
"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku tidak akan membiarkan Arifin menikah dengan gadis pelayan itu!" geram Erin mengepalkan tangan.
Gadis itu pun tiba-tiba muncul dan menyela pembicaraan antara Mama Artika dengan Pak Bram. Benar-benar tindakan yang tidak sopan, di mana gadis itu tiba-tiba memprotes Mama Arifin dan Pak Bram yang hendak menikahkan Uci dengan Arifin.
"Maksud Tante apa?" tanya Erin ada Mama Artika.
Mama Artika nampak terkejut, kemudian menoleh ke arah Erin. Ia bener-bener tidak menyangka Erin akan berani mengganggu perbincangannya dengan sang suami.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Erin?" tanya Mama Artika masih berusaha sabar, meskipun Erin sudah bersikap tidak sopan.
"Aku tidak setuju kalau Tante menikahkan Arifin dengan gadis lain! Apalagi dengan gadis pelayan itu! Apa Tante tidak pernah melihat keberadaan ku selama ini?" protes Erin tiba-tiba mengomel pada Mama Artika dan menentang pernikahan Arifin dengan Uci.
"Maksud kamu apa? Memangnya apa hubungan kamu dengan Arifin? Kamu tidak menyetujui pernikahan Arifin dengan Uci? Kamu hanya orang luar saja, kan?" sahut Mama Artika pada gadis tidak tahu malu itu.
Erin mengepalkan tangan kuat-kuat. "Aku siapa? Hubunganku apa? Selama ini akulah yang dekat dengan Arifin, Tante! Seharusnya akulah yang menikah dengan Arifin, bukan wanita lain!" tegas Erin.
Mama Artika hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Erin yang sudah kurang ajar terhadap dirinya. "Kamu jangan lancang ya, Erin! Kamu itu hanya orang luar! Dan saat ini kamu berada di rumah Tante! Apa begini cara kamu bertamu di rumah orang? Di mana sopan santun kamu?" omel Mama Artika.
Nampaknya Erin sendiri sudah tidak terlalu peduli lagi dengan sopan santun. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah Arifin. Apa pun yang terjadi, yang tidak akan membiarkan Arifin menikah dengan wanita lain selain dirinya.
"Pokoknya aku tidak setuju Arifin menikah dengan gadis mana pun! Seharusnya akulah yang menikah dengan Arifin! Kami sudah dekat sejak lama, Tante! Tante sendiri juga sudah kenal dengan keluargaku, kan? Apalagi yang kurang? Aku dan Arifin sudah bersama sejak lama! Sekarang Tante ingin menikahkan Arifin begitu saja? Terlebih lagi dengan wanita lain?" omel Erin tidak terima.
Wanita itu sudah menunggu Arifin sejak lama. Tapi ia benar-benar tidak menyangka jika hubungannya dengan Arifin tidak akan pernah mengalami kemajuan.
"Tante tidak bisa seenaknya seperti ini padaku! Aku sudah lama menyukainya Arifin dan aku sudah menunggu-nunggu untuk dilamar oleh Arifin!" sahut Erin mengungkapkan seluruh isi hatinya. mama Artika tertawa kecil melihat kepedean anak dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tapi nyatanya kamu memang tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan putra Tante, kan? Apa salahnya jika Tante ingin menikahkan putra Tante dengan gadis lain? Arifin menyukai gadis pilihan Tante! Tidak ada lagi orang yang bisa menghalangi Tante untuk menikahkan Arifin dengan Uci!" tegas Mama Artika menatap Erin remeh.
"Tante tidak bisa melakukan hal ini padaku!" sentak Erin dengan geram.
Melihat Erin yang sudah berani membentak-bentak Mama Artika, Mama Artika pun tidak ingin tinggal diam. "Erin! jaga sopan santun kamu! Seharusnya kamu malu pada diri kamu sendiri! Berani sekali kamu membentak orang tua!" sungut Mama Artika.
"Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga!" usir Mama Artika tanpa banyak basa-basi.
Erin sudah benar-benar kehilangan muka. Setelah membuat keributan di rumah Mama Artika, mau tak mau gadis itu pun harus meninggalkan kediaman pria pujaannya itu.
"Aku belum selesai bicara, Tante! Hanya aku wanita yang boleh menikah dengan Arifin! Tidak boleh ada wanita lain yang menikahi yang Arifin sampai kapan pun!" teriak Erin di saat wanita itu sudah diseret oleh satpam.
"Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kembali!" hardik Mama Artika.
Erin menangis di depan gerbang kediaman Pak Bram. Wanita itu benar-benar malu. Harga diri Erin sudah diinjak-injak.
Namun, Mama Artika sudah terlebih dahulu menghubungi ibu Erin. Mama Artika benar-benar kecewa dengan sikap Erin yang sudah berlaku tidak sopan di rumahnya. Mama Artika mengomel sepuasnya pada ibu erin dan meminta temannya itu untuk mendidik Erin lebih baik lagi agar gadis itu bisa bersikap lebih sopan, terutama saat tengah bertamu ke rumah orang.
"Mama!" panggil Erin pada ibunya begitu wanita itu tiba di rumah. Niat hati Erin ingin merengek dan mengadukan sikap Mama Artika pada sang ibu, tapi justru Erin yang lagi-lagi terkena omel setelah sampai di rumah.
"Erin, apa yang kamu lakukan di rumah Tante Artika?" tegur sang Ibunda.
Erin terkejut bukan main. Ternyata ibunya sudah tahu terlebih dahulu hal yang sudah terjadi di rumah Mama Artika.
"Aku dipermalukan di sana, Ma! Mereka sudah menginjak-injak harga diriku!" ungkap Erin pada sang ibu untuk mencari pembelaan. Tapi sayangnya, Erin tidak mendapatkan pembelaan yang ia inginkan.
__ADS_1
"Mama benar-benar malu! Bisa-bisanya kamu bersikap tidak sopan seperti itu di rumah Tante Artika? Tante Artika menghubungi Mama dan menceritakan semuanya!" ungkap ibu dari Erin.
"Mereka yang sudah kurang ajar padaku, Ma! Mereka sudah menginjak-nginjakku seenaknya! Mereka sudah memperlakukanku dengan semena-mena! Seharusnya Mama membelaku!" protes Erin.
"Membela apanya? Untuk apa Mama membela anak yang sudah bersikap tidak sopan!" geram ibu dari Erin.
Erin mulai kebingungan. Wajahnya sudah tercoreng di mata Mama Artika, dan kini ibunya juga tidak membela dirinya.
"Mama juga ingin menghakimiku? Mereka yang sudah semena-mena padaku! Selama ini akulah yang menemani Arifin! Tapi mereka dengan seenaknya akan menikahkan Arifin dengan wanita lain!" protes Erin.
"Itu urusan mereka! Apa hak kamu? Memangnya apa hubungan kamu dengan Arifin? Kamu seharusnya tidak bertindak kelewatan seperti itu apalagi sampai menyela pembicaraan orang tua!" sahut wanita paruh baya itu.
Erin tak dapat lagi berkutik. Tidak ada satu pun orang yang mendukung dirinya.
"Lebih baik kamu pergi saja! Mama Akan mengirim kamu ke luar negeri!"
"apa? tidak mau! kenapa Erin harus keluar negri?!" protes Erin keberatan.
"masih nanya lagi, tentu saja untuk belajar sopan santun! di sini kamu bahkan sulit untuk bersopan santun. tidak tau Bagaimana bersikap pada orang tua! mama malu! mama malu, Erin! bagaimanapun bisa anak mama sekuranh ajar ini?"
"Erin nggak mau keluar negri ma, nggak mau!"
"setuju atau tidak, mama akan tetap mengirimmu ke sana sampai kamu sadar dan berubah apa yang kamu lakukan itu salah!"
"mama!" rengek. Erin
__ADS_1
****