Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 31


__ADS_3

Bab 31


"bapak?"


"Loh, uci?" pak bambang terkejut bukan main melihat Uci menyapu halaman rumah. Tak terpikir uci akan sampai di rumah secepat ini. Padahal, bu sumi baru dua hari yang lalu berangkat ke Jakarta.


"Bapak bukannya di rumah sakit?"


"ee, itu..." pak bambang menggosok tengkuknya salah tingkah.


"Bapak!" suara pekikan bu sumi terdengar dari ambang pintu rumah. Wanita setengah baya itu berjalan mendekat dan memukuli suaminya yang dengan lancang pulang ke rumah saat ia melarang."Berani kamu pulang ke rumah?! haahh?!"


"Ibuk, jadi bapak nggak sakit parah?" tanya uci yang masih kaget.


Bu Sumi berhenti memukuli suaminya, dan menyentak nafasnya kesal.


"Jadi ibuk bohongin Uci? Kenapa buk?" Cecar Uci kecewa, kecewa karena telah di bohongi ibunya sendiri.


Bu Sumi melirik pak Bambang, bibir wanita itu menipis menahan geram. "Ayo masuk dulu ke dalam. Nggak enak kalau di lihat tetangga." Ajak Bu Sumi berjalan lebih dulu menyeret Uci.


Di ruang tamu Uci menatap Bu Sumi dan pak Bambang. Tak bisa di pungkiri jika Uci kecewa karrna telah di bohongi walau ia merasa bersyukur bapaknya baik-baik saja dan tidak sekarat.


"Ehem, dengar ci. Ibuk terpaksa bohong sama kamu agar kamu pulang."


"Tapi kenapa buk? Uci kan di Jakarta juga kerja, yang juga Uci kirim. Kenapa ibuk mesti bohong hanya agar Uci pulang?" Cecar Uci menuntut penjelasan.


"Ibuk nggak suka kamu deket-deket sama si kere itu." Ketus Bu Sumi.


"Si kere siapa buk?" Tanya pak Bambang kepo.


"Ya itu, temennya Uci. Ngakunya teman, nggak tau temen beneran atau bukan." Tukas Bu Sumi makin terdengar kesal.


"Tapi kan ibuk nggak harus kek gini... Ini juga berpengaruh sama kerjaan Uci juga buk." Protes Uci agar sang ibu mengerti jika dia bekerja hanya ikut orang.


Bu Sumi melengos dengan bibir yang mengerucut tanpa kata.


"Siang ini, Uci balik ke Jakarta buk." Putus Uci, seketika Bu Sumi dan pak Bambang menatapnya tak suka dan marah.


"Nggak bisa gitu ci! Kamu nggak bisa balik ke Jakarta! Titik!" Ucap Bu Sumi dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Uci harus kerja buk, biar bisa kirim uang buat ibuk."


"Nggak perlu!" Tukas Bu Sumi makin ketus bersuara."Nanti malam juragan Andi datang ke rumah. Jadi kamu nggak boleh pergi."


"Maksud ibuk?" Wajah Uci sudah berubah takut oleh pikirannya.


"Juragan Andi mau datang kesini, dia mau kamu jadi istrinya."


Uci merasa lemas, benar apa yang Uci takutkan. "Uci nggak mau buk!"


"Dari pada kamu sama si gembel itu. Nggak punya uang. Hidupmu bakal merana. Lebih baik dengan juragan Andi. Uangnya banyak, hidup mu pasti enak." Ucap Bu Sumi.


"Enggak mau, buk. Juragan Andi sudah tua, dia juga sudah punya istri. Tega ibuk mau nikahin Uci sama dia." Tolak Uci.


"Ini demi kebaikanmu ci!"


"Pak..." Uci berganti menatap pak Bambang meminta agar sang bapak membelanya kali ini.


"Maaf ci, bapak kalah judi kemarin. Jadi utang bapak numpuk sama juragan Andi. Tolong bapak ci, nikah ya juragan Andi."


"Pak!" Pekik Uci tak habis pikir, kenapa harus selalu dia yang di korbankan. Uci menggeleng, rasanya ia sudah di batas kesabaran untuk berkorban demi keluarga nya.


"Durhaka kamu ci!" Hardik Bu Sumi.


"Kurang apa Uci sama ibuk? Sama bapak? Dari pekerjaan rumah sampai gaji Uci hanya buat kalian. Dan sekarang Uci harus berkorban lagi? Enggak pak, buk. Sudah cukup Uci membayar semua jasa kalian. Terima kasih. Uci pamit!" Ucap Uci beranjak dari duduknya. Lalu ia masuk kedalam kamar.


Uci mengusap pipinya yang basah dan mulai berkemas. Ia terkejut karena sang ibu membuka pintu. Uci sudah bertekat untuk kembali ke Jakarta. Tak mau jika harus menikah dengan juragan Andi yang mata keranjang.


"Kamu nggak bisa pergi, ci!" Tukas Bu Sumi mencabut kunci pintu. Lalu menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari luar.


Uci berlari dan menggedor pintu dari dalam. "Buka buk! Buka! Uci nggak mau nikah sama juragan Andi! Nggak mau buk. Biarkan Uci pergi." Tangis Uci memohon.


Gadis itu terus memukul-mukul pintu dengan telapak tangan nya meminta di bebaskan namun pintu itu sedikitpun tak bergerak. Uci hanya bisa menangis di dalam kamarnya. Perlakuan yang sangat tak adil. Kenapa harus dia? Kenapa lagi-lagi harus Uci yang menanggung semuanya? Uci meratapi nasib nya.


Siang itu, Uci masih terduduk dan bersandar di depan pintu. Memeluk kakinya dengan nafas yang masih sesenggukan. Suara dering gawainya yang berulang membuat Uci akhirnya terpaksa bangkit dan mengambil.


Hengki memanggil. Uci ragu untuk mengangkat panggilan kekasihnya. Tapi, saat ini hanya Hengki satu-satunya harapan.


"Halo mas."

__ADS_1


("Uci?")


"Iya mas?"


("Suaramu serak, ci? Kamu nangis?")


Uci terisak, entah akan sampai atau tidak hatinya menjawab. Walau Hengki jadi satu-satunya harapan. Tapi, Hengki hanyalah pria biasa, tak mungkin kekasihnya itu akan bisa menolongnya.


("Ci? Uci? Kamu nangis?") Hengki menjeda pertanyaan, lalu panggilan suara berubah menjadi panggilan Vidio.


Uci semakin tak bisa menahan tangisnya.


("Ci, biar mas lihat wajahmu, ci.")


Uci masih menangis, cukup lama Hengki membujuk agar Uci mau berganti panggilan Vidio. Sampai gadis cantik itu merasa cukup tenang dan menggeser tombol biru. Wajah cemas Hengki memenuhi layar hapenya.


("Ada apa ci? Cerita sama mas?")


"Jemput Uci mas."


Hengki terperangah mendengar permintaan Uci yang terdengar aneh itu.


"Jemput Uci mas, Uci pingin balik ke Jakarta." Rengek Uci, kembali bahunya berguncang oleh tangis.


("Iya, mas jemput. Tapi, kasih tau mas apa alasannya?")


"Uci... Uci nggak mau nikah sama juragan Andi, mas."


Pintu di buka dari luar. Uci terkejut, karena Bu Sumi dengan cepat merebut hape Uci, dengan wajah marah. "Hei gembel! Jangan hubungi anakku lagi!"


Sambungan telpon di matikan.


"Ibuk...."


"Hape ibuk tahan!" Bentak Bu Sumi lalu keluar dengan membanting pintu dan menguncinya. Uci sudah berusaha untuk ikut keluar, namun di dorong kuat oleh Bu Sumi Sampai terjerembab ke belakang.


"Ibuk! Buka pintunya buk." Mohon Uci menggedor pintu yang sudah di kunci dari luar. Lagi-lagi Uci hanya bisa menangis.


Sementara itu, Hengki yang mendengar bahwa Uci akan di nikahkan terdiam karena syok. Dengan cepat Hengki mencoba menghubungi nomor Uci lagi. Sekali dua kali tersambung, tapi langsung di matikan. Dan yang ke tiga kalinya, operator yang menjawab.

__ADS_1


"Haaaahhh,,, shiitt!" Hengki mengumpat. Jika benar Uci akan di nikahkan, Hengki harus segera ke kampung Uci.


__ADS_2