Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 37


__ADS_3

Bab 37


"Mama sudah mencarimu kemana-mana tapi...huhuhu..." mama Gina mulai menangis lagi, tak kuasa jika mengingat apa yang telah ia lalui untuk menemukan anak bungsunya.


"Kenapa saya Tante? Kenapa Tante sangat yakin jika saya anak Tante?" Tanya Uci yang masih sangat bingung.


"Sayang, sebenarnya, Hengki dan Restu yang berperan besar di sini." Ucap mama Artika mengambil alih pembicaraan karena mama Gina masih terus menangis yang tak bisa menguasai diri. Terus menerus memeluk Uci karena rasa haru dan rindu pada sang putri yang telah lama terpisah."Awalnya mereka hanya mencari tau tentang orang yang kamu sebutkan menjadi calon suami yang Bambang dan Sumi jodohkan padamu. Hebatnya mereka malah menelusuri masa lalu mu juga. Sampai akhirnya kami di titik menyadari keterkaitan antara Sumi, kamu dan Gina." Jelas mama Artika panjang lebar.


Uci masih tampak bingung, ia menatap Hengki yang duduk tak jauh darinya. Sejak masuk ke dalam hotel tadi, Uci terus meraih tangan Hengki. Dan Hengki mengerti ketakutan dan kebingungan Uci, hingga tangan keduanya saling bertaut hingga kini.


Hengki menatap lembut kekasihnya yang terus menuntut penjelasan darinya. Karena Uci benar-benar dalam kondisi bingung dengan keadaan yang serba tiba-tiba ini. Setelah berada didasar jurang tiba-tiba diangkat tinggi hingga mencapai langit. Ia takut melambung dan jatuh, hingga harus merasakan sakit lagi, dan lagi.


"Uci, tante Gina ini sudah sangat lama kehilangan anaknya. Itu bertepatan dengan kepulangan Bu Sumi dan Bambang ke kampung. Mereka dulu adalah pekerja di rumah tante Gina. Karena suatu alasan, om Haris dan tantr Gina mengusir mereka."


"Apa kalian tidak salah mengenali? Mungkin saja bukan aku, anak ibuk nggak cuma Uci, mas. Tante." Uci masih mengelak.


Mama Artika tersenyum mendengarnya, memang dari dulu ia sudah menyukai Uci. Gadis yang tidak silau bahkan oleh harta. Ia menatap sahabatnya Gina. Gina menggeleng, "tidak, sudah di pastikan anak mama itu kamu. Kamu adalah Serina mama..." Ujar mama Gina memeluk Uci dengan lelehan kristal bening di pipinya.


"Kami sudah melakukan tes DNA, ci. Dan hasilnya 99 persen cocok." Jelas restu ikut angkat bicara."Kami masuk ke kontrakanmu dan mengambil rambut yang masih tertinggal di sisirmu. Dari sana kami bisa melakukan tes. Tapi, jika kamu ragu, kita bisa melakukan tes ulang. Dan aku sangat yakin hasilnya sama saja."


"Aku tak bisa percaya ini..." Ucap Uci lirih,


"Kami pun sama, hanya satu petunjuk darimu. Kami bisa membongkar kasus 23tahun silam." Timpal Hengki, Uci menatap pria yang menatap lembut padanya. Ia masih belum percaya.


"Ini hasil tes nya ci. Kamu bisa melihatnya." Ujar mama Artika menyerahkan lembaran hasil tes DNA.


Uci mencermati nya, baru ia percaya."pantas saja ibu sangat pilih kasih, pantas saja ibu selalu menyuruhku mengerjakan semua pekerjaan rumah meski ada anak-anak ibu yang lain, pantas saja sikap ibu berbeda pada ku... Ternyata ini alasan nya." Gumam Uci, "kenapa ibu jahat sekali?"


"Maaf ci, ini semua karena mama mengusirnya. Mama tak tahan dengan sikap genit Sumi yang terus menggoda papamu. Dan Bambang yang penjudi dan mencuri barang-barang di rumah. Kami hanya mengusir, tidak sampai memenjarakan mereka. Tidak mama sangka mereka sampai hati menculik kamu sayang." Terang mama Gina.


"Tante..."

__ADS_1


"Panggil mama sayang, ini mama mu, panggil mama, huum?" Pinta mama Gina, Uci mengangguk ragu.


Hingga beberapa lamanya mereka saling melepas rindu. Hengki dan keluarga sengaja memisahkan diri untuk memberi ruang bagi Uci dan keluarga yang telah lama berpisah itu saling melepas rindu.


Hari berikutnya, setelah memberi kesaksian dan keterangan di kantor polisi. Uci dan seluruh keluarga kembali ke Jakarta. Begitupun dengan Hengki dan yang lainnya.


"Ini rumah kita, ci." Ucap mama Gina begitu mereka sampai di rumah besar dengan halaman luas itu.


Uci masih memandang rumah yang hampir sama besarnya dengan rumah mama Artika. Ia masih belum percaya jika dirinya adalah anak orang kaya yang di culik oleh wanita yang terus menyia-nyiakan dan memerasnya.


"Ayo masuk kerumah kita, nak." Ajak papa Hari yang di angguki oleh mama Gina.


Orang tua baru Uci mengajak Uci berkeliling memperkenalkan setiap ruang dan kamar padanya. Mereka juga memperkenalkan status Uci pada para pelayan yang bekerja di sana.


Di ruang keluarga, Uci melihat foto wanita yang beberapa kali memaki dan mengintimidasi dirinya. Siapa lagi kalau bukan Erin. Uci memandang sang mama yang tersenyum memahami arti tatapan tanya Uci.


"Itu Erina, kakakmu."


Uci tersenyum getir, wanita yang sudah memaki dirinya ternyata adalah kakaknya. Sekarang dia berada di luar negri, mama menghukumnya karena sudah berbuat kurang ajar pada orang tua. Mama salah dalam mendidik kakakmu. Setelah kepergian mu mama sangat kehilangan dan terus memanjakan Erin. Maafkan mama ci, mama akan meminta Erin pulang nanti agar kalian bisa bertemu."


Selama beberapa hari ini Uci tidak sempat bertemu dengan Hengki. Karena mama Gina masih ingin menghabiskan waktu dengan putrinya yang hilang. Tentu saja membuat sepasang kekasih itu di dera penyakit rindu.


"Ci, telpon dari Hengki!" Suara mama Gina dari bawah tangga. Kamar Uci memang berada di lantai dua samping kamar Erin.


Uci berlari kecil turun dari kamarnya. Karena kasus yang menimpa dirinya, ponsel miliknya sempat di tahan di sebagai barang bukti. Sampai tiga hari ini ia sama sekali tidak berkomunikasi dengan Hengki. Mama Gina tersenyum melihat Uci yang bersemangat menerima panggilan dari Hengki.


"Halo mas."


("Kamu sibuk nggak hari ini?")


"Enggak mas, di rumah aja."

__ADS_1


("Ya udah, mas ke rumah ya.")


Uci tersenyum, rasa hatinya girang bukan main karena akan bertemu dengan sang kekasih. Hal itu dapat mama Gina tangkap, dari awal mama Gina sudah curiga dengan hubungan Uci dan Hengki. Mulai Hengki yang pergi ke kampung Uci sampai saat-saat tangan keduanya yang terus bertautan ketika di hotel dulu.


Uci merasa malu sendiri saat ia tertangkap basah oleh mama Gina tersenyum sendiri setelah menutup sambungan telpon dari Hengki.


"Kamu pacaran sama Hengki?" Tanya mama Gina memastikan.


Uci tersipu malu dan mengangguk. Sedari awal ia memang ingin berbesanan dengan sahabatnya. Tak menyangka jika akhirnya justru Uci dan Hengkilah yang sepertinya menjadi pengikat dua keluarga itu. Padahal dulu saat melihat ledekan Arifin dan Erin, mama Gina sempat berpikir mungkin saja berjodoh. Tapi, kejadian terakhir membuat mama Gina sadar. Jika Arifin ataupun Artika tidak menginginkan Erin sebagai bagian keluarga, karena sikap dan sifat Erin yang arogan dan manja.


"Apa kata Hengki?"


"Mas Hengki bilang mau kemari." Jawab Uci sedikit merasa ragu,"ma, Uci bolehkan sama mas Hengki?"


"Kok nanyanya gitu?"


"Uci hanya takut jika papa dan mama tidak merestui. Mas Hengki yang sejak awal selalu mensupport Uci ma. Membantu Uci meski dirinya sendiri kesulitan. Uci belum begitu mengenal keluarga nya, tapi mas Hengki seorang pekerja keras. Dulu bapak dan ibuk tidak merestui karena mas Hengki hanya orang biasa, dan tidak kaya." Tutur Uci yang membuat mata mama Gina melebar.


"Apa maksudmj tidak kaya?"


"Iya, mas Hengki bekerja di carwash, dan kafe Skylar, kadang ia juga narik ojek online, ma."


Mulut mama Gina melebar sempurna, ia baru paham jika Uci ternyata belum tau jika Hengki adalah anak Mama Artika sahabat mamanya.


"Tapi, Hengki itu..."


"Ma, tolong jangan lihat mas Hengki dari materi, ia memiliki hal yang jauuuhhh lebih berarti dari pada itu. Uang masih bisa kami cari bersama, tapi kebaikan hati dan sikap tak bisa dicari ma." Uci mencoba memberi mama Gina pengertian agar sang mama tidak memandang Hengki sebelah mata.


"Kamu cinta sama Hengki?" Tanya mama Gina yang lebih tertarik dengan perasaan Uci pada Hengki. Uci mengangguk kecil,"ya sudah, nanti Hengki kemari kan? Biar mama tanya seberapa jauh hubungan kalian."


"Jadi mama tidak marah? Mama setuju?"

__ADS_1


"Tentu saja sayang, mama juga kenal Hengki kok. Walau waktu kecilnya dulu dia degil banget..." kekeh mama Gina."ya sudah, sana siap-siap sebelum Hengki datang."


"makasih ma...."


__ADS_2