
Bab 17
Erin mengepalkan tangan kuat-kuat. Manik mata wanita itu nampak fokus mengamati seorang gadis yang baru saja keluar dari pabrik.
Erin membelalakkan matanya saat ia melihat gadis yang tengah ia amati itu ternyata menghampiri pria yang ia kenal di gerbang pabrik. Wanita itu terus menatap gadis yang ia lihat, hingga gadis itu menghilang di ujung jalan bersama dengan seorang pria.
"Sial! Kenapa gadis itu ada di sini?" geram Erin.
Ternyata gadis yang diamati oleh Erin adalah Uci. Wanita itu baru tahu kalau ternyata Uci bekerja di PT Scender. Erin juga ikut terkejut saat ia melihat Hengki yang menjemput Uci. Terlebih lagi, keduanya nampak mesra.
Erin sendiri hanya berniat mampir sebentar untuk melihat Arifin di perusahaan. Wanita itu benar-benar tidak menyangka ia akan melihat Uci yang tengah bersama dengan Hengki.
"Apa sebenarnya hubungan Hengki dengan gadis pelayan itu? Mereka terlihat mesra sekali. Gadis itu juga berani memeluk Hengki saat berboncengan di motor," gerutu Erin.
"Jadi, Arifin bisa kenal gadis itu karena gadis itu bekerja di pabrik juga. Beruntung sekali dia! Bisa melahap Hengki dan Arifin sekaligus!" imbuh Erin terus menggerutu.
Wanita itu tak henti-hentinya berdecak kesal di luar pabrik. Nampaknya Erin masih menyimpan dendam pada Uci, dan benar-benar berniat ingin memberikan pelajaran pada gadis itu.
"Aku akan memberitahu hal ini pada Tante Artika! Awas aja kamu, Uci! Jangan harap kamu bisa mendekati Arifin dan Hengki dengan bebas!" geram Erin.
Ya, Hengki ternyata adalah putra dari pemilik PT Scender. Pemuda itu adalah adik kandung dari Arifin. Dan Mama Artika, adalah ibu kandung dari Hengki dan Arifin.
__ADS_1
Meskipun bersaudara kandung, tapi Hengki dan Arifin memilih untuk menapaki karir masing-masing dan menjalani kehidupan yang mereka suka. Hengki sendiri lebih ingin membangun hidup mandirinya dan bekerja di tempat carwash. Sementara Arifin sendiri memutuskan untuk membantu keluarganya mengurus perusahaan milik keluarga.
Tidak akan ada orang yang menyangka, jika Hengki yang terlihat sederhana dan setiap harinya bekerja serabutan di sana-sini, ternyata adalah putra dari keluarga konglomerat. Sebagai sang ibu, Mama Artika sendiri sangat mendukung apa pun keputusan yang dibuat oleh Hengki dan Arifin. Mama Artika tetap bangga pada Hengki, meskipun putranya itu memilih untuk hidup sederhana dan jauh dari dukungan finansial keluarga.
Uci sendiri juga tidak tahu jika Hengki adalah seorang konglomerat, terlebih lagi pria itu adalah adik dari bosnya sendiri. Hengki memang sengaja menyembunyikan identitasnya, dan tidak ingin memberitahu siapa pun mengenai keluarga kandungnya. Hengki ingin hidup apa adanya dan berjuang mengurus dirinya sendiri demi belajar hidup mandiri.
"Lebih baik aku pergi ke rumah Tante Artika sekarang!" gumam Erin.
Erin pun bergegas meninggalkan PT Scender, dan segera menuju ke kediaman keluarga Bram. Sepertinya, wanita itu berniat mengadukan kegiatan Hengki pada Mama Artika, tentu saja dengan niat utama untuk menjelek-jelekkan Uci di mata Mama Artika.
"Tante artika pasti ada di rumah, kan?" gumam Erin begitu ia sampai di kediaman keluarga Bram.
Beruntungnya wanita paruh baya yang ia cari tidak sedang pergi. Mama Artika menyambut ramah pada Erin yang berkunjung tanpa memberitahu terlebih dulu.
Erin langsung memeluk wanita paruh baya itu dan berbasa-basi sejenak dengan ibu dari temannya itu. "Tante, apa kabar?"
"Kabar Tante baik! Kamu sudah lama sekali tidak mampir kemari? Sedang sibuk ya akhir-akhir ini?" tanya Mama Artika.
"Iya, Tante! Beberapa minggu ini Erin sedang ada banyak kegiatan," terang Erin.
Keduanya pun saling berbincang di ruang tamu sembari menyeruput teh hangat yang dibuatkan oleh Mama Artika. "Arifin belum pulang ya, Tante?" tanya Erin.
__ADS_1
"Belum! Arifin juga sedang sibuk akhir-akhir ini," tukas Mama Artika. Tapi kalian masih sering bertemu, kan?" tanya Mama Artika.
"Setiap hari Erin masih bertemu dengan Arifin, Tante. Kami masih sering membeli kopi bersama dan menikmati makan siang bersama!" sahut Erin.
"Baguslah kalau kalian masih akur!" cetus Mama Artika.
Erin nampaknya sedang menunggu momen yang pas sebelum ia membahas mengenai Uci pada Mama Artika. 'Aku harus segera mengadukan hal ini pada tante Artika!' batin Erin.
"Tante, Hengki akhir-akhir ini tidak pulang, ya?" tanya Erin kemudian.
"Hengki? Tumben sekali kamu menanyakan tentang Hengki," komentar Mama Artika.
"Akhir-akhir ini Erin sering bertemu dengan Hengki. Hengki sepertinya sedang sibuk, ya?" cetus Erin.
Seperti ibu kandungnya sendiri, Mama Artika saja sangat jarang melihat Hengki. Hengki memang jarang pulang. Pria itu benar-benar sibuk dengan kehidupan mandiri yang ditekuninya.
"Hengki memang jarang pulang," sahut Mama Artika. "Tante juga sudah lama tidak melihat Hengki."
"Erin cukup sering bertemu dengan Hengki di jalan. Tapi Hengki tidak pernah menyapa Erin sekali pun. Pernah juga Hengki bertemu dengan Erin dan Arifin di jalan. Hengki benar-benar berbeda," ujar Erin.
Mama Atika menatap Erin dengan dahi berkerut. "Berbeda bagaimana?" tanya Mama Artika mulai penasaran.
__ADS_1
"Sepertinya Hengki tinggal di lingkungan yang kurang baik," ungkap Erin.
"Apa maksud kamu? Lingkungan kurang baik seperti apa? Hengki tidak mungkin hidup begajulan sebagai preman di luar sana, kan?" tanya Mama Artika mulai mencemaskan keadaan sang putra.