
Bab 35
"Panas!"
"Panas!"
"Kenapa panas sekali?"
"Aroma tubuhnya wangi sekali. Kenapa? Tubuhnya sejuk sekali? Kenapa?" Uci terus menempelkan tubuhnya semakin dekat ke arah Hengki.
Kini mereka sudah berada dalam sebuah mobil yang melaju. Uci dan Hengki duduk di jog belakang, restu yang menyetir. Pria yang menjadi tangan kanan Hengki itu akhirnya menyusul setelah tiga hari lamanya menyusuri masa lalu Uci, Bu Sumi dan seorang wanita kenalan mama Artika.
Dari waktu yang sangat singkat itu restu berhasil menemukan beberapa bukti dan informasi penting lainnya. Itu yang mendasari Hengki bergerak cepat sekarang.
Hengki merasakan Uci yang terus bergerak tak tenang. Hengki menatap heran pada sang kekasih yang sangat menempel padanya, membuat jiwa kelakiannya bangkit. Uci terus gelisah dan menelusupkan wajahnya ke dada Hengki. Sampai Hengki merasa tak nyaman dan beberapa kali membenahi posisi duduk nya.
"Ci, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Hengki.
Uci mengangkat wajahnya yang semakin memerah. Tubuhnya semakin panas saja, hingga ia tak tahan.
"Panas." Bisik Uci lirih.
"Apa?"
"Panas... Mas..." Cetus Uci dengan wajah yang sangat ingin."panas sekali." Sambungnya menelusupkan wajah dan tangan di dada Hengki.
"Apa yang terjadi?" Restu ikut merasa penasaran melihat tingkah Uci yang sedikit menggoda itu. Berkata panas tapi malah terus menempel pada Hengki.
"Aku tidak tau, sepertinya ada yang tidak beres dengan nya." Cetus Hengki.
Sesampainya di kamar hotel tempat Hengki menginap. Uci semakin tak terkontrol, gadis itu bahkan sampai membuka kancing kemejanya hingga sampai batas dada.
"Apa yang kamu lakukan ci?!" Sergah Hengki menahan gerak tangan Uci untuk membuka kancing kemejanya.
__ADS_1
Uci menatap sayu, "panas..." Lirih Uci yang wajahnya semakin memerah.
"Kau... Apa yang kamu makan sebelum?"
"Hanya makan malam dari ibu... Panas mas..."
Bibir Hengki menipis menahan rasa marahnya. Tentu saja pada Bu Sumi. Hengki yakin jika Bu Sumi sudah mencampurkan obat ke dalam makanan Uci. Sampai Uci kepanasan seperti ini.
"Ikut aku." Ujar Hengki menarik tangan Uci ke kamar mandi.
Di dalam sana Hengki menyiram tubuh Uci dengan air dingin. "Berendamlah di sini sampai panas di tubuhmu hilang." Cetus Hengki.
Uci kini sudah berendam di bak mandi dan terus di guyur oleh air dari shower. Tubuh Uci yang basah memaksa Hengki menelan ludahnya. Sebagai laki-laki normal tentu saja ia tergoda, terlebih Uci adalah wanita yang sangat ia cintai. Tapi mengingat bagaimana dulu Uci menolak ciuman nya karena ingin menjaga dan memberikan hak itu pada pria beruntung yang menjadi suaminya kelak. Hengki memilih menahan semua hasratnya sekuat tenaga.
"Aku tunggu di luar. Berendamlah sampai kamu merasa lebih baik." Ujar Hengki yang sudah di ubun-ubun. Ia takut jika lebih lama bersama Uci yang begitu basah dan menggoda akan membuat Hengki lepas kontrol.
Hengki berjalan, tapi tangan tertahan oleh gengaman Uci. "Mas, jangan tinggalkan aku." Pinta nya memohon dan sangat ingin. Membuat Hengki terus berada di persimpangan yang sangat berat.
"Jangan pergi, mas."
Uci tertunduk malu akan ketidakberdayaan nya. Benar, ia sudah menjaganya sampai sejauh ini, apa akan kalah oleh pengaruh obat yang sang ibu berikan? Gadis itu terisak kecil, Hengki bukanlah orang memanfaatkan keadaan. Hengki keluar dari kamar mandi setelah mencium punca kepala Uci yang masih terisak kecil. Pria itu juga meruntuki ketidakberdayaan nya sendiri.
Dua jam kemudian, Uci mengganti pakaiannya yang basah dengan kaus milik Hengki. Gadis itu merasa tak nyaman karena hanya memakai selembar kaus tanpa pakaian dalam. Pakaian Hengki cukup besar hingga bisa menutupi sampai pahanya. Uci menghela nafasnya, ia merasa sangat malu jika mengingat sudah merayu kekasihnya itu karena pengaruh obat yang Bu Sumi campurkan ke dalam makanannya.
Di dalam kamar, Uci hanya duduk tak nyaman di bibir ranjang. Merasa cemas apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Aaahh, malu sekali, bagaimana jika bertemu dengan mas Hengki nanti?" Gerutu Uci menutupi wajahnya sendiri."Haaahh, ini sangat memalukan."
Wajah Uci semakin memerah tatkala mengingat beberapa jam yang lalu. "Aaahh, jangan-jangan setelah ini dia berpikir aku wanita nakal."
Tok tok!
Suara pintu kamarnya diketuk. Uci berjalan dan membuka pintu segaris celah. Mengintip siapa yang yang mengetuk.
__ADS_1
"Mas Hengki." Sebut Uci dengan wajah yang memerah karena malu.
"Ini!" Hengki menyerahkan satu kantong plastik bertuliskan sebuah toko baju."Ganti pakai ini, aku hanya mengira-ngira ukurannya."
Uci mengeluarkan tangannya menerima pemberian Hengki dengan tetap menyembunyikan tubuhnya di balik pintu. Wajah Uci masih terus menghangat meski ia sudah mengatur detak jantung nya dan menahan rasa malu yang menjalar di tubuhnya.
"Aku tidur di sebelah sama Restu. Kalau ada apa-apa, panggil saja." Pesan Hengki, Uci mengangguk.
Di dalam kamar, Uci mengeluarkan sepasang baju dan pakaian dalam. "Dia bahkan membelikan ku pakaian dalam juga." Gumam Uci semakin merasa malu.
Uci mencoba memakainya, rona merah masih bertahan di wajah cantiknya. "Ini pas sekali. Apa yang mas Hengki bayangkan saat memilihnya. Ya ampun. Aku benar-benar malu."
Keesokan harinya,
Uci masih merasa sangat malu saat bertemu dengan Hengki. Pria tampan itu hanya tersenyum setiap kali bertemu pandang dengan kekasihnya yang terus menampakkan semu merah di pipi.
"Makanlah yang banyak biar kamu punya tenaga untuk hari ini." Cetus Hengki menambah beberapa lauk di piring Uci.
"Udah mas, ini udah banyak." Ucap Uci.
"Iya, di banyakin."
"Nggak mau, nanti aku gemuk."
"Seperti apapun bentukmu, mas suka kok. Eeh, tapi kalau gemuk ntar mas nggak kuat gendongnya ya? Hahahaha." Kelekar Hengki mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku.
Sebenarnya, Hengki sendiri sudah tidak memikirkan masalah semalam. Sudah bisa membawa Uci pergi dari rumah itu saja sudah cukup bagi Hengki.
Seusai sarapan di salah satu warung makan dekat hotel Hengki, restu dan Uci kembali ke hotel. Tak menyangka, di sana mereka justru di hadang oleh pak Bambang dan Bu Sumi.
"Uci! Berani kamu pergi sama gembel ini!" Teriak Bu Sumi dari halaman hotel.
Hotel tempat Hengki menginap memang hanya kelas melati. Bukan hotel berbintang karena hanya itu yang paling dekat dengan rumah pak Bambang. Pak Bambang orang yang cukup terkenal dengan perangai yang suka main judi. Sehingga mudah saja dia mengetahui di mana Uci selama masih di lingkungan kampung nya. Apalagi tadi Uci hanya berjalan kaki karena jarak yang cukup dekat dengan warung. Jadi, ada saja orang yang mengenal pak Bambang memberitahukan keberadaannya sekarang.
__ADS_1
"Sudah ibuk bilang, jangan buat juragan Andi marah! Kamu malah enak-enak sama gembel ini! Dasar anak durhaka! Anak tak tau di untung!" Bu Sumi mengumpati dan menunjuk-nunjuk dengan amarah yang berapi-api.