Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 16


__ADS_3

Bab 16


"Aku tidak akan memaksamu untuk memberikan jawaban saat ini juga. Aku hanya ingin tahu apa pendapatmu tentangku," ujar Hengki pada Uci.


Suasana di antara keduanya pun semakin canggung. Uci masih tetap diam, sementara Hengki hanya bisa menunggu Uci memberikan tanggapan.


Uci masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Tentu saja gadis itu tidak ingin membuat Hengki kecewa. Tentu saja Uci juga tidak ingin hubungan yang rusak dengan Hengki karena hal ini.


'Uci sepertinya marah. Seharusnya aku tidak mengatakan hal ini pada Uci!' sesal Hengki dalam hati.


"Maafkan aku! Maaf, aku sudah membuatmu terbebani dengan perkataanku," ujar Hengki kemudian.


Melihat wajah muram Hengki membuat Uci mulai merasa bersalah. "Tidak perlu meminta maaf, Mas!" sahut Uci.


"Aku tidak marah. Mas juga tidak membuatku kesal. Mas hanya mengatakan isi hati mas saja, kan?" cetus Uci mencoba memaklumi Hengki.


Uci juga tidak bisa menyalahkan Hengki. Pria itu hanya sedang mengungkapkan isi hatinya.


"Maaf kalau aku sudah membuatmu terkejut," cetus Hengki.


"Tidak perlu terus-terusan meminta maaf seperti itu, Mas. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Maaf aku diam sejak tadi. Aku hanya terkejut saja. Bukan karena marah," ujar Uci.


Suasana kembali hening. Hengki tidak berani lagi meminta jawaban dari Uci. Sementara, Uci juga masih kebingungan bagaimana harus memberikan jawaban. Tapi Uci juga tidak mungkin menggantungkan Hengki tanpa jawaban.


"Lebih baik kita pulang saja! Maaf kejutan dariku hanya membuatmu kesal," ujar Hengki kemudian.


Hengki mulai melangkah meninggalkan bukit pantai itu. Namun, tiba-tiba saja, Uci meraih tangan Hengki dan menghentikan langkah pria itu untuk pergi.


"Mau pergi ke mana?" tanya Uci. "Mas tidak ingin mendengar jawaban dariku?"


Hengki menoleh ke arah Uci. Tentu saja pria itu sangat mengharapkan jawaban. Tapi pria itu juga tidak ingin memaksakan diri pada Uci.


'Apa Uci akan menolakku sekarang juga?' batin Hengki cemas.


"Aku akan memberikan kamu waktu kalau kamu butuh waktu untuk memikirkan jawabannya," ujar Hengki kemudian.


"Aku tidak akan membuat Mas Hengki menunggu jawaban terlalu lama," ujar Uci. "Mas Hengki tidak mau mendengar pendapatku tentang Mas?"

__ADS_1


Jantung Hengki kembali berdegup kencang. Rasa gelisah kembali menghinggapi pria itu. Setelah merasa gelisah saat mengungkapkan perasaan, kini Hengki kembali dibuat gelisah saat menantikan jawaban.


"Menurut kamu ... aku bagaimana?" tanya Hengky takut-takut.


Ekspresi cemas di wajah Hengki terlihat begitu jelas. Uci pun semakin tidak tega jika harus menggantungkan perasaan Hengki. Gadis itu harus bisa membuat keputusan secepat mungkin.


"Menurut aku ... Mas Hengki sangat baik. Mas Hengki itu pria paling baik yang pernah aku temui," ungkap Uci.


Pipi Hengki pun langsung memerah seketika. Pria itu nampak malu mendapatkan pujian dari gadis pujaannya.


"Mas Hengki juga ramah. Mas Hengki juga lucu. Mas Hengki adalah teman terbaik yang pernah aku punya," sambung Uci.


"Cuma ... teman?" tanya Hengki.


Uci sebenarnya masih bingung dengan perasaannya. Tapi gadis itu memang nyaman berada di sekitar Hengki. Tidak ada salahnya juga jika Uci memberikan kesempatan untuk pria itu.


"Aku benar-benar merasa nyaman berada di dekat Mas. Aku juga merasa aman di dekat Mas," ujar Uci lagi.


"Jadi?" Hengki mulai tidak sabaran mendengarkan kesimpulan dari Uci.


Uci menghela nafas sejenak. Gadis itu mulai memantapkan hati untuk memberikan jawaban yang tidak akan mengecewakan Hengki.


"Aku ingin hubungan kita lebih dari teman. Aku sudah tidak mau menjadi teman kamu lagi. Aku ingin lebih," ujar Hengki. "Aku ingin hubungan lain. Aku tidak ingin hanya menjadi teman biasa. Aku ingin menjadi teman spesial."


Uci mengulas senyum. Setelah mempertimbangkan sikap Hengki dan kebaikan Hengki selama ini, setelah mempertimbangkan rasa nyaman ian aman yang diberikan oleh Hengky padanya selama ini, Uci pun mulai bersiap untuk memberikan jawaban yang diinginkan oleh Hengki.


"Aku ... mau." Uci hanya memberikan jawaban singkat. Hengki pun dibuat bingung setelah mendengar dua kata yang diucapkan oleh gadis itu.


"Mau apa?" tanya Hengki.


"Mas Hengki ingin hubungan yang lebih, kan? Mas ingin jadi teman spesialku, kan?" tanya Uci. "Aku mau. Aku mau menjadikan Mas sebagai ... teman spesialku."


Hengki mematung. Pria itu benar-benar tidak menyangka, pernyataan cintanya akan mendapatkan jawaban memuaskan dari gadis pujaannya.


"K-kamu yakin? Kamu tidak bohong? Aku tidak bermimpi, kan?" tanya Hengki.


Uci menganggukkan kepala sembari menunjukkan senyum merekah pada Hengki. "Aku mau. Aku mau. Aku mau! Mas Hengki ingin mendengarnya berapa kali?" celetuk Uci.

__ADS_1


Hengki langsung melonjak kegirangan. Pria itu pun refleks memeluk Uci dan mendekap gadis pujaannya itu dengan erat.


"Terima kasih, Uci! Terima kasih banyak! Aku janji aku tidak akan mengecewakan kamu! Aku janji aku akan membahagiakan kamu!" ujar Hengki sembari memeluk Uci.


Uci ikut membalas pelukan Hengki, dan membenamkan kepalanya dalam dekapan bahu lebar pria itu. Kini keduanya pun sudah resmi menjadi pasangan kekasih. Setelah lama menjadi sahabat dekat, kini Uci dan Hengki sudah berani membuat kemajuan besar dalam hubungan mereka.


Hengki benar-benar lega dan bersyukur. Ia kira, ia akan mendapatkan penolakan dari Uci. Tapi tanpa disangka-sangka, ternyata gayung Hengki mendapatkan sambutan baik dari gadis manis itu.


"Aku bahagia sekali hari ini!" ucap Hengki penuh syukur. "Aku akan menjaga kamu dengan baik, Uci."


*****


Hari berganti hari. Uci dan Hengki masih menikmati romansa sebagai pasangan kekasih yang harmonis.


Utang Uci pun perlahan mulai menipis, Hingga akhirnya gadis itu melunasi semua pinjamannya pada Hengki. Meskipun pria itu sudah menjadi kekasihnya, tapi Uci tetap membayar semua pinjaman sesuai dengan janjinya.


Kini Uci tidak perlu lagi memikirkan utang. Semuanya sudah lunas, dan hidup Uci pun kembali normal seperti biasa.


Tak hanya utang lunas aja yang membuat Uci bahagia, gadis itu juga nampak girang setelah dirinya mendapatkan rekomendasi dari atasannya untuk naik jabatan menjadi staf office. Gadis itu mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes, dan jika Uci lulus, Uci akan diangkat menjadi staff office.


"Mas Hengki!" Uci melambaikan tangannya dengan girang pada Hengki yang saat ini tengah menjemputnya di pabrik.


Sejak tadi, gadis itu tak henti-hentinya tersenyum usai ia mendapatkan informasi dari atasan mengenai tes menjadi office yang akan dilaksanakan tidak lama lagi.


"Kamu terlihat senang sekali," komentar Hengki pada Uci.


"Hari ini aku mendapatkan berita bagus dari atasan," ungkap Uci.


"Berita apa?"


"Tidak lama lagi aku akan mengikuti tes untuk naik menjadi staff office. Aku mendapatkan rekomendasi dari atasan," sahut Uci dengan semangat.


"Benarkah? Selamat, Sayang! Kamu benar-benar hebat!" ucap Hengki pada Uci.


Meskipun hanya ucapan selamat, tapi Uci benar-benar senang. Hengki memang pintar membuat orang-orang merasa nyaman berada di sekitarnya. "Terima kasih, Mas! Doakan aku, ya? Semoga test-ku lancar nanti!"


"Tentu saja, Uci! Aku akan selalu mendoakan kamu! Semoga kamu sukses selalu!"

__ADS_1


Uci tak henti-hentinya dihampiri kebahagiaan. Setelah mendapatkan kekasih yang baik hati dan pengertian, kini karir Uci pun juga akan ikut bersinar.


****


__ADS_2