
Bab 7
Dering ponsel yang berbunyi kencang sukses membuat istirahat Uci terganggu. Baru saja gadis itu hendak memejamkan mata setelah lelah bekerja lembur semalaman, tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk saat tengah malam membuat tidur nyenyak Uci buyar.
"Siapa yang menelepon jam segini?" gerutu Uci sembari memijat kepalanya yang pening.
Uci membuka mata lebar-lebar dan melihat dengan jelas nama sang ibu yang tertera di layar ponselnya. "Ibu? Kenapa ibu meneleponku? Bukankah aku sudah memberikan uang bulanan untuk jatah bulan ini?" gumam Uci.
Tanpa pikir panjang, gadis itu pun segera mengangkat panggilan telepon sebelum Uci mendapatkan omelan dari sang ibu. "Halo, Bu?"
"Kenapa mengangkatnya lama sekali? Kamu masih tidur, ya? Ini sudah pagi!" omel Bu Sumi.
Uci segera menoleh ke arah jam dinding. Waktu masih menunjukkan pukul setengah empat pagi.
"Maaf, Bu. Uci baru saja akan beristirahat. Uci baru pulang kerja," ungkap Uci.
"Baru pulang kerja?" tanya Bu Sumi dengan dahi berkerut. "Kerja apa kamu sampai pagi seperti ini? Kamu tidak melakukan pekerjaan yang aneh-aneh kan?" tuduh Bu Sumi macam-macam.
"Astaga, Bu! Uci ada lembur hari ini, makanya pulang larut malam," jelas Uci.
"Sudahlah! Ibu juga tidak peduli kamu mau lembur atau tidak. Ibu cuma ingin memberitahu mengenai acara pernikahan Kholifah nanti. Acaranya dua bulan lagi. Kamu harus pulang!" ujar Bu Sumi mengingatkan putrinya mengenai acara pernikahan Kholifah.
Uci cukup lega, ibunya menghubungi dirinya bukan untuk meminta uang tambahan. Gadis itu juga cukup senang saat mendengar ibunya yang memintanya untuk pulang di hari pernikahan kakak sulungnya.
Tapi kebahagiaan Uci mendadak sirna begitu ia teringat kembali pada utang yang belum ia bayarkan ke Hengki. Ditambah lagi, pulang kampung pasti membutuhkan biaya. Dan pastinya, Bu Sumi meminta Uci pulang bukan karena wanita itu menginginkan kehadiran putrinya, tetapi karena menginginkan kehadiran uang Uci saja.
"Dua Bulan lagi ya, Bu? Nanti Uci usahakan meminta cuti," ujar Uci.
"Pokoknya kamu harus pulang! Ini pernikahan kakak kandung kamu sendiri! Hanya mengambil libur beberapa hari saja, kamu tidak bisa?" paksa Bu Sumi.
Lagi-lagi hanya omelan yang terdengar ke telinga Uci. Gadis itu sudah lelah bekerja, tapi setiap harinya masih mendapatkan omelan dari ibunya.
"Iya Bu. Uci mengerti. Uci akan pulang nanti," cetus Uci tanpa bisa menolak keinginan sang ibu.
"Nanti Ibu kasih daftar apa saja yang harus kamu bawa saat pulang nanti!" sahut Bu Sumi kemudian.
Uci tercengang. "Maksudnya apa Bu?" tanya Uci kebingungan.
"Maksud apa?" tanya Bu Sumi balik.
"Memangnya Uci harus membawa barang apa?"
Bu Sumi kembali dibuat naik pitam. "Maksud kamu apa tanya begitu? Kamu ingin pulang dengan tangan kosong? Kakak kamu akan segera menikah! Sebagai saudara sudah seharusnya kamu membawakan sesuatu! Sudah seharusnya kamu menyumbang sesuatu untuk kakak kamu! Sudah seharusnya kamu membantu Ibu untuk mengurus biaya pernikahan kakak kamu! Itu saja kamu tidak tahu?" omel Bu Sumi.
__ADS_1
Uci menghela napas pasrah. Nampaknya tiada hari bagi Bu Sumi untuk tidak membahas uang pada Uci. Setiap kali menghubungi Uci, hanya uang, uang, dan uang saja yang dibicarakan oleh Bu Sumi. Wanita paruh baya itu benar-benar tidak peduli dengan nasib Uci di kota.
'Astaga! Apalagi ini? Utang saja belum sempat tercicil. Sekarang aku harus mengeluarkan uang lagi untuk pernikahan Kak Kholifah?' batin Uci.
Bukan bermaksud untuk pelit, tapi seharusnya Bu Sumi memahami kalau Uci juga memiliki kebutuhan sendiri dan gadis itu juga butuh menabung untuk dirinya sendiri. Tak seharusnya Bu Sumi memaksa-maksa Uci untuk membiayai seluruh kebutuhan rumah dan memoroti putrinya itu hingga uang Uci habis.
"Maaf, Bu. Nanti kirimkan saja daftarnya apa saja yang harus Uci bahwa," ujar Uci kemudian.
Bu Sumi langsung memutuskan sambungan telepon. Uci yang tadinya ingin beristirahat, tiba-tiba terkena serangan sakit kepala yang hebat usai mendapatkan telepon keramat dari sang ibu.
Gadis itu harus kembali memutar otak untuk menghasilkan uang lebih banyak sebelum hari pernikahan sang kakak. "Ibu tidak akan menyuruhku untuk membeli banyak barang, kan?" gumam Uci mulai cemas memikirkan apa saja yang akan diminta oleh sang ibu saat dirinya pulang nanti.
Hari-hari Uci makin kacau. Dan tentu saja penyebab utamanya adalah sang ibu dan juga uang. Hanya itulah satu-satunya sumber masalah Uci yang membuat hari gadis itu tidak tenang.
"Uangku tinggal berapa bulan ini?" gumam Uci mulai memeriksa uang dan juga tabungan yang masih tersisa.
"Aku juga harus masih mencicil utang," gerutu Uci makin dibuat frustasi. Gadis itu sama sekali belum mencicil hutang pada Hengki sedikit pun. Setelah dibantu mendapatkan pekerjaan di cafe, sudah seharusnya Uci mulai mencicil pinjamannya pada Hengki.
"Lebih baik aku menyisihkan uang untuk mengembalikan pinjaman saja dulu. Mengenai pulang kampung, aku bisa memikirkannya nanti," sahut Uci.
Uci pun mulai mengawali hari tanpa semangat. Bagaimana tidak? Usai menghubungi Uci, Bu Sumi pun mengirimkan pesan yang cukup mencengangkan pada Uci. Apalagi isinya kalau bukan berhubungan dengan uang?
Bu Sumi menuliskan banyak barang yang harus dibeli oleh Uci saat pulang nanti. Tidak hanya itu, Bu Sumi juga meminta Uci untuk menyiapkan uang dengan nilai yang cukup besar untuk disumbangkan pada Kholifah.
"Uci, Kamu tidak mau makan ke kantin?" tanya teman Uci pada Uci.
"Kalian duluan saja! Aku ada urusan sebentar!" sahut Uci. Urusan apa lagi kalau bukan urusan yang berhubungan dengan ponsel? Uci segera membuka ponselnya dan melihat ada begitu banyak panggilan telepon masuk yang tidak terjawab dari Bu Sumi.
"Telepon dari Ibu banyak sekali?" gumam Uci tercengang.
Uci memang sengaja menghindar. Gadis itu masih bingung bagaimana ia harus memberikan jawaban pada sang ibu. Uci sudah membulatkan tekad akan mengumpulkan uang untuk mencicil utang terlebih dahulu.
"Jangan pikirkan hal lain dulu! Pikirkan saja cicilan dulu! Masalah Ibu bisa dipikirkan nanti!" gumam Uci mencoba menenangkan diri.
Tapi sayangnya, Bu Sumi terus-terusan mengganggu Uci tanpa lelah. Wanita paruh baya itu terus menelepon Uci berkali-kali dan mengirimkan puluhan pesan sampai putrinya itu mau mengangkat panggilan telepon darinya ataupun membalas salah satu pesan yang ia kirimkan.
"Astaga! Anak itu ke mana? Kenapa dia tidak juga mengangkat telepon?" omel Bu Sumi mulai kesal pada Uci yang sengaja menghindar.
"Kenapa, Bu? Dari pagi marah-marah terus!" tegur Kholifah pada sang ibu.
"Ini adik kamu! Dia mulai kurang ajar! Pesan Ibu tidak ada satu pun yang dibalas dan telepon dari Ibu juga tidak diangkat! Padahal Ibu baru saja mengirimkan daftar barang yang harus dia beli dan juga uang tambahan yang Ibu butuhkan. Tapi sepertinya Uci sengaja mengabaikan pesan dari Ibu," ujar Bu Sumi mengadu pada anak sulungnya.
"Dasar anak durhaka! Uci bener-bener keterlaluan!" Kholifah pun ikut mengomel pada sang adik. Ibu dan anak itu benar-benar satu keluarga tidak tahu diri yang hanya bisa memeras uang Uci tanpa mau memahami kesulitan Uci.
__ADS_1
"Awas aja nanti saat anak itu mengangkat telepon! Ibu akan memberinya pelajaran!" geram Bu Sumi.
Begitu pulang dari tempat kerja, Uci memberanikan diri mengangkat panggilan telepon dari sang ibu. Meskipun ia tahu jika hanya akan menerima omelan, tapi daripada Uci terus menghindar, Uci juga tidak akan bisa menyelesaikan masalah.
"Halo, Bu?"
"DASAR ANAK KURANG AJAR! DARI TADI KAMU KE MANA SAJA? KAMU SENGAJA MENGABAIKAN IBU, YA? KAMU SUDAH MULAI BELAJAR DURHAKA SEKARANG?" Teriakan kencang penuh dengan makian mulai terdengar ke telinga Uci.
"Maaf, Bu. Tadi Uci masih sibuk bekerja. Setelah Ibu menelepon tadi pagi juga Uci langsung beristirahat," ujar Uci mencoba membuat alasan yang masuk akal.
"Kamu jangan coba-coba menghindar, ya! Kamu sudah baca pesan dari Ibu, kan? Kamu harus membeli semua barang itu nanti!" perintah Bu Sumi.
Uci hanya diam tanpa memberikan jawaban. Menolak pun juga tidak bisa. Ia juga tidak memiliki pilihan lain selain menurut.
"Jangan lupa juga bawakan uang yang ibu minta!" sambung Bu Sumi terus mengoceh panjang lebar pada Uci.
"Kamu dengar Ibu tidak? Kamu yang pura-pura tuli?" omel Bu Sumi.
"Uci dengar, Bu. Uci sudah membaca pesannya," ujar Uci dengan suara lemas.
"Jangan lupa! Segera ajukan cuti! Kamu harus pulang nanti!"
Uci berjalan lesu saat pulang ke kontrakannya usai dari tempat kerja. Gadis itu hampir tidak bisa bernafas karena tercekik oleh ibunya sendiri.
"Jangan melamun di tengah jalan!" ujar seseorang tiba-tiba sembari menepuk bahu Uci.
Uci terperanjat kemudian menoleh ke belakang. Tanpa Uci sadari, ternyata sejak tadi Hengki mengikuti Uci dari belakang dan memanggil-manggil gadis itu. Karena sibuk melamun, Uci pun sampai tidak mendengar suara panggilan Hengki.
"Mas Hengki?"
"Setiap kali bertemu, wajah kamu pasti ditekuk seperti ini! Ada apa lagi sekarang?" tanya Hengki.
Lambat lawan tanpa Uci sadari, gadis itu pun perlahan mulai bergantung pada Hengki. Setiap kali menghadapi kesulitan, Hengki selalu saja muncul. Uci benar-benar lega, setidaknya gadis itu memiliki satu orang yang mau mendengarkan ceritanya dan menjadi tempatnya bersandar.
"Aku sedang kesal hari ini! Bagaimana kalau kita makan nasi padang saja?" ajak Uci pada Hengki sembari menampakkan senyum lebar.
Hengki menyambut ajakan Uci dengan senyum sumringah. Saat ini, Uci hanya memiliki Hengki sebagai tempat untuk mengadu. Pria itu sudah menjadi sahabat terbaik Uci yang selalu menemani Uci dalam masa-masa sulit.
"Mumpung hari ini aku lagi baik, aku akan mentraktirmu satu porsi besar nasi padang!" sahut Hengki semberi menggandeng tangan Uci.
Pria itu benar-benar tahu bagaimana cara menghibur Uci. Rasa nyaman yang diberikan oleh Hengki, telah berhasil menyulap hari-hari Uci yang menyebalkan, menjadi lebih menenangkan.
'Aku benar-benar beruntung memiliki kamu, Mas. Kamu benar-benar sahabat terbaik,' batin Uci.
__ADS_1
*****