Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 40


__ADS_3

Bab 40


"Erin,"


Erin melihat ke arah pintu masuk kamarnya dengan malas."apa pa?"


"Ayo ikut papa ke kantor, kamu pasti bosan di kamar terus."


Dengan malas Erin beranjak dan mengikuti sang papa. Mau di rumah pun ia malas, apalagi mama Gina jelas condong ke arah Uci.


Dalam perjalanan ke kantor sang papa.


"Kamu udah ketemu sama adik kamu?"


"Sudah," jawab Erin ketus.


"Kenapa? Uci nggak sesuai dengan bayangan kamu?"


"Bukan nggak sesuai pa, tapi dia itu... Hiihh..."


"Kenapa?"


"Aku nggak suka, pa. Dia itu pintar cari muka dan sok playing victim gitu." Ujar Erin mengungkapkan kekesalannya pada Uci.


"Ya udah, cerita sama papa."


Erin pun mulai bercerita tentu saja bumbu penyedap terus ia tambahkan agar sang papa menaruh simpati padanya, dan memihak dirinya.


"Kenapa ya, Rin, cerita kamu sama cerita Uci berbeda?"


"Ya ampun pa, jadi cewek murahan itu..."


"Erin! Dia adikmu! Tak pantas kamu menyebutnya seperti itu." Tegas papa menegur.


"Haahh, ya ampun." Erin menyentak nafasnya makin kesal, "Dia udah menghasut papa ternyata. Benar-benar licik."


"Papa harus mendengar dari dua sudut Erin."


"Sepetinya, papa juga bakal memihak dia. Sudahlah buat apa aku bicara."


"Sudahlah Rin, terima saja Uci sebagai adikmu."


"Enggak pa. Dia itu licik! Bisa saja dia menipu dengan mengaku sebagai anak papa dan mama."


"Kami sudah melakukan tes DNA, Rin."


"Mungkin saja dia memanipulasi hasil tes DNA."


"Uci bahkan tidak tau menahu tentang tes DNA itu, Rin. Bagaimana bisa dia memanipulasi?"


"Sudahlah pa, aku lelah. Jika papa memintaku keluar hanya untuk hal seperti ini aku lebih baik tidur di kamar." Tukas Erin makin kesal.


Pembicaraan pun selesai begitu saja.


Di kantor Uci.


"Kamu udah masuk ci?" Sapa Arifin di lorong kantor.


"Iya, pak Arifin."


"Panggil mas aja."


"Tapi ini kan di kantor pak,"

__ADS_1


"Nggak papa, gimana di rumah baru? Nyaman?" Tanya Arifin mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah,"


"Aku dengar Erin pulang, dia tidak mempersulit mu, kan?"


"Enggak."


"Bohong."


Uci tersenyum geli, "bapak ini nanya, atau meragukan?"


"Hahaha, iya, aku kan cukup tau bagaimana sifat Erin karena kami sudah kenal sejak kecil."


Uci terdiam sesaat, sejak dulu ia punya banyak pertanyaan di kepalanya. Tapi sampai sekarang ia selalu gagal mendapatkan jawabannya.


"Mas Arifin,"


Arifin tersenyum senang mendengar Uci menyebutnya 'mas'.


"Sejak kapan mas kenal mas Hengki?"


Wajah Arifin sedikit berubah,"kenapa tiba-tiba nanyain itu?"


"Penasaran aja. Baik mama Gina, mbak Erin, mas Arifin, ataupun Tante Artika sepetinya berada dalam lingkaran yang sama dengan mas Hengki. Walaupun mas Hengki hanya orang susah seperti Uci dulu."


"Kamu udah pernah nanya sama mama Gina?"


"Udah mas," jawab Uci jujur.


"Apa katanya?"


Uci menggeleng, "mama belum sempat jawab," Arifin manggut-manggut.


Uci mematung menatap Arifin, "ada apa sebenarnya? Kenapa seperti ada rahasia?"


Sore harinya, seprti biasa, Hengki menjemput Uci di depan kantor.


"Mas nggak masuk hari ini?"


"Masuk pagi." Jawab Hengki memasangkan pengait helm Uci.


"Perasaan mas masuk pagi terus."


"Iya, biar sorenya bisa ngojek dan jemput kamu."


"Sore ini ada acara nggak?" Tanya Hengki menarik tuas gas motor setelah Uci duduk di jog belakang, dan melingkarkan tangan di perutnya.


"Enggak, mas."


"Ke Skylar bentar ya?"


"Kenapa? Mas mau ambil intensif?"


"Enggak. Ada acara kecil-kecilan di sana."


"Eh? Tapi kan, Uci nggak di undang, juga sudah bukan karyawan di sana lagi mas."ujar Uci merasa tak enak.


"Nggak papa ci, yang punya kok yang ngundang."


"Eehh? Pak Satya maksudnya? Kenapa mas?"


"Udahlah, nggak usah banyak tanya, mau ya?"

__ADS_1


Walau merasa aneh, Uci mengangguk juga. Ia memang belum pernah bertemu dengan pemilik kafe skylar langsung. Semua urusan pak Jarwo yang mengurusnya. Uci hanya pernah membaca nama pemiliknya dalam kontrak kerja. Satya Nugroho.


Sesampainya di Skylar, Uci melihat tempat itu ramai seperti biasanya. Hengki mengajak Uci ke rooftop kafe. Di satu sisi bagian, terdapat satu meja yang agak menjauh dari keramaian. Meja itu hanya memiliki sepasang kursi yang berhadapan dan di sisi belakangnya terdapat rangkaian tanaman bunga dan lampu Tumblr membentuk love. Sangat indah sekali.


Uci menatap Hengki. Pria tampan itu justru tersenyum, lalu menuntun Uci untuk duduk ke meja tersebut.


"Mas, apa ini?" Tanya Uci minta penjelasan. Hengki menekan lembut bahu Uci agar duduk, lalu ia sendiri duduk di sisi yang lain hingga mereka berhadapan.


"Bagus nggak?" Hengki malah balik bertanya,"Aku sengaja menyusunnya sendiri tadi. Kamu suka?"


Uci mengangguk ragu. "Mas,"


"Udah lapar kan?" Ucap Hengki saat seorang pelayan membawa makanan mendekat,"aku udah pesan tadi, semua kesukaan mu. Makan dulu yuk."


Uci memilih diam dan menurut saja, walau Uci bisa menebak apa yang akan Hengki lakukan. Tapi ia tak mau berprasangka dan melambung karenanya. Sebab, ini masih belum pasti.


Seusai makan makan dengan suasana yang hangat dan nyaman. Juga candaan yang terus Hengki lontarkan hingga membuat Uci tertawa beberapa kali dan merasa sangat bahagia. Gadis itu menutup makanan dengan meminum jus. Ada rasa aneh saat Uci menghabiskan jus dalam gelasnya. Sesuatu yang mengganjal dilidahnya, perlahan, Uci mengeluarkan benda itu dan mengambilnya. Sebuah cincin yang sangat indah dengan manik di tengahnya. Uci menatap Hengki.


"Mas, ini..."


Hengki mengambil cincin beserta tangan Uci."mas bukan orang yang romantis, maaf ya, ci. Mau Uci nikah sama mas? Jadi istri mas? Jadi ibu yang melahirkan anak-anak mas? Membersamai mereka sampai dewasa dan berumah tangga, sampai kita menua dan maut memisahkan kita? Apa kamu bersedia, ci?"


Dari gelagatnya, Uci tau niat Hengki untuk melamar begitu melihat kursi dan rangakaian tanaman bentuk love. Hengki masih menunggu, walau ia terlihat tenang, sebenarnya ia deg-degan juga.


"Maaf ya ci, mas nggak bisa bersimpuh di depanmu buat ngelamar."


Uci tersenyum melihat Hengki yang kentara gugup, tapi berusaha menyembunyikan nya.


"Kenapa mas?"


"Ada meja di sini."


"Ya udah, mas singkirin aja mejanya, biar mas bisa bersimpuh."


"Jadi kamu mau mas bersimpuh di depanmu?"


Uci terkekeh, "enggak. Pasangin gih, cincin nya bagus, sayang kalau dianggurin."


"Jadi, kamu terima?"


"Iya, terima cincinnya,"


"Kalau lamaran mas?"


"Terima cincinnya aja." Kekeh Uci menggoda.


"Eeh, nggak boleh, terima cincin ya harus terima lamaran juga dong."


"Mau pasangin nggak?"


"Terima nggak?"


Uci terkekeh lagi,"terima,"


"Apanya? Cincinnya?"


"Iya cincinnya, iya lamarannya."


Keduanya tersenyum, senyum bahagia yang di bagi bersama. Tangan Hengki perlahan menyematkan cincin bermata indah ke jari manis Uci.


"Makasih, ci."


Uci menggeleng, "makasih mas."

__ADS_1


__ADS_2