadi pusat perhatian. Jabatan Arifin benar-benar membuat Uci merasa terintimidasi meskipun Arifin tidak melakukan apa pun pada dirinya.


"Sudah cukup lama, Tuan," jawab uci dengan sopan. Gadis itu bahkan tidak berani mengangkat sendoknya saat tengah duduk bersama dengan Arifin.


"Lalu di cafe Skylar itu?" tanya Arifin dengan dahi berkerut.


"Oh, itu pekerjaan sampingan saya. Saya mencari penghasilan tambahan, jadi saya bekerja di cafe itu juga," sahut Uci.


"Oh, begitu. Hari ini kamu ada lembur?" tanya Arifin lagi mengajak berbincang ringan sampai kecanggungan Uci menghilang.


"Betul, Tuan. Hari ini saya ada lembur," ungkap Uci.


Percakapan mereka pun mulai mengalir dan Uci mulai bisa bersikap santai seperti biasa di depan Arifin. Arifin sendiri juga tidak memiliki Aura yang mengintimidasi, sehingga Uci bisa merasa nyaman berada di sekitar Arifin, meskipun gadis itu saat ini tengah berhadapan dengan seorang bos besar.

__ADS_1


"Mengenai keributan di cafe tempo hari ... aku minta maaf. Aku minta maaf atas nama temanku," ucap Arifin tiba-tiba.


Uci tak menyangka dirinya akan mendapatkan permintaan maaf dari Arifin. Gadis itu yang bersalah, tapi justru Arifin yang meminta maaf pada Uci.


"Tidak, Tuan. Sayalah yang bersalah. Wajar saja teman Tuan merasa marah pada saya. Saya sudah bersikap ceroboh," ujar Uci merasa sungkan. "Tuan tidak perlu meminta maaf seperti ini pada saya," sambung Uci.


"Kamu juga tidak sengaja, kan? Seharusnya Erin tidak berteriak seperti itu padamu dan mempermalukanmu di depan banyak orang. Aku minta maaf atas sikap temanku yang terlalu kasar dan berlebihan," cetus Arifin tak henti-hentinya meminta maaf pada Uci.


"Saya juga minta maaf, Tuan. Saya memang tidak sengaja, tapi saya tetap bersalah," sahut Uci.


Arifin mengulas senyum pada Uci. Kini sudah tidak ada lagi hal yang mengganjal di antara mereka. Baik Uci maupun Arifin sudah saling memaafkan dan tidak ingin mengungkit kembali masalah tersebut.


"Baiklah. Semuanya sudah selesai, kan? Aku sudah memaafkan kamu. Kamu juga mau memaafkan temanku, kan?" sahut Arifin.


Uci ikut merasa lega. Bos dan anak buah itu pun melanjutkan kembali acara makan siang mereka sembari berbincang ringan.


Arifin benar-benar pintar membangun suasana. Pria itu dapat mengakrabkan diri dengan Uci dalam waktu singkat. Uci sendiri juga merasakan interaksi menyenangkan dengan Arifin. Walaupun pria itu adalah atasannya, tapi Uci tak merasa minder sedikit pun dan merasa nyaman menghabiskan waktu dengan sang bos.


'Ternyata Tuan Arifin sangat baik dan ramah,' batin Uci merasa bersyukur memiliki atasan yang begitu baik. Kini gadis itu tidak perlu mencemaskan kembali pekerjaannya baik di pabrik maupun di cafe.


"Kamu sudah selesai makan? Tambah saja," ujar Arifin pada Uci.


"Sudah, Tuan. Saya sudah kenyang," cetus Uci malu-malu.


"Terima kasih sudah menemaniku menikmati makan siang. Semangat kerjanya, ya!" pamit Arifin pada Uci.


Waktu istirahat pun usai. Uci harus segera kembali bekerja. Gadis itu pun melanjutkan pekerjaannya dengan senyum cerah dan aura ceria.


"Akhirnya semuanya sudah selesai!" gumam Uci mulai bisa merasa tenang, akhirnya permasalahannya dengan Arifin dapat diselesaikan dengan baik.

__ADS_1


****


__ADS_2