
Bab 43
Pagi harinya, di ruang makan kali ini semua lengkap. Papa Hari, mama Gina, Uci dan Erin. Semua makan dalam keheningan, hanya suara sendok dan piring berudu yang terdengar. Pagi itu hanya di selimuti oleh kecanggungan saja.
"Ehem," papa Hari berdehem."Hari ini apa rencana kalian? Bukankah hari ini hari Sabtu? Bagaimana kalau kita liburan untuk mengakrabkan diri? Jarang-jarang kan kita bisa kumpul besama?"
"Iya juga, bagaimana kalau kita ke pantai?" Mama Gina menimpali.
"Tidak, aku mau di rumah saja. Mama dan papa pergi saja dengan anak kesayangan kalian." Tolak Erin.
Mama Gina dan papa hari saling berpandangan kikuk. "Apa kita ke gunung saja? Di sana suasananya sangat sejuk, sangat cocok untuk mendinginkan kepala dan hati." Usul papa Hari.
"Terserah, toh aku tak ikut." Ketus Erin.
"Erin!"
"Sudah pa, ma, jangan mengajakku. Aku sudah selesai, aku mau ke kamar." Pamit Erin pergi.
"Anak itu...." Gerutu Mama Gina."Mau sampai kapan dia bersikap ke Kanakan dan egois seperti ini?"
"Sudahlah ma, dia pasti butuh waktu untuk menerima semua ini." Ucap papa Hari. "Jadi, bagaimana Ci? Apa Hengki sudah mengatakan akan membawa keluarganya kemari untuk melamar?"
"Pa, apa tidak sebaiknya..."
"Jangan pernah berpikir untuk menunda hal baik demi Erin, Ci. Seiring waktu, dia pasti bisa menerimanya. Lagi pula, Arifin belum tentu juga menyukai nya. Dan Artika sudah terlanjur kecewa dengan Erin yang tak bisa menghormati orang tua. Jangan berlaku bodoh dengan menyakiti hati pria yang kamu cintai. Huumm?"
"Tante Artika? Arifin?" Uci bingung.
"Iya, Erin menyukai Arifin. Kami tau itu, tapi sikap Erin terakhir kali membuat Artika tidak menyukainya karena sudah bersikap kurang ajar. Itu juga yang membuat mama mengirimnya keluar negri untuk merenung." Ungkap Mama Gina."Tapi sepertinya, Erin masih sama dan tidak berubah."
"Uci tidak mengerti ma, apa hubungannya dengan aku dan mas Hengki yang akan menikah."
"Tentu saja berhubungan sayang, Hengki kan anak bungsu Artika dan adik Arifin."
"Apa?" Uci terkaget.
"Kenapa kamu bereaksi begitu? Kamu nggak tau jika mereka satu keluarga?"
Uci menggeleng. "Uci pikir mas Hengki hanyalah seorang pria biasa. Setau Uci, mas Hengki bekerja di carwash, kasual di resto Skylar dan menjadi ojek online." Terang Uci sedikit bingung dan kecewa.
"Yah, itu memang milik Hengki, sayang. Dan ojek online, mama rasa hanya untuk mengisi waktu luangnya. Hengki memang sedikit berbeda dengan Arifin. Sejak dulu suka keluyuran dan tinggal di jalanan."
Entah kenapa, Uci tak merasa senang mendengarnya. Mengetahui jika Hengki adalah seorang pria berada membuat Uci kecewa. Ia merasa Hengki sudah membohonginya.
Uci berjalan-jalan mencari udara segar karena pada akhirnya tidak jadi berpiknik bersama keluarga. Ia hanya berjalan-jalan seorang diri, dan tidak juga menghubungi Hengki. Ingatan Uci terus mengacu pada banyak hal yang sudah Hengki lakukan. Memberinya pinjaman, menghiburnya, memasukan dirinya ke kafe Skylar dan masih banyak lagi.
__ADS_1
"Dia memang sudah banyak menolongku. Tapi, untuk apa dia membohongi ku tentang status sosial nya? Apa dia..."
Uci masih tampak lemas mengetahui kenyataan bahwa Hengki adalah adik bosnya. Langkah kaki Uci terhenti tak jauh dari kafe skylar. Gadis itu menatap bangunan yang pernah menjadi tempatnya mencari rejeki. Uci menghela nafasnya, kakinya melangkah masuk ke dalam kafe skylar. Saat ini pengunjung kafe tak banyak karena masih terlalu pagi.
Uci mengedarkan pandangan matanya ke seisi kafe. Tatapannya terhenti pada pria yang kini tampak berdiri dan sedang briefing beberapa pekerja kafe. Terdengar suara Hengki yang sedang memberi arahan dan beberapa peringatan tentang pelayanan pada pelanggan.
"Siap mas, kami akan bekerja semaksimal mungkin..." Seru para waiters dan koki bersamaan.
"Hari ini..."
Seorang waiters yang juga teman dekat Uci tampak terkejut melihat Uci mendekat."Uci?!"
Seketika Hengki menoleh, melihat Uci berdiri tak jauh dari dirinya berdiri. Wajah Hengki berubah,
"Aku hanya datang untuk melihat-lihat. Sepertinya, aku sudah mengganggu jalannya briefing." Ucap Uci.
"Uci..." Sebut Hengki lirih,
"Aku akan kembali saja. Maaf sudah mengganggu." Pamit Uci melangkah pergi.
"Uci!" Panggil Hengki menyusul.
Uci saat ini tak tau apa yang dia rasakan. Entah senang karena mengetahui kenyataan yang ada. Atau justru merasa kecewa. Ia hanya ingin berjalan menjauh saja.
"Uci!"
Hengki menahan lengan Uci. "Mas bisa jelaskan ci. Mas tak bermaksud membohongimu."
Uci tersenyum getir, "Uci tau mas. Tolong, beri Uci waktu sendiri. Uci sedang ingin sendiri."
Hengki menggeleng, "kamu tak tau, aku tidak pernah ingin membohongimu. Aku hanya..."
"Aku ingin sendiri. Apa mas mengerti? Bisa lepaskan tangan Uci?"
Hengki menghela nafasnya, perlahan gengaman tangannya di lengan Uci mengendor.
"Maafkan mas. Mas hanya ingin kamu tau, apapun yang terjadi, Mas mencintaimu. Malam ini, mama dan papa akan berkunjung ke rumah. Tolong jangan berubah pikiran." Ucap Hengki lemas. Ia merasa takut melihat wajah sendu Uci yang terlihat kecewa itu. Ia sangat berharap Uci tak merubah keputusannya karena rasa kecewa dan sendu itu.
Uci melangkah keluar dari kafe Skylar. Pikirannya terasa kacau dan kalut. "Haruskah aku merasa senang atau merasa kecewa? Selama ini aku tak tau, hanya aku yang tak tau..." Gumam Uci pada dirinya sendiri.
"Uci?" Sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Uci menoleh, "pak Arifin!"
"Mas, ci! Aku nggak setua itu tau." Protes Arifin mengumbar senyum manisnya."Ngapain disini sendiri? Mana Hengki?"
Uci hanya bungkam dengan wajah sendunya.
__ADS_1
"Naiklah, aku sedang longgar. Aku antar kamu pulang."
Dalam mobil Arifin, Uci menatap pria tampan itu sedikit lebih lama dari biasanya. Memang pria itu memiliki kemiripan dengan Hengki. Lucunya, Uci tak pernah menyadarinya.
"Kenapa? Kamu mulai jatuh cinta padaku, Ci?" Celetuk Arifin melirik melalui ekor matanya.
Uci tersenyum kikuk. "Mas Hengki, adik mas ya?"
"Apa Hengki sudah bicarakan hal itu padamu?"
Uci menggeleng,
"Jadi kamu tau dari orang lain ya?"
Uci bungkam. Arifin menghela nafas.
"Apa kamu kecewa?"
Uci menatap Arifin, "jika mas jadi Uci, apa mas Arifin tidak kecewa?"
"Tentu saja aku kecewa, tapi, aku lebih senang karena calon suamiku ternyata kaya." Sahut Arifin terkekeh."Jangan berpikir terlalu berat, Ci. Hengki mencintai mu. Aku juga."
Wajah Uci terangkat kaget menatap Arifin dengan mata lebar.
"Mama juga mencintaimu. Dia sangat menyukai mu ci. Saat tau Hengki melamarmu, dia sangat bersemangat dan ingin segera datang kerumah. Masalah Hengki yang ternyata adikku, sejak dulu, Hengki memang menyukai kehidupan di jalanan. Meraih semua kesuksesan dari bawah dan dengan usahanya sendiri. Jika kamu merasa di bohongi oleh Hengki. Itu hak mu. Tapi, sudah jadi hak Hengki juga untuk menyeleksi calon istrinya dengan menjadi pria sederhana seperti sekarang. Dan dia memilihmu. Kamu mencintainya kan? Jangan hanya karena cara Hengki dalam mencari cinta sejatinya, lantas kamu kecewa dan memutuskan pertunangan. Itu sangat tidak berperasaan dan egois."
Uci terdiam, mencoba mencerna setiap yang Arifin katakan.
"Malam ini, kami sekeluarga akan datang melamar secara resmi. Bersiaplah di rumah, dan jangan berpikir macam-macam."
Uci kembali kerumahnya setelah Arifin menurunkan dirinya di depan rumah. Arifin juga mengatakan jika ia sedang dalam perjalanan membeli beberapa barang untuk di bawa saat lamaran atas perintah mama Artika.
"Ingat, ci. Kamu sudah menerima lamaran Hengki. Jangan berpikir bodoh dengan membatalkan di acara resmi nanti!"
Pesan dari Arifin membuat Uci menghela nafasnya. Di halaman rumah, Uci tertegun melihat Erin yang menatapnya sinis.
"Kau memang perempuan murahan yang menggoda pria di sana-sini. Aku tak mengerti kenapa mereka menyukai mu? Dasar babi berbulu ayam!" Ketus Erin.
"Mbak,"
"Jangan memanggilku mbak! Aku tak Sudi memiliki saudara seperti mu."
"Maaf,"
Erin menyentak nafasnya,"aku akan memaafkan mu jika kamu membatalkan lamaran Hengki!"
__ADS_1