Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 52


__ADS_3

Bab 52


Wanita bernama Lusi itu tertawa,"Hahaha, lucu kamu! Apa sekarang kantormu sudah pindah ke hotel?"


"Terserah, aku tak punya kewajiban menjelaskan kepadamu." Ujar Nanda tak perduli lalu berganti menatap bos nya."Kita pergi sekarang, pak?"


Arifin melihat jam yang melingkar di lengan kanannya. Alisnya mengernyit karrna waktu masih sangat banyak, tapi ia juga tak nyaman dengan wanita yang sepertinya teman Nanda itu.


"Ayo, sekalian kita bisa briefing dulu." Arifin beranjak dari duduknya setelah menghabiskan segelas teh hangat. Nanda juga mengikuti gerakan yang sama.


Sedangkan Lusi tampak kesal karena merasa di abaikan oleh Nanda dan pria yang bersamanya. Lusy mengambil gawainya dan mengikuti Nanda secara diam-diam dari belakang, tak lupa ia memfoto Nanda dan Arifin yang terlihat berbincang itu.


"Biar ku kirimkan ini sama Yoga. Mau lihat gimana reaksinya." Gumam gadis itu tersenyum licik.


Di ujung lorong, Arifin dan Nanda yang tak menyadari mereka telah di foto oleh Susi tetap melanjutkan perjalanan. Hari ini pertama mereka akan meep up dengan beberapa manager dari kantor cabang. Yang kebetulan meet up di adakan di salah satu ruang hotel.


"Setelah meting kita langsung kunjungan ke kantor pak. Lalu ke lapangan." Terang Nanda membaca jadwal mereka hari ini.


"Oke." Jawab Arifin singkat.


"Sebelum ke lapangan kita kan siang dulu dengan beberapa manager di Resto Skylar."


Langkah Arifin terhenti sejenak. Lalu menatap sekertaris nya. "Itu bukankah resto milik Hengki."


"Benar pak."


"Kenapa kesana?"


"Biar dapat diskon." Jawab Nanda singkat.


Arifin tertawa kecil. "Kamu yang mengaturnya?"


"Bukan pak, tapi Mas Hengki."


"Hari ini beliau dan istrinya melanjutkan bulan madu di Bandung. Dan kemarin menanyakan jadwal kita, ingin bertemu katanya akan memberi diskon khusus jika makan siang di sana." Jelas Nanda.


"Haaahh, sebenarnya aku sedang malas bertemu mereka." Keluh Arifin menghela nafas.


"Mau saya batalkan pak?"


"Nggak usah."


Di sisi lain, di waktu yang sedikit berbeda di tempat yang berbeda pula. Setelah malam-malam panjang yang di lalui bersama, Uci membuka matanya, menggeliat dan melihat ke sekeliling. Masih kamar yang sama dengan beberapa perabot yang tampak berantakan. Baju-baju nya berserakan di lantai. Rasa malu tiba-tiba menyergab nya, mengingat batapa liarnya permainan mereka semalam.

__ADS_1


"Mas Hengki seperti singa lepas saja. Ganas sekali." Gumam Uci melihat ke sisi kirinya. Tak ada sang suami di sana."Sepertinya, mas Hengki sudah bangun duluan."


Uci beranjak dari ranjang tanpa menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Wanita itu berlarian kecil sambil menahan rasa malu karena telah bertelanjang menuju kamar mandi. Padahal itu harusnya tak masalah karena hanya ada dirinya di kamar. Seusai membersihkan diri, Uci keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


"Loh, kok baju-baju ku nggak ada?" Gumam Uci mencari. Hanya ada baju yang berserakan di lantai. Tak mungkin juga dia memakai baju semalam. Apalagi baju itu cukup terbuka karena itu baju dinas malam Uci. Uci terduduk lemas. "Bagaimana sekarang?" Keluhnya.


Mata Uci terus berkeliaran ke seisi kamar. Dan berakhir di sofa dekap meja rias, sebuah paperbag yang bertuliskan sebuah toko yang cukup terkenal. Ia berjalan ke sana, dan mengambilnya, selembar note tertempel di luar paper bag. Uci membacanya, "untuk istri tercinta Uci." hanya kalimat singkat itu yang tertulis di sana.


Uci melihat isi paperbag itu. Dress berwarna biru muda yang sangat cantik lengkap dengan pakaian dalam yang sangat pas dengan sizenya. Dengan cepat Uci memakainya.


Gadis yang tak lagi perawan itu, berjalan mencari sang suami yang tak ia temui di sedari tadi. Di luar, rupanya Hengki sedang mengemasi barang-barang ke dalam bagasi mobil.


"Mas!" Panggil Uci mendekat. Hengki menoleh,


"Udah bangun, yang?"


Mendengar sebutan 'yang' membuat Uci tersipu. "Udah,"


"Ya udah, sarapan. Mas udah berkemas, habis sarapan kita ke Bandung."


"Jauh mas dari sini."


"Iya, skalian kalau capek bisa istirahat. Di buat santai saja lah. Ntar di Bandung kita ketemu sama mas Arifin. Dia lagi dinas di sana dan dan mas pengen nyusul ke Bandung." Terang Hengki, Uci hanya mengangguk saja.


"Ayo sarapan!" Ajak Hengki merangkul sang istri untuk masuk lagi. Urusan berkemas sudah selesai.


"Udah ku masukkan ke dalam paperbag."


"Ya udah, nanti jangan lupa di bawa." Pesan Hengki pada istrinya.


Seusai sarapan mereka segera ke Bandung. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar tujuh jam. Berangkat dari rumah yang mereka sewa selama hampir 2 hari. Berangkat pukul 6 pagi. Harusnya sampai lokasi jam 1 siang.


"Semoga masih keburu untuk ketemu sama mas Arifin."


"Emang masalah apa, mas, sampai mau nyusulin ke bandung?" Tanya Uci penasaran. Hengki hanya tertawa kecil.


"Ada deh," ucap Hengki tetap fokus menyetir.


"Iihh, mas Hengki mah," Uci mengerucutkan bibirnya.


Hengki makin terkekeh gemas karenanya. "Ntar juga tau, ci."


Tepat pukul 12.00 siang, mobil Hengki sudah sampai di cabang kafe Skylar lebih cepat satu jam. Gegas ia dan sang istri masuk ke dalam kafe.

__ADS_1


"Dimana Mas Arifin?" Tanya Hengki sambil menunjukkan foto sang kakak di hpnya pada operator kasir yang berdiri di belakang meja. "Hari ini harusnya ia makan siang di sini."


Tepat saat itu, Arifin dan rombongan baru masuk ke kafe. Hengki tersenyum melihat sang kakak.


"Mas,"


Mereka mengobrol sebentar sebelum memilih tempat untuk makan siang.


"Katanya mau diskusi, diskusi apaan? Malah ngomong sama sekertaris ku." Gerutu Arifin setelah acara makan siangnya dengan rombongannya, ia menghampiri Hengki yang duduk di sisi meja sebelah.


"He-he-he, sorry mas. Semalam pas aku telpon kantor, dia yang jawab, jadi sekalian aja." Hengki berlasan sambil merangkul sang istri.


"Mas aku ke toilet dulu ya." Ijin Uci.


"Oke."


"Mau ngomongin apa?" Tanya Arifin menggeret kursi di samping Sang adik.


"Nggak ada yang penting kok. Cuma mau kumpul aja."


"Ck! Ngeselin banged sih." Dengus Arifin.


Ponsel Hengki berdering, pria itu pun langsung menjawabnya."halo? Udah, udah sampai. Ok."


"Siapa?"


"Tante Mala."


"Dia mau ke sini?" Arifin membelalakkan mata.


"Iya."jawab Hengki nyengir,"nah itu dia."


"Kamu..." Belum sempat Arifin menyelesaikan kalimatnya, Hengki sudah menghampiri wanita seusia mama Artika dan seorang wanita yang bersamanya.


"Hiiihh, apa-apaan sih dia ini!"


Hai Fin," sapa Tante Mala, "kemarin pas acara Hengki, Tante nggak liat kamu?"


"Hehehehe, ia Tan, pas banget kemarin ada panggilan di kantor."


"Kamu nggak ambil libur?"


"Ambil, tapi ada hal yang mendesak yang harus aku tangani sendiri, Tan."

__ADS_1


"Oohh, masih ingat nggak sama Sekar?" Tanya Tante Mala menoleh ke arah wanita cantik di sebelahnya.


"Iya dong, ingat. Ingat banget sama wanita yang udah pernah bermain hati sama Arifin." Ucap Arifin tersenyum dengan dipaksakan yang seketika membuat wajah Sekar berubah masam."Oiya, kenalin nih, pacar Arifin, namanya, Nanda."


__ADS_2