Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 53


__ADS_3

Bab 53


Nanda baru saja keluar dari bilik merenung setelah menuntaskan hajatnya. Di depan wastafel panjang toilet itu, Nanda membasuh tangan dan memperbaiki sedikit riasan wajah agar tetap segar. Ia merogoh hp nya yang berdering halus, ia melihat nomor Yoga.


"Halo, ga."


("Kamu di mana? Apa benar kata Lusi kalau kamu pergi ke hotel sama lelaki?")


Nanda menghela nafas, kaki jenjangnya perlahan melangkah keluar dari toilet."Itu bos ku, ga. Sudah kukatakan jika aku dinas ke Bandung."


("Laki-laki muda itu bos mu? Apa dinas kalian di hotel? Dinas macam apa itu?")


Nanda sudah sangat lelah menjelaskan pada kekasihnya itu. Mau di beri pengertian seperti apapun. Yoga tetap berpikir buruk tentang dirinya. Sebenarnya, ia sudah sangat lelah di curigai seperti ini.


("Nanda, jangan macam-macam di sana! Cepat pulang! Aku suka kamu terlalu dekat dengan bos mu itu! Pergi ke hotel berdua hanya bikin orang berpikir kalau kamu jual diri.")


"Yoga! Aku pergi bekerja, tapi kamu malah..."


("Benar! Jual diri juga bekerja... Hahaha...") Kalimat yoga yang tertawa ini terdengar prustasi. Karena ia juga tak bisa membayangkan jika Nanda jual diri. Tapi foto di hotel saat sedang sarapan membuat yoga berpikiran buruk.


Nanda mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Rasanya ia sudah cukup dengan lelaki yang justru merendahkannya. Ia membuka mulut untuk bersuara, tapi ia merasakan seseorang menariknya. Ia sangat terkejut karena sang bos tiba-tiba merangkul pundaknya.


"Oiya, kenalin nih, pacar Arifin, namanya, Nanda."


Mata Nanda membulat sempurna mendengar ucapan sang bos yang mengakui dirinya sebagai pacar.


Dua wanita yang ada di hadapan Arifin tampak sangat terkejut. Bahkan Hengki juga, tapi ia tidak terlalu. Ia justru kaget saat lengannya di sentuh oleh Uci dari belakang, membuatnya menoleh.


"Dia sekertaris ku, sekaligus kekasihku." Ungkap Arifin tersenyum,"ayo sapa mereka, sayang." Ucapnya menatap Nanda dari samping.


Nanda tersenyum kikuk, mencengkram hp yang dia genggam di depan tubuhnya. Ia ingat belum memutuskan sambungan telpon. Sudah pasti yoga mendengar semua itu. Cepat saja dia mematikan ponselnya. Lalu kembali tersenyum dan mengikuti akting sang bos.


"Salam kenal, nama ku Ananda." Ucapnya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Kedua wanita yang tampak terkejut dan masih terbengong itu segera sadar dan menyalami Nanda balik.


"Maaf Tante, kami masih ada urusan pekerjaan. Ini waktunya udah mepet, jadi kami harus pergi." Cetus Arifin, lalu berganti menatap Hengki dengan kesal,"Hengki, kau yang mengundang mereka, jadi, kau saja yang temani mereka."


Arifin pergi setelah berpamitan, tinggallah Hengki, Uci dan dua wanita yang sedikit kecewa.


"Ehem, maaf Tante, apa Tante sudah makan? Ayo kita makan dulu." Ajak Hengki tak enak hati. Dengan rasa canggung, Tante mita dan Laras mengikuti ajakan Hengki.


Tante mita dan Hengki mengobrol ringan selama makan siang bersama. Tante mita juga salah satu teman mama Artika. Tapi tak sedekat dengan mama Gina. Dulu Arifin pernah berhubungan dengan keponakan Tante Mita bernama Laras. Tapi sayangnya, Laras malah menghianati Arifin. Dekat dengan salah satu teman Arifin. Arifin kecewa dan memutuskan hubungan dengan Laras. Sudah lebih dari lima tahun berlalu, Laras ingin kembali pada Arifin. Karena itu saat pernikahan Hengki kemarin, ia dan Tante Mita mencoba membujuk Hengki agar mau mempertemukan dengan Arifin. Karena selama ini, Arifin terus menghindar.


"Maaf ya, Ki, sepertinya Arifin marah padamu." Ucap Tante Mita.


"Tidak usah di pikirkan Tante, kami bersaudara itu bukan masalah. Setidaknya, aku sudah memenuhi janjiku." Ucap Hengki.


"Aaahh, apa benar jika wanita itu kekasih Arifin?"


"Aku tidak tau Tan, karena memang mas Arifin belum memperkenalkan nya secara resmi pada kami. Aku juga tidak begitu mau tau tentang urusan hidupnya, selama itu dijalan yang benar."

__ADS_1


"Haaah, ya sudah kalau begitu. Tante pulang dulu. Terima kasih untuk traktiran nya." Pamit Tante Mita sedikit kecewa.


Setelah kedua wanita itu pergi, Uci menyenggol Hengki. "Katakan padaku? Apa kamu berniat menjodohkan mas Arifin dengan wanita cantik tadi?"


Hengki hanya melempar senyum nya. "Aku cuma menepati janji ku saja. Kita menginap di hotel yang sama dengan mas Arifin saja ya?"


Tangan Uci masih menahan sang suami. "Ceritakan padaku!"


"Baiklah, setelah tiba di hotel sambil main boxing, nanti mas cerita." Ucap Hengki lagi tersenyum nakal.


***


"Pak!"


Arifin menoleh pada Nanda setelah sekian lama tak mengatakan apapun kecuali tentang pekerjaan. Arifin tak mengatakan apapun. Hanya menatap Nanda saja.


"Ada yang mau bapak jelaskan pada saya? Tentang hal di resto Skylar tadi? Kebetulan saat itu saya sedang menerima panggilan dari kekasih saya, jadi, dia pasti mendengar. Saya harap bapak bisa bekerja sama untuk menjelaskan pada kekasih saya itu."


Arifin menghela nafasnya. Ia membuka mulut untuk bersuara, tapi ada tangan lain yang menarik lengan Nanda dan langsung memberi wanita itu tamparan. Arifin sangat terkejut, begitupun dengan Nanda yang tiba-tiba mendapat tamparan keras dipipi. Gadis itu memegangi pipinya yang terasa panas.


Yang berikutnya orang yang baru datang dan menampar Nanda berganti menatap Arifin nyalang tangan yang terkepal terarah pada Arifin. Namun dengan cepat Arifin menangkap tangan itu dan memelintirnya.


"Siapa kau? Berani sekali berbuat kasar? Keamanan!" Seru Arifin lantang.


"Yoga!" Sebut Nanda terkejut melihat orang itu ternyata kekasihnya sendiri. Ia tak menyangka jika yoga akan menyusul nya ke Bandung. Arifin melepas yoga dengan mendorongnya.


"Dasar perempuan murahan! Pergi ke hotel dengan laki-laki, apa kau kemari untuk jual diri? Berlagak tak mau ku sentuh ternyata kau mengincar bos mu?" Umpat Yoga, di belakang yoga Lusi berdiri.


Satu tamparan yoga dapatkan dari tangan Nanda. Habis kesabaran nya sampai di sebut wanita murahan dan di fitnah oleh kekasih sendiri.


"Datang-datang hanya untuk memfitnah, dan melakukan kekerasan. Laki-laki macam apa kamu ini?"


"Harusnya kamu berkaca, perempuan macam apa kamu ini, pergi berdua ke hotel dengan laki-laki. Apa kau semurah itu?"


Arifin merasa meradang mendengar seorang wanita di maki dan di tuduh seperti itu. Apa lagi itu adalah sekertaris nya.


"Jadi kau kekasihnya? Kekasih macam apa yang tidak percaya dan menuduh kekasih sendiri begitu rendah? Jika kau sudah tidak suka pada nya, putuskan saja! Agar banyak lelaki yang mengantri di belakang bisa maju menggantikan mu."


"Sialab kau! Jangan ikut campur!"


"Nanda karyawanku! Dia bekerja untuk perusahaan kami. Hal yang sangat wajar jika dia melakukan perjalanan keluar kota dan menginap di hotel. Itu adalah bagian dari akomodasi dari perusahaan. Hotel pun kami memilih yang bagus karena itu mempengaruhi citra perusahaan kami. Jika kau masih tak paham juga, kau adalah pria picik yang tak pantas bersanding dengan Nanda. Levelnya terlalu tinggi untukmu!" Ucap Arifin makin menohok.


"Keamanan!" Arifin bersuara lantang. Dua orang pekerja hotel mendekat. "Orang ini sudah melakukan kekerasan dan mencoba membuat keributan. Bagaimana kalian akan menanganinya?"


"Maaf pak. Akan kami urus." Ucap petugas itu segan. Arifin berbalik dan melanjutkan lagi langkahnya."cepat! Kita masih ada banyak meting hari ini." Tukas Arifin karena Nanda tak kunjung bergerak mengikuti nya.


Yoga mengepalkan tangannya. Menatap kesal pada Arifin dan Nanda yang mulai berbalik dan mengambil langkah."Nanda! Kembali! Jika kau pergi juga, kita putus!"


Nanda menoleh, "kalau begitu kita putus, aku lebih membutuhkan pekerjaan ini dari pada kamu, Ga."

__ADS_1


Kalimat nanda semakin membuat yoga marah.


"Ayo pak, kita keluar dan jangan membuat keributan di sini! Jangan sampai kami bertindak tegas." Ucap petugas hotel.


"Dasar wanita murahan!" Teriak yoga sebelum ia pergi meninggalkan hotel.


Baik Arifin dan Nanda tidak membahas lagi masalah yang baru saja terjadi. Selama bekerja, mereka sangat profesional. Bertemu beberapa rekan bisnis dan meting kecil bersama mereka. Sampai akhirnya malam tiba.


"Kamu lappar nggak?"


"Pak Arifin mau makan?"


"Heemm, rasanya lelah sekali. Aku ingin makan sesuatu."


"Akan saya pesankan room service."


"Tidak Nanda, bagaimana kalau kita cari makan di luar saja?" Tawar Arifin.


"Tapi, anda bilang, lelah..."


"Yang lelah pikiranku. Jadi butuh refreshing. Bagaimana?"


Nanda tersenyum kecil. "Baiklah."


"O iya, jangan memanggilku pak."


"Tapi, itu sebagai bentuk penghormatan pada atasan."


"Di kantor saja. Jika di luar panggil namaku langsung atau mas. Aku tak nyaman dengan sebutan pak di luar kantor." Ungkap Arifin jujur.


"Baik."


"Jangan bicara terlalu formal." Kekeh Arifin. Nanda ikut terkekeh.


"Oke."


Mereka berjalan-jalan di taman kota. Membeli beberapa street food yang menggoda. Walau Nanda baru saja putus dari Yoga, ia tak merasa sedih. Karena memang benar apa yang Arifin katakan. Ia berbeda level dengan orang yang berpikiran picik dan menilai dirinya buruk hanya karena omongan orang. Jika bertanya sakit, tentu saja ia sakit. Tapi lebih sakit jika ia bertahan dengan Yoga. Beruntung mereka masih pacaran.


"Ini enak, mas, icip punyaku. Aaa!"


Suara yang sangat tak asing bagi Arifin. Saat dia sedang mengantri lumpia bersama Nanda ia justru mendengar suara Uci di sebelah. Ia pun menoleh, benar saja, pasangan baru itu sedang suap-menyuap hotang.


"Kenapa harus bertemu mereka di sini?" Gumam Arifin yang masih kesal dengan adiknya.


"Loh, itu, bukannya mas Arifin, mas?"


"Mas!" Panggil Hengki. Arifin pura-pura tak dengar dan tetap membelakangi Hengki tapi Nanda tidak. Dengan tangan nya Arifin memirigkan tubuh Nanda agar membelakangi Hengki juga.


"Mas!" Tiba-tiba saja Hengki sudah merangkulnya. "Lagi kencan juga? Doble date yuk!"

__ADS_1


"Sialan Hengki!" Batin Arifin.


__ADS_2