
Bab 51
"Cairan apa ini mas?"
Uci yang masih polos dalam hal ini merasa aneh dengan cairan pekat yang keluar dari jalan rahimnya.
"Sorry, sorry. Biar mas lap ya." Kekeh Hengki, "Itu punya mas, mungkin juga bercampur dengan punya mu?"
Hengki menarik tisu dan dengan telaten mengusap bagian yang terkena cairan sepermanya."Pas pelajaran biologi pasti kamu kabur ya?"
Wajah Uci memerah, "aku nggak suka pelajaran itu."
"Ya udah, nanti mas ajarin pelajaran itu bagian reproduksi." Ujar Hengki tak henti tertawa.
"Apaaan sih mass..." Uci memukul ringan lengan suaminya.
Saat tengah mengusap dengan tisu, Hengki melihat bercak darah di sana. Pria itu tersenyum kecil, istrinya sudah tidak perawan lagi. Karena ia sudah mengambilnya malam ini.
***
Di lain pihak, di sebuah dermaga, Vita dan Ahsan menyelinap dan berlari bersama.
"Cih, enak saja kita yang harus pergi ke pulau seberang. Mending kita ngumpet di Jakarta, Vit." Dengus Ahsan masih tak terima dengan rencana Hengki.
"Tapi, nanti kalau juragan Andi menemukan kita gimana?" Keluh Vita takut. Sebenarnya ia lebih suka dengan rencana Hengki. Karena di pulau seberang, setidaknya akan lebih sulit ditemukan.
"Aah, penakut kamu. Nggak cuma kamu yang nantinya akan jadi budak juragan Andi. Aku juga , Vit."
"Karena itu, san. Lebih baik kita di pulau sebrang aja." Saran Vita.
"Vit! Kita masih punya mbak Uci! Kita bisa minta uang sama dia. Dia kan kaya. Minta dia buat lunasin utang bapak, dengan begitu kita bisa tinggal di manapun dan nggak perlu sembunyi." Cetus Ahsan."Sudah, ayo kita ke rumah mbak Uci."
"Emangnya kamu tau rumah mbak Uci, San?"
__ADS_1
"Tau dong! Aku udah mencari tau kemarin. Ayo cepat!"
Ahsan dan Vita berlari hingga keluar dari pelabuhan. Mereka mencoba mencegat kendaraan bahkana taksi. Tapi tak satupun yang bersedia mengangkut mereka.
"Sialan! Dasar mata duitan! Masang tarif tinggi! Lintah mereka!" Umpat Ahsan menendang kerikil jalanan.
Beruntung, sebuah mobil SUV berhenti tepat di depan mereka. Vita berjalan mendekat untuk meminta tumpangan.
"Permisi,pak, apa kamu boleh numpang sampai..." Mata Vita melebar sempurna sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia lalu berbalik dan mencoba lari.
Beberapa orang berbadan besar keluar dari dalam mobil itu. Melihat anak buah juragan Andi, mata Ahsan melebar dan langsung berlari. Tapi, baru beberapa meter mereka sudah tertangkap.
"Lepas! Lepas! Tolong!" Teriak Vita yang sudah di panggul oleh seorang pria kekar dan dimasukkan ke dalam mobil. Keadaan Ahsan tak jauh beda, ia bahkan sempat mendapat bogem mentah dari algojo.
"Hai, Vita, enak jalan-jalan nya?" Sapa juragan Andi menyeringai dari kursi depan.
Wajah Vita sudah tegang dan ketakutan bukan main. Ia menyesal karena menuruti kata-kata Ahsan dan tidak nekat saja pergi sendiri ke pulau seberang seperti yang Hengki sudah rencanakan untuk hidup mereka.
Di balkon sebuah rumah singgah yang Arifin sewa untuk bulan madu sang adik. Hengki tampak berdiri menatap langit malam dan bersandar pada pagar pembatas balkon. Di tangan kirinya mengenggam gawai yang menempel di telinga.
"Aaahh, biarkan saja, kita sudah memberi mereka jalan yang baik, malah cari jalan yang rumit. Terima kasih, tidak perlu mengikuti mereka lagi."
Hengki menutup sambungan telponnya. Lalu menghela nafas pelan dan berjalan masuk. Pria tampan itu terus melangkah sampai di depan sebuah pintu kamar. Tangannya terangkat menekan hendel pintu dan mendorongnya hingga terbuka.
Hengki masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintu itu. Langkah kakinya mendekat sampai di sisi ranjang dimana Uci terbaring di bawah selimut yang membungkus tubuh sampai batas lehernya. Gadis itu meringkuk oleh dinginnya malam di pegunungan.
"Kupastikan mereka tak akan mengganggumu lagi." Gumam Hengki menatap wajah sang istri yang tenang dalam tidurnya.
***
Dalam suasana hati yang mencoba ia tata, Arifin menyibukkan diri dengan bekerja lebih keras dari rasa sakit hatinya karena pernikahan wanita yang ia cintai dalam diam. Siapa lagi kalau bukan Uci yang menikah dengan adiknya.
Seperti hari ini Arifin memutuskan ke kota Bandung untuk urusan pekerjaannya. Meninjau beberapa cabang perusahaan keluarga. Tentu saja ia tak sendiri, sang sekertaris, Nanda membersamai dirinya. Dengan mobil dinas inventaris perusahaan, ia dan sang sekertaris kini dalam perjalanan ke Bandung.
__ADS_1
Suara dering gawai Nanda terdengar beberapa kali, namun karena gadis itu sedang menyetir. Panggilan itu Nanda pun abaikan. Arifin cukup terganggu dengan suara dering hape Nanda yang terus berulang-ulang.
"Nanda!"
"Iya, pak?"
"Menepilah dan angkat telpon mu."
Nanda terdiam karena merasa sudah mengganggu ketenangan perjalanan bos nya."Akan saya matikan, pak. Maaf sudah mengganggu istirahat pak Arifin."
Nanda meraih gawainya di dalam tas. Wanita itu tampak cukup kesulitan.
"Menepi saja." Saran Arifin yang tak di indahkan oleh Nanda. Merasa geram, Arifin merebut tas Nanda dengan suara gawai yang menjerit-jerit tanpa putus.
Arifin yang sudah terlanjur kesal itu membuka tas Nanda dan mengambil hape sang sekertaris. Dengan cepat ia menggeser panggilan telpon tanpa ia melihat siapa yang memanggil.
"Halo, Nanda sedang bekerja. Ia tak bisa mengangkat telpon saat ini. Telponlah lagi nanti." Ujar Arifin tanpa menunggu suara dari seberang sana menyahut, sudah ia tekan tombol merah untuk mematikan sambungan.
Nanda diam tanpa protes dengan tindakan bos nya. Tetap fokus menyetir saat di sampingnya sang bos memasukkan lagi gawai ke dalam tas dan meletakkan di sisi kiri gadis itu. Sementara itu, Arifin membetulkan lagi posisi duduk ternyaman nya untuk tidur.
Tepat pukul sebelas malam, mobil yang Nanda kendarai sampai di sebuah hotel yang sudah dibooking untuk menginap sementara.
"Pak, kita sudah sampai."
Tanpa kata, kedua nya berjalan memasuki hotel, melakukan registrasi ulang dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Setelah mandi dan membersihkan diri Nanda mengecek hp nya. Sederet pesan dari sang kekasih membuat kepala Nanda pusing. Semua pesan hanyalah kalimat tuduhan dan permintaan penjelasan dari Nanda. Padahal sebelumnya ia sudah memberi tahu jika hari ini sampai tiga hari kedepan ia dinas mengikuti sang bos melakukan pengecekan kantor cabang. Karena terlalu lelah, dan enggan, Nanda memilih mengabaikan dan memberi penjelasan besok saja.
Keesokan harinya, Nanda sarapan bersama Arifin sambil membicarakan jadwal kerja mereka seharian ini di Bandung. Di tengah sarapannya, Nanda dikejutkan oleh suara seseorang yang menyapanya dengan sinis.
"Nanda!"
Nanda menoleh ke arah suara berasal. Ia menghela nafas oleh karena lelah, kenapa harus bertemu dengan orang yang tidak tepat di tempat yang tak tepat pula.
"Apa yang kamu lakukan disini? Siapa pria tampan ini? Astaga, apa kamu berselingkuh dari Yoga? Tega sekali kamu! Walau Yoga seperti itu, tapi tidak benar jika kamu malah berselingkuh darinya." Cerocos wanita yang memakai bluse biru muda itu.
__ADS_1
"Aku sedang bekerja, Lusi."
"Hahaha, lucu kamu! Apa sekarang kantormu sudah pindah ke hotel?"