Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 14


__ADS_3

Bab 14


Pagi-pagi sekali, Uci sudah bersiap untuk berangkat ke pabrik dan mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Saat tengah berkeliling di area produksi, tanpa sengaja gadis itu pun berpapasan dengan Arifin.


"Uci!" Arifin menyempatkan diri menyapa Uci dan mengajak gadis itu untuk berbincang.


"Tuan Arifin!" Uci membalas sapaan Arifin dengan sopan. Ini Pertama kalinya uji bertemu lagi dengan Arifin, setelah keributan yang dibuat Erin di depan minimarket beberapa hari yang lalu.


"Bisa aku bicara sebentar?" tanya Arifin pada Uci.


Uci pun meluangkan waktu sejenak untuk berbincang dengan sang bos. Sepertinya Arifin akan membahas mengenai keributan yang terjadi tempo hari saat mereka tidak sengaja bertemu di jalan.


"Tuan ingin berbicara apa?" tanya Uci.


"Aku belum sempat meminta maaf padamu mengenai kejadian tempo hari. Aku minta maaf, ya? Padahal sebelumnya aku sudah meminta maaf atas nama Erin. Tapi saat bertemu lagi, Erin justru kembali membuat masalah. Aku benar-benar malu sekali."


Uci mengulas senyum. Mana mungkin gadis itu tega tidak memberikan maaf. Terlebih lagi sebenarnya biang masalah di sini bukanlah Arifin, melainkan Erin. Tapi justru pria itu yang harus meminta maaf terus-menerus pada Uci hanya karena ulah Erin.


"Tidak masalah, Tuan. Saya sudah lupa. Tuan tidak perlu membahasnya lagi," ujar Uci.


"Kalau kamu marah pun aku akan memaklumi. Erin memang sudah keterlaluan," sahut Arifin. "Kamu baik-baik saja, kan? Perkataan Erin pasti membuat kamu terluka."


Uci mencoba memaklumi. Toh, yang menjadi sumber masalah sejak awal memanglah Uci. Hanya saja, Erin terlalu berlebihan menanggapinya.


"Saya baik-baik saja, Tuan. Saya juga bersalah. Saya bisa maklum kalau teman Tuan masih kesal pada saya," cetus Uci merasa tidak keberatan dengan sikap Erin padanya.


"Tidak perlu diingat-ingat lagi. Semuanya sudah selesai," sambung Uci.


Arifin cukup lega. Setidaknya ia sudah menyampaikan maaf yang harus ia sampaikan.


"Terima kasih banyak ya, Uci!" ucap Arifin.


"Tidak perlu sungkan begitu, Tuan!"


Uci kira percakapan mereka selesai sampai di situ. Tapi ternyata, Arifin masih mengajak Uci berbincang dengan membahas topik lain.


"Boleh aku bertanya sesuatu lagi?" tanya Arifin.


"Silakan, Tuan!"

__ADS_1


"Saat kita bertemu di minimarket tempo hari, kamu bersama dengan Hengki, kan? Kamu kenal Hengki?" tanya Arifin pada Uci.


Uci sendiri juga tidak menyangka jika Arifin akan mengenal Hengki. Dunia benar-benar sempit. Bahkan bos di pabriknya dan pegawai carwash di dekat kontrakannya bisa saling mengenal.


"Saya memang kenal Mas Hengki. Mas Hengki bekerja di carwash yang tidak jauh dari kontrakan saya. Tuan juga kenal dengan Mas Hengki?" tanya Uci.


Arifin menganggukkan kepala. Pria itu pun semakin penasaran dengan hubungan yang dimiliki oleh Arifin dan juga Uci.


"Kamu terlihat dekat sekali dengan Hengki. Apa kalian mempunyai hubungan khusus?" tanya Arifin.


"Hubungan khusus? Apa aku dan Mas Hengky terlihat memiliki hubungan yang seperti itu?" cetus Uci sembari tertawa kecil. "Saya memang cukup dekat dengan Mas Hengky. Tapi kami tidak mempunyai hubungan khusus. Mas Hengki adalah teman dekat saya," ungkap Uci.


"Teman dekat? Apa itu artinya kalian sedang berada dalam masa pendekatan?" tanya Arifin lagi.


Uci menggelengkan kepala. "Bukan seperti itu, Tuan. Mas Hengki adalah sahabat saya," ungkap Uci mengatakan apa adanya mengenai hubungan dirinya dengan Hengki.


"Sahabat?"


"Benar, Tuan. Kami memang dekat, tapi Mas Hengki dan saya dekat sebagai sahabat. Mas Hengki selalu membantu saya saat saya mengalami kesulitan," terang Uci.


"Oh, begitu!" komentar Arifin sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Pria itu merasa lega. Rasa penasarannya terjawab sudah.


Arifin melempar senyum manis pada Uci. Sontak jantung gadis itu langsung berdebar begitu ia melihat senyuman di wajah Arifin.


Rasa penasaran Uci pun kembali muncul mengenai hubungan Arifin dan juga Hengki. Mengingat Arifin dan Hengki memang saling mengenal, Uci ingin tahu sebenarnya hubungan apa yang dimiliki oleh dua pria itu.


"Tuan, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Uci.


"Apa? Tanyakan saja!" sahut Arifin.


"Tuan mengenal Mas Hengki, kan? Sepertinya Tuan juga mempunyai hubungan dekat dengan Mas Hengki, ya?" tanya Uci pada Arifin. Gadis itu teringat kembali dengan ucapan yang dilontarkan oleh Erin. Saat itu Erin pernah melontarkan kalimat "seharusnya kamu membela Arifin!" pada Hengki.


Dari kalimat tersebut, sepertinya Hengki dan Arifin juga memiliki hubungan yang tidak biasa. Tapi saat bertemu tempo hari, keduanya tidak terlalu menunjukkan interaksi satu sama lain.


"Kenapa dengan Hengki? "


"Saya hanya penasaran saja. Sebenarnya hubungan apa yang dimiliki oleh Tuan dengan Mas Hengki?" tanya Uci.


Arifin terdiam sejenak. Sayangnya, belum sempat pria itu menjawab, Uci sudah terlebih dahulu dipanggil oleh rekan kerjanya.

__ADS_1


"Uci! Cepat kemari!" panggil rekan kerja Uci untuk meminta Uci segera kembali ke lapangan.


Uci menoleh ke arah rekan kerjanya, kemudian ia menatap Arifin yang masih berdiri di depan matanya. "Kamu bisa kembali bekerja sekarang," ujar Arifin sebelum Uci berpamitan.


"Saya permisi sekarang, Tuan!" sahut Uci kemudian berlari meninggalkan Arifin tanpa mendengarkan jawaban dari pria itu.


'Sayang sekali aku belum mendapatkan jawaban apa pun dari Tuan Arifin,' batin Uci.


Sudah gagal mendapatkan jawaban dari Hengki, kini Uci juga gagal mendapatkan jawaban dari Arifin. Gadis itu pun memilih untuk mengubur rasa penasarannya dalam-dalam dan tak ingin mengungkitnya lagi.


Tepat sore hari, Uci pun keluar dari pabrik setelah pekerjaannya usai. Gadis itu keluar dari bangunan pabrik sembari membaca pesan singkat dari Hengki.


[Kamu pulang jam berapa?]


"Mas Hengki? Kenapa dia menanyakan jam pulangku?"


[Aku baru saja keluar dari pabrik.]


Hengki langsung melompat dari bangkunya begitu ia membaca pesan balasan dari Uci. "Aku harus segera bersiap!" gumam Hengki.


[Kamu tidak sibuk, kan?]


Sepertinya Hengki ingin mengajak Uci pergi ke suatu tempat. Pria itu terlihat heboh bersiap sebelum mengajak Uci berjumpa.


[Tidak. Kenapa?]


[Kamu belum makan, kan? Bagaimana kalau kita makan bersama? Aku yang traktir.]


Uci tersenyum-senyum sendiri membaca pesan dari Hengki. "Mas Hengki ingin mentraktir dalam rangka apa, ya?"


[Belum, Mas. Ada acara apa ini sampai ingin mentraktir segala?]


[Aku punya kejutan untukmu! Aku akan menjemputmu jam 7 nanti.]


Uci pun makin dibuat penasaran. Entah hal apa yang akan dilakukan oleh Hengki nanti saat ia bertemu dengan Uci.


"Kejutan apa ini? Memangnya aku ulang tahun?" oceh Uci sembari tertawa kecil.


Sementara di tempat lain, Hengki tengah sibuk bersiap dengan pakaian rapi. Hanya ingin pergi makan malam bersama dengan Uci saja, pria itu nampak sibuk mempersiapkan banyak barang.

__ADS_1


"Uci, tunggu kejutan dariku!" gumam Hengki dengan antusias.


****


__ADS_2