Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 41


__ADS_3

Bab 41


"Arifin, keterlaluan sekali dia. bahkan sekalipun tidak menghubungiku." gerutu Erin pada dirinya sendiri.


selama beberapa hari di rumah, ia hanya bertemu dengan teman-temannya. Dan melihat-lihat kantor sang ayah. sebagai anak tertua, sudah tentu dialah yang nantinya bakal jadi penerus. Namun itu justru membuat Erin bosan.


"Erin, siang ini ikut papa meting, ya?!" pinta papa Hari di kantornya.


"Enggak ah pa. Erin disini cuma beberapa hari saja. Dari kemarin cuma nemenin papa aja, aku juga mau kumpul sama teman-temanku pa." gerutu Erin menolak.


"Ya sudah, kalau begitu. papa pergi dulu ya ke Scandler."


"scander, itu bukannya kantor arifin?"


"iya."


"papa mau meting di sana?"


"heemm... karena kamu tidak mau, ya papa pergi sendiri deh."


"Eehh, mau dong pa." Sela Erin cepat. Papa hari tersenyum melihat sang sulung yang berubah cepat ketika mendengar scander. Ia cukup tau jika Erin menaruh minat pada Arifin. Walau ia sendiri tak yakin dengan perasaan Arifin pada Erin. Tapi, sudahlah, yang penting Erin mau ikut meting kantor.


Selama dalam perjalanan, papa Hari trrus mencoba agar Erin mau lebih terbuka lagi dengan Uci.


"Next time kita keluar bareng ya, Rin. Sama mama, kamu, Papa, Uci."


Awalnya, Erin terlihat sumringah, tapi berubah masam begitu mendengar nama Uci.


"Kenapa? Kamu nggak mau ada Uci? Dia adikmu loh Rin." Ungkap Papa Hari yang menangkap wajah masam sang anak.


"Aku nggak suka pa sama dia."


"Apa yang membuatmu tak suka? Cobalah kamu lebih mengenalnya. Kalian memiliki darah yang sama. Darah milik papa dan mama."


Erin memilih diam, enggan untuk terus menyampaikan keberatan karena ia tau percuma. "Mereka sudah terlanjur menyukai Uci. Akan sangat sulit untuk menghasut seperti Tante Artika." Gumam Erin dalam hati."aahh, mood ku langsung hilang, mending ketemu saja dengan Arifin. Bisa bangkitin mood yang jelek."


Sesampainya di kantor Arifin.


"Pa, aku ke toilet dulu ya," pamit Erin.


"Oke, papa tunggu di ruang meting ya." Papa hari berjalan lebih dulu. Sementara Erin berkeliaran mencari Arifin.

__ADS_1


Erin berjalan melewati meja sekertaris Arifin begitu saja untuk masuk ke dalam ruangan Arifin.


"Eeh, mbak Erin. Maaf, mbak nggak bisa masuk sekarang pak Arifin nya lagi nggak ada di ruangannya." Cegat sang sekertaris..


Erin mendengus kesal, tatapan mata Erin memindai sang sekertaris wanita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia sangat tak suka dengan pakaian wanita itu yang terkesan terbuka.


"Kamu ini mau kerja apa mau ke klub? Pakaiannmu, ya ampun... Cobalah berpakaian yang sopan jika di kantor, apalagi atasanmu itu laki-laki, lajang lagi. Apa kamu berniat untuk menggoda Arifin?" Omel Erin.


"Ini sudah sesuai standar dalam berpakaian, mbak Erin. Semua ada dalam peraturan perusahaan, tidak ada yang salah. Jika memang salah, pasti saya udah mendapatkan teguran."


"Iya ini aku lagi negur kamu."


"Maaf, mbak Erin bekerja sebagai apa di perusahaan ini? Apa komite kedisiplinan?"


Erin mendelik pada sekertaris Arifin itu, "kamu!" Geramnya.


"Ada apa ini?" Suara Arifin dari ujung ruangan.


"Ini Fin, sekertaris mu..."


"Kenapa, sama Nanda?"


"Aku tegur dia, malah dia nyolot."jawab Erin.


"Kenapa nan?"


Erin mendelik mendengar Arifin justru bertanya pada Sang sekertaris. "Vin!"


"Aku harus mendengar dari dua sisi, Rin." Ucap Arifin, "katakan, Nanda."


"Kata mbak Erin saya berpakaian kurang pantas. Dan berasumsi jika saya ingin menggoda bapak."


Arifin terkekeh sendiri mendengar penjelasan Nanda. Erin mendelik di buatnya, "apaan sih Vin!?"


"Vin!" Pekik Erin karena Arifin tak kunjung berhenti tertawa.


"Udah, kembali bekerja Nanda." Titah Arifin pada sekertaris nya, yang langsung patuh kembali ke balik meja kerja.


"Kok malah di suruh pergi sih? Kasih peringatan dong Vin." Protes Erin.


"Kamu ngapain disini?"

__ADS_1


"Ikut meting sama papa."


"Om Hari udah datang?"


"Udah," jawab Erin sedikit ketus,"kamu kenapa sih biarin sekertaris itu? Apa jangan-jangan, kau suka sama dia?"


"Iya," jawab Arifin tenang."aku memang menyukai nya."


"Apa?" Erin mendelik tak terima.


"Erin, dengarkan aku. Kita tidak memiliki hubungan apapun. Jangan bertingkah seolah kamu kekasihku. Sikapmu ini sangat menggangguku, cobalah untuk lebih lembut dalam bersikap dan berperilaku pada orang di sekitar ku. Mungkin aku bisa lebih membuka hati padamu. Huummm?"


Erin terdiam, ia menjadi sangat terluka karena Arifin jelas menolaknya. Padahal ia sangat mencintai Arifin. Tapi Erin sadar, ia memang sudah bersikap posesif pada Arifin.


Sepanjang hari, Erin terus memikirkan perkataan Arifin. Ia terus merenung, dan mulai berpikir untuk berubah."Baiklah, aku akan mencoba berubah untuknya."


Sore itu di rumah Mama Gina. Di ruang tamu Uci duduk di samping sang mama. Hengki juga memilih duduk bertamu setelah lamarannya tadi.


"Wajah, bagus sekali cincinmu?"ucap Mama Gina.


"Ini dari mas Hengki ma." Jawab Uci.


"Ooh ya?" Seru mama Gina dengan mata melebar."ini dari kamu?"


Hengki mengulas senyum. Melihat pasangan muda itu terlihat tersipu malu, mama Gina mengerti jika hubungan keduanya sudah lebih serius.


"Jadi, apa ini sebuah cincin pengikat?"selidik mama Gina.


"Saya melamarnya tadi, Tante."


"Benarkah?" Mata mama Gina berbinar."Apa kamu menerima nya sayang?" Lanjut mama bertanya pada Uci. Melihat senyum Uci yang malu-malu dan cincin yang sudah melingkar di jari manisnya, mama Gina tau jawabannya.


"Jadi, kapan rencana pernikahan kalian?"


"Masalah itu, nanti mama dan papa yang akan datang kemari." Jawab Hengki.


"Baiklah, aku jadi tidak sabar." Seru mama Gina,


"Apa?? Siapa yang menikah?" Tanya Erin yang baru saja pulang bersama dengan Papa Hari.


"Adikmu Rin, Uci dan Hengki."

__ADS_1


"Apa?" Mata Erin melebar sampai hampir melompat keluar."Enggak! Mereka nggak boleh menikah!"


__ADS_2