Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 49


__ADS_3

Bab 49


Setelah Vita dan Ahsan membuat perjanjian dengan Hengki. Tentu saja mereka di buat tak berkutik dengan semua bukti dan ancaman dari Hengki. Akhirnya, pria tampan itu pun mengirim saudara Uci itu ke pulau sebrang.


Disana keduanya diberi kesempatan untuk memperbaiki sikap. Dan Hengki tidak akan membawa kasus penggelapan dan pencurian yang Ahsan lakukan ke jalur hukum. Tentu saja semua itu dilakukan tanpa sepengetahuan Uci. Hanya untuk menjaga perasaan sang kekasih hati.


Hari berganti dengan cepat, hari yang di nanti pun akhirnya tiba. Suasana di rumah pak Hari berubah menjadi sangat ramai dan meriah. Uci di rias menjadi sangat cantik bak putri kerajaan. Gadis yang sebentar lagi melepas masa lajang nya itu menatap pantulan diri di cermin.


"Lihat! Kamu cantik kan?" Ujar sang penata rias.


Uci tersenyum. "Makasih mbak."


"Ini memang sudah kerjaanku,"


"Uci?" Suara panggilan mama Gina mendekat,"wah, cantiknya anak mama." Puji mama Gina.


"Makasih ma,"


"Bagaimana perasaanmu? Sebentar lagi kamu jadi nyonya Hengki."


Uci hanya menanggapi dengan senyuman.


"Ma, rasanya, aku seprti Cinderella saja. Beberapa bulan yang lalu aku masih menjadi Uci yang ketakutan dengan pernikahan dengan seorang rentenir. Dan sekarang... Aku dikelilingi oleh orang-orang baik yang menyayangi ku." Ungkap Uci.


Mama Gina memeluk Uci. "Mama senang akhirnya bisa menemukan mu, ci."


Uci pun balik memeluk sang mama dalam keharuan.

__ADS_1


"Hei, apa meriasnya belum selesai juga?" Suara papa Hari menyembul dari balik pintu."Cepat, acara sebentar lagi di mulai."


Di tempat acara, semua sudah menunggu. Hengki duduk di depan penghulu dan papa Hari. Pria tampan itu tampak sangat gugup tapi berusaha terus menenangkan diri.


"Sudah hapal, nak Hengki?"


"Sudah."


"Jangan terlalu gugup, nanti malah lupa semua." Goda pak penghulu.


Hengki tertawa kecil,


"Ya sudah kita mulai saja." Papa Hari mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh tangan Hengki dengan erat.


Kalimat sakral pun terucap dengan lancar dan dalam satu tarikan nafas. Hingga suara para saksi menggema di susul kalimat syukur.


Hari berikutnya, Uci dan Hengki pergi berbulan madu ke tempat yang Arifin berikan sebagai hadiah pernikahan untuk mereka.


"Nggak nyangka ya, tempat ini bagus banget." Ucap Uci menikmati pemandangan rumah-rumah berwarna warni dan gambaran bukit di depan nya.


"Dan dingin, mas Arif ngerti aja." Celetuk Hengki yang berdiri di samping Uci.


Wajah Uci merona."uuummm, kita kemana lagi abis ini mas?"


"Jalan-jalan ajalah di sekitar sini. Mau?"


Uci mengangguk setuju. Setelah puas memanjakan mata pada view yang menakjubkan itu. Hengki mengajak Uci ke pasar. Membeli beberapa bahan makanan untuk mereka masak di homestay.

__ADS_1


Walau sudah da tukang masak, tetap saja Uci dan Hengki menikmati kebersamaan berbelanja dan memasak di dapur.


"Mas icip dulu deh, ini udah pas belum rasanya?" Uci menyendok kuah seblak yang ia bikin dan mendekatkannya ke mulut Hengki.


Pria yang sudah resmi menjadi suami Uci itu tersenyum memandang istrinya. Membuat wajah Uci bersemu merah saja.


"Pedes banget, ci. Kamu kasih berapa cabe sih?"


"Kan mas tadi yang siapin bumbunya, yang ulek juga. Uci kan cuma bagian goreng-gorengan dan cemplung-cemplung." Jawab Uci tak mau kalah.


"Pedes banget ini ci, kamu nggak tambahin bubuk cabe emang?"


"Ya, tambahin dikit sih, biar merah. " Ungkap Uci jujur memainkan jarinya.


"Nah, kan?"


Uci menggigit bibir bawahnya merasa tak enak hati. Tapi itu justru membuat Hengki gemas dan meraih pinggang Uci.


"Sekarang udah boleh, kan?" Tanyanya.


Uci mengangguk malu, Hengki tersenyum. Pria itu memejamkan mata dan mendekatkan wajah sampai bibirnya menempel di bibir Uci. Pria itu beberapa kali menggerakkan bibirnya, akan tetapi, bibir Uci tetap mengatup.


Hengki menatap wajah Uci yang sudah memerah.


"Maaf, mas. Aku belum pernah ciuman sebelumnya."


Senyum Hengki melebar, tentu saja ia tau.

__ADS_1


__ADS_2