Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 39


__ADS_3

Bab 39


Erin berjalan dengan langkah tergesa, ia sangat senang karena sang mama memanggilnya untuk kembali. Apalagi, ia mendengar bahwa sang adik telah kembali. Tentu saja Erin sangat senang.


"Mama!" Panggilnya begitu sampai di ruang tamu.


"Erin!" Sambut mama Gina memeluk anak sulung nya.


"Maafkan sikap Erin ma."


"Iya, iya, syukurlah jika kamu menyadari sikap mu yang salah. Maafkan mama juga jika terlalu keras padamu. Mama hanya ingin kamu tidak bersikap arogan dan kurang ajar pada orang tua." Ungkap mama mengurai pelukan.


Erin menggeleng pelan,"aku memang salah karena mengikuti emosi. Di mana adik?"


"Dia sedang keluar sama pacarnya."


"Pacar? Dia bahkan sudah punya pacar? Ya ampun, ternyata adikku lebih mempesona. Aku bahkan kehilangan pesona di depan Arifin." Cetus Erin terkekeh kecil, wajah mama Gina sedikit berubah. Jika Uci bersama dengan Hengki, tentu tak mungkin Erin akan menikah dengan Arifin.


"Ummm, ayo masuk dan istirahatlah dahulu."


"Iya, ma."


Erin merasa sangat senang karena mama Gina akhirnya mengijinkan pulang, memanggil langsung dirinya meski belum sampai satu tahun. Erin memang hanya pulang untuk beberapa Minggu saja. Karena memang dia juga masih harus bekerja, meski dia masih bisa bekerja dengan online. Tapi tetap saja kehadiran diri nya di sana sangat di butuhkan.


"Kira-kira seperti apa ya wajah adikku? Heemm, apa dia mirip dengan ku? Ya ampun, aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengan nya." Gumam Erin senang.


Erin merasa haus malam itu, ia berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Ia terkejut dari arah tangga tubuh mematung, melihat seorang wanita dan pria yang tak asing dalam hidupnya masuk ke dalam rumah. Terlebih lagi, si wanita adalah orang yang menyebabkan dirinya di kirim ke luar negri. Membuat dirinya malu dan marah.


"Ngapain cewek kampungan itu di sini." Gerutu Erin berjalan menuruni tangga untuk mendekat.


"Hehh, siapa kamu! Masuk-masuk rumah orang!" Hardiknya pada Uci.


Uci tampak sedikit terkejut, tapi kemudian biasa saja.


"Kamu, kamu kerja di sini? Jadi pembantu?" Tanya Erin melihat Uci dari tas sampai bawah. Ia juga sempat melirik Hengki yang juga ada disana dengan baju yang sama dengan Uci.


"Apa kamu yang bawa ke sini?"


"Kamu dah pulang Rin?"


"Ye, orang nanya malah balik nanya. Kalau aku di sini, ya berarti aaku dah balik." Tukas Erin tak ramah."Kamu yang bawa cewek ini di sini? Hebatnya, jadi pembantu aja udah kek tuan rumah di sini. Keluar masuk pintu utama, berlagak lagi.."


"Aku nggak melakukan apapun, mbak."


"Jangan memanggilku mbak deh, jijik aku." Erin mencondongkan tubuh ke arah Uci."nona! Ingat! Panggil aku nona, ingat siapa aku dan siapa kamu! Kita ini beda kasta!"


"Rupanya pergi keluar negri nggaak merubah sedikitpun atitude mu jadi lebih baik ya, Rin?" Ujar Hengki,"Ci, tolong panggilin mama." Sambung Hengki meminta Uci untuk memanggil mama Gina yang langsung diangguki Uci.


"Aku ke dalam dulu mbak." Pamit Uci pada Erin.


"Tunggu apa kamu bilang? Mama?" Erin membelalakkan mata, Uci sudah masuk ke dalam untuk mencari mama Gina agar Hengki bisa pamit.

__ADS_1


"Iya, mama!" Hengki menyeringai,"mama Gina."


Erin lemas mundur selangkah, "nggak mungkin, nggak mungkin wanita itu adikku." Tolak Erin menggeleng pelan.


"Itulah kenyataannya, Erin. Dia adikmu." Tegas Hengki.


Erin menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Erin, Hengki!" Sapa mama Gina yang baru keluar bersama Uci.


"Malam Tante." Ucap Hengki ramah.


"Kamu udah ketemu sama adikmu, Rin?" Mama gina berganti menatap anak sulungnya.


"Apa dia adikku ma?" Tanya Erin menunjuk Uci yang berdiri di belakang sang mama.


"Iya."


Erin semakin merasa lemas dan menggeleng.


"Rin, kamu nggak papa, kan?"


"Mama bohong kan? Nggak mungkin Uci adikku kan, ma?"


"Kamu sudah kenal dengan Uci?" Tanya mama bingung.


Dengan wajah marah dan kesal, Erin menunjuk Uci."Dia! Dia ma yang bikin aku brtengkar dengan Arifin, ma! Dia yang bikin Tante Artika jadi marah-marah padaku! Dia..."


"Kamu kenapa sih, Rin?"


"Erin!"


"Mama! Bisa saja dia berbohong ma, bisa saja dia hanya mengincar harta kita! Dia mau merebut semuanya dariku ma! Dia.."


"Erin!"


Suara bentakan dari sang mama membuat Erin bungkam seketika. "Nggak sepantasnya kau berkata seperti itu! Minta maaf!"


"Ma!"


"Minta maaf Erin!"


Erin menatap Uci benci. Ia berbalik tanpa mau meminta maaf dan pergi begitu saja menaiki tangga.


"Erin! Erin! Kembali!" Panggil mama Gina berteriak.


Melihat sikap Erin yang menolak Uci, mama Gina menjadi sedih dan pusing. Ia memijit pelipisnya,"setelah dari luar negripun, kenapa anak itu tidak berubah sama sekali?"


"Mama, duduk dulu yuk." Ajak Uci lembut menuntun sang mama ke sofa.


"Ini minum dulu Tan," ucap Hengki menyodorkan gelas air putih pada mama Gina. Mama meminumnya dan meletakkan di meja ruang tamu.

__ADS_1


"Makasih, ci, Ki."


"Tante dah merasa enakan?"


"Udah Ki. Makasih ya," ucap mama gina tulus.


"Kalau gitu, saya pamit ya, Tan. Udah malam juga." Pamit Hengki.


"Iya, makasih udah balikin anak Tante sebelum jam 9 malam."


Hengki mengulas senyum.


"Ci, anter Hengki sana sampai depan pintu."titah sang mama.


"Nggak usah ci, kamu jagain Tante Gina aja." Tolak Hengki halus, "cuma dari sini sampai situ kok. Doain aja semoga mas nggak terpeleset atau kejatuhan genteng." Kelekarnya.


Uci dan mama tersenyum lebar mendengar lelucon Hengki. Uci pun menurut dan kembali duduk di sisi sang mama setelah sempat beranjak tadi. Hengki melangkah keluar rumah. Uci menatap punggung Hengki dengan pandangan yang entah.


"Ci,"


Uci menoleh pada mamanya,"maafin Erin ya?"


Uci mengangguk,"iya ma."


"Mama terlalu memanjakan kakakmu, lambat laun dia pasti bisa menerimamu."


Uci hanya tersenyum, kedepan mungkin hubungan mereka akan sulit mengingat betapa Erin sangat membencinya. Kini mereka bahkan harus tinggal seatap.


"Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?"


"Iya,"


"Ada masalah apa antara kamu dan Erin? Dari kata-kata nya sepertinya kalian pernah terlibat perselisihan." Tanya mama menyelidik.


"Hanya hal sepele kok ma. Uci pikir masalahnya sudah selesai. Mungkin mbak Erin sedang lelah sampai bereaksi seperti itu."


"Benar, mungkin juga."


Saat ini tak mungkin juga Uci mengungkapkan perangai Erin pada mama nya.


Keesokan harinya, Erin bahkan tak mau ikut sarapan bersama Uci. Ia memilih makan di kamarnya.


"Anak itu, sangat kekanak-kanakan sekali." Gerutu mama Gina.


"Sudahlah, ma. Nanti biar papa yang bicara." Cetus papa Hari."Sebelumnya, ada masalah apa antara kamu dan Erin, ci?" Tanya papa menatap anak bungsunya.


"Hanya pertengkaran kecil kok, pa."


Papa Hari menghela nafasnya, "cerita lebih detail, biar papa juga bisa kasih pandangan yang objektif dan tidak memihak satu atau yang lainnya."


Uci pun menceritakan awal kejadian saat ia menumpahkan minuman di pakaian Arifin saat bekerja paruh waktu di Skylar. Semua kejadian dia ceritakan secara runut dan tak ada pengurangan ataupun tambahan lainnya. Tentu sikap Erin itu membuat papa dan mama kesal dan malu bukan main.

__ADS_1


"Seperti yang papa bilang, untuk mendengarkan dari dua sudut." Pungkas Uci.


"Iya ci, pasti. Papa akan menanyakan dari sudut pandang Erin juga. Walau papa lebih tau bagaimana sifat Erin. Papa lebih percaya padamu." Ucap papa.


__ADS_2