Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 46


__ADS_3

Bab 46


"Mas," suara Uci membuat gerak wajah Hengki yang sudah sangat dekat terhenti. "Aku... Masih pada prinsipku, mas."


Gegas Hengki menjauh. Suasana menjadi agak canggung.


"Maaf, mas."


"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Maaf ya, padahal aku sudah berjanji. Tapi, aku malah mau mengingkarinya."


"Uci harap mas bisa lebih bersabar lagi. Hanya tinggal seminggu."


Hengki tertawa kecil, "iya ya." Ujarnya mengusap kepala Uci dengan lembut."mas pulang dulu ya."


Uci menatap pria yang kini sedang memasang helm nya. "Apa mas marah?"


"Enggak lah, tunggu seminggu lagi. Huummm?"


Uci terdiam, masih merasa tak enak pada Hengki meski ia sudah menjelaskan sedari awal tentang prinsip nya.


"Mas pergi ya," pamit Hengki lagi menstater motornya.


Uci mengulurkan tangannya.


"Apa ini?"


"Mana tangan mas?"


Hengki yang masih bingung memberikan tangan, yang langsung mendapat salaman dari Uci. Perlahan gadis itu mencium tangan Hengki. Itu sedikit membuat Hengki terkejut. Ada getaran di hati dan jiwanya kala Uci melakukan itu dan tersenyum.


"Hati-hati di jalan mas."


"I-iya,"


Selama dalam perjalanan pulang, Hengki masih merasakan debaran di dadanya. Ia perlahan tersenyum dan semakin melebar. Lalu berubah menjadi tawa. Pria tampan itu sudah seperti orang gila saja karena tertawa di sepanjang jalan pulang.


Hari berikutnya, Uci masih bekerja ia mengambil cuti dua hari sebelum hari pernikahan. Di lorong kantor Uci tak sengaja berpapasan dengan Arifin. Ia ingat di malam saat Hengki melamarnya, dan Arifin justru mengatakan hal yang kini membuat Uci merasa canggung. Uci menundukan kepalanya.


"Mau makan siang bareng?" Tawar Arifin menghentikan langkah dan mencegat Uci.


"Uumm aku..."


"Mas traktir deh."


Di sebuah resto tak jauh dari kantor, Uci dan Arifin makan siang bersama.


"Pesanlah, apapun yang kamu mau. Jangan berpikir aku bosmu, tapi calon kakak mu."


Uci mengangguk, "mas Arifin mau bicara apa?"


"Haah?"


"Mas sengaja mengajakku makan siang untuk bicara dengan ku kan?"


Arifin tergelak pelan."tidak da kok hanya ingin makan bareng aja." Ujarnya mengedipkan mata.


Walau merasa aneh dengan sikap Arifin, Uci mengangguk saja. Ia berusaha bersikap biasa meski ada yang mengganjal di hati. Apalagi setelah mendengar pengakuan dari Arifin waktu itu. "Benarkah mas Arifin menyimpan rasa padaku?" Gumam Uci dalam hati.


Nyatanya, selama makan siang, mereka hanya membicarakan hal ringan saja.


"Ini!"


"Apa ini mas?" Tanya Uci sembari menerima sebuah amplop dari Arifin.


"Itu hadiah. Setelah menikah nanti, berbulan madulah di sana. Bukan ke luar negri sih, hanya ke salah satu pulau yang paling indah di negri ini. Huumm?"


Wajah Uci berubah menjadi merah, rasanya sangat malu membicarakan bulan madu.


"Aku bukannya sedang memuji adikku sendiri, tapi dia memang pria baik. Kamu tidak akan menyesal menikah dengannya. Dan tolong jangan sakiti dia, dia mau melakukan apapun untukmu, ci. Dan sebaliknya, jika dia menyakitimu katakan saja padaku. Aku yang akan memukulnya. Dan jika dia masih menyakiti mu juga, aku akan merebut mu darinya."


Mata Uci melebar, wajah Uci bahkan berubah. Arifin malah tertawa, "lihat wajahmu itu!"


Uci menunduk malu, merasa Arifin sudah mengodanya.

__ADS_1


"Aku masih ada meting di luar, kamu tidak masalah jika kembali ke kantor sendiri kan?" Ujar Arifin, Uci mengangguk.


Kedua nya berpisah di depan resto. Karena memang tak jauh dari kantor, Uci memilih berjalan kaki saja. Di tengah langkahnya kembali ke kantor Uci di kejutkan oleh dua orang yang tiba-tiba menghadangnya.


"Vita? Ahsan? Apa yang kalian lakukan disini?" Tanyanya kaget melihat kedua adiknya yang berpakaian lusuh.


"Mbak..." Lirih Vita hampir menangis.


"Apa yang terjadi, ta?"


"Kami kabur mbak, tolong kami, juragan Andi mengejar kami karena bapak dan ibuk di penjara dan tak bisa membayar hutang." Ujar Ahsan menggenggam tangan Uci.


Uci merasa iba dengan keadaan adik-adiknya, Uci melihat jam yang melingkar di lengannya. Sudah hampir habis waktunya istirahat siang. Tapi ia juga tak tega jika membiarkan kedua adiknya begitu saja.


"Kalian sudah makan?"


Ahsan dan Vita menggeleng,


"Mbak masih harus kerja, ikut mbak." Ajak Uci menuntun kedua adiknya ke sebuah warung tak jauh dari kantor.


"Kalian makanlah di sini dulu. Nanti mbak coba hubungin teman mbak untuk menjemput kalian. Atau, jika tidak ada yang datang mencari kalian. Tunggulah di sini sampai mbak pulang nanti jam 4." Titah Uci, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah pada kedua adiknya."pegang ini dulu, mbak kerja dulu."


Kedua adik Uci mengangguk patuh. Sebelum pergi, Uci sempat menitipkan kedua adiknya pada penjaga warung, juga memberinya uang.


Setelah berada di dalam kantor, Uci mencoba menghubungi Hengki.


"Halo mas?"


("Iya, ci? Ada apa?")


"Mas sibuk nggak?"


("Kenapa?")


"UMM, bisa kah mas menjemput adik-adik ku di warung dekat pabrik?"


("Adik?")


("Baiklah, dimana? Dan siapa namanya?")


Uci menutup sambungan telponnya setelah menyebutkan warung makan dia meninggal Vita dan Ahsan. Ia merasa tenang sekarang.


Sepulang kerja, Hengki menjemput Uci seperti biasa. Uci langsung menghampiri Hengki begitu keluar dari kantor.


"Mas adik-adik ku...."


"Mereka aman, ada di carwash." Jawab Hengki memasangkan helm di kepala Uci.


"Makasih mas."


"Mas sudah tanya pada mereka tadi. Jadi kamu nggak perlu cerita panjang lebar." Ujar Hengki menarik tuas gas motornya.


Selama dalam perjalanan Hengki dan Uci hanya diam. Entah kenapa Uci merasa Hengki sedikit ketus dan marah pdanya.


"Mas marah?"


"Marah kenapa?"


"Uci merasa mas sedang marah sama Uci."


"Enggak, ci. Cuma..."


"Kenapa?"


Hengki sedikit ragu mengatakan nya,"tidak."


Hening,


"Ci!"


"Iya mas?"


"Mereka, biar tidur di carwash saja. Sementara, jangan di bawa ke rumah Tante Gina."

__ADS_1


Uci tercenung, benar,, ia bahkan belum membicarakan nya dengan mama Gina dan papa hari.


"Tapi, apa nggak merepotkan mas?"


"Enggak, nanti kita bisa cari kos buat mereka." Usul Hengki.


Sesampainya di carwash. Uci bertemu dengan kedua adiknya. Sebenarnya, bukan adik, hanya orang asing yang pernah menjadi adik karena mereka tidak terikat darah.


"Ta!" Panggil Uci memeluk adik perempuannya.


"Maaf mbak. Maafkan kami."


"Sudahlah, kalian sudah makan?" Tanya Uci.


"Tadi siang aja mbak." Jawab Ahsan.


"Ya udah, kalian mandi dulu, mbak udah belikan baju buat kalian ganti. Setelah itu kita makan bersama." Ajak Uci,


Hengki menggelar tikar untuk mereka duduk, makan bersama para pekerja dan tentu saja adik-adik Uci yang sudah selesai mandi dan bersih duduk di tempat yang sedikit terpisah.


"Maaf ya mbak, kami jadi merepotkan mbak Uci." Ujar Vita tak enak hati karena sudah pernah ikut bersikap buruk pada Uci.


"Nggak papa, ta. Sementara ini kalian tidur di sini dulu sampai kami menemukan kos buat kalian."


"Kenapa kami nggak tinggal di rumah mbak aja?" Tanya Ahsan.


"Uumm, itu, mbak belum ijin sama mama dan papa."


"Mbak beruntung ya? Bisa punya mama dan papa orang kaya. Kenapa dulu bukan Vita aja yang di culik. Vita lelah mbak jadi orang susah."


"Jangan bicara begitu, ta."


"Kenapa sih, kami harus jadi anak ibuk? Menanggung semua hutang ibuk dan bapak."


"Sudah Ta, sudah. Nggak ada gunanya menyesali hal semacam itu. Sekarang, gimana kalian menjalani hidup di kota. Sudah itu saja."


"Kami aja hidup menggelandang, mbak." Tukas Ahsan.


Uci merasa iba juga pada kedua adiknya. Ia menatap Hengki yang tau arti dari tatapan itu. Pria tampan itu menghela nafasnya.


"Mas, bisa nggak kalau mas bantu Carikan kerjaan buat mereka." Pinta Uci memelas.


"Ahsan biar nanti kerja di carwash. Dan Vita bisa di Skylar untuk sementara waktu. Ruang tempat kalian tadi istirahat, akan jadi tempat tinggalmu sementara. Kalian nggak keberatan?" Tawar Hengki.


"Makasih mas."


Hengki tersenyum kecil, sepeprti di paksakan.


Setelah berbicara panjang lebar. Akhirnya, Hengki mengantar Uci pulang ke rumah mama Gina.


"Mas, aku kasihan sama Vita sama Ahsan. Gimana kalau aku minta ijin sama mama Gina untuk membiarkan mereka tinggal di rumah? Rumah itu luas..."


"Uci, kamu tau sejarahnya kamu di culik dan diperlakukan semena-mena, kan? Tante Gina nggak akan dengan mudah memaafkan Bambang dan Sumi ataupun anak keturunan nya. Jika tante Gina tau, dia pasti akan mengirim mereka ke kampung. Kamu mau?"


Uci menggeleng, "tapi mungkin saja mama sudah memaafkan mereka. "


"Maaf Ci. Sebenarnya, mas nggak suka kamu terlalu baik dan terlibat lagi dengan keluarga itu. Mas merasa mereka... Aaahh, sudahlah. Ikuti saja apa kata mas. Jangan bicarakan ini dengan Tante Gina. Oke?"


Uci mengangguk pasrah, ia memang kasihan pada Vita dan Ahsan. Tapi, memang rasanya aneh melihat mereka tiba-tiba ada di kota dan mengeluh seperti ini. Semoga saja tidak ada hal buruk terjadi.


****


Hari ini Hengki tak menjemput Uci karena sedang mengurusi beberapa masalah. Uci tak mempermasalahkan nya dan memilih menggunakan ojek online untuk ke carwash menemui adik-adik nya. Namun, saat sampai di carwash, ia justru melihat Hengki yang sedang menegur Ahsan.


"Mas? Ada apa ini?"


Hengki mengusap rambutnya kebelakang, sedangkan Ahsan hanya menunduk.


"Kenapa San?"


"Nggak ada ci, mas cuma kasih peringatan aja. Itu aja kok."


"Peringatan? Emangnya apa yang udah Ahsan lakukan mas?"

__ADS_1


__ADS_2