Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 9


__ADS_3

Bab 9


"Uci?" sapa Arifin pada Uci.


Uci menundukkan kepala dan menyapa atasannya dengan hormat. Gadis itu tanpa sengaja berjumpa dengan Arifin yang saat ini tengah bersama dengan teman wanita yang pernah memaki Uci, bernama Erin.


"Kamu pelayan yang di cafe itu, kan?" tanya Erin tanpa banyak basa-basi pada Uci.


Uci mulai mengalihkan pandangan pada Erin. Ia benar-benar tak menyangka bisa kembali bertemu dengan wanita yang sudah mempermalukannya tempo hari itu.


"Sejak kapan kamu kenal gadis ini?" tanya Erin pada Arifin. Erin sendiri tidak tahu kalau Uci dan Arifin kembali bertemu di perusahaan.


Karena bertemu lagi di sini, Erin pun memanfaatkan kesempatan untuk kembali memaki Uci mengenai kejadian tempo hari di cafe. "Kamu masih ingat aku, kan?" tanya Erin.


"Kamu kenal juga dengan Hengki? Kalian berdua sama-sama kenal gadis ini?" tanya Erin lagi. Ternyata mereka semua saling mengenal. Arifin dan Erin juga mengenal Hengki.


"Aku tidak punya urusan denganmu!" seru Hengki. Ayo kita pulang!" ajak Hengki sembari menarik tangan Uci.


"Aku belum selesai bicara!" sahut Erin ingin mengungkit kembali mengenai kecerobohan Uci di cafe sebelumnya.


"Kamu ingin bicara apa lagi? Jangan membuat ulah lagi!" cetus Arifin memperingatkan Erin.


Erin sama sekali tidak mengindahkan ucapan Arifin. Wanita itu kembali memaki Uci di tempat umum, hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian di sekitar minimarket.


Sementara, Uci hanya bisa menundukkan kepala. Baru saja gadis itu benar-benar berbaikan dengan Arifin, tapi kini Erin sudah kembali membuat masalah.


"Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu? Atau kamu ingin pura-pura lupa padaku?" sinis Erin pada Uci.


Hengki mulai dapat menangkap situasi. Ternyata orang yang membuat Uci murung beberapa hari yang lalu saat bekerja di cafe adalah Erin.


"Apa yang kamu inginkan? Kamu punya masalah apa dengan Uci?" sahut Hengki ikut bersuara.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu, ya? Seharusnya kamu membela Arifin! Gadis tidak becus inilah yang sudah berulah pada Arifin!" ungkap Erin.


"Sudahlah, Erin! Aku dan Uci tidak ingin membesarkan masalah ini lagi. Ini hanya persoalan sepele. Kenapa kamu terus saja mengungkitnya?" omel Arifin ikut membela Uci.


Melihat ada dua pria yang angkat bicara mewakili Uci, membuat amarah wanita itu semakin meledak-ledak. "Aku berbicara dengan gadis ini! Kamu tidak punya mulut, ya? Atau kamu memang sengaja ingin mencari perhatian agar dibela?" sentak Erin makin garang pada Uci.


Terpaksa Uci pun harus angkat bicara. "Maaf, Nona. Saya benar-benar menyesal atas kecerobohan saya tempo hari. Saya minta maaf," ucap Uci.


Padahal orang yang ditumpahi minuman oleh Uci adalah Arifin. Tapi gadis itu harus meminta maaf berulang kali pada Erin yang sebenarnya tidak mempunyai urusan apa pun dengan Uci.


"Maaf? Kamu pikir maaf saja cukup? Apa kamu mendapatkan sanksi dari Cafe? Pasti tidak, kan? Enak sekali ya jadi kamu! Kamu merayu banyak orang untuk mendapatkan semua kemudahan, ya?" cibir Erin.


Hengki mengepalkan tangan kuat-kuat. Tentu saja ia tidak terima melihat Uci yang diinjak-injak seenaknya oleh Erin. Tapi ia lebih memilih untuk diam dan tidak ikut tersulut emosi. 'Apa maunya wanita ini? Awas aja kamu nanti, Erin!' batin Hengki yang nampaknya hendak menyelesaikan masalah ini di belakang.


"Jangan dengarkan dia! Anggap saja kamu sedang berbicara dengan orang gila!" bisik Hengki mencoba menenangkan Uci agar tidak terpancing emosi hanya karena Erin.


Uci juga tidak berencana memasukkan ke hati seluruh perkataan Erin. Gadis itu hanya diam dan menerima semua ucapan Erin padanya yang cukup menyakitkan hati.


Arifin makin dibuat malu dengan ulah Erin. Padahal pria itu sudah meminta maaf pada Uci mewakili Erin. Tapi kini Erin justru kembali berbuat ulah dan membesar-besarkan masalah yang tidak perlu.


"Siapa orang bodoh yang sudah memasukkan gadis bodoh sepertimu ke cafe itu?" sungut Erin, tanpa tahu jika orang yang membantu Uci mendapatkan pekerjaan di Cafe Skylar adalah Hengki.


"Lebih baik kamu cari pekerjaan lain saja! Membawa minuman saja kamu tidak becus!" sahut Erin lagi.


"Erin, jangan berbicara seperti itu! Kejadian tempo hari hanyalah ketidaksengajaan. Wajar saja seseorang membuat kesalahan," timpal Arifin membela Uci.


"Wajar? Itu bukan wajar namanya! Itu namanya bodoh! Semua orang bisa membawa minuman dalam nampan!" tukas Erin tak ingin menerima pembelaan dari Arifin.


"Kenapa kamu terus saja membela gadis itu? Kamu tidak kesal sedikitpun padanya? Kamu tidak ingin membuat perhitungan dengannya? Kaki kamu tidak baik-baik saja, kan? Apalagi yang ditumpangi oleh gadis itu adalah setelan mahal!" sambung Erin dengan penuh semangat.


Perasaan bersalah pun kembali muncul menghantui Uci. Baru saja gadis itu merasa lega karena sudah menyelesaikan masalah dengan Arifin, tapi kini Erin kembali datang dan membuat Uci lagi-lagi diterpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Sudah cukup, Erin!" Arifin makin tak enak hati saat ia melihat Uci yang sudah berwajah pucat.


"Kamu tidak mempunyai urusan dengan Uci, kan? Kenapa kamu harus berbicara sekasar itu pada Uci?" tukas Arifin.


Erin menatap Arifin dengan dahi berkerut. Sejak tadi Arifin terus saja menyebut nama Uci, Uci, dan Uci. "Kamu sudah kenal akrab dengannya, ya?" tanya erin dengan wajah tidak suka.


"Aku memang kenal dengan Uci," ujar Arifin kemudian.


Erin melotot pada Uci. Kemarahan wanita itu pun makin memuncak.


"Aku sudah muak mendengar suaramu! Aku tidak peduli apa pun masalahmu dengan Uci, tidak seharusnya kamu berteriak pada seseorang di tempat umum seperti ini!" ucap Hengki kemudian.


"Kamu tidak malu dilihat orang-orang? Sejak tadi kamu menjadi pusat perhatian di sini!" cetus Arifin. "Sudahi saja kemarahan kamu yang tidak perlu itu!"


'Sialan! Kenapa jadi aku yang di pojokkan seperti ini?' geram Erin dalam hati.


"Kenapa kamu diam saja? Pura-pura bisu? Atau ingin berlagak seperti korban dan mencari belas kasihan? Kamu sudah merasa sok cantik karena dibela oleh dua pria di sini?" omel Erin makin tak masuk akal.


Uci pun masih memilih untuk diam. Masalah hanya akan semakin runyam jika dia ikut membuka suara.


"Erin!" bentak Arifin sudah tak lagi memiliki cara untuk menghentikan wanita itu berbicara.


Tak ingin perdebatan tersebut semakin panjang, Arifin pun memilih untuk pergi meninggalkan Erin. Begitu Arifin pergi, barulah Erin kelabakan hingga akhirnya wanita itu menghentikan makiannya pada Uci.


"Arifin!" Erin berlari mengejar Arifin dan menyudahi perdebatan kecilnya dengan Uci.


Uci dan Hengki masih mematung di depan minimarket, sementara Arifin dan Erin sudah pergi menjauh. Erin sempat menoleh sejenak ke arah Uci dan melempar tatapan tajam pada gadis itu. Nampaknya Erin tidak akan berhenti sampai di sini. Sepertinya wanita itu masih akan mencari celah untuk mengganggu Uci lagi, terlebih lagi saat ia tahu jika Uci sudah mengenal Arifin.


'Awas kamu, Pelayan! Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!' batin Erin.


****

__ADS_1


__ADS_2