Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 48


__ADS_3

Bab 48


"San, aku dengar kamu membuat ulah ya?"


"Bukan membuat ulah, Vit, mereka yang mulai lebih dulu. Kita ini kan adik dari pacar pemilik carwash, jadi ya harusnya mereka memandang kitalah." Jelas Ahsan sudah merasa memiliki kuasa karena Uci adalah kekasih Hengki.


"Maksud kamu?"


"Ya ampun, kamu kok bodoh sih? Kita ini harusnya punya posisi. Pacar mbak Uci saja pemiliknya, masak kita cuma jadi buruh kasar. Tukang cuci-cuci mobil dan motor. Jadi, aku tunjukan siapa diriku pada karyawan yang lain. Tapi, aku malah di maki-maki, dan parahnya lagi, mas Hengki justru membela karyawannya. Harusnya aku yang di bela kan? Aku ini adiknya mbak Uci. Bisa aja aku bikin mbak Uci lebih mendengarkan aku dan memutuskan pria itu." Dengus Ahsan kesal karena dia malah di tegur oleh Hengki tadi.


Vita menghela nafasnya, "ya ampun..."


Vita merenung, merasa benar saja apa yang Ahsan katakan. Tapi alangkah baiknya jika dia saja yang bersama dengan Hengki. Ia pun bertekat untuk lebih mencari perhatian Hengki. Meskipun ia tau, Hengki adalah kekasih Uci.


"Tidak masalah kan? Selama janur kuning belum melengkung maka dia milik semua orang." Gumam Vita dalam hati.


Keesokan harinya, Ahsan kembali berulah. Jika kemarin dengan sesama pekerja, kali ini dengan pelanggan.


"Kamu nggak tau siapa aku? Jangan mentang-mentang kaya, punya mobil dan cantik. Kamu jadi sombong, cuma tersentuh dikit saja..." Ujar Ahsan pada salah satu pelanggan wanita di carwash.


"Tersentuh sedikit saja? Kamu sudah melakukan pelecehan padaku!"


"Pelecehan apa? Astaga, aku tidak menyentuh dada ataupun paha mu!"


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" Sela salah satu pekerja senior yang kemarin bersitegang dengan Ahsan.


"Dia siapa sih mas? Pekerja baru ya? Kelakuan, astaga." Menatap Ahsan remeh dari atas sampai bawah.


"Hei, sebentar lagi aku yang akan mengelola tempat ini!"


"Aaahh, benarkah? Aku tidak yakin carwash ini akan bertahan jika di kelola oleh mu. Sudah lama aku berlangganan di sini, hanya kamu satu-satunya karyawan yang tidak tau diri." Tukas pelanggan wanita itu.


"Maaf ya atas kelancangan karyawan baru ini. Kami akan lebih memperbaiki sikapnya." Ucap si senior.


"Kamu nggak usah sok berwibawa dan sok ikut campur deh!"


"Pergilah bersihkan kendaraan lain! Atau, kau boleh istirahat di belakang dari pada bikin ulah dengan pelanggan!"


"Siapa kau mengaturku?!" Hardik Ahsan meninggi."Akan ku suruh mbak Uci untuk memecat mu! Dari kemarin ngajak ribut aja!"


"Kamu yang dari kemarin bikin ulah," ujar si senior tak memperdulikan Ahsan dan berpaling pada pelanggan. Maaf, mohon maaf untuk semua keributan yang timbul."

__ADS_1


Wanita itu menyentak nafasnya dan berlalu. "Singkirkan saja orang ini, mas, bikin jelek carwash ini saja!"


"Apa? Siapa kamu!? Dasar wanita..."


"DIAM!!" Si senior mendelik tajam pada Ahsan, dan beberapa pekerja lain menarik senior itu agar menjauh dari Ahsan.


"Sudah, jangan ladeni dia, baru adiknya tunangan bos saja bertingkah!"


"Benar! Uci saja tidak sesombong itu. Kenapa dua orang itu berbeda?"


"Aku dengar, orang tuanya yang menculik Uci."


"Aku juga dengar begitu, keluarganya memang toxic. Dia salah satu nya. Kasihan Uci. Kalau aku, sudah kutendang jauh ke laut."


Suara bisik-bisik di belakang Ahsan membuat pria itu geram dan mengepalkan tangannya.


"Lihat saja, akan kuberi kalian pelajaran." Ujar Ahsan geram mengambil gawainya dan menghubungi Uci. Sayang, pesan yang ia kirim untuk Uci malah cuma di baca saja."sialan mbak Uci!"


Ahsan merasa sangat marah, ia berencana untuk pergi dengan menggondol barang berharga di carwash itu.


"Kalau mbak Uci nggak mendukung, aku akan gunakan caraku sendiri." Gumamnya menyeringai jahat.


Sementara itu, Vita yang sudah terpikat pada kekasih kakaknya gencar menggoda dan mendekat pada Hengki. Meski jarang berada di kafe skylar, Hengki beberapa kali menyadari kelakuan Vita yang terus menempel padanya. Wanita itu bahkan berani masuk ke kantornya saat Hengki sedang istirahat.


"Tampannya... Kenapa kita terlambat bertemu, sih mas? Andai saja, kita lebih cepat bertemu. Mungkin saat ini akulah yang menjadi kekasihmu." Bisik Vita menikmati wajah tampan Hengki.


Vita menelan ludahnya, dan perlahan mendekat,"cium dikit bolehlah." Bisiknya."aku bisa kirimkan hasil foto ciuman kami sama mbak Uci. Dia pasti kaget, lalu memutuskan hubungan mereka. Saat itulah aku masuk." Sambungnya tersenyum penuh percaya diri.


Vita kini sudah berdiri di sisi tubuh Hengki. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hengki. Dan mengangkat gawai nya untuk siap memotret.


"Kamu ngapain, Ta?"


Suara Hengki yang tiba-tiba terdengar mengagetkan dirinya sampai gawainya hampir jatuh.


"Eehh, mas, aku cuma... Anter jus aja..." Ungkapnya beralasan dan menjauh dengan cepat.


"Sial! Gagal!" Batinnya.


***


Hengki memasuki kafe Skylar dari pintu samping. Ia sudah di kejutkan oleh adik kekasihnya.

__ADS_1


"Mas,"


"Kamu, ngapain masih di sini? Bukannya kamu masuk pagi?" Hengki bukannya tak tau, ia hanya heran saja dengan kelakuan Vita. Sudah beberapa kali, gadis itu mencoba mendekatinya.


"Aku, nggak ada kendaraan mas, buat balik. Uang buat ngojek juga habis tinggal buat makan aja sama Ahsan nanti." Sahut gadis yang memakai baju terusan selutut dan tanpa lengan.


"Aku pesenin ojek online aja ya." Saran Hengki.


"Eehh, aku bareng mas aja nanti pulangnya." Cetus Vita menolak, ia sudah sengaja menunggu Hengki datang tak maulah jika dia harus pulang dengan ojol.


"Nggak papa, pake ojol aja." Ujar Hengki mengambil gawai nya.


Vita terdiam sejenak, Hengki sudah beberapa kali menolak."Mas malu ya boncengan sama aku?"


"Enggak, Ta. Cuma, aku ada janji sama Uci."


"Yaah, mbak Uci lagi."


"Uci tunangan ku ta, bentar lagi kami menikah."


Bibir Vita manyun,"Emang nggak bisa antar aku dulu ya, mas?"


"Aku minta Ahsan jemput kamu aja deh." Kata Hengki tanpa menjawab kalimat tanya Vita. Ia udah malas berurusan dengan Vita.


"Aku nggak mau balik sama Ahsan. Udah capek-capek berdandan, capek-capek mandi di sini dan berganti baju dengan menghabiskan uangku. Masa aku nggak bisa deketin mas Hengki. Kenapa dia mesti sama mbak Uci? Lebih cocok dengan ku." Batin Vita.


Saat Hengki sedang menekan kontak di kantor carwash, Vita sengaja berjalan mendekat dan pura-pura tersandung ke arah Hengki.


"Yak , ini tepat sekali. Kali ini kau harus jadi milikku. Hanya dengan menempelkan liptik di bajunya." Gumam Vita dalam hati.


Tubuh gadis itu semakin condong ke arah Hengki, semakin dekat dan dekat.


"Yak, aku dapat!" Batinnya girang. Tubuh Hengki bergeser ke kiri sampai menyisakan ruang kosong tepat di depan Vita."aaahhh," pekik gadis itu terjerembab di atas tanah.


"Kamu baik-baik saja, Ta?" Tanya Hengki tanpa bergerak dari tempatnya untuk menolong Vita. Pria itu tetap berdiri sambil memegangi gawainya.


"Mas! Kenapa mas menghindar?" Protes Vita mengaduh terduduk diatas tanah tempatnya terjatuh tadi.


"Ta, maaf ya, aku nggak berniat membantu kalian. Selama kalian tinggal di tempat kerjaku, baik kamu ataupun Ahsan selalu membuat masalah. Entah dengan teman kerja, atau dengan pelanggan. Jadi, aku putuskan untuk mengirim kalian ke pulau seberang. Aku membuka cabang di sana. Kalian bisa tinggal di sana untuk menghindari rentenir."Ujar Hengki yang seketika membuat mata Vita melebar.


"A-aku mau bicara dulu dengan mbak Uci."

__ADS_1


"Uci sedang di pingit. Aku mentolerir semua kelakuan menggodamu, dan tindakan kriminal Ahsan demi Uci. Jadi menurut saja dan jangan membuat ulah lagi." Tukas Hengki menyimpan kembali gawainya."Hanya sebagai informasi, baik kafe ataupun carwash telah di pasangi CCTV, kalian pasti tau apa artinya kan? Tapi, jika kamu sangat ingin memaksa untuk bertemu dengan Uci. Tidak masalah, aku bisa mengaturnya."


Gertakan dari Hengki cukup berpengaruh untuk Vita. Gadis itu gemetar cukup kuat sampai ia hanya bisa diam dan mengangguk lemah.


__ADS_2