Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 23


__ADS_3

Istirahat makan siang Uci benar-benar kacau. Gadis yang baru saja menikmati makan siang itu langsung mendapatkan kabar buruk, usai ia melahap makanan yang seharusnya membuat dirinya semangat.


Siapa lagi yang mengacaukan hari Uci kalau bukan Bu Sumi? Gadis itu lagi-lagi mendapatkan panggilan telepon dari sang ibu dan tentu saja hanya untuk membahas tentang uang.


"Halo, Bu?"


"Ibu butuh uang! Besok kirimkan uang tambahan untuk Ibu!"ujar Bu Sumi tanpa banyak basa-basi.


Uci hanya bisa diam. Gadis itu tidak bisa mengiyakan. Namun, Uci juga tidak berani untuk menolak.


"Kamu dengar ibu tidak? Besok kamu harus kirimkan uang pada Ibu! Ibu harus mencicil utang!" ungkap Bu Sumi.


"Utang apa Bu?" tanya Uci dengan dahi berkerut.


"Utang hajatan Kholifah kemarin! Ibu bukannya untung, malah buntung! Ibu masih punya banyak utang. Biaya untuk hajatan kemarin sangat besar. Ibu kira Ibu bisa meraup keuntungan, tapi ternyata malah minus," terang Bu Sumi panjang lebar.


Uci menghela nafas. Mencoba bertahan untuk hidup saja sudah berat, kini gadis itu masih dibebani dengan utang sang ibu.


"Ibu masih punya utang berapa? Utang ke siapa? Bukannya kemarin untuk kebutuhan hajatan sudah Uci bantu?" cetus Uci.


"Kamu bantu berapa? Kayak kamu bantu banyak aja! Kebutuhan hajatan kemarin sangat banyak! Mana mungkin Ibu bisa menutupi semuanya sendirian! Tentu saja sebagian besar biaya Ibu dapatkan dari berutang," sahut Bu Sumi.


"Masih banyak biaya hajatan yang belum Ibu lunasi! Besok kamu harus kirimkan uang tambahan! Mulai bulan depan kamu harus mengirimkan uang tambahan pada Ibu. Ibu harus mencicil utang ini," sambung Bu Sumi tanpa mempedulikan nasib Uci di tanah perantauan.


Uci nampak bingung memikirkan cara bagaimana untuk menolak keinginan sang ibu. Jika Uci masih membantu ibunya mengurus utang, bagaimana Uci bisa mengurus hidupnya sendiri?

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, Bu, tapi untuk bulan ini, Uci sudah tidak bisa mengirimkan uang lagi!" ujar Uci kemudian. Terpaksa Uci harus menolak kemauan sang ibu. Jika tidak, jatah uang Uci untuk bertahan bulan ini akan habis.


"Kenapa? Kamu tidak mau membantu Ibu mengurus utang? Kamu tega membiarkan Ibu malu? Kamu tega membiarkan Ibu dikejar-kejar orang karena tidak bisa membayar utang hajatan?" omel Bu Sumi.


Setiap kali ibu dan anaknya itu membahas uang, pasti ujung-ujungnya mereka bertengkar. Dan tentu saja, Uci selalu kalah.


"Bukan begitu, Bu. Uang Uci sudah habis. Uci sudah tidak bisa lagi mengirimkan uang," sahut Uci. Gadis itu juga sudah mengirimkan jatah uang bulanan pada kedua orang tuanya. Uang yang disimpan oleh Uci saat ini tinggallah uang untuk membayar kontrakan dan juga biaya hidupnya sampai gadis itu menerima gaji lagi.


"Sudah habis? Kenapa cepat sekali habisnya? Kamu juga cuma mengirimkan sedikit uang pada Ibu! Sekarang kamu bilang uangnya sudah habis? Kamu sudah mulai hitung-hitungan ya sekarang? Kamu sudah mulai pelit pada Ibu, ya?" omel Bu Sumi sengaja memojokkan Uci. Padahal gadis itu hanya mengatakan apa adanya mengenai kondisinya saat ini.


"Uci tidak bohong, Bu. Uang Uci memang sudah habis. Uci sudah tidak punya lagi kalau Ibu masih meminta kiriman," ujar Uci mencoba meminta pengertian dari ibunya. Tapi tentu saja Bu Sumi tidak mau menggubris kesulitan putrinya itu. Yang dipikirkan Bu Sumi hanyalah dirinya sendiri. Yang dikhawatirkan Bu Sumi hanyalah dirinya sendiri.


"Kalau uangnya Uci kirimkan pada Ibu, bagaimana Uci bisa membayar kontrakan? Bagaimana Uci bisa bertahan hidup sampai menerima gaji bulan depan? Tolong mengerti keadaan Uci di sini, Bu!" pinta Uci dengan sangat.


"Kamu meminta Ibu untuk mengerti keadaan kamu? Kamu sendiri juga tidak mau tahu dengan keadaan Ibu, kan? Saat ini Ibu sudah dikejar-kejar penagih utang! Ibu juga malu karena hajatan kemarin masih mempunyai banyak sangkutan yang belum terselesaikan! Kamu tidak mau membantu Ibu? Kamu hanya ingin memikirkan diri kamu sendiri saja?"


Bu Sumi pun dibuat makin geram. Tapi wanita paruh baya itu masih tidak menyerah juga untuk meminta uang dari anak gadisnya itu.


"Oh, jadi begitu! Kamu sengaja menggunakan alasan ini untuk menolak permintaan Ibu, kan? Jujur saja kalau kamu memang sudah tidak mau lagi membantu ibumu! Tidak perlu berbelit-belit dan berbohong segala!" sungut Bu Sumi.


Wanita paruh baya itu pun mulai memaki Uci dan mengomeli anak gadisnya itu hingga puas. "Pokoknya Ibu tidak mau tahu! Kalau kamu tidak ingin menjadi anak durhaka, kalau kamu memang berniat membalas budi pada orang tua, kamu harus mengirimkan uang pada Ibu besok!"


"Kalau dihitung-hitung, semua uang yang kamu berikan pada Ibu tidak akan bisa membalas perjuangan Ibu selama Ibu merawat dan membesarkan kamu! Sampai kamu mati pun, kamu tidak akan bisa membalas budi pada ibumu!" omel Bu Sumi. "Ibu sudah bersusah payah melahirkan kamu! Memangnya kamu pikir melahirkan seorang anak itu mudah? Ibu bertaruh nyawa demi kamu! Membesarkan bayi, memberinya makan, dan merawatnya hingga dewasa itu tidak mudah! Kamu pikir Ibu tidak mengeluarkan biaya besar untuk merawat kamu sampai kamu bisa bekerja seperti sekarang ini?"


Uci bungkam. Selalu saja hal ini yang dibahas oleh Bu Sumi. Ketika Uci menolak permintaan dari ibunya, Bu Sumi pasti akan membesar-besarkan masalah dan mengungkit kembali semua hal yang sudah dilakukan Bu Sumi demi membesarkan Uci selama ini.

__ADS_1


"Setelah semua pengorbanan Ibu, ini yang Ibu dapatkan? Selama ini Ibu berjuang hanya demi merawat anak durhaka seperti kamu? Selama ini Ibu bekerja keras hanya untuk merawat anak yang tidak tahu terima kasih seperti kamu?" sambung Bu Sumi.


Uci sudah kalah. Mau tak mau, gadis itu harus menuruti keinginan sang ibu. Uci juga harus membantu ibunya itu membayar utang dari acara hajatan sebelumnya. Beban yang dipikul oleh Uci pun menjadi semakin berat karena ulah ibunya sendiri.


"Kamu dengar Ibu tidak? Kamu sengaja mengabaikan Ibu, ya? Kamu memang sudah tidak mau lagi merawat ibu, ya?" oceh Bu Sumi tanpa henti.


"Maaf, Bu! Sebentar lagi masuk! Nanti kita sambung lagi, ya?" ujar Uci mencoba menyudahi panggilan teleponnya dengan sang ibu.


"Kamu mau ke mana? Jangan bawa-bawa pekerjaan sebagai alasan! Kamu belum menjawab permintaan Ibu! Besok kamu harus kirimkan uangnya!" tegas Bu Sumi sebelum Uci memutuskan sambungan telepon.


Uci segera menyimpan ponselnya dan kembali bekerja seperti biasa. Walaupun suasana hatinya tengah kacau dan berantakan, tapi garis itu masih tetap berusaha tegar dan menyelesaikan tugasnya dengan baik.


'Ke mana lagi aku harus mencari uang?' batin Uci. Gadis itu benar-benar dibuat frustasi oleh tingkah ibunya sendiri.


Beruntungnya pekerjaan Uci tidak terlalu terpengaruh, hingga akhirnya gadis itu berhasil melalui hari berat itu dan beranjak pulang untuk beristirahat.


"Aku pulang duluan, Uci!" ujar teman-teman Uci sembari melambaikan tangan pada gadis itu.


Uci membalas lambaian tangan teman-temannya dengan senyum kejut. Gadis itu pun melangkah keluar dari pabrik dan menghampiri Hengki yang sudah menjemput dirinya.


"Uci!" Hengky melambaikan tangan dengan penuh semangat pada sang kekasih, tapi sayangnya Uci justru mendatangi pria itu dengan tubuh lesu.


Pria itu pun berlari kecil mendekati Uci kemudian mengusap lembut kepala gadis kesayangannya itu. "Kenapa lagi? Wajah kamu pucat sekali!" cetus Hengki pada Uci."habis kena marah bos? atau kerjaan nggak kelar-kelar? atau malah punya masslah sama teman kerja?" cecar Hengki.


Uci bergeming, dan hanya menunduk sedih. Hengki tersenyum kecil,

__ADS_1


"Coba ceritakan padaku! mas yakin mas pasti bisa membantumu!"


*****


__ADS_2