Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 29


__ADS_3

Bab 29


("Maaf ya, ci. Mas nggak bisa jemput kamu. Ada kerjaan di carwash.")


"Iya mas, nggak papa." Balas Uci, lalu menutup telponnya. "Ya sudah, hari ini naik angkot aja."


Uci berjalan keluar dari tempat dirinya bekerja menuju Selter tempat pemberhentian bus. Suara klakson terdengar nyaring di belakang, membuat Uci dengan cepat menoleh.


"Hengki nggak jemput?" Tanya Arifin setelah menurunkan kaca mobil.


"Enggak pak, mas Hengki nya masih kerja." Jawab Uci jujur.


Arifin terdiam sesaat, ia ingat jika hari ini Hengki ada pertemuan dengan beberapa rekan bisnis sang papa. Untuk mengajak Hengki saja pak Bram sampai harus mengancam tidak akan merestui hubungannya dengan Uci. Sampai Hengki terpaksa menyanggupi."Dia pasti lagi sama papa." Gumam Arifin lirih.


Ia lalu melihat Uci,"Terus kamu pulangnya gimana?" Tanyanya penuh minat.


"Naik bus pak."jawab Uci jujur.


"Masuk." Titah Arifin.


Uci terbengong-bengong sendiri.


"Masuk, aku anter." Ucap Arifin membuka pintu mobil dari dalam.


"Eh, nggak usah pak. Ngerepotin."


"Enggak! Masuk cepetan!"


Perintah Arifin tentu saja akhirnya Uci turuti. Ia merasa tak enak dan tak nyaman jika berada di dekat sang bos. Karena debaran jantungnya yang masih sulit Uci kendalikan.


"Rumah mu di mana?" Tanya Arifin memecah kesunyian.


"Di jalan damai nomor 33 perumnas, pak."


"Ci,"


"Iya, pak?"


"Kalau lagi di luar kantor, bisa nggak panggil mas aja. Aku belum tua banget untuk di panggil pak."


"Tapi, bapak kan atasan saya."


"Iya, itu di kantor. Sekarang kan lagi diluar kantor, dan diluar jam kerja, Ci."


"Eeh, iya pak."


"Pak lagi..."


"Eh, iya mas."


Arifin tersenyum kecil."mau makan dulu nggak?"


"Nggak usah pak, eh, mas." Tolak Uci halus."Dirumah ada ibuk, nggak enak kalau nggak makan di rumah."


"Oohh, kamu tinggal sama ibuk?"


"MMM, ibuk baru kemarin mas datang dari kampung."


Arifin manggut-manggut.


Sesampainya mereka di depan kontrakan Uci. Bu Sumi sudah berdiri di teras. Wajahnya berbinar begitu melihat ada mobil bagus berhenti di depan rumah. Apalagi melihat Uci baru saja keluar dari mobil itu. Bu Sumi mendekat dengan sangat antusias menyambut. Kebetulan Arifin juga ikut turun dari mobilnya.


"Wajah, siapa ini? Bawa mobil bagus, ganteng lagi. Pacar kamu ya Ci?" Bu Sumi menyambut dengan ramah dan senyum yang lebar. Sangat berbeda saat menyambut Hengki yang hanya membawa motor lawas.


"Bukan buk, ini bos nya Uci."


"Lah, bos? Kenapa sampai antar ke rumah? Kamu lebih cocok sama dia ci, dari pada sama si bedugal itu."


Arifin yang menyalami Bu Sumi sedikit kaget mendengar ucapan Bu Sumi. "Bedugal? Apa maksudnya Hengki?"


Uci hanya bisa menunduk malu pada bosnya. Sang ibu sangat antusias menyentuh mobil Arifin."Yaah, kalau bos ya naiknya mobil ya, nggak motor butut yang gampang mogok."


"Ibuk..."


"Ayo masuk, nak siapa namanya?" Tanya Bu Sumi antusias.


"Arifin, buk."


"Oo iya, Arifin, ayo masuk." Bu Sumi sudah menarik tangan Arifin.


"Buk," Uci menahan tangan sang ibu yang langsung memberinya tatapan protes."pak Arifin masih ada urusan buk, jadi harus segera pergi."


Mulut Bu Sumi komat-kamit tak suka."Gimana sih? Orang dia mau bertamu kok...."

__ADS_1


"Ibuk! Jangan begini, plis."


"Huuhh, pasti gara-gara laki-laki kere itu kan? Sampai mati ibuk nggak akan relain kamu sama dia." Ucap Bu Sumi terus berkomat-kamit dan menghentak kaki masuk ke dalam rumah.


"Maaf ya pak. Ibu saya memang begitu."


"Iya, nggak papa. Aku cuma kaget aja." Ucap Arifin tersenyum kecut,"aku balik dulu ya. Pamitin sama ibu kamu."


"Iya, makasih, pak."


Arifin mengangkat jarinya ke arah Uci. Uci sadar sudah salah menggunakan panggilan, lalu meralat nya."Makasih, mas."


Jari telunjuk Arifin menyatu membentuk lingkaran dengan jempol. Uci tersenyum dengan tingkah bosnya itu.


Setelah Arifin pergi, Uci masuk kedalam rumah dan mendapat berondongan pertanyaan dari sang ibu.


"Benar itu tadi bosmu? Yakin kamu nggak ada apa-apa sama dia?"


"Astaghfirullah, ibuk...." Ucap Uci berjalan masuk ke kamar untuk berganti baju, percakapan mereka hanya akan melebar ke mana-mana.


"Kamu itu kalau mau pacaran sama si Arifin itu, Ci. Jangan sama si gembel kemarin." Cetus Bu Sumi mengikuti Uci ke kamar.


"Ibu... Sudahlah, masalah hati, biar Uci sendiri yang pilih."


"Kamu ini, Ci! Di kasih tau sama orang tua kok. Ibu itu bilang begini juga buat kebaikan kamu. Kalau sama si gembel itu, mau di kasih makan apa kamu? Jangankan kasih ibuk uang, buat kamu aja pasti kurang." Omel Bu Sumi panjang lebar, dan lagi-lagi tentang uang."kalau kamu nikah sama orang kaya, nggak cuma kamu yang terjamin. Ibuk sama bapak juga bisa hidup enak."


Uci merasa sangat lelah, dan semakin lelah dengan sikap dan Omelan sang ibu. Ia bergegas menyelesaikan berganti baju dan ke kamar mandi tanpa menanggapi omongan ibunya yang tak akan pernah ada habis nya jika tentang uang.


Setelah selesai dari kamar mandi,Uci menyambangi dapur. Melihat ada makanan apa.


"Ibuk nggak masak." Ucap Bu Sumi melihat pergerakan Uci.


"Ibu, bukannya tadi belanja dan masak?"


"Iya, udah abis ibuk makan sendiri. Uang belanja yang kamu kasih dikit banget. Nggak cukup buat kita." Tuka Bu Sumi enteng.


Uci menghela nafasnya mencoba lebih bersabar. Mau bagaimana pun Bu Sumi adalah ibunya, lalu ia mencari bahan makanan yang bisa di masak. Ada pokcoy, jagung manis, dan tahu. Uci putuskan untuk memasak sup saja.


"Kami sudah ijin belum?"


Gerakan Uci yang sedang menyiapkan masakan sedikit melambat, "Sudah, buk."


"Bagus, berarti kapan kita pulang?" Tanya Bu Sumi tanpa membantu pekerjaan Uci sedikit pun.


"Seminggu lagi,"


"Ibuk kenapa bicara seperti itu? Kasihan bapak."


"Makanya, kalau kasihan itu, cepat balik."


"Tapi buk, Uci nggak bisa asal ambil libur mendadak. Uci harus selesaikan dulu banyak pekerjaan sebelum Uci pergi."


"Halah, kamu kan kenal sama bos mu. Rayu aja dia, skalian minta uang saku balik kampung."


"Ibuk, nggak bisa kayak gitu."


"Bisa! Kamu nya aja yang nggak pinter." Omel Bu Sumi semakin membuat Uci jengah.


Setelah semua bahan siap, Uci meletakan wajan di atas kompor. Lalu menyalakan apinya, tapi gas ternyata habis. Uci hanya mengurut dadanya sabar.


"Buk, Uci beli gas dulu ya."


"Beli lauk Mateng aja, Ci. Nggak perlu kamu capek-capek masak."


Uci tak mau terlalu mengindahkan omongan sang ibu yang semakin membuatnya lelah. Ia berlalu saja dengan membawa gas kosong ke warung. Ditengah perjalanan pulang, Uci terkejut karena tiba-tiba ada sebuah motor berhenti di sisinya dan mengambil alih gas ditangan.


"Mas Hengki!" Pekik Uci, ternyata, ia di cegat oleh Hengki yang menaiki motor matik. Karena motor jadulnya masih di bengkel.


"Ayo naik."


Uci tersenyum lega melihat Hengki. Pria baik itu bisa membuatnya merasa nyaman dan tenang saat hatinya sedang di landa kemelut seperti ini. Setelah memastikan Uci duduk dengan sempurna di jog belakang. Hengki menarik tuas gas motor nya.


Tak ada pembicaraan apapun diantara keduanya. Hanya keheningan petang itu. Tapi, Uci sangat menikmati nya. Berada di dekat Hengki Uci merasa sangat tenang walau ia merasa sangat tak enak hati pada Hengki bila mengingat ibunya.


Tangan Uci perlahan bergerak memeluk perut sang kekasih. Hal itu membuat senyum di wajah Hengki mengembang. Kedua anak manusia itu menikmati hal romantis yang sangat sederhana, berkendara dengan motor.


Motor Hengki berhenti di halaman rumah. Melihat Uci pulang bersama Hengki membuat Bu Sumi bersungut mendekat. Jelas saja ia tak suka, karena baginya, Hengki hanyalah lelaki kere.


"Motor siapa itu?" Sapaan yang ketus.


"Sore buk." Sapa Hengki ramah dan penuh senyum mendekat dan mencoba menyalami sang calon mertua. Dan seperti sebelumnya, tangan Hengki hanya di biarkan mengambang.


"Motor kamu rusak ya? Makanya jangan jadi orang kere...."

__ADS_1


"Ibuk, sudah lah," potong Uci yang sudah sangat lelah dan malu pada Hengki akan sikap sang ibu. Bu Sumi pun melengos masuk.


"Maaf ya mas."


"Nggak papa,"


"Mas pulang aja, ya?"


"Kenapa? Mas kan baru sampai, udah kamu usir."


"Bukan itu maksud Uci mas. Ibuk Uci... Uci nggak ibuk Uci semakin menjadi-jadi ngomongin mas. Mas yang di ketusin, tapi Uci yang sakit hati dan malu mas."


Hengki mengusap kepala Uci dengan sayang. Rasa cintanya pada Uci semakin besar. "Kamu udah makan?"


Uci menggeleng, "tadi mau masak, gasnya abis mas."


"Ya udah, mas pasangin gas nya biar kamu bisa cepet masak, dan nggak lemes lagi."


"Tapi mas, Uci..." Uci masih ingin menahan Hengki karena tak ingin sang ibu lebih menyakiti hati Hengki dengan kata-kata meremehkan.


Uci hanya bisa pasrah saat Hengki menggenggam tangan nya masuk ke dalam rumah dengan menenteng gas di tangannya yang lain.


"Siapa yang ngijinin kamu masuk?" Tegur Bu Sumi ketus.


"Saya mau masangin gas buk." Jawab Hengki masih dengan nada bicara yang lembut, sopan dan senyum tentunya.


"Kamu nggak bisa ci?"


Uci menunduk,


"Permisi sebentar ya buk, saya ke dapur pasang gas."


Bu Sumi melengos,"di lihatin ci, nanti apa-apa pulak dia angkut di bawa pulang."


"Astaghfirullah, ibuuukkk... Tolong jangan..."


"Uci..." Kalimat Uci terpotong oleh gelengan kepala dan gengaman Hengki yang semakin erat. Pria itu pun mengusap kepala Uci saat sang kekasih melayangkan tatapan protes padanya.


Hengki berjalan ke dapur dan memasang gas sampai api nya menyala.


"Kamu ke sini pas jam makan malam, mau minta makan kamu ya?" Sinis Bu Sumi saat Hengki duduk di ruang tamu bersama sang calon mertua. Hengki tersenyum mendengarnya.


"Kami biasa makan bareng, buk."


"Ooh, jadi kamu mau numpang makan to? Nyari gratisan? Yah, orang kere sih ya?"


Selama menunggu masakan Uci matang, Bu Sumi hanya melemparkan kata-kata remeh dan menghina pada Hengki. Jawaban seadanya dan jujur dari Hengki membuat Uci merasa kecil dan rendah. Saat orang tuanya begitu gencar menunjukan keburukan sifat dari sikap, Hengki justru merendah yang semakin membuat pria itu tinggi di hati dan mata Uci.


"Maaf ya mas, atas sikap dan kata-kata ibuk." Ucap Uci yang terus diliputi rasa bersalah dan malu saat ia mengantar kepergian Hengki pulang di halaman rumah.


"Kamu kenapa sih, ci. Minta maaf terus? Mas cuma sedang mencoba mengambil hati calon mertua, dukung mas, semangatin mas, bukannya malah minta maaf terus..." Omel Hengki tetap di ikuti senyum di wajahnya.


"Tapi ibuk sangat keterlaluan, mas..."


"Ibuk hanya mencoba menjaga anak gadisnya ci, agar tidak jatuh ke tangan pria yang salah."


Uci menatap Hengki dengan mata yang berembun.


"Uang kamu masih cukup nggak? Ada ibuk pasti pengeluaran bertambah kan?"


"Cukup kok mas."


"Ini..." Hengki menggenggam kan uang ke tangan Uci.


Uci menatap Hengki tak terima."Mas!"


"Buat bayar makan malam..." Kekeh Hengki dengan tawa geli sampai bahunya berguncang pelan. Uci ikut tertawa kecil dan memukul lengan Hengki.


Memang sedari tadi Bu Sumi hanya mengatakan masalah uang dan makan geratis.


"Buruan masuk, Ci! Ngapain di situ lama-lama?!" Suara Bu Sumi terdengar sangat lantang.


"Ibuk udah marah-marah, mas balik dulu ya? Jangan di bikin stres, apa yang ibuk bilang iyain aja. Dan doain mas biar cepet dapat lampu hijau."


Uci mengangguk,


"Mas pulang ya."


Setelah Hengki pulang, Uci masuk kedalam rumah.


"Besok pagi, kita balik ci."


Uci tertegun mendengar ucapan sang ibu. "Nggak bisa buk, ijin Uci masih seminggu lagi... Uci bisa di sp jika besok pulang mendadak." Ucap Uci mencoba memberi Bu Sumi pengertian.

__ADS_1


"Bapakmu sakit ci, ini Kolifah baru aja telpon. Katanya bapak sekarat masuk rumah sakit."


"Apa?"


__ADS_2