Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 13


__ADS_3

Bab 13


Uci membawa nampan ke ruang tamu dan melihat dua orang pria yang tengah duduk bersama dengan kedua orang tuanya. Pria berwajah sangar itu langsung melirik ke arah Uci begitu Uci muncul.


"Eh, Uci! Sini!" panggil Bu Sumi pada Uci.


Uci segera mendekat dan meletakkan gelas minuman yang ia bawa. Sesekali gadis itu melirik sekilas ke arah tamu yang datang. Dua pria yang duduk di dekat sang ibu terlihat sangar dan sepertinya juga memiliki usia yang tidak jauh dari Bu Sumi.


'Siapa bapak-bapak preman ini? Wajahnya seram sekali!' batin Uci merasa tidak nyaman saat melihat tamu-tamu ibunya itu.


"Silakan tehnya!" ucap Uci, kemudian beranjak meninggalkan ruang tamu.


Tapi Bu Sumi segera mencegah Uci, sebelum gadis itu benar-benar pergi. "Eh, mau ke mana? Duduk di sini dulu!" perintah Bu Sumi.


"Oh, jadi ini anak gadisnya, ya?" tanya seorang pria berwajah seram bernama Pak Andi.


Pria itu melirik ke arah Uci dengan tatapan yang membuat Uci merasa tidak nyaman. 'Kenapa bapak-bapak ini melihatku sampai seperti itu?' batin Uci.


"Betul, Pak! Ini anak saya namanya Uci!" ungkap Bu Sumi memperkenalkan Uci pada Pak Andi.


Uci yang duduk di samping sang ibu, langsung melempar senyum ramah ke arah Pak Andi. Hal ini dilakukan oleh Uci semata-mata hanya demi menjaga sopan santun di depan para tamu.


'Siapa sebenarnya orang-orang ini?' batin Uci penasaran.


"Masih muda sekali, ya?" komentar Pak Andi.


"Uci memang masih muda pak. Saat ini Uci bekerja di kota," ungkap Bu Sumi mulai menceritakan tentang Uci pada orang-orang tersebut.


Uci hanya bisa tersenyum tanpa memberikan banyak tanggapan. Sesekali bapak-bapak berwajah seram itu melirik ke arah Uci dengan pandangan yang membuat Uci jijik. Bahkan saat beradu pandang dengan Uci pun, pria itu masih sempat-sempatnya melempar senyum mesum pada Uci.


Uci benar-benar ingin kabur dari ruang tamu. Tapi sayangnya Bu Sumi masih asik mengoceh tanpa henti.


"Uci ini anaknya rajin. Uci juga mempunyai pekerjaan bagus di Jakarta. Uci juga sangat berbakti," ujar Bu Sumi memuji Uci tanpa henti. Benar-benar pemandangan yang langka terjadi. Tidak biasanya Bu Sumi memuji dan mengatakan hal yang baik mengenai Uci hingga seperti itu pada orang lain.


Terlebih lagi, Bu Sumi terlihat seperti tengah mempromosikan anak gadisnya itu di depan Pak Andi Dengan mengatakan hal-hal yang baik tentang Uci. "Maksud ibu apa, sih? Dari tadi memuji aku terus di depan bapak-bapak ini,' batin Uci.


Bu Sumi sepertinya memiliki maksud tertentu saat memuji-muji Uci di depan Pak Andi. Apalagi gelagat yang ditunjukkan Pak Andi juga cukup mencurigakan. Pria tua itu terus mencuri pandang ke arah Uci dengan tatapan yang tidak pantas.

__ADS_1


"Wah, masih muda! Rajin juga, ya?" komentar Pak Andi.


"Uci ini juga sangat rajin mengurus pekerjaan rumah. Uci juga pintar memasak," ujar Bu Sumi.


"Benar-benar calon istri idaman, ya?"


Selama Bu Sumi dan Andi berbincang, Uci hanya diam tanpa memberikan tanggapan. Setelah kurang lebih setengah jam terjebak di ruang tamu, akhirnya Uci dapat terlepas dari suasana tidak nyaman itu.


Gadis itu segera kembali berlari ke dapur, sebelum Bu Sumi memperpanjang perbincangannya dengan Pak Andi. "Siapa sih bapak-bapak itu? Dari tadi melihatku dengan tatapan mesum terus!" gerutu Uci.


Sayangnya di hari berikutnya, Uci lagi-lagi harus terjebak dengan pria tua genit itu. Bu Sumi memaksa-maksa Uci untuk menemani Pak Andi di saat hari pelaksanaan resepsi.


"Cepat kamu berias dan temani Pak Andi!" perintah Bu Sumi.


Di hari yang membahagiakan ini, Bu Sumi justru menyiksa Uci dengan memaksa gadis itu menemani pria tua yang tidak Uci suka. "Menemani Pak Andi?" tanya Uci dengan dahi berkerut.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" sungut Bu Sumi.


Tanpa ditanya pun, tentu saja Uci tidak mau. Tapi sebelum Uci mengatakan hal itu pun, Bu Sumi sudah terlebih dahulu memasang tampang garang.


"Kamu ingin membantah, ya? Kamu berani membantah perintah Ibu? Kamu menjadi anak durhaka? Ibu hanya meminta hal kecil seperti ini saja kamu tidak mau? Ini yang Ibu dapatkan setelah Ibu bersusah apa yang membesarkan kamu?" Omelan Bu Sumi pun mulai meledak-ledak. Hanya hal kecil seperti ini saja sudah membuat wanita paruh baya itu tersulut emosi.


Setiap kali berdebat dengan sang ibu, sudah pasti Uci yang kalah. Apalagi jika Bu Sumi sudah mengungkit-ungkit mengenai pengorbanan wanita itu untuk membesarkan dan merawat Uci. Rasanya Uci seperti anak durhaka yang hina setiap kali gadis itu mencoba mempertanyakan permintaan dan perintah dari sang ibu.


"Maaf, Bu! Maksud Uci bukan begitu. Maksud Uci bukan untuk membantah," ujar Uci.


"Lakukan saja kalau begitu! Tidak perlu banyak tanya!"


Uci tidak mempunyai pilihan lain. Gadis itu tidak berani menolak perintah dari sang ibu. Uci hanya bisa mengangguk, dan menuruti kemauan Bu Sumi.


"Iya, Bu!" sahut Uci.


Acara hajatan pun berlangsung dengan meriah. Bu Sumi menyebar banyak undangan, dan mengadakan acara besar-besaran untuk pernikahan putri sulungnya.


Namun, selama acara berlangsung, Uci sama sekali tidak bisa menikmati suka cita yang dirasakan oleh keluarganya. Ingin sekali gadis itu melarikan diri dan berkumpul dengan kerabat. Tapi sayangnya ia tak bisa meninggalkan Pak Andi seorang diri.


"Kamu cantik sekali mengenakan kebaya!" puji Pak Andi pada Uci.

__ADS_1


Bukannya tersipu, pujian Pak Andi justru membuat uji makin jijik. "T-terima kasih, Pak!" ucap Uci canggung.


"Acaranya meriah sekali, ya? Ibu kamu benar-benar pintar membuat acara!" cetus Pak Andi.


Uci hanya mengangguk dan sesekali melempar senyum tipis. Gadis itu nampak gelisah saat duduk di samping pria tua berwajah sangar itu. 'Kapan acara ini berakhir?' batin Uci dengan penuh harap.


Akhirnya hari yang berat itu pun selesai sudah. Uci segera meninggalkan pria tua itu tepat setelah acara selesai.


Meskipun tidak bisa beristirahat, dan masih harus membantu membereskan sisa hajatan, tapi Uci bersyukur dirinya bisa terlepas dari Pak Andi.


"Uci, keluarga kamu sepertinya dekat sekali ya dengan Pak Andi?" seru seorang kerabat Uci yang tiba-tiba mengajak Uci membahas pria tua itu.


Uci nampak malas membicarakan bapak-bapak berwajah sangar itu. Tapi gadis itu juga tidak ingin mengabaikan bibinya yang saat ini tengah mengajak dirinya berbincang.


"Uci tidak kenal, Bi. Itu kenalannya Ibu," ungkap Uci.


"Lebih baik kamu jangan terlalu dekat dengan Pak Andi," cetus Bibi Uci memberikan peringatan pada keponakannya itu.


"Memangnya kenapa, Bi?" tanya Uci.


"Pak Andi itu rentenir! Jangan sampai kamu masuk ke dalam jeratan lintah darat itu!" sahut kerabat dari Uci itu.


Uci terkejut bukan main. Ternyata pria berwajah sangar itu adalah seorang rentenir. Uci benar-benar bersyukur gadis itu tidak perlu lagi berjumpa dengan Pak Andi, dan sebentar lagi Uci juga akan kembali ke kota.


"Astaga! Uci benar-benar tidak tahu, Bi. Ibu sama Bapak tidak memberitahu apa pun pada Uci," ungkap Uci.


Uci pun makin dibuat muak dengan Pak Andi. "Untung saja aku tidak perlu berurusan lagi dengan orang itu!"


Setelah acara berberes usai, Uci pun bergegas kembali ke kota untuk melanjutkan aktivitas. Tepat di hari berikutnya, Uci pun berpamitan pada kedua orang tuanya dan kembali mengais rezeki di ibukota.


"Uci pamit ya, Bu, Pak!"


Akhirnya Uci pun kembali ke rutinitasnya. Gadis itu membuka pintu kamar kontrakannya dan segera merebahkan diri di kamar kecil yang menjadi tempat istirahatnya itu.


"Besok aku harus kembali bekerja lagi!"


*****

__ADS_1


__ADS_2