
Bab 45
Tok, tok.
Suara ketukan di pintu kamar Erin terdengar, wanita berusia 27tahun yang sedang mengemas barang nya tak menghentikan gerak tubuh barang sejenak.
"Masuk."
Pintu di buka hingga segaris celah tampak Uci di ambang pintu ragu untuk masuk."Boleh Uci masuk mbak?"
"Nggak boleh! Ngapain mau masuk?" Ketus Erin tanpa menoleh.
"Maafkan Uci mbak."
"Nggak perlu, ngapain minta maaf? Toh nggak bisa merubah apapun."
Uci menunduk sendu. "Uci hanya ingin meminta maaf, sedikitpun nggak ada niatan untuk membuat mbak Erin malu ataupun marah. Uci... Hanya ingin sedikit merubah hubungan keluarga ini jadi lebih dekat. Hanya itu."
"Tidak perlu. Aku tidak mau dekat-dekat dengan mu. Kamu hanyalah wanita bermuka dua yang beruntung. Semua orang menyukaimu, bersikap munafik."
Uci bungkam dan menunduk sedih. Sejak dulu, sepertinya, Erin tak pernah suka padanya. Ia tau itu, Uci hanya ingin berbaikan dengan kakaknya.
"Pergilah, kau membuatku kesal, walaupun aku memutuskan untuk pergi, aku sama sekali tak ingin melihat mu untuk yang terakhir kali. Pergi!" Usir Erin. Uci bergeming.
"Mereka secara terang-terangan menolak ku, secara terbuka membuangku. Akan aku tunjukan pada mereka, aku akan kembali membawa pria yang jauh lebih baik dari Arifin. Jauh lebih tampan, jauh lebih kaya. Sampai kau iri melihatnya!"
Uci menatap wajah wanita yang pernah menjadi musuhnya, wanita itu menatap Uci sekarang setelah cukup lama mengabaikan dan tak mau memandangnya. Mata berapi-api yang berkaca. Entah kenapa mata itu membuat Uci mengangguk dan ikut basah.
"Iya, Uci tunggu, mbak. Buat Uci merasa iri dengan pasangan mbak, dan kehidupan mbak Erin." Ucap Uci, "boleh, Uci peluk mbak?"
"Nggak boleh! Pergi sana!" Teriak Erin, tapi Uci menjadi bebal kali ini. Gadis itu berlari ke arah Erin dan memeluknya erat.
"Pergi! Kubilang pergi! Dasar tuli!" Meski mengumpat dan menyuruh pergi, Erin tidak mendorong tubuh Uci. Ia biarkan saja Uci memeluk dirinya."Pergi! Aku benci padamu! Kau mengambil semua dari! Aku bahkan terpaksa harus pergi keluar negri karenamu!"
Suara tangis terdengar, Uci menangis sesenggukan memeluk Erin semakin erat. "Maaf mbak, maaf..."
Sampai akhirnya, kedua wanita itu menangis bersama. Papa hari yang mengintip dari celah pintu tersenyum dan memilih pergi menjauh sambil mengusap sudut matanya.
Erin memang memilih pergi sebelum acara pernikahan Uci dan Hengki digelar. Anak sulung mama Gina itu memilih kembali ke luar negri. Baik mama Gina ataupun papa Hari, sangat menghargai keputusan Erin. Tidak ada yang mencegah. Bukan karena tidak ada yang sayang, hanya, ini yang terbaik untuk Erin.
***
"Mbak Erin akhirnya pergi, mas." Adu Uci saat ia dan Hengki baru pulang dari fitting baju pengantin. Meskipun Uci sudah tau jika Hengki adalah adik Arifin. Hengki tetap pergi dengan mengendarai motor jadulnya. Tidak ada yang berubah dengan semua kebiasaan Hengki. Dan itu membuat Uci merasa nyaman.
__ADS_1
"Itu udah jadi pilihannya, ci." Ucap Hengki menggenggam jemari sang kekasih. "Jangan merasa bersalah karena nya."
"Mas tau Uci merasa bersalah pada mbak Erin?"
"Mas sangat tau bagaimana sifatmu, Ci."
Uci menghela nafasnya,
"Makan dulu ya ci," tawar Hengki yang di angguki oleh Uci.
Hengki membawa Uci ke warung tenda pinggir jalan. Memesan dua porsi pecel lele dan teh hangat, lalu duduk lesahan ditikar. Membicarakan banyak hal dan tentang rencana pernikahan mereka.
Meski pun dalam kehidupan Hengki bersikap sebagai seorang pria sederhana. Tapi, ia sangat ingin menggelar pernikahan yang megah untuk Uci.
"Nggak perlu mas, seadanya saja." Tolak Uci.
"Kenapa? Bukankah pernikahan adalah impian setiap wanita? Kamu tak menginginkan pernikahan mewah?"
Uci menggeleng,
"Ini bukan hanya tentang kita berdua ci, tentang dua keluarga besar konglomerat, kamu tau? Tidak boleh hanya biasa saja."
Uci bungkam, mana tau dia tentang dua keluarga besar yang bersatu. Haruslah membuat pesta besar untuk mengundang para relasi. Agar lebih di pandang.
"Mas tau yang nggak boleh nakal! Bisa saja malah mas yang tergoda pada wanita lain."
"Mas cuma tergoda sama kamu ci."
Wajah Uci merona,"gombal."
Hengki tersenyum, mencubit gemas pipi calon istrinya itu. "Ayo pulang, ci."
Dalam perjalanan, tak satupun dari mereka yang bersuara. Baik Uci, maupun Hengki sedang dilanda bahagia. Uci memeluk perut Hengki, dan Hengki sesekali menggenggam tangan Uci yang memeluknya. Biar angin yang menjadi saksi dua insan yang kasmaran itu.
"Ci, udah Deket rumah."
Uci mengangguk lesu. Rasanya tak rela jika harus berpisah saat hati sedang berbunga seperti ini.
"Satu putaran lagi ya ci?"
Uci menggulum bibirnya agar tak tersenyum lebar. Menganggukkan kepala tanda setuju. Hengki melewati depan rumah Mamaa Gina. Melajukan motor pelan, untuk lebih lama bersama sang kekasih.
Mama Gina dan papa Hari yang menyetir di belakang mereka beberapa menit sebelum memasuki perumahan saling pandang.
__ADS_1
"Mau kemana mereka? Sudah sampai depan rumah kok nggak berhenti?" Mama Gina heran.
"Belum puas kali ma, biarkan saja. Namanya juga anak muda. Toh kita sudah kenal Hengki cukup lama, dia nggak bakal ngapa-ngapain anak kita." Cetus papa Hari santai.
"Iya sih."
Setelah berputar-putar keliling komplek, Hengki akhirnya menghentikan motor di depan gerbang.
"Udah tujuh kali putaran ci." Kekeh Hengki,"mas harus balikin kamu." Sambungnya melepas helem.
Uci mengumbar senyuman yang seketika membuat Hengki berdebar kencang.
"Susah lepasnya mas." Keluh Uci kesulitan melepas pengait helm nya.
"Sini, biar mas aja yang buka." Tawar Hengki mencoba melepas pengait helm."kok susah ya?" Ungkap nya setelah mencoba.
"Bener kan?"
"Coba, pegang dulu kunci motor mas."
Uci mengambil kunci motor yang sedari tadi Hengki gengaman. Barulah Hengki jadi lebih leluasa membuka pengait helm yang macet.
Klik!
Wajah Hengki sumringah, "naaahh, akhirnya..." Dengan wajah berbinar membantu Uci melepas helm dari kepala.
"Udah,"
Uci menyerahkan kunci motor Hengki."makasih, mas Hengki."
Hengki tersenyum, terlibat kontak mata beberapa saat dengan dengan Uci membuat jika lelakinya bangkit.
"Uci?"
"Iya mas,"
Mata Hengki berubah menjadi satu menatap Uci, atau lebih tepatnya menatap bibir Uci.
"Sekali saja, boleh ya?" Tanya Hengki mengusap bibir lembut Uci dengan jempol."Mas janji ini hanya sekali. Sekali saja."
Mata Uci juga ikut sayu. Jantung nya berdebar kencang saat tangan Hengki beberapa kali mengusap bibirnya.
"Tidak akan lama, ci. Hanya kecupan singkat. Singkat saja, boleh ya? Boleh ya ci?" Pinta Hengki mengulang. Ia sangat ingin mencicipi bibir ranum calon isterinya itu. Karena Uci tak kunjung memberi jawaban dan hanya memilih diam, Hengki mencoba memberanikan diri mendekatkan wajahnya. Dadanya terus berdebar kencang jika sampai Uci menolak.
__ADS_1