Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 32


__ADS_3

Bab 32


"Restu!"


"Kenapa?"


"Aku harus ke kampung Uci sekarang." Cetus Hengki pada salah satu karyawannya.


"Kenapa?"


"Oiya, kamu pakai koneksi yang kamu punya untuk mencari tau siapa juragan Andi. Dia sepertinya orang berpengaruh di kampung Uci." Titah Hengki sambil memakai jaket kulitnya.


"Okey, kenapa tidak kamu skalian saja yang mencari tau? Bukankah kamu mau ke kampung pacarmu?" Tanya Restu heran.


"Aku tak yakin punya cukup waktu, Uci bilang dia akan di nikahkan dengan juragan Andi. Karena itu...."


"Oo, okey, aku mengerti. Pergilah." Potong Restu mengerti situasi genting yang sedang Hengki hadapi.


Pria tampan yang resmi menjadi kekasih Uci beberapa bulan yang lalu itu menuruni tangga kafe skylar. Yaa, Hengki bukan hanya seorang pekerja di kafe itu seperti Uci. Ia adalah pemilik kafe skylar, begitupun dengan carwash.


"Hengki? Kamu mau kemana?" Sergah mama Artika yang baru saja turun dari mobil bersama Arifin. Melihat sang anak bungsu tergesa keluar dari kafe dan memakai helemnya.


"Mama ngapain di sini?"


"Astaga! Anak satu ini, mama nya datang malah nanya nya kek gitu." Omel mama Artika mentoyor kepala Hengki.


"Sorry ma, Hengki lagi buru-buru nih." Ucap Hengki berkilah.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Arifin menimpali.


"Ke kampung Uci, mas."


"Oo iya, aku denger dia mendadak pulang kampung katanya bapaknya sakit keras." Gumam Arifin, lalu wajahnya berubah,"apa bapaknya meninggal?"


"Meninggal gimana? Orang Uci di paksa nikah sama orang..." Gerutu Hengki yang sangat yakin jika Uci di bohongi untuk di nikahkan. Setelah helem terpasang Hengki menaiki motornya.

__ADS_1


"Apa? Di nikahkan?" Mama dan Arifin tersentak bersamaan.


"Iya, dan aku harus kesana buat gagalin. Uci yang minta." Ujar Hengki menyalami sang sama."Doain anakmu ini ya ma." Pamitnya bergegas menarik tuas gas motornya.


"Hengki, tunggu jelasin sama mama dulu! Hengki!" Teriak mama Artika pada Hengki yang sudah semakin jauh dengan motornya."aduh, gimana sih ini?" Gerutu mama Artika panik.


"Tenang ma, kita bisa korek info dari restu. Aku juga akan cari tau sama orang HRD." Ujar Arifin mengambil gawainya dan menghubungi orang kantor.


Dalam perjalanan Hengki terus memikirkan Uci. Bagaimana jika dia sampai terlambat? Dan apa yang akan dia lakukan jika sudah sampai di kampung Uci?


Sementara itu, di kampung halaman Uci terus berpikir bagaimana caranya untuk kabur. Jelas ia tak mau di nikahkan dengan juragan Andi yang mata keranjang dan sudah tua. Apalagi pria itu sudah punya istri dua.


Uci hanya mondar-mandir di kamarnya, airmata nya sudah kering dan ia sangat lelah untuk menangis lagi. Hape sekarang udah tidak punya, bagaimana cara dia berkomunikasi dan meminta bantuan?


Pintu di buka, Vita masuk dengan membawa makan siang untuk Uci. "Ini mbak, di makan."


"Mbak nggak lapar, Ta." Tolak Uci kesal.


Vita menghela nafasnya, "mbak harus makan. Nanti ibuk marah, tau kan gimana ibuk."


"Embak nggak lapar, Ta." Tolak Uci lagi bernada tinggi.


"Maaf mbak, juragan Andi memang sudah menginginkan embak dari awal. Pas bapak hutang buat judi juga, juragan meminta anak gadis bapak sebagai jaminannya." Tutur Vita bercerita."Anak gadis bapak tinggal kita mbak, aku takut karena cuma aku yang dirumah. Tapi ibuk ngusulin embak saja."


Uci memejamkan matanya mendengar penuturan sang adik. Ia sangat tak mengerti kenapa Bu Sumi bisa setega itu padanya? Kenapa bu Sumi seperti tak menyukainya? Bukankah dia juga anak Bu Sumi? Tapi kenapa wanita paruh baya itu sangat pilih kasih dan selalu membebankan semua pada Uci? Apa salah Uci?


Uci melirik Vita yang mulai menangis. Bagaimana pun Vita adiknya, tentu Uci tak tega. Ia pun mendekat dan duduk di sisi Vita.


"Ta, sudahlah. Jangan di pikirkan lagi. Mbak makan nanti, mbak ngerti kok posisi mu. Yang mbak nggak habis pikir dengan bapak dan ibuk. Kenapa mereka bisa sampai hati menjadikan anaknya sebagai jaminan untuk rentenir seperti juragan Andi." Ujar Uci mengurut punggung Vita.


"Maaf ya mbak..."


Uci tersenyum getir, ia seperti tak ada pilihan lain. Jika ia pergi, maka Vita lah yang akan jadi korbannya. Tapi, Uci juga tak mau jadi korban dari kelakuan orang tuanya. Apa yang harus Uci lakukan?


Malam harinya, bu Sumi memaksa Uci untuk berdandan yang cantik karena juragan Andi akan datang. Untuk saat ini Uci hanya bisa menurut sampai ia menemukan cara untuk kabur tanpa harus mengorbankan Vita adiknya.

__ADS_1


"Uci, cepat keluar temu juragan Andi." Perintah Bu Sumi dengan ancaman."Jangan sampai dia tak senang, kamu tau akibatnya. Nyawa bapak dan ibu mu ini yang jadi taruhan."


"Harusnya, ibuk dan bapak berpikir dahulu sebelum bertindak. Dan bapak seharusnya sudahi judi. Bukan malah mengorbankan anak seperti ini." Ujar Uci, hilang sudah respeknya pada ibuk dan bapak.


"Kalau juragan Andi tak ada di depan sudah kugampar itu mulutmu! Anak nggak tau di untung. Masih baik kami merawatmu dan tidak membuangmu ke tong sampah." Hardik Bu Sumi makin tajam.


"Lebih baik Uci di buang di tong sampah buk, dari pada hidup jadi tumbal seperti ini." Ujar Uci melewati Bu Sumi.


Di ruang tamu, pak Andi tersenyum melihat Uci keluar dari dalam. Pria setengah baya yang menyisir rambutnya klimis itu menatap Uci tanpa berkedip. Pria tambun yang memakai baju polo dan celana yang menutupi perut buncitnya terus menatapnya dan tersenyum tak jelas. Membuat Uci makin tak nyaman. Tangan Uci di tarik paksa oleh Bu Sumi agar duduk di kursi sebrang juragan Andi.


"Silahkan di minum juragan." Ucap Bu Sumi mempersilahkan.


"Iya, sudah habis setengah itu, dari tadi nungguin dek Uci keluar. Emang nggak rugi, dek Uci cantik banget." Puji juragan Andi mengerling genit.


Uci terpaksa tersenyum.


"Saya tinggal dulu yan juragan." Pamit Bu Sumi berniat meninggalkan Uci bersama juragan Andi.


"Ingat ya, kamu jangan macam! Nurut aja apa yang juragan lakukan. Jangan sok jual mahal." Bisik Bu Sumi tepat di telinga Uci memperingatkan.


Uci diam saja. Berada satu ruangan dengan juragan Andi jelas Uci tak nyaman, apalagi kalau sampai pria macam-macam padanya. Ia tak akan segan melawan.


Ruang tamu seketika hening, juragan Andi terus menelanjangi Uci dengan pandangan mesumnya. Semakin membuat Uci merasa tak nyaman.


"Kita menikah seminggu lagi, ya dek Uci."


Uci diam.


"Kok diam? Nggak sehat?"


Uci masih diam tak nyaman.


"Atau kamu merasa tak enak badan?" Juragan Andi terus mencecar pertanyaan perhatian pada Uci. Tapi Uci hanya diam tak nyaman."Kalau kamu merasa tak enak badan bilang ya, nanti mas Andi bisa bawa kamu ke klinik. Atau kamu mau jalan-jalan dek Uci? Bisa nanti mas Andi bawa dek uci jalan ke pasar malam, atau mau ke mall?"


"maaf juragan," potong Uci.

__ADS_1


"Iya, dek Uci?" Ujar juragan Andi merasa senang karena Uci akhirnya buka suara.


"Saya, tidak ingin pergi apalagi menikah dengan juragan Andi."


__ADS_2