Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 44


__ADS_3

Bab 44


Uci terduduk lesu. Ia terus menatap ke arah Hengki yang terdiam disisi papa Bram yang diapit oleh Mama Artika. Ya, malam ini, keluarga Hengki datang bertamu untuk melamar Uci secara resmi. Di ruang tamu, papa hari dan mama Gina menyambut dengan suka cita. Keinginan untuk menjadi besanam dengan sang Sabahat bisa terwujud dengan pernikahan Hengki dan Uci nanti.


Setelah berbasa basi sejenak, papa Bram pun menyampaikan maksudnya untuk melamar kan Uci untuk Hengki.


"Jadi, maksud kedatangan kami kemari adalah untuk melamar Uci untuk Hengki. Agar hubungan kita bisa lebih meningkat dari sahabat ke keluarga." Ucap papa Bram."benar begitu kan ma?" Sambung papa Bram melihat ke arah mama Artika.


"Benar sekali."


"Kami sebagai orang tua juga sama senangnya, saat Hengki dan Uci memberitahukan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius." Ujar papa Hari, "tapi, agar kita bisa lebih yakin lagi, bagaimana jika kita tanyakan saja pada Uci. Dia bersedia menerima lamaran Hengki?"


Uci menunduk, hatinya terus dilanda rasa bersalah. Erin menatap Uci sinis, ia ingat dengan permintaannya tadi siang, dan ia sangat ingin mendengar jawabannya dari Uci.


"Uci?"


Hengki ikut menunduk, ia juga merasa berdebar untuk kedua kalinya. Jika kemarin malam karena menanti Uci mengatakan untuk pertama kalinya, dan kini ia menanti lagi setelah Uci tau siapa dirinya. Hengki sangat berharap Uci tidak berumah pikiran.


"Uci?" Mama Gina menyebut namanya sekali lagi karena melihat Uci yang terus menunduk tanpa mengatakan apapun.


Arifin melihat gelagat Uci yang menyimpan keraguan. Ia menghela nafas nya."Maaf jika aku menyela,," suaranya membuat dirinya menjadi pusat perhatian."sebelum Uci membuka mulutnya, ada yang ingin aku sampaikan terlebih dahulu."


Arifin menatap Erin dan Uci secara bergantian. "Sebelumnya, saat aku mengantar mu pulang tadi siang, kamu meninggalkan dompet mu. Jadi aku kembali untuk menyerahkan ini."terang Arifin menyerahkan dompet Uci." Dan apa kamu tau, ci? Aku mendengar pembicaraan antara kamu dan Erin."


Mata Erin dan Uci melebar seketika. "Sekarang, aku mau bertanya padamu, ci. Apa kamu mencintai Hengki?"


Tangan Uci bergetar halus. Tentu saja dia mencintai Hengki, jika tidak untuk apa sebelumnya ia menerima lamaran dari Hengki? Tapi, ucapan erin tadi siang membuat Uci ragu untuk melanjutkan pertunangan ini.


"Jawab aku, Ci. Apa kamu mencintai Hengki?"


"Mas, kenapa kamu menanyakan hal ini pada Uci?" Protes Hengki.


"Jawab ci!"


Uci meremmas tangannya sendiri, dan menelan ludahnya kasar."tidak, aku tidak mencintainya, aku ingin membatalkan pertunangan ini." Uajr Uci memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Uci..." Lirih Hengki tak percaya dan kehilangan daya.


"Lihat aku ci. Jangan palingkan wajahmu dari kami." Ujar Arifin,"dalam keluarga kita, sudah terjalin hubungan, dan relasi dalam berbisnis. Untuk mengukuhkan hubungan itu, kita harus punya ikatan keluarga. Jika kamu tidak menikah dengan Hengki, maka, kamu harus menikah denganku."


Ucapan Arifin membuat semua mata memandang padanya. Semua orang terkejut dengan ucapan Arifin. Bahkan Hengki, dan Uci sampai menoleh pada Arifin.


"Mas!"


Arifin menarik sudut bibirnya,


"Enggak! Kenapa harus Uci? Kenapa tidak aku saja?" Protes Erin keras.


"Kenapa? Karena aku tidak menyukai mu, Erin. Tolong jangan memaksakan kehendak. Mama bahkan sudah memblacklist dirimu." Tukas Arifin ketus.


"Arifin... Kenapa,,"


"Berkacalah! Sadar dirilah! Aku tidak menyukaimu, Erin! Plis, jangan halangi hubungan dua orang yang saling mencintai ini!"


"Kenapa harus aku yang mengalah," tangis Erin menutupi wajahnya."kenapa?"


"Jujur saja, aku pernah merasa tertarik pada Uci. Bahkan mama mendukungku saat itu. Tapi, begitu aku tau, bahwa Hengki dan Uci saling mencintai. Aku memilih mundur, karena itu, Erin, kumohon, mundurlah. Sekalipun mereka tidak jadi menikah. Aku tidak akan bersama mu. Kamu cantik, kamu pasti bisa mendapat kan pria baik yang bisa menuntunmu menjadi wanita yang baik pula. Tapi itu bukan aku."


"Kami mencintaimu, Rin. Mama mohon, jangan berbuat seperti ini. Kamu lebih berharga dari pada merendahkan diri seperti ini. Huumm?"


Acara lamaran Uci berakhir dengan haru, Uci pun akhirnya menerima lamaran Hengki. Kedua keluarga akhirnya bisa bernafas lega walau harus menjalani drama yang seprti itu.


"Mas sedih," cetus Hengki saat ia hendak berpisah dengan tunangannya."Mas sedih karena kamu mau melepaskan mas demi Erin."


"Maaf mas,"


"Apa cintamu padaku sedangkal itu?"


"Maaf,"


"Tidak apa, mas tau kamu masih sangat kecewa karena merasa mas sudah membohongimu. Tapi, selama ini aku melihat banyak orang dengan topengnya. Karena itu Mas putuskan untuk menjadi pria sederhana. Membangun kerajaan Bisnisku sendiri. Mas senang bertemu denganmu. Kamu wanita spesial yang mas cari." Sambung Hengki.

__ADS_1


"Tapi, walau mas kecewa pada tindakan mu barusan, mas akan membuat cintamu padaku menjadi lebih dalam, sampai kamu tenggelam di dalamnya."


Uci tersipu mendengar ucapan Hengki.


"Hengki! Ayo pulang!" Seru mama Artika di depan mobil nya.


"Iya!" Sahut Hengki tersenyum lebar. "Mas pulang dulu ya."


Uci mengangguk pelan, Hengki mengecup kening Uci sebelum ia benar-benar pergi. Arifin masih tertinggal, menyerahkan sebuah rekaman.


"Ini! Saat kalian berbincang tadi siang, aku sudah merekam nya. Mungkin aku berniat memperdengarkannya tadi, tapi sudahlah." Ucap Arifin."aku pergi!"


Dalam perjalanan kembali ke rumah, Hengki beberapa kali menatap kakaknya yang sedang menyetir.


"Kenapa?"


"Apa yang mas bilang tentang menyukai Uci itu benar?"


"Kamu mau jujur apa bohong,"


"Bohong saja."


"Tidak benar."


"Sialan!"


Arifin tergelak,


"jadi mama benar-benar berniat menjodohkan kalian?"


"Iya,"


Mendengar jawaban sang kakak, Hengki menyentak nafasnya keras. Melonggarkan kancing kemejanya dan mengulung lengan.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Ayo gelud!"


"Adik sialan! Aku sudah sengaja mengalah padamu! Bisa-bisa nya mau ngajak gelud!"


__ADS_2