Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 21


__ADS_3

Saat ini Hengki sudah berdiri di kediaman megah yang sudah lama tidak ia datangi. Kediaman siapa lagi yang didatangi oleh Hengki kalau bukan kediaman orang tuanya sendiri.


"Tidak ada yang banyak berubah," gumam Hengki saat mengamati rumah Mama Artika itu.


Sudah setahun lamanya putra bungsu dari Mama Artika itu tidak pulang. Setelah memutuskan untuk hidup di jalanan, Hengki benar-benar melepaskan diri dari kemewahan dan fasilitas yang diberikan oleh kedua orang tuanya.


Kali ini, pria itu mau tak mau harus pulang untuk menyampaikan niatnya yang hendak menyunting gadis idaman. Hengki berniat memberitahu sang ibu dan meminta restu untuk menikahi sang kekasih tercinta, yang tidak lain ialah Uci.


"Mama pasti kaget saat melihatku," gumam Hengki mulai melangkah menuju ke pintu masuk.


Pria itu memencet bel layaknya tamu yang tengah berkunjung. Tak lama kemudian, seseorang pun muncul dari balik pintu, yang tidak lain ialah Mama Artika sendiri.


Wanita paruh baya itu membelalakkan mata begitu ia melihat Hengki sudah berdiri di depan mata. Tanpa mengatakan apa pun, pria itu tiba-tiba muncul dan memberikan kejutan.


"Mama?" sapa Hengki dengan canggung saat ia berjumpa dengan Mama Artika.


Mama Artika mematung. Wanita paruh baya itu memandangi Hengki dari atas kepala hingga ujung kaki. Terlihat sekali kalau wanita paruh baya itu sangat merindukan putranya yang jarang pulang itu.


Namun, Mama Artika tidak ingin luluh begitu saja dan memberikan sambutan pada putra bungsu bandel yang memilih hidup di jalanan itu. "Siapa ini? Apa Mama punya anak lain di luar sana?" sindir Mama Artika menanggapi Hengki yang memanggil dirinya dengan sebutan mama.


Hengki melempar senyum. Pria itu tahu betul ibunya sangat merindukan dirinya.


"Baru ingat pulang kamu? Baru ingat kamu kalau punya mama? Baru ingat kamu kalau punya rumah?" sindir Mama Artika lagi.


Tentu saja maksud dari sindiran wanita paruh baya itu bukan untuk mengusir sang putra, melainkan untuk melayangkan protes pada putranya yang jarang pulang.


"Betul, Ma! Sepertinya aku baru saja mengalami amnesia," sahut Hengki menanggapinya dengan gurauan.


Mama Artika pun langsung memukul bahu putra bandelnya itu. "Dasar anak nakal! Kapan kamu ingat kalau kamu punya mama, hah?" omel Mama Artika.


Hengki sontak berlari melarikan diri dari pukulan ibunya. Usai puas mengomeli putra bungsunya, wanita paruh baya itu pun langsung memeluk Hengki dengan erat.


"Mama rindu sekali padamu!" ungkap Mama Artika dengan manik mata berkaca-kaca.


"Hengki juga, Ma! Hengki juga sangat rindu pada mama!" sahut Hengki.

__ADS_1


"Jangan bohong! Kalau kamu rindu pada Mama, seharusnya kamu pulang sejak lama, kan?" omel Mama Artika lagi.


Hengki hanya bisa tersenyum menanggapi omelan dari sang ibu. Pria itu pun bergegas masuk ke dalam rumah dan berbincang banyak bersama dengan Mama Artika.


"Apa ada hal khusus yang membuat kamu akhirnya pulang? Kalau tidak ada apa-apa, kamu pasti tidak akan pulang, kan?" sindir Mama Artika.


Hengki hanya bisa tertawa. Sejak tadi ibunya tidak juga berhenti menyindir dirinya.


"Aku minta maaf, Ma! Jangan marahi aku lagi, ya?" pinta Hengki.


"Kamu tunggu di sini dulu! Mama akan buatkan makan malam untukmu!" ujar Mama Artika.


"Waktu makan malam masih lama, Ma. Nanti saja Mama memasaknya," sahut Hengki. "Ada hal penting yang ingin aku bahas bersama dengan Mama."


Melihat wajah serius dari putranya, Mama Artika pun mengurungkan niatnya untuk mengobrak-abrik bahan makanan di dapur, dan berbincang sejenak untuk mendengarkan maksud dan tujuan kepulangan dari putra bungsunya itu.


"Ada apa? Serius sekali?" komentar Mama Artika.


Hengki menghela nafas sejenak. "Aku ... ingin menikah!" ungkap Hengki pada Mama Artika.


Mama Artika membulatkan mata lebar-lebar begitu ia mendengar perkataan sang putra. Setelah satu tahun tidak pulang, tiba-tiba Hengki datang dan membahas pernikahan. Benar-benar hal yang tidak pernah diduga oleh Mama Artika sebelumnya.


Mama artika cukup terharu mendengar perkataan dari putranya itu. "Hengki, sejak kapan kamu menjadi pria dewasa seperti ini?" gumam Mama Artika penuh haru.


"Aku sangat mencintainya, Ma. Aku yakin, dia adalah jodohku. Karena itu, aku ingin segera meresmikan hubungan kami. Lagipula usia Hengki juga sudah matang. Hengki juga sudah berpenghasilan. Hengki yakin bisa membahagiakan gadis idaman Hengki," sahut pria itu penuh dengan percaya diri.


Sayangnya, Hengki tidak menyebutkan siapa gadis yang dimaksud olehnya. Hengki tidak mengatakan kalau gadis yang ingin ia nikahi adalah Uci. Dan Mama Artika sendiri juga tidak tahu kalau gadis yang dimaksud oleh Hengki adalah Uci.


"Sepertinya anak Mama sedang dimabuk cinta, ya?" goda Mama Artika.


Hengki hanya bisa tersenyum mendengar godaan dari sang ibu. Jarang-jarang Hengki menceritakan perempuan pada Mama Artika.


"Siapa gadis itu? Kapan kamu akan memperkenalkannya pada Mama? Sudah berapa lama kamu berkencan dengannya? Kamu benar-benar yakin ingin menikah dengannya?" tanya Mama Artika dengan pertanyaan beruntun.


Sayangnya Hengki masih bungkam dan merahasiakan identitas dari gadis itu. Pria itu tidak mengatakan banyak hal mengenai Uci, dan hanya berkata pada ibunya kalau dirinya akan segera mengajak kekasihnya untuk menemui sang ibu.

__ADS_1


Tentu saja Mama Artika menyambut baik keinginan Hengki yang ingin menikah. Pas sekali, wanita paruh baya itu juga ingin segera meresmikan hubungan Uci dengan Arifin. Wanita paruh baya itu bahkan sempat berniat untuk melangsungkan pernikahan kedua putranya di waktu yang bersamaan, tanpa tahu jika gadis yang akan dipinang oleh kedua putranya adalah orang yang sama.


*****


Keesokan harinya, Erin pun dikejutkan dengan sosok Hengki di saat gadis itu berkunjung ke kediaman keluarga Bram. Erin nampak kaget saat ia melihat Hengki berada di rumah tersebut. Benar-benar pemandangan yang cukup asing, karena sebelumnya Hengki tak pernah pulang ke rumah.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Erin pada Hengki.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang kamu lakukan di rumah mamaku?" sinis Hengki.


"Memangnya kenapa? Aku sudah sering kemari!" sahut Erin.


Erin terdiam sejenak sembari melirik Hengki dengan tatapan tidak suka. "Kamu sudah benar-benar memutuskan untuk pulang? Kenapa? Kamu sudah lelah hidup miskin? Atau kamu sudah meninggalkan gadis pelayan itu?" tanya Erin tiba-tiba.


"Gadis pelayan apa maksudmu?"


"Gadis pelayan siapa lagi kalau bukan Uci! Kamu sedang dekat dengan gadis itu, kan?" cibir Erin. "Aku tidak menyangka, seleramu sangat rendahan! Kamu tidak takut bergaul dengan gadis miskin? Gadis itu pasti hanya memanfaatkanmu saja," sambung Erin.


Kamu pikir semua orang mempunyai pikiran picik sepertimu? Uci bukan gadis yang seperti itu! Uci tidak tahu apa pun tentang hidupku. Uci hanya tahu Hengki seorang pegawai di tempat carwash. Selain itu, Uci tidak tahu apa pun. Jadi sudah sangat jelas tidak mungkin Uci mengincar harta, di saat gadis itu sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya!" sahut Hengki.


"Oh, jadi gadis miskin itu tidak tahu kalau kamu adalah putra dari pemilik PT Scender?" tanya Erin. "Kamu tidak takut gadis itu marah nantinya. Gadis itu bekerja di perusahaan papamu, kan? Kalau dia tahu ternyata kamu selama ini hanya berbohong, dia pasti sangat kecewa dan merasa dibodohi."


Hengki tersenyum sinis. "Tidak semua orang berpikiran sempit sepertimu! Yci bukan gadis seperti itu!" ujar Hengki tetap membela Uci dengan tenang.


Niat hati ingin membuat Hengki jengkel, tapi justru Erin sendiri yang dibuat kesal oleh pria itu. 'Sialan! Hengki benar-benar sulit untuk diprovokasi!' batin Erin.


"Daripada kamu sibuk mengurusi urusan orang lain, lebih baik kamu fokus aja perbaiki diri kamu sendiri agar tidak dicampakkan!" cibir Hengki membuat Erin semakin geram.


Sudah tak tahan mendengar cibiran dari Hengki, Erin pun berlari meninggalkan adik dari Arifin itu dan berniat untuk mencari Mama Artika. Namun, Erin justru tak sengaja mendengar percakapan tidak terduga saat dirinya hendak memanggil Mama Artika.


"Lebih baik kita segera lamar gadis itu untuk Arifin, Pa!" ucap Mama Artika pada Pak Bram.


"Mama sudah yakin?" tanya Pak Bram.


"Sudah, Pa! Mama yakin, Uci adalah gadis yang baik! Dan Arifin juga sangat menyukai Uci, Pa. Lebih baik kita segera lamar gadis itu, sebelum dia diambil orang!" sahut Mama Artika.

__ADS_1


Erin terkejut bukan main. "Apa-apaan ini? Arifin akan menikah dengan Uci?" gerutu Erin.


****


__ADS_2