Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 36


__ADS_3

Bab 36


"Ibuk mendidik dan membesarkan mu bukan untuk menjadi anak yang tak tau malu seperti ini! Menginap di hotel bersama pria, bikin orang tua cemas saja! Sakit hati ibuk, sakit, Uci!" Teriak Bu Sumi."Benar-benar anak durhaka kamu, ci! Menyesal ibu sudah melahirkan kamu!"


Hati anak mana yang tak merasa sakit saat beberapa kali di teriaki sebagai anak yang durhaka dan tak tau di untung oleh ibunya. Padahal selama ini bukankah Uci sudah berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi tuntutan sang ibu? Berapapun uang yang ibunya minta, Uci selalu berusaha memberi dan mencukupi meski dirinya sendiri merasa tercekik.


Hati anak mana yang tak sakit di hardik dan dicap durhaka saat semua pekerjaan rumah selalu Uci selesaikan tanpa mengeluh? Meski tubuh Uci serasa remuk karenanya. Namun kini nyatanya tak pernah di pandang apalagi di hargai oleh keluarga nya.


"ini balasanmu pada orang tua yang merawatmu hah? Dasar anak durhaka, demi laki-laki kere ini kamu sampai hati membuat ibu dan bapak mu menderita?!" bu Sumi meraung bak seorang yang sudah di zolimi oleh anaknya. Hingga membuat mereka menjadi tontonan publik.


"Cukup buk, cukup." Ucap Uci sedikit mengeraskan suaranya."Uci sudah melakukan semua yang ibu dan bapak mau, dan itu tak pernah cukup untuk kalian! Semua pengorbanan ku tak kalian pandang selama ini. Selalu menuntut ku, aku dan hanya aku."


Uci menarik nafasnya untuk berucap lagi saat dadanya serasa semakin sesak saja, "tapi maaf saja jika Uci harus menikah dengan pria yang lebih pantas menjadi bapak Uci, Uci nggak mau! Apa lagi dia sudah beristri dua, nggak mau buk! Silahkan jika ibu mau menyebutku anak durhaka, anak tak tau di untung, setidaknya yang diatas tau seberapa aku sudah membaktikan diri pada kalian." Tuturnya memyambung, menambah geram di wajah Bu Sumi yang sudah mengeras.


"Benar-benar anak durhaka!" Bu Sumi mengangkat tangannya tinggi-tinggi bersiap untuk memukul Uci. Uci sudah menutup matanya siap menerima pukulan, tapi tangan itu mengambang di udara karena sudah di tahan oleh Hengki.


"Berhentilah bersandiwara dan memanfaatkan orang lain." Ujar Hengki menyorot tajam pada Bu Sumi.


"Gembel sepertimu sebaiknya nggak usah ikut campur!" Hardik Bu Sumi menarik tangan tapi tak bisa karena cengkraman Hengki terlalu kuat.


"Setidaknya orang yang kalian sebut gembel sepertiku, masih punya hati di banding orang-orang seperti kalian!" Ujar Hengki mendorong kasar tangan Bu Sumi hingga terpentok di tubuh Vita yang berdiri dibelakangnya."Aku tak pernah memanfaatkan anak orang lain seburuk kalian!"


"Kurang ajar! Berani nya kamu sama orang tua! Nggak Sudi aku menjadi wali, biar saja Uci menjadi perawan tua!" Pak Bambang menghardik dan bergerak maju.


"Memangnya bapak pantas menjadi wali Uci?!"ujar Hengki semakin tajam.


"Apa kau bilang? Dasar gembel kere kurang ajar!" Hardik pak Bambang yang sudah tak sabar ingin menghajar Hengki.


"Tahan pak, ini tempat umum." Ahsan adik Uci menahan pak Bambang.


"Biar bapak hajar mulut pria kurang ajar itu. Lepas bapak san."


"Jangan pak, jangan! Ingat tujuan kita kemari." Ahsan mengingatkan."Hanya untuk membujuk mbak Uci pulang dan menikah dengan juragan Andi. Jangan terpancing untuk semakin membuat keributan."

__ADS_1


Vita yang melihat suasana menjadi semakin panas, akhirnya maju mendekati Uci."mbak, tolong mbak, kembalilah dan menikah dengan juragan Andi. Aku takut mbak, apa mbak tega kalau Vita sampai menggantikan mbak Uci menikah dengan juragan Andi dan orang tua kita dihajar habis-habisan karena tak mendapatkan mbak Uci?" Bujuk Vita memelas berharap Uci mau berbelas kasihan padanya. Hal itu membuat Hengki dan Restu tertawa muak dengan keluarga Uci. Tidak hanya pak Bambang dan Bu Sumi, adiknya pun sama tak tau malu.


Uci menatap Vita sedih dan memohon, berharap Vita juga mengerti posisinya. Sudah banyak yang ia korbankan, tak bisakah kali ini ia membangkang? Tak bisakah kali ini ia tak di sudutkan dan di korbankan?


"Jadi, kamu juga tega membiarkan mbak menikah dengan juragan Andi? Kamu juga tau orang seperti apa dia? Kenapa harus kita yang berkorban, ta?" Ucap Uci walau sebenarnya ia tak tega jika sampai adiknya yang jadi tumbal bagi hutang pak Bambang, tapi ia sendiri tak mau. Uci benar-benar dilema."Maafin embak, ta. Ayo kita pergi bersama saja ya."


Vita menggeleng pelan, "nggak bisa mbak. Aku nggak bisa ninggalin mereka. Ayolah mbak, menikah dengan juragan Andi. Dengan begitu kita semua selamat dan bisa hidup bahagia. Mbak juga tak akan kekurangan harta." Tangis Vita memohon.


"Embak nggak bahagia, ta. Embak nggak bahagia." Ucap Uci tak kalah miris.


Uci menatap Vita sendu, ia tak tau bagaimana harus menyikapi hal semacam ini. Haruskah ia mengalah? Hengki menyentuh bahu Uci. "Sudah cukup kamu berkorban untuk mereka, sudah cukup apa yang kamu lakukan selama 24tahun ini untuk membalas jasa mereka. Kamu tak perlu merasa bersalah ci." Ucap Hengki yang tau Uci mulai goyah oleh rasa kasihan pada adiknya."Mereka hanya parasit, sudah waktunya kamu terbebas dari mereka." Sambung Hengki tajam memandang pak Bambang dan Bu Sumi.


Rahang Pak Bambang dan Bu Sumi tampak mengeras, wajah mereka semakin merah padam oleh amarah. Tangan keduanya mengepal sangat kuat hingga memucat.


"Pantas saja kamu jadi pembangkang, Ci. Rupa-rupanya karena pengaruh buruk dari gembel ini?"


"Siapa yang gembel?" Suara yang tak asing terdengar di belakang Restu yang tersenyum miring memandang keluarga Uci. Semua mata menuju ke arah suara itu berasal.


Mama Artika berjalan mendekat bersama seorang wanita yang seketika membuat Bu Sumi dan pak Bambang gemetar dengan mata yang melebar sempurna. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Gina, sahabat mama Artika sekaligus mama Erin. Di belakang mereka ada pak Bram, Arifin dan suami Gina, Harry.


"Jangan-jangan mereka sudah tau pak?" Bisik Bu Sumi gemetar.


"Sialan! Kabur sum!" Cetus pak Bambang berlari.


"Pak!" Panggil bu Sumi menyusul. Ahsan dan Vita jadi bingung dan ikut berlari menyusul kedua orang tua nya."ada apa ini buk? Kenapa malah lari?!"


"Berhenti kalian!" Teriak pak Haris.


Pelarian pak Bambang dan Bu Sumi terhenti karena mereka di hadang oleh beberapa polisi. Uci yang tak mengerti apapun masih mematung di tempat dengan perasaan tak karuan. Bingung, itu yang jelas. Kenapa tiba-tiba datang orang yang seperti makin membuat keadaan semakin ruwet.


"Uci!" Panggil Tante Gina menatap Uci haru dan penuh kerinduan. Jelas saja Uci bingung karena Tante Gina langsung memeluknya. Sementara di ujung sana Bu Sumi dan pak Bambang berteriak-teriak meminta di bebaskan.


"Lepaskan! Apa salah kami? Kenapa asal tangkap saja. Ini adalah perbuatan tidak menyenangkan!" Teriak pak Bambang.

__ADS_1


"Pak polisi, kalian salah tangkap, harusnya gembel itu yang kalian tangkap karena sudah menculik anakku dan enak-enak dengan nya di hotel." Pekik Bu Sumi makin histeris tak jelas.


"Benar, kami memang menangkap pelaku penculikan. Dan itu kalian!"


"Apa? Jangan asal tangkap pak polisi, mana buktinya?" Tantang Bu Sumi.


"Bukti ada di kantor, kita ke kantor polisi saja." Ujar petugas terus menyeret pak Bambang dan Bu Sumi ke dalam mobil polisi."Bapak Hary dan keluarga bisa ikut ke kantor polisi untuk memberi kesaksian dan keterangan." Sambungnya berganti melihat pada pak Hary yang mengangguk setuju. Matanya menyorot pada Uci yang masih tampak bingung dalam pelukan wanita yang menangis haru, ia punikut merasa haru."pak bolehkan jika saya saja yang ke kantor untuk saat ini?"


"Oo boleh pak. Untuk Bu Gina dan anaknya bisa lain hari memberi keterangan nya."


"Terima kasih pak."


Pak hari berjalan mendekat pada sang istri yang masih memeluk uci. Pria itu itu menatap Uci, dan mengusap kepalanya. "Anakku..." Ucapnya haru, kemudian melangkah menyusul para polisi yang membawa Bu Sumi dan pak Bambang yang masih terdengar suara teriakan histeris mereka. Sementara kedua anak mereka, Vita dan Ahsan ketakutan dan mencoba mengejar para polisi yang membawa orang tua mereka.


"Pak, apa salah bapak dan ibuk pak? Kenapa kalian menangkap mereka?" Tanya Vita bingung dan takut pada petugas polisi.


"Mereka sudah menculik anak dari majikan mereka, Bu Gina dan pak Hari beberapa tahun yang lalu." Jelas petugas polisi.


"Apa?" Vita dan Ahsan membelalak tak percaya."si-siapa pak?"


"Sudah, kalian mau ikut kekantor sebagai pendamping atau mau pulang saja?" Tanya petugas polisi pada Ahsan dan Vita, keduanya saling berpandangan karena tak tau harus apa dan bingung.


Sementara itu, Uci masih terbengong di peluk oleh Gina. Wanita yang menjadi sahabat mama Artika itu membingkai wajah Uci dan menghujaninya dengan kecupan."anak ku,, anakku,, Serina... Akhirnya mama menemukanmu nak... Serina anak mama."


"Ibu ini siapa? Saya Uci buk, bukan Serina."


"Iya kamu Serina, kamu Serina anakku."tangis Gina dalam keharuannya bertemu sang anak yang terpisah 23tahun yang lalu.


"Gin, ayo kita masuk saja." Ajak mama Artika,"sepertinya Uci masih bingung dan nggak enak di sini jadi tontonan banyak orang." Sambungnya yang langsung di setujui oleh Gina.


Uci benar-benar masih sangat bingung apa yang sedang terjadi. Ia menatap Hengki meminta penjelasan, pria itu mengangguk dengan senyuman tipis di wajahnya. Memberi Uci isyarat untuk ikut saja.


Beberapa saat kemudian, Uci masih terbengong tidak percaya dengan apa yang baru aja dia dengar. Kenapa ia tiba-tiba bisa menjadi anak seorang wanita kaya yang menjadi sahabat mama Artika padahal sebelumnya ia masih terlunta-lunta sebagai anak Bu Sumi dan pak Bambang.

__ADS_1


Tapi setidaknya kini terjawab sudah, mengapa ia selalu di peras dan di perlakukan berbeda oleh pak Bambang dan Bu Sumi.


"Kamu pasti sangat menderita selama ini, Uci. Maafkan mama ci..." Tangis mama Gina mengusap pipinya berulang kali."mama sudah mencarimu kemana-mana tapi...huhuhu..."


__ADS_2