
Mama Artika dibuat terperangah begitu ia melihat reaksi Uci. Berbeda dengan dugaan Mama Artika dan juga tuduhan dari Erin, Uci masih bisa bersikap ramah dan tidak mempermasalahkan sedikit pun mengenai saus yang tumpah ke sepatunya.
"Maaf, Nyonya! Nyonya baik-baik saja, kan? Biar saya yang bersihkan," ujar Uci dengan suara lembut pada Mama Artika.
Mama Artika pun dibuat tertegun. Uci sangat ramah dan juga murah senyum. Sosok Uci yang ia temui sangatlah berbeda dengan Uci yang diceritakan oleh Erin.
'Gadis ini benar-benar ramah! Erin pasti salah paham dengan gadis ini,' batin Mama Artika.
"Maaf, ya? Sepatu kamu jadi kotor," sahut Mama Artika.
"Tidak masalah, Nyonya!" Uci segera membersihkan saus yang tumpah itu dan segera kembali mengerjakan pekerjaannya yang lain.
Nama Artika terlihat begitu menyukai Uci. Suara Uci yang lembut dan senyumannya yang manis membuat wanita paruh baya itu terkesan saat pertama kali melihat Uci.
"Ini gadis penjilat yang dikatakan oleh Erin? Anak itu pasti hanya mengada-ada," gumam Mama Artika sembari memandangi Uci dari kejauhan."Atau gadis ini yang sangat pandai memerankan aktingnya? tapi, ia bahkan tak tau siapa aku. untuk apa dia berpura-pura? mungkin juga karena perkerjaan, baiklah, bagaimana kalau kita coba yang lain?" sambung mama Artika tersenyum penuh arti.
Tak cukup sampai di situ, Mama Artika pun kembali mengetes Uci untuk melihat reaksi gadis itu. Kali ini, Mama Artika ingin melihat apakah Uci akan membantu dirinya atau tidak.
Wanita paruh baya itu sengaja duduk dengan wajah memelas di depan cafe untuk menarik perhatian Uci. Tepat saat jam pulang, Uci pun berpapasan dengan mama Artika dan menegur wanita paruh baya yang memasang tampang muram itu.
__ADS_1
"Nyonya belum pulang?" sapa Uci pada Mama Artika.
"Nak, apa Tante bisa minta tolong sebentar?" tanya Mama Artika.
"Silakan nyonya! Saya akan bantu sebisa saya!" ucap Uci pada Mama Artika.
"Tante baru saja kejambretan, Nak. Semua barang-barang Tante hilang. Tante kesulitan untuk pulang," ujar Mama Artika penuh drama.
Gadis polos seperti Uci tentu tidak akan curiga sedikit pun saat melihat wanita paruh baya seperti Mama Artika memasang tampang memelas. Uci dengan mudahnya percaya pada perkataan Mama Artika dan benar-benar mengira wanita paruh baya itu tidak bisa pulang ke rumah.
"Kejambretan di mana, Nyonya? Nyonya baik-baik saja, kan? Perlu saya panggilkan polisi?" tanya Uci dengan penuh perhatian pada Mama Artika.
"Kendaraan Tante hilang, Nak! Tante juga tidak bisa menghubungi siapa pun untuk menjemput Tante. Dompet Tante juga hilang. Tante tidak punya uang sepeser pun untuk pulang," ungkap Mama Artika.
Mendengar perkataan Mama Artika, Uci pun sukses dibuat iba. Sementara, supir Mama Artika hanya bisa menggelengkan kepala melihat majikannya yang sengaja mengerjai Uci.
"Astaga, bagaimana bisa? Saya akan bantu laporkan ke bos saya. Bagaimana kalau kita ke kantor polisi sekarang?" tawar Uci.
"Tidak perlu, Nak! Tidak perlu. Tante hanya ingin pulang. Tapi Tante bingung bagaimana Tante bisa pulang," sahut Mama Artika. Bisa repot nanti kalau sampai Uci melibatkan polisi betulan.
__ADS_1
Uci pun mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan orang lain. "Alamat rumah Nyonya di mana? Saya memang tidak bisa membantu banyak, tapi saya akan mengantar Nyonya pulang," tawar Uci tanpa banyak basa-basi.
Mama Artika kembali dibuat terkejut. Wanita itu tak menyangka Uci akan langsung membantu dirinya tanpa banyak tanya.
"Benar kamu akan mengantar tante pulang?" tanya Mama Artika. "Tante tidak merepotkan?"
"Kalau Nyonya berkenan, saya akan antarkan nyonya pulang sekarang," sahut Uci.
Mama Artika menyambut tawaran Uci dengan senyum sumringah. "Terima kasih banyak, ya! Terima kasih banyak!" ucap Mama Artika.
Uci pun benar-benar mengantarkan wanita paruh baya itu pulang. Dengan mengendarai taksi, akhirnya keduanya pun tiba di istana Mama Artika yang megah.
'Rumahnya besar sekali!' batin Uci merasa takjub melihat kediaman Mama Artika."Nyonya ini pasti orang kaya. ya ampun..."
"Erin pasti hanya mengada-ada! Gadis itu sudah berbohong mengenai Uci! Erin pasti juga berbohong mengenai Uci yang menggoda Hengki!' batin Mama Artika.
Wanita paruh baya itu pun menganggap semua perkataan Erin hanyalah kebohongan belaka, termasuk perkataan Erin yang mengungkapkan kalau Hengki dan Uci saling berhubungan. 'Sepertinya Uci juga tidak mengenal Hengki. Semua perkataan Erin pasti tidak benar!' batin Mama Artika jengkel.
Tepat setelah turun dari taksi, Uci pun berpapasan dengan Arifin yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut. Uci terkejut bukan main saat melihat bosnya di rumah itu. Ia benar-benar tidak tahu kalau Mama Artika adalah ibu dari Arifin.
__ADS_1
"Uci?"