
Bab 38
"Tentu saja sayang, mama juga kenal Hengki kok. Walau waktu kecilnya dulu dia degil banget..." Cetus mama Gina tersenyum lebar.
"Makasih, ma." Ucap Uci memeluk sang mama.
"Mama malah seneng kalau kamu sama Hengki. Udah nggak perlu adaptasi lagi, walau mama nggak terlalu akrab sama dia, karena anaknya memang suka keluyuran."
Uci mengerutkan keningnya mengurai pelukan."mama kenal mas Hengki?"
"Iya dong, Ci... Hengki itu kan..."
"Nyah, ada telpon dari non Erin. Tadi sudah telpon nomor nyonyah, tapi nggak di angkat." Suara asisten rumah tangga, Mbak indah.
"O iya ndah, dimana?"
"Ruang keluarga nyah." Ucap Mbak indah yang di angguki oleh mama Gina."Mama angkat telpon dulu ya?" Pamit nya pada Uci.
Uci mengangguk dan menaiki tangga menuju kamarnya, "apa mama sama mas Hengki udah kenal lama ya?" Bisik Uci pada dirinya sendiri.
***
"Uci! Hengki udah datang nih!" Seru mama Gina menyambut kekasih sang anak.
"Duduk, Ki."
Makasih, Tan." Ucap Hengki seraya duduk di sofa tamu.
"Mau keluar?"
"Enggak sih tan, cuma anter barang aja."
Mama Gina mengernyit, "anter barang apa?"
Tepat saat itu, Uci datang dan bergabung, duduk di sisi sang mama.
"Ini." Ucap Hengki mengeluarkan hp dari tas selempang di depan dadanya. "Ini hp mu ci, sebenarnya udah dari kemarin mas ambil dari kantor polisi. Tapi, belum sempat ngasih ke kamu."
Hp milik Uci memang sempat menginap di kantor polisi sebagai barang bukti pasal kasus Bambang dan Sumi yang kini mendekam di balik jeruji besi.
"Ooh," sahut Uci mengambil dan memeriksa hpnya. Hp Uci memang tidak di pola atau di kunci jadi mudah saja untuk melihat, hanya tinggal geser.
"Ada beberapa pesan masuk," ujar Hengki,"nggak sengaja kebuka kemarin, maaf ya." Sambungnya, sebenarnya ia sengaja membukanya karena penasaran apa isinya karena pesan itu dari salah seorang teman kerja Uci yang seorang pria.
"Nggak papa mas." Jawab Uci santai, karena memang tak ada yang perlu di sembunyikan.
"Ada pesan dari kantor juga, sepertinya penting."
"Iya, besok harus masuk kata atasan ku. Nggak boleh perpanjang masa cuti lagi." Cetus Uci, lalu memandang Hengki, "o iya mas, temenin Uci ke Skylar ya, Uci mau pamit sama pak Jarwo. Kemarin cuma ijin empat hari nggak masuk, tapi ini udah enam hari. Kemarin aku masuk baik-baik di sana, jadi keluarin juga harus baik-baik. Lagi pula Uci nggak mau bikin nama mas yang udah masukin Uci ke sana jadi jelek."
"Oke."
"Ya udah, ma, Uci pamit dulu ya?" Kata Uci menyalami tangan mama Gina dan menciumnya.
__ADS_1
"Iya, hati-hati ya."mama Gina berpesan.
"Pergi dulu ya, Tan." Hengki juga melakukan hal yang sama, menyalami dan mencium tangan bakal calon mertuanya.
"Nitip Uci ya, Ki."
Dalam perjalanan dengan motor jadul milik Hengki.
"Mas kenal mama Gina udah lama ya?" Tanya Uci yang masih merasa penasaran.
"Iya, kenapa?"
"Wah, lingkaran nya mas orang-orang kaya semua ya?"
Hengki hanya terkekeh,
"Padahal mas cuma buruh cuci mobil dan motor."
"Kurir juga, ojek juga,"
Uci terkekeh juga,"iya juga ya mas. Apa karena profesi mas yang macam-macam makanya mas kenal banyak orang ya? Mas juga ramah sih..."
"Udah? Itu aja?"
Alis Uci bertaut bingung,
"Nggak ada yang lain lagi? Profesi macem-macem, ramah, terus?"
"Terus apa lagi plus nya mas Hengki ini?"
Uci terbengong, "ooh, pinter juga,"
"Terus?"
"Baik,"
"Terus?"
"Ganteng,"
"Nah, betul itu." Kekeh Hengki cepat, Uci jadi ikut-ikutan terkekeh.
Sesampainya mereka di kafe skylar. Hengki dan Uci masuk melalui pintu belakang. Hengki berjalan beberapa langkah di depan Uci.
"Mas Hengki, pas banget di sini, ini ada..." Sapaan salah satu karyawan Skylar terpotong karena melihat Hengki menempelkan telunjuk di depan bibir. Karyawan wanita itu melihat di belakang Hengki ada Uci, lalu ia pun mengulum bibirnya rapat-rapat.
"Pak Jarwo mana?"
"Lagi keluar, mas."
"Lagi pergi ci, pak Jarwo nya." Hengki berganti melihat pada sang kekasih yang kini berdiri tepat di sampingnya.
"Balik lagi kapan ya, Sa?" Kali ini Uci yang bertanya.
__ADS_1
"Nggak tau mbak."
"Kalau yang punya ada? Aku mau ijin keluar, Sa. Udah libur terlalu lama, setidaknya ada kata pamitlah." Ucap Uci yang tak tau jika Hengkilah pemilik kafe skylar itu.
Sasa memandang Hengki, karena tak tau mesti menjawab apa. Dulu setelah Uci melamar kerja dan pulang, Hengki memang mengumpulkan semua karyawannya untuk merahasiakan tentang jati dirinya. Mereka patuh dan tak ada satupun yang mengungkit hal itu.
"UM, pulang aja dulu ci, nunggu pak Jarwo. Mas wasap dia deh biar kasih kabar kapan standby di Skylar." Usul Hengki.
"Tapi, jadi bolak balik, mas."
"Nggak papa, ini juga masih sore kok. Kita bisa jalan-jalan dulu ke PRJ."
"Ya udah, mas udah wasap pak Jarwo belum? Apa Uci aja yang wasap?" Tanya Uci tawar menawar,"Kita berdua aja deh mas. Mas Hengki kan freelance, jadi mungkin nanti malah di kira minta kerjaan." Sambung Uci bergumam.
Hengki tersenyum kecil. "Ya udah, kamu ke parkiran dulu deh, mas mau nitip pesen dulu sama anak kitchen."
Uci mengangguk setuju walau merasa aneh. Setelah menunggu tak sampai lima belas menit, Uci dan Hengki pergi ke pekan raya. Menikmati suasana sore sebelum mentari condong semakin ke barat dan bersembunyi di balik cakrawala.
Dari hasil berjalan-jalan di pekan raya, Uci mendapatkan kemeja dan topi kopel dengan Hengki. Yang langsung mereka pakai sore itu juga. Hingga semua orang yang melihat pasti tau jika mereka sepasang kekasih.
"Mas, pak Jarwo udah di Skylar." Cetus Uci, satu tangannya memegang hape dan satu yang lain memegang es Boba."ke sana yuk mas." Ajak Uci menyeruput es Boba nya.
"Ayo," ucap Hengki mengulurkan tangannya.
Setelah berpamitan dengan pak Jarwo yang terlihat terkejut karena Uci datang bersama Hengki.
"Mas Hengki belum bilang ya sama Uci tentang siapa pemilik kafe ini?" Bisik pak Jarwo.
Hengki hanya menggeleng, "nanti pak, kalau kami udah nikah."
"Jangan lama-lama mas, nanti Uci merasa di tipu sama mas."
"Iya pak, minta doanya ya, agar lamaranku nanti di terima Uci."
"Iya Mas Hengki, pasti didoakan yang terbaik, pasti di terima. Mas orangnya gini." pesan pak Jarwo mengangkat jempolnya, karena memang Hengki di kenal sebagai pribadi yang supel, ramah dan baik.
"Makasih pak."
"Mas!" Panggil Uci yang sudah berjalan lebih dulu sampai di parkiran motor melihat Hengki masih ngobrol dengan pak Jarwo.
"Ya." Sahut Hengki berlari."langsung pulang kita?"
Uci mengangguk, di atas motor yang bergerak pelan Uci melingkarkan tangannya di perut Hengki. Menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya. Rasa dingin tak lagi Uci rasakan karena kalah oleh hawa hangat di tubuh Hengki. Uci sedikit memajukan tubuhnya dan menyenderkan dagunya diatas bahu Hengki. Pria tampan itu mengulas senyum, dan menyentuh tangan Uci yang memeluknya. Suasana itu, rasanya tak ingin berakhir.
Sesampainya di rumah mama Gina.
"Makasih ya, mas." Ucap Uci,"mas mau minum dulu nggak?"
"Nggak usah ci," tolak Hengki,"mas mau pamit aja sama tante Gina."
"Oohh, iya. Sebentar ya." Ucap Uci,
"Hehh, siapa kamu! Masuk-masuk rumah orang!"
__ADS_1