
"Aku baik-baik saja!" ucap Uci pada Hengki setiap kali gadis itu menampakan wajah masam di depan Hengki.
Tentu saja Hengki tahu jika hal yang diucapkan Uci hanyalah kebohongan. Namun, pria itu juga tidak ingin memaksa Uci untuk segera bercerita. Hengki pun lebih memilih untuk mencairkan suasana dan mengajak gadis pujaannya itu untuk menenangkan hati dan pikiran sejenak.
"Jangan cemberut begitu! Bagaimana kalau kita pergi kencan bersama saja?" ajak Hengki dengan semangat.
"Kencan? Kencan ke mana?"
"Kamu ingin ke mana? Aku akan membawamu ke manapun kamu mau!" tegas Hengki. "Katakan saja! Kamu ingin ke taman bunga? Atau taman bermain? Atau ke gunung tanda tanya atau ke pantai? Atau ke bulan sekalian?" cetus Hengki.
"Aku bisa membawamu pergi ke mana pun! Kalau kamu mau, aku juga akan membawamu pergi ke bulan!" celetuk Hengki sembari tertawa kecil menatap Uci.
Uci langsung mencubit pinggang Hengki dengan geram. "Mas Hengky!"
Pria itu pun langsung melarikan diri begitu ia menerima cubitan dari Uci. Setidaknya Uci sudah bisa tersenyum. Hengki segera mengambil langkah selanjutnya untuk membantu Uci memperbaiki suasana hati sebelum mood gadis itu kembali memburuk.
"Ayo kita pergi sekarang! Nanti keburu malam!" ujar Hengki kemudian.
"Pergi ke mana?" tanya Uci dengan dahi berkerut.
Hengki mengulas senyum. "Sudah! Ikut saja! Aku jamin kamu pasti akan suka!"
Keduanya pun mulai pergi meninggalkan pabrik dan melaju dengan motor kesayangan Hengki. Pria itu pun mengajak Uci berkeliling dan memilih tempat yang bagus untuk menghibur gadisnya yang tengah gundah itu.
"Kamu ingin ke mana? Bagaimana kalau kita makan es saja?" tanya Hengki dengan cerewetnya selama perjalanan mereka.
"Es apa?" cibir Uci.
"Tentu saja es untuk menghilangkan rasa panas dan suntuk yang berkobar di hatimu!" gurau Hengki.
Uci tergelak. Hengki memang pandai membantu dirinya memperbaiki mood.
Setelah merasa Uci sudah bisa tenang dan jauh lebih baik dari sebelumnya, barulah Hengki mengajak Uci untuk membahas permasalahan yang tengah dihadapi oleh gadis itu. Seperti biasa, Hengki ingin menjadi teman bercerita yang baik bagi Uci meskipun pria itu tidak dapat membantu banyak.
"Kamu sedang ada masalah apa? Ceritakan saja padaku!" bujuk Hengki pada Uci. "Saat kita belum berkencan pun, kamu selalu mengatakan apa pun padaku jika kamu mengalami kesulitan. Setelah kita memiliki hubungan spesial seperti ini, tentu saja kamu harus lebih sering bermanja padaku dan memanfaatkanku."
"Terima kasih banyak ya sebelumnya! Tapi aku hanya ingin bercerita saja. Aku tidak memiliki maksud apa-apa. Tolong dengarkan saja, ya?" ujar Uci.
__ADS_1
"Katakan saja, Uci! Aku akan menjadi pendengar yang baik," sahut Hengki.
Uci pun mulai mengatur nafas dan bersiap untuk menceritakan kegundahan di hatinya mengenai permintaan Bu Sumi padanya. "Aku baru saja bertengkar dengan ibuku tadi. Ibuku menelepon saat jam istirahat tadi," ujar Uci mulai bercerita.
"Lalu?"
"Ibuku meminta kiriman uang tambahan bulan ini. Aku tidak menyetujuinya dan kami pun bertengkar," sambung Uci. "Ibu selalu saja seperti ini. Bukannya aku tidak mau membantu, tapi aku juga ingin ibuku mengerti keadaanku saat ini. Aku baru saja mengirimkan uang kiriman bulanan untuk ibuku, tapi ibu sudah menuntut kiriman lagi. Dan kali ini ibuku menuntut uang kiriman untuk membayar utang."
Hengki manggut-manggut dan mendengarkan cerita sang kekasih dengan seksama. "Ibumu berutang?" tanya Hengky sekenanya untuk menanggapi cerita Uci.
"Ibu bilang Ibu mempunyai utang dari acara hajatan kemarin. Ibuku memang membuat acara besar di kampung. Tapi aku tidak menyangka jika ibuku juga masih mempunyai utang besar setelah acara selesai. Dan ibuku meminta agar aku juga ikut melunasi utang tersebut," imbuh Uci.
Gadis itu mulai merasa lega. Setidaknya Uci sudah mengeluarkan seluruh unek-unek yang ada di hatinya.
"Ibu selalu saja mungkin soal balas jasa dan anak durhaka! Ibu selalu saja memarahiku setiap kali aku tidak mau membantu Ibu. Padahal aku sudah membantu semampuku dan hati aku juga harus bertahan hidup dan aku juga ingin menabung untuk masa depanku. Tapi keuanganku semakin carut-marut karena Ibu yang selalu meminta uang yang tidak terduga," terang Uci panjang lebar.
Hengki mulai iba pada nasib kekasihnya yang harus mengurus keluarga matre. Jika seperti ini terus, sampai kapan pun Uci juga tidak akan pernah bisa menabung untuk masa depannya sendiri.
"Aku hanya ingin membagi kegelisahanku saja. Aku tidak bermaksud untuk meminjam uang darimu," ujar Uci pada Hengki.
"Aku tahu! Tidak perlu memikirkan hal yang aneh-aneh! Aku tahu kamu hanya butuh teman untuk bercerita," sahut Hengki.
"Untuk apa Mas Hengki membawaku kemari?" tanya Uci pada Hengki.
Hengki segera turun dari motor dan menarik tangan sang kekasih untuk menaiki bukit. Melihat pemandangan indah seperti ini mungkin bisa membuat hatimu sedikit tenang," ujar Hengki.
"Sekarang berdirilah di sini dan tatap semua ombak-ombak itu!" perintah Hengki.
Uci pun menuruti arahan dari pacarnya itu. Uci melihat dengan jelas ombak-ombak yang menghantam terumbu karang.
"Sekarang teriakkan semua keluh kesah kamu!" perintah Hengki lagi.
"Apa?" tanya Uci dengan wajah bingung.
"Turuti saja! Berteriaklah dengan kencang! Keluarkan semua kegelisahan yang ada di hatimu! Keluarkan semua hal yang mengganjal pikiranmu! Berteriaklah pada ombak yang mendatangimu!" ujar Hengki. "Aku harap hal itu bisa membantu kamu untuk melepaskan penat dan beban yang saat ini menyiksamu."
Uci terdiam. Gadis itu nampak ragu untuk berteriak.
__ADS_1
"Aku akan meninggalkanmu di sini!" ujar Hengki, kemudian berlari menjauh dari Uci dan menatap gadis itu dari kejauhan.
"Mas Hengki mau ke mana?"
"Ikuti saja apa kataku! Aku akan memberikanmu waktu ! Aku tidak akan mengganggu!" cetus Hengki.
Uci berdiri dengan canggung di atas bukit tersebut tanpa melakukan apa pun. Gadis itu celingkan ke sekitar bukit untuk melihat siapa saja orang yang ada di sana.
"Yang benar saja? Aku harus berteriak di tempat seperti ini?" gumam Uci.
Namun melihat tempat yang cukup sepi, gadis itu pun akhirnya menuruti perkataan Hengki dan ingin mencobanya. "Tapi tidak ada salahnya juga dicoba!"
Uci menarik nafas dalam-dalam dan bersiap untuk berteriak kencang di atas bukit tersebut. "AKU LELAH! AKU INGIN MEMPUNYAI BANYAK UANG! AKU TIDAK INGIN LAGI DIBUAT STRESS KARENA UANG!"
Uci berhenti berteriak, kemudian kembali celingukan untuk melihat apakah ada orang di sekitarnya. "Tidak ada orang yang melihatku, kan?" gumam Uci merasa malu setelah berteriak seperti itu.
Tapi perlahan gadis itu mulai ketagihan. Uci pun kembali memberanikan diri untuk berteriak lagi di atas bukit tersebut.
"AKU TIDAK INGIN PUNYA UTANG! AKU SUDAH TIDAK PUNYA UANG! JANGAN LAGI MEMINTA UANG PADAKU!"
"AKU INGIN PERGI JAUH! AKU TIDAK INGIN BERADA DI SINI! AKU TIDAK INGIN TERUS-MENERUS DIPERBUDAK OLEH UANG!"
Uci mulai merasa lega. Gadis itu pun berteriak kencang dan mengeluarkan seluruh keluh kesah yang ada di hatinya. Cara yang diberikan Hengki benar-benar membuat pikiran gadis itu kembali segar dan plong.
Uci tertawa dengan kencang usai dirinya selesai berteriak. Gadis itu nampaknya sudah puas. Setidaknya ia sudah melampiaskan seluruh amarahnya pada angin dan juga ombak yang menghampiri dirinya.
Hengki segera menghampiri Uci begitu ia melihat gadisnya yang sudah kembali ceria. "Bagaimana? Sudah merasa lega?" tanya Hengki.
Uci menoleh ke arah Hengki kemudian mengangguk dengan semangat. "Terima kasih banyak, Mas! Aku benar-benar lega!"
Keduanya pun berdiri di atas bukit sembari menikmati indahnya panorama pantai yang berkolaborasi dengan semburat jingga matahari tenggelam yang menghiasi langit. Hengki menatap sang kekasih, kemudian menggenggam erat jemari gadisnya itu.
"Ada aku disini, Uci! Katakan saja jika kamu perlu sesuatu! Aku akan selalu ada disini untuk menghiburmu!" ujar Hengki.
Uci menanggapi perkataan Hengki dengan senyuman. Suasana romantis pun makin begitu terasa di sore yang cerah itu.
Hengki pun mulai mendekat ke arah Uci dan menatap wajah cantik gadis itu tanpa berkedip. Wajah Hengki perlahan semakin dekat pada Uci. Keduanya saling beradu pandang.
__ADS_1
"Apa yang akan Mas Hengki lakukan? Apa Mas Hengki akan ... menciumku?' batin Uci.
****