
Bab 50
"Biar mas ajarin."
Hengki mematikan kompor, lalu menangkup wajah Uci.
"Kok di matiin sih mas?" Protes Uci yang makin berdebar.
"Udah enak kok seblaknya, nanti gosong lagi."
"Kan belum Mateng."
"Udah, udah. Kan mau mas ajarin ciuman tadi kan?"
"Nanti aja deh, mas." Elak Uci.
Hengki terkekeh kecil. "Buka mulutnya, ikuti gerakan lidah mas ya."
"Eehh, tapi... Ummmpp..."
Mulut Uci sudah terbungkam oleh Hengki. Matanya semakin sayu dan lama-lama menutup juga. Gadis itu masih diam membiarkan Hengki mengobrak-abrik rongga mulutnya. Ia ingat untuk mengikuti gerakan lidah sang suami. Ikut menggerakkan sedikit bibirnya. Meski masih merasa kaku, perlahan Uci bisa mengimbangi Hengki.
"Pelajaran hari ini cukup." Ujar Hengki melepas pangutannya,"kita makan dulu."
Uci mengangguk dengan wajah yang memerah.
"Enak nggak mas?" Tanya Uci saat sudah senyantap seblak dalam satu piring yang sama dengan suaminya. Mereka kini sudah berpindah ke ruang keluarga, duduk lesehan di atas karpet bulu sambil menonton tivi.
"Enak. Cuma pedesaan."
Uci tersenyum kecil, terdiam sejenak memilih kata yang tepat untuk bertanya.
"Mmmm, mas." Uci ragu-ragu.
"Heemmm?"
"Masalah adik-adik ku..."
"Mas udah mengurus mereka." Potong Hengki, " Seharusnya, jika mereka menurut, juragan Andi tak bisa mendapatkan mereka. Tapi, jika mereka tetap bertingkah, aku tak bisa jamin." Terang Hengki menghabiskan seblak buatan sang istri.
" Dan istriku, mereka bukan tanggung jawab mu. Mereka bahkan tak memiliki hubungan darah denganmu. Ingat-ingat lah apa yang mereka lakukan padamu di masa lalu. Bahkan masih mereka lakukan di masa kini. Mereka itu keluarga toxic yang sulit di obati." Sambungnya sambil memberesi piring dan sendok miliknya dan milik Uci.
Uci hanya terdiam. Memang apa yang Hengki ucapkan itu tidak salah. Ia sudah di manfaatkan sejak masih sekolah dulu bahkan sampai ia sedewasa ini.
Hengki berjalan membawa semua kotoran piring ke dapur dan kembali lagi setelah beberapa menit berlalu. Pria tampan itu duduk di sisi Uci yang masih termenung. Lalu merangkul Uci untuk bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu,"
Hengki memiringkan tubuhnya semakin mendekat pada istrinya.
Uci mematung tak bergerak, wajah Hengki semakin dekat hingga membuat matanya juling. Kedua mata insan berbeda jenis itu menutup. Sesapan kecil Uci rasakan, perlahan bibir nya bergerak membalas. Lidah Hengki menyusup masuk melalui celah bibir Uci yang terbuka.
Dua lidah bertemu dan beradu. Tangan Hengki menekan tengkuk Uci, sedang tangannya yang lain memeluk pinggang sang istri. Tangan Uci terangkat memeluk leher Hengki. Di karpet bulu, tubuh Uci terjatuh dengan lembut. Kedua bibir mereka masih beradu. Seolah enggan untuk berjarak. Suara nafas yang bersahutan kian memburu.
"Apa kamu sudah siap, menjadi istriku seutuhnya?" Tanya Hengki menyatukan keningnya dengan kening milik Uci.
"Sudah." Jawab Uci dengan nafas cepat, dadanya naik turun mengisyaratkan hal yang sama hengki rasakan.
Hengki mengukir senyum, wajahnya mendekat lagi dan menautkan bibirnya.
"Kamu semakin pandai bermain lidah."
"kamu yang mengajariku." jawab Uci, matanya yang tak terbuka dengan sempurna. Hengki tersenyum nakal.
"Aku ajari kamu hal lain yang menyenangkan." Kembali menautkan bibirnya, lalu turun ke leher Uci.
"Sepertinya kamu cukup berpengalaman, mas." Uci mendessaah pelan menggigit bibir bawahnya.
Hengki tertawa kecil.
"Uci jangan terlalu kasar." racau Hengki dengan kekehan.
"Maaf..."
Cengkraman tangan Uci lepas dari kepala suaminya. Hengki kembali menempelkan bibirnya di dada atas Uci. Menyesapi nya hingga meninggal noda merah di sana.
Hengki mencium lagi bibir ranum istrinya. Semakin lama semakin bersemangat. Aktifitas itu terjeda sesaat, dan kembali menyatukan bibir begitu semua pakaian teronggok di lantai samping karpet ruang keluarga.
Bibir Hengki mengecupi wajah Uci, menyusuri leher hingga ke dadanya. Merremass gundukan kenyal yang mengeras. Tangan Uci menekan kepala Hengki.
"Apa yang harus aku lakukan mas?" erang Uci dengan suara terputus.
Hengki mengulas senyum menggoda,
"Diam saja dan nikmati." bisik nya menggulum daun telinga Uci. Gadis itu menggeliat kegelian, tertawa kecil. Mencoba mengikuti apa yang Hengki katakan, ia diam saja. Namun tubuhnya terus menggelinjang tak karuan.
Uci mengerang, kala tangan nakal Hengki menyentuh area sensitif nya. Bermain-main di sana. jari Hengki bergerak ke dalam Jalur lahir Uci, bergerak maju dan mundur. Memaksa Uci mengerang dan menginginkan lebih.
"Kamu suka?"
Tanpa jawaban, hanya suara erangan dan nafas yang tak beraturan. Hengki tersenyum menatap wajah Uci.
__ADS_1
"Basah Ci." ungkap Hengki impulsif.
Bibir Hengki menyesapi pucuk gundukan kenyal di depannya. Tangannya terus mempercepat ritme pergerakan maju mundur. Uci mengerang lagi, lebih keras dari sebelumnya. Mulutnya terbuka lebar. Tangannya reflek menjambak rambut Hengki, tubuhnya semakin tegang dan sulit ia kendalikan.
"Cu-cukup mas." racau Uci mengerang semakin keras.
"Tidak mau..." kekeh Hengki merasakan milik Uci yang makin berkedut. ia mempercepat gerakan tangannya.
"Aaaakkkhhh...." tubuh Uci bergetar, perlahan remassan tangannya di rambut Hengki melonggar.
Peluh Uci menciptakan kulit cantik nya yang berkilat menggoda dan makin seksi di mata Hengki.
Hengki menarik tangannya, memeluk pinggang uci dan melummat bibir seksi Uci yang terbuka.
"Aku beri kamu jeda lima belas menit." lirih Hengki di telinga Uci. "Tunggu yang lebih besar menghujam mu dengan keras."
"Ka-mu bilang jeda lima belas menit, tapi kamu masih tak melepaskan ku." Protes ucim
Mata gadis itu terpejam menikmati sentuhan Hengki di tubuhnya. Ia mulai terbiasa, sentuhan Hengki membuat nya makin gila dan serakah.
"Kamu milikku malam ini, Ci." bisik Hengki.
Uci menggerang lagi, Saat Hengki mencoba masuk ke area pribadi yang baru saja jari nya masuki. Menghujam dengan kenikmatan yang pertama kalinya Uci rasakan.
Gerakan tubuh Hengki semakin lama semakin cepat. Hentakannya bahkan membuat tubuh Uci bergetar hebat.
"Mass.... Maasss..... Sudah, aku.. mau pipis..."
"Keluarkan di sini ci, jangan di tahan." Sahut Hengki dengan nafas yang sudah terputus-putus.
"Enggak, maass.. sudah.... Ku mohon.. aku mau pipis." Erang Uci memohon.
"Keluarkan di sini..." Hengki semakin kuat menghujam tubuh Uci."jangan ditahan, itu memang harus di keluarkan!"
"Masss....!!"
Tubuh itu terus bergetar kuat, suara lenguhan panjang berhasil keluar dari mulutnya bersamaan dengan cairan yang ia keluarkan.
"Bagus..." Kekeh Hengki yang juga sudah mencapai ujung nikmatnya.
Peluh Hengki dan Uci menyatu. tubuh yang berkeringat itu perlahan memisahkan diri dari tubuh sang istri.
"Mas haus ci, minum dulu ya."
"mas, cairan apa ini?"
__ADS_1