
Mama Artika melangkah gontai masuk ke dalam restoran tempat dirinya seharusnya melangsungkan makan malam bersama dengan putranya dan juga Uci. Pak Bram sudah terlebih dahulu menunggu di sana dan menanti kedatangan Mama Artika.
"Kenapa Mama datang sendiri?" tanya Pak Bram pada Mama Artika sembari jaringan mencari orang yang seharusnya dibawa oleh Mama Artika.
Mama Artika pun duduk dengan wajah pucat. Wanita paruh baya itu terlihat tidak bersemangat.
"Kenapa, Ma? Ada apa? Uci tidak bisa datang? Arifin tidak bisa datang?" tanya Pak Bram beruntun pada Mama Artika.
Mama Artika menghela nafas. Wanita paruh baya itu pun menceritakan semua hal yang sempat ia lihat sebelum ia sampai di restoran tersebut.
"Mama tidak jadi mengundang Uci," ungkap Mama Artika.
"Kenapa, Ma?"
Mama Artika terdiam sejenak. Wanita paruh baya itu mengingat kembali saat ia melihat Uci dan Hengki saling berinteraksi.
"Apa Papa ingat soal Hengki yang bercerita ingin menikahi pacarnya?" tanya Mama Artika.
"Kenapa dengan Hengki? Mama sudah bertemu dengan pacarnya? Hengki belum membawa gadis itu ke rumah, kan?"
"Sepertinya ada hal yang tidak Mama ketahui," ujar Mama Artika. "Erin sempat mengatakan sesuatu pada Mama. Erin pernah bilang kalau Uci dan Hengki saling mengenal. Erin pernah bilang kalau Uci dan Hengki mempunyai hubungan khusus. Mama tidak percaya. Mama kira Erin hanya berbohong. "
"Lalu? Ternyata Uci benar-benar kenal dengan Hengki? Begitu?"
Mama Artika mengangguk lemas. "Mama melihat sendiri sangat Mama pergi ke Cafe Skylar tadi. Mama melihat Hengki di sana. Hengki terlihat akrab sekali dengan Uci. Mereka juga terlihat mesra. Sepertinya Uci dan Hengki memang memiliki hubungan khusus."
"Lalu, Arifin bagaimana?" tanya Pak Bram mulai mencemaskan nasib putra sulungnya yang seharusnya akan dinikahkan oleh Uci.
Mama Artika menggelengkan kepala. Wanita paruh baya itu benar-benar dibuat blank. Hampir saja ia membuat hubungan Hengki dan Arifin hancur hanya karena seorang gadis.
"Mama tidak tahu! Mama belum bertanya pada Hengki dan Uci secara langsung mengenai hubungan mereka. Tapi tidak perlu bertanya pun, mama bisa melihat sendiri kalau Uci dan Hengki memang mempunyai hubungan yang tidak biasa. Mama hampir saja membuat putra Mama sendiri hancur," sesal Mama Artika.
Pak Bram dan Mama Artika tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak ingin lagi ikut campur. Mama Artika pun juga harus berpikir ulang untuk mengadakan acara pernikahan Hengki dan Arifin di hari yang sama. Mama Artika juga harus berpikir ulang untuk menjodohkan Arifin dengan Uci
__ADS_1
"Mama tidak tahu harus melakukan apa. Mama malu sekali di depan Arifin dan Hengki," ujar Mama Artika.
Untungnya wanita paruh baya itu sudah tahu sebelum semuanya terlambat dan hati "Tidak apa-apa, Ma. Mama juga tidak tahu yang sebenarnya, kan? Hengki sendiri juga tidak mengenalkan pacarnya pada Mama. Siapa sangka jika ternyata pacar Hengki adalah Uci?" ujar Pak Bram mencoba menghibur istrinya.
"Semuanya belum terlambat. Lebih baik kita biarkan saja anak-anak yang mengurus hubungan asmara mereka sendiri. Kita tidak perlu ikut campur, Ma!" sambung pria paruh baya itu.
Mama Artika menganggukan kepala. Wanita paruh baya itu tidak akan membuat rencana aneh-aneh lagi untuk kedua putranya.
"Mereka berdua sudah dewasa, Ma. Biarkan mereka sendiri yang memilih jalan yang akan mereka ambil," sahut Pak Bram.
Akhirnya kedua orang tua Arifin dan Hengki itu pun memutuskan untuk menikmati makan malam bersama tanpa anak-anak mereka. Mama Artika juga sudah memutuskan membiarkan Hengki dan Arifin yang menentukan sendiri nasib mereka.
"Benar, Pa. Lebih baik kita biarkan saja anak-anak menentukan pilihan mereka sendiri," sahut Mama Atika kemudian.
****
Di tempat lain, Uci dan Hengki sangat ini juga tengah menikmati makan malam. Keduanya tengah melahap nasi padang dengan porsi besar usai mereka meninggalkan Cafe Skylar.
"Kamu mau nambah lagi?" tanya Hengki pada Uci.
Hengki tertawa kecil. "Kamu makan dengan lahap sekali!" cetus Hengki membuat Uci malu.
"Memangnya kenapa? Mas malu?" cibir Uci.
Hengki mengacak lembut rambut Uci yang sejak tadi berbicara dengan wajah cemberut padanya. Meskipun hanya nasi Padang, tapi pasangan kekasih itu merasa seperti tengah menikmati makan malam romantis bersama.
Usai melahap makan malam, Hengki pun masih menyempatkan diri untuk mengajak Uci menikmati jalan santai bersama sembari mencerna makanan yang ada di perut mereka. "Kamu mau makan yang lain?" tawar tinggi pada Uci.
Setelah melahap satu porsi besar nasi Padang, pria itu masih terus menawari Uci dengan makanan. "Mas dari tadi membahas makanan terus! Kalau aku gendut nanti bagaimana?" protes Uci.
"Memangnya kenapa kalau kamu gendut? Pasti kamu sangat imut kalau pipi kamu semakin bulat!" ledek Hengki.
"Ih, Mas Hengki!"
__ADS_1
Hengki asik cengengesan dan tak henti-hentinya menggoda gadisnya itu. Kencan sederhana seperti ini saja sudah cukup untuk menyenangkan hati Uci.
"Kamu mau pulang sekarang?" tawar Hengki pada Uci.
"Baru jam delapan, Mas. Mas sudah capek, ya?" tanya Uci.
"Tidak juga! Takutnya kamu yang capek. Tadi Cafe cukup ramai, kan?" tanya Hengki.
"Iya, Mas. Hari ini Cafe cukup ramai. Makanya Uci sampai kelaparan," celetuk Uci.
"Kamu makan nasi padangnya banyak sekali tadi," ledek Hengki lagi. "Badan kecil begini, tapi kamu makannya banyak sekali!"
Usai puas bercanda, pasangan kekasih itu pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Dengan menggunakan kendaraan roda duanya, Hengki pun bergegas melajukan motornya menuju ke kontrakan tempat Uci tinggal.
"Besok kamu libur, kan?" tanya Hengki membuka perbincangan selama perjalanan pulang.
"Ya, Nas. Kenapa? Mas mau ngajak kencan?"
"Kalau kamu mau!" sahut Hengki. "Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"
"Kita pergi ke pantai saja seperti biasa, Mas."
"Memangnya kamu tidak bosan? Kamu tidak ingin mencoba pergi ke tempat lain? Atau pergi ke tempat yang lebih jauh?" tanya Hengki.
Tentu saja Uci ingin. Tapi sebagai rakyat jelata, gadis itu tidak ingin memaksakan diri menghabiskan uang hanya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.
"Tidak perlu ke tempat yang jauh, Mas. Asalkan bersama Mas, Uci mau diajak ke mana pun!" cetus Uci membuat pipi Hengki memerah.
Tak terasa, keduanya pun akhirnya tiba di kontrakan Uci. Begitu Uci turun dari motor, gadis itu pun dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tidak terduga di kontrakan yang ia tinggali itu.
Manik mata Uci membulat lebar begitu ia melihat tamu tak diundang yang sangat ini sudah berdiri di depan pintu kontrakannya. Hengki pun ikut dibuat terkejut saat ia melihat sosok asing yang belum pernah ia temui sebelumnya di kontrakan Uci.
Sang tamu pun segera menghampiri Uci dan menyambut kepulangan gadis itu. Tamu itu pun ikut menoleh ke arah Hengki dan mengamati pria itu dari ujung kaki hingga atas kepala.
__ADS_1
"Uci? Kamu baru pulang? Kamu bersama siapa?"
****