
"Soal itu, Erin kurang yakin, Tante. Penampilan Hengki sendiri juga cukup urakan. Ditambah lagi, Hengki juga bergaul dengan gadis licik yang pandai menjilat, Tante. Erin takut, gadis itu membawa pengaruh buruk pada Hengki," sahut Erin mulai membahas mengenai Uci.
"Siapa maksud kamu gadis licik yang pandai menjilat? Hengki berteman dengan orang-orang sembarangan di luar sana?" tanya Mama Artika.
Erin bersorak girang. Wanita itu semakin bersemangat menggiring opini Mama Artika agar wanita paruh baya itu ikut membenci Uci.
"Jadi ...." Erin pun menceritakan semuanya tentang Uci. Mulai dari saat Erin pertama kali bertemu dengan Uci di Cafe Skylar, hingga akhirnya Erin tahu jika Uci ternyata bekerja di PT Scender. Erin juga bercerita kalau Arifin dan Hengky mengenal Uci, terutama mengenai Hengki yang terlihat dekat dengan Uci.
"Erin tidak tahu kalau ternyata gadis bernama Uci ini juga kenal dengan Hengki," ujar Erin di akhir cerita. "Tidak hanya kenal, keduanya terlihat dekat, Tante. Sebelum ke sini tadi, Erin sempat melihat Hengki menjemput gadis itu. Gadis itu bahkan berani memeluk Hengki yang membawa motor," sambung Erin.
"Jadi Hengki sedang dekat dengan seorang gadis? Dan gadis itu namanya Uci? Uci bekerja di cafe Skylar, begitu?" tanya Mama Artika.
"Betul, Tante. Gadis itu sangat lengket dengan Hengki. Gadis itu juga benar-benar menyebalkan, Tante! Uci ceroboh dan juga pemalas! Erin benar-benar tidak menyangka, gadis seperti Uci bisa diterima bekerja di cafe. Ditambah lagi, Uci sepertinya juga sudah mempengaruhi Hengki," sahut Erin berkata yang tidak tidak mengenai Uci. "Saat Hengki bertemu dengan Erin dan Arifin, Hengki bahkan tidak mau melihat kami tante. Hengki bahkan membela Uci dan tidak peduli sama sekali pada Arifin. Gadis itu benar-benar pintar menyebarkan pengaruh buruk," sambung Erin Dengan semangatnya.
Mama Artika hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Erin. "Sepertinya Hengki sangat dekat dengan gadis itu, ya? Apa dia mempunyai hubungan khusus dengan gadis itu?"
__ADS_1
"Mengenai hal itu, Erin juga kurang tahu, Tante. Tapi Erin yakin, gadis itu pasti sudah merayu Hengki! Mungkin saja mereka saat ini sudah berkencan," cetus Erin.
"Boleh Tante tahu seperti apa rupa gadis itu?" tanya Mama Artika berharap Erin mempunyai foto yang akan menunjukkan wajah Uci.
"Erin tidak punya fotonya, Tante. Erin juga tidak terlalu kenal dengan gadis itu," sahut Erin.
"Tapi Tante bisa menemui gadis itu di Cafe Skylar, kan?" tanya Mama Artika kemudian.
Sepertinya wanita paruh baya itu berniat untuk menjumpai Uci. Mendengar hal tersebut, Erin benar-benar dibuat girang dan menyangka Mama Atika akan melabrak Uci.
"Tante akan menemui gadis itu di Cafe Skylar!" ungkap Mama Artika.
'Rasakan kamu, Gadis Pelayan!' batin Erin puas.
Di hari berikutnya, Mama Artika benar-benar datang ke Cafe Skylar untuk menjumpai Uci. Dengan berbekal ciri-ciri fisik yang dijabarkan oleh Erin, wanita paruh baya itu mencoba mencari pelayan bernama Uci di cafe tersebut.
__ADS_1
"Mana yang namanya Uci, ya?" gumam Mama Artika sembari celingukan saat tengah berada di dalam cafe.
Manik mata wanita paruh baya itu pun langsung menyorot ke satu titik begitu ia melihat gadis ramah yang tengah melayani para pelanggan. Ciri-ciri fisik yang ada dalam gadis itu benar-benar bersih persis dengan ciri fisik yang dijelaskan oleh Erin.
"Pasti itu Uci!" gumam Mama Artika. Untuk memastikan, Mama Artika pun memanggil pelayan lain dan menanyakan nama gadis yang tengah dilihatnya. Ternyata benar, gadis yang tengah diamati oleh Mama Artika saat ini adalah Uci yang dimaksud oleh Erin.
"Itu gadis yang dimaksud Erin? Bukannya Erin bilang kalau uji itu gadis pemalas dan ceroboh?" gumam Mama Artika. "Gadis itu tidak terlihat seperti itu."
Untuk membuktikan semua kata-kata Erin yang menjelek-jelekkan Uci, Mama Artika pun mencoba mengetes Uci untuk sekedar mengetahui sifat dan perangai gadis itu. Saat Uci tidak sengaja melintas di dekat meja Mama Artika, wanita paruh baya itu pun sengaja menyenggol saus hingga tumpah ke lantai dan mengenai Uci.
"Ah, maaf! Aku tidak sengaja!" ucap Mama Artika memulai sandiwaranya. Wanita paruh baya itu melihat jelas saos yang menumpahi sepatu yang dikenakan oleh Uci.
'Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh gadis ini?' batin Mama Artika menunggu reaksi dari Uci.
****
__ADS_1