
Bab 11
Hari-hari Uci kembali kacau. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan sang ibu, Bu Sumi?
Ponsel milik gadis itu terus berdering selama Uci bekerja. Sudah puluhan kali Bu Sumi selalu menanyakan hal yang sama. Tentu saja hal itu mengenai kepulangan Uci ke kampung untuk pernikahan sang kakak, Kholifah.
Uci terus didesak oleh sang ibu hingga acara tiba. Berulang kali Bu Sumi selalu bertanya apakah Uci sudah menyiapkan barang-barang yang ia mau atau belum. Berulang kali Bu Sumi selalu bertanya pada hari apa Uci akan pulang ke kampung.
"Ibu telepon terus dari kemarin," gumam Uci dibuat tak semangat setelah melihat ponsel.
Uci sudah lelah dan muak terus disodori pertanyaan yang sama dan desakan yang sama terus-menerus. Memikirkan cicilan pada Hengki saja, Uci sudah lelah. Ditambah lagi saat ini dirinya harus memikirkan uang yang harus ia bawa pulang kampung dan segala biaya tambahan yang tidak sedikit.
"Halo Bu?" sapa Uci dengan suara lemas pada Bu Sumi di seberang sana.
"Lama sekali kamu mengangkat teleponnya! Kamu di mana sekarang? Mentang-mentang hari libur, kamu lagi jalan-jalan, ya?" omel Bu Sumi.
Jalan-jalan apanya? Bahkan di hari libur dan akhir pekan, Uci masih membanting tulang mencari uang. Saat ini pun dirinya masih sibuk mengerjakan pekerjaannya di Cafe Skylar.
"Uci masih bekerja, Bu. Maaf lama angkat teleponnya," ujar Uci.
"Kerja apa hari libur begini? Jangan kebanyakan alasan!" sahut Bu Sumi.
Uci hanya bisa diam. Toh, menjelaskan pun juga sama saja. Bu Sumi juga tidak akan mendengarkannya.
"Kamu jadinya pulang kapan? Acaranya sebentar lagi! Kamu sudah siapkan barang-barang dan uang yang harus kamu bawa pulang, kan?" Itu terus yang ditanyakan oleh Bu Sumi.
"Nanti Uci pasti pulang. Tunggu saja ya, Bu!" ujar Uci.
Meskipun sudah mengiyakan berulang kali, tapi Bu Sumi masih saja rewel dan menanyakannya berulang-ulang hingga puas. "Bener, ya? Kamu sudah siapkan uang dan barangnya, kan?"
Uci bungkam. Boro-boro menyiapkan barang yang diinginkan oleh sang ibu. Untuk biaya pulang saja, Uci belum menyiapkan uangnya.
"Sedang Uci siapkan, Bu. Sabar, ya!" bujuk Uci.
"Kamu tidak bohong, kan? Pokoknya kamu harus pulang secepatnya! Kamu tidak berencana pulang saat hari resepsi, kan?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Bu. Uci akan pulang sebelum hari resepsi. Tunggu saja ya, Bu!" ujar Uci kemudian mematikan sambungan telepon.
Uci duduk sejenak usai meladeni panggilan telepon dari sang ibu. Gadis itu memijat kepalanya yang pening.
Wajah kusut Uci pun tertangkap jelas oleh Hengki. Karena Cafe Skylar sedang ramai, Hengki pun mengambil pekerjaan paruh waktu di sana untuk membantu para pegawai yang kerepotan.
Melihat Uci yang menampakan wajah masam, Hengki pun langsung menghampiri teman gadisnya itu. "Kerja, Uci! Jangan melamun!" tegur Hengki pada Uci.
Uci langsung menoleh ke arah Hengki, kemudian melempar senyum tipis. "Mas Hengki! Apaan, sih! Siapa juga yang melamun?"
"Itu kamu duduk-duduk di sini sambil bengong! Kenapa lagi, sih?"
Hengki pun ikut mengambil istirahat dan menemani Uci duduk sejenak. "Mau aku ambilkan minum?"
Uci menggelengkan kepala. " Terima kasih, Mas. Tidak perlu," sahut Uci.
"Ada apa? Ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Hengki mencoba membujuk Uci untuk bercerita.
Toh, memang biasanya Uci juga mengungkapkan segalanya pada Hengki. Kepada siapa lagi gadis itu bisa mengadu dan mencurahkan isi hati selain pada Hengki?
"Pusing kenapa?"
Uci terdiam lama. Rasanya sungkan sekali baginya untuk membahas uang dengan Hengki. Terlebih lagi Uci sudah banyak merepotkan Hengki mengenai uang.
"Pusing kenapa?" tanya Hengki lagi. "Kamu lagi ada masalah sama siapa?"
"Ibu aku, Mas. Ibu aku minta aku buat pulang kampung. Kakak sulung aku mau menikah," ungkap Uci.
"Terus? Kamu tidak bisa pulang?" tanya Hengki dengan dahi berkerut.
"Kurang lebih begitu, Mas," sahut Uci.
"Kenapa? Lagi banyak pekerjaan, ya?"
Tentu saja masalah utamanya adalah uang. Tapi Uci segan untuk membahas uang lagi dengan Hengki.
__ADS_1
"Memangnya kamu tidak bisa mengambil cuti? Ini kan demi pernikahan kakak kamu. Kamu tidak ingin hadir?" tanya Hengki.
"Tentu saja aku ingin hadir, Mas. Cuma ...."
"Cuma apa?"
Uci melempar senyum kecut. "Biayanya, Mas. Buat pulang kampung, biayanya tidak sedikit. Belum lagi, aku juga harus bawa buah tangan. Tidak mungkin aku pulang tanpa membawa apa-apa. Apalagi ini pernikahan kakak aku sendiri," terang Uci.
Sebenarnya malu sekali Uci mengatakan hal tersebut. Tapi karena Hengki juga sudah tahu banyak mengenai permasalahan yang biasa ia lalui, Uci pun memilih untuk membuka semua kesulitan yang tengah ia hadapi. Bukan bermaksud untuk meminta bantuan, tapi Uci hanya ingin mencari tempat untuk berkeluh kesah.
"Kapan kamu pulangnya?" tanya Hengki.
"Acaranya tidak lama lagi. Ibuku selalu saja menghubungiku dan menanyakan hal yang sama. Aku benar-benar pusing," ungkap Uci.
Suasana menjadi hening. Uci diam, dan Hengki juga tidak bersuara.
"Kamu pulang saja, Uci. Kalau kamu sedang butuh uang, buat apa kamu mencicil pinjamanmu padaku? Lebih baik kamu gunakan dulu uang itu untuk biaya pulang," ujar Hengki kemudian. Pria itu tidak dapat membantu banyak. Daripada memberikan Uci uang, lebih baik Hengki memberikan keringanan pada Uci untuk tidak mencicil utang gadis itu padanya terlebih dulu.
"Kamu utamakan saja dulu biaya untuk pulang. Masalah cicilan padaku, kamu bisa urus nanti," sambung Hengki.
Uci makin dibuat kehilangan muka di depan Hengki. "Maaf ya, Mas. Aku selalu saja membuat mas repot," ujar Uci merasa tak enak hati.
"Jangan seperti orang lain begitu! Aku teman kamu, kan? Siapa lagi yang mau bantu kamu kalau bukan teman kamu?" sahut Hengki. "Sekarang lebih baik kamu simpan uang kamu, terus kamu pakai buat pulang kampung! Kamu juga pengen berkumpul sama keluarga kamu di acara kakak kamu nanti, kan?"
Manik mata Uci berkaca-kaca. Meskipun merasa sungkan, tapi Uci tidak punya pilihan lain.
"Terima kasih banyak ya, Mas!" ucap Uci sembari mengusap sudut matanya yang berair.
Uci benar-benar beruntung bisa bertemu dengan pria yang baik di kota kejam yang penuh dengan penjahat itu. Uci benar-benar beruntung bisa berjumpa dengan pria seperti Hengki.
Hengki mengusap lembut kepala Uci. "Tidak perlu berlebihan! Kamu pulang saja! Bawa oleh-oleh yang banyak untuk keluarga kamu!"
Uci mengangguk dan mulai bersiap untuk pulang ke kampung halamannya. Dengan menggunakan uang yang seharusnya ia cicilkan pada Hengki, Uci berusaha menutup biaya perjalanan dan biaya untuk membeli barang-barang titipan dari sang ibu.
[Bu, lusa Uci pulang. Uci sudah siapkan semua barang yang Ibu mau.]
__ADS_1
****