Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 33


__ADS_3

Bab 33


Wajah juragan Andi merah padam. Rahangnya mengeras dan matanya merah. Jelas sekali jika juragan Andi marah saat itu. Di balik ruang tamu, Bu Sumi yang mendengarkan bersama pak Bambang berubah mencekam karena takut jika juragan Andi tak terima. Segera, Bu Sumi keluar dan mendekat ke arah Uci yang berani menyampaikan keberatannya.


"Kamu ci... Di bilangin jangan bikin juragan Andi marah..." Ujar Bu Sumi setengah berbisik dan mencubit pinggang Uci sampai Uci meringis menahan sakit nya.


"Maaf juragan Andi, Uci ini nggak sungguh-sungguh kok. Dia cuma bercanda, ia kan Uci?" Ujar Bu Sumi dengan nada yang di tahan dan mendelik tajam pada Uci.


"Hahaha, aku tau, aku tau." Gelak tawa keluar dari mulut juragan Andi."Tidak masalah kamu setuju atau tidak Uci. Aku tetap akan menikahi mu. Kamu tetap akan menjadi istriku, jadi bersiaplah seminggu lagi aku datang. Hahaha."


Juragan Andi berdiri dan berpamitan pada Bu Sumi, juga Uci. Saat mereka berjabat tangan, juragan Andi dengan genitnya menggelitiki telapak tangan Uci. Gadis itu langsung menarik tangannya dan membuang muka ketus.


"Kali ini, aku tak akan membawamu keluar, Uci. Aku hanya datang untuk melihatmu terlebih dahulu sebelum kamu resmi jadi istriku. Hahaha."


Suara tawa juragan Andi masih terdengar di halaman sampai pria paruh baya itu masuk ke dalam mobilnya.


Setelah juragan Andi pergi, Uci di seret masuk ke kamarnya oleh Bu Sumi. "Sudah ibuk peringatkan tadi, kan? Jangan bikin juragan Andi marah. Malah bilang nggak mau nikah. Untung juragan Andi nggak ambil pusing masalah ini. Kalau sampai pernikahanmu gagal, nggak bakal kamu dapat restu dari kami nikah sama siapapun. Biar jadi perawan tua kamu!" Teriak Bu Sumi berapi-api.


"Lebih baik Uci jadi perawan tua buk dari pada nikah sama juragan Andi."


Plak!


"Anak kurang ajar! Nggak tau di untung! Nggak tau balas Budi!" Umpat Bu Sumi terus meneriaki Uci dengan segala sumpah serampahnya. Bahkan saat pintu di tutup dan di kunci lagi untuk mengurung Uci, sumpah serampah Bu Sumi masih terdengar di telinga Uci.


Gadis itu hanya bisa menangis dalam kamar nya. Merasa dunia sangatlah tak adil.


Sementara itu, beberapa jam sebelumnya, setelah Hengki meninggalkan kafe, mama Artika dan Arifin bergegas menemui Restu.


"Res," panggil mama Artika, restu yang sedang menghubungi beberapa teman dan koneksinya menoleh ke arah suara berasal. Restu sedikit terkejut melihat mama Artika di kafe.


"Eeh, tante Artika." Sebut restu berdiri dan menyalami mama Artika.


"Langsung saja Res, kamu tau kan Hengki pergi ke kampungnya Uci?" Tembak mamaa Artika tanpa mau basa basi."Tadi, hengk bilang masalah Uci yang di paksa nikah di kampungnya. Karena itu Hengki buru-buru pergi."


Restu menggaruk kepalanya, ragu apakah boleh bercerita pada mama Artika atau tidak. Tapi, akhirnya, Restu memilih mengatakan seberapa jauh yang ia ketahui. Lagi pula ia belum menyelidiki lebih lanjut tentang juragan Andi.


"Eemm, bener sih, tan." Cetus Restu,"memang Hengki ke kampungnya Uci untuk mencegah Uci di nikahkan sama seorang juragan disana. Sekarang, aku juga lagi menyelidiki siapa itu juragan Andi seperti yang Hengki minta."


"Kamu tau di mana kampungnya Uci?"


"Tau Tan, bentar." Restu membuka lagi hp nya, tepat saat itu gawainya berdering. Salah satu orang koneksinya memanggil. "Bentar ya Tan, aku angkat telpon dulu." Ucap nya meminta ijin.

__ADS_1


Mama Artika mengangguk setuju.


Beberapa saat kemudian,


"Gimana, Res?" Tanya mama Artika tak sabar setelah melihat restu menutup sambungan telponnya.


"Juragan Andi ini seorang rentenir. Dan pak Bambang, ayahnya Uci menjadikan Uci sebagai jaminan nya."


"Apa? Ayah macam apa itu?" Omel mama Artika kesal bukan main.


"Yah, memang pak Bambang dan Bu Sumi itu orang ruwet, Tan." Ucap Restu.


"Bentar, Bambang sama Sumi?"


"Iya, itu bapak sama ibuknya Uci."


"Kek namanya nggak asing gitu." Mama Artika terus mengingat-ingat nama kedua orang itu.


"Kenapa ma?" Tanya Arifin yang baru saja ikut bergabung, karena sedari tadi ia menghubungi bagian HRD kantornya.


"Ini Fin, kamu kenal sama orang yang namanya Bambang sama Sumi nggak?" Tanya mama Artika pada anak sulungnya.


"Sumi agak lain ma, kalau aku nggak salah ingat, mantan pembantu Tante Gina bernama Sumi juga." Cetus Arifin setelah mengingat-ingat.


Mama Artika tersenyum lebar dan menjentikkan jarinya."Betul! Dan suami Sumi juga bernama Bambang, mereka berdua mantan pekerja di rumah Gina mama nya Erin. Mama mau hubungi Gina dulu."


Restu dan Arifin saling berpandangan.


***


Restu mendapatkan beberapa informasi terkait juragan Andi yang seorang tuan tanah di kampung Uci. Dengan segera ia memberi laporan pada bosnya.


"Halo, Ki?"


("Aku masih di jalan.") Jawab Hengki dari seberang sana.


"Aku udah dapat, aku juga punya informasi lain tentang cewekmu." Terang Restu tak ingin menunda infonya.


("Oke, aku cari rest area dulu.")


Restu menutup sambungan telponnya. Sembari menunggu Hengki menghubungi, ia masuk ke dalam sebuah rumah sakit. Ada banyak hal yang harus dia lakukan terkait temuannya itu. Di dalam rumah sakit, Restu menemui seorang wanita bernama Gina.

__ADS_1


"Tante,"


"Kamu restu?" Tanya Gina berharap cemas.


"iya Tante. Ayo masuk, kita temui dokter dan kepala rumah sakit ini." Ajak Restu. Tante Gina mengangguk setuju.


Selama dalam perjalanan untuk menemui dokter dan kepala rumah sakit, restu mengirimkan pesan laporan nya pada Hengki.


Hengki yang sudah menemukan rest area bergegas mengambil gawainya. Ia urung menghubungi restu karena menerima pesan dari orang kepercayaan nya itu. Mata Hengki melebar begitu membacanya.


***


Hengki memacu kendaraanya agar semakin cepat sampai ke rumah Uci. Malam itu, Hengki berhenti di gang menuju rumah Uci. Ia sengaja berhenti di dua rumah dari kediaman pak Bambang. Pria tampan itu melihat seorang pria seumuran papa nya yang keluar dari rumah Uci. Pria itu adalah juragan Andi tentunya.


Di ambang pintu Hengki melihat Bu Sumi, yang tampak tersenyum pada juragan Andi. Hengki hanya mengamati, ia masih belum bisa mengambil tindakan meski ia sudah berbekal informasi dari Restu. Tapi, ia masih menunggu informasi lain dan beberapa orangnya datang menyusul untuk mengatur strategi. Akan sangat konyol jika Hengki sampai bertindak gegabah dan di pukuli oleh orang-orang juragan Andi.


Hengki masih terus mengawasi. Melihat setiap sudut rumah itu. Dari samping ia bisa melihat sebuah kamar dengan jendela yang di teralis, terbuka gordennya. Di balik jendela itu, Hengki melihat Uci. Gadis cantik itu terlihat berwajah sendu dan mengusap pipinya beberapa kali.


Rasa di dalam dada Hengki bergejolak. Ingin segera menghapus air mata sang kekasih dan membuatnya merasa aman. Ingin agar Uci tau jika dirinya sudah datang. Hengki melihat sekeliling, memastikan keadaan aman. Lalu ia mengendap-endap ke arah kamar Uci. Hengki berjongkok di tengah gelapnya malam, sampai ia berada di bawah jendela kamar Uci. Hengki mengetuk jendela pelan tapi pasti dapat di dengar Uci.


"Siapa?" Suara Uci serak dari dalam. Hengki mengetuk lagi. Lalu tampak gorden di buka, mata Uci melebar tak percaya melihat ada Hengki di luar kamarnya.


"Mas hengki!" Pekik Uci langsung menutup mulutnya karena melihat jari Hengki di depan bibir pria itu. Uci menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada yang mendengar, lalu ia membuka jendela.


Setelah semua aman, Uci berbisik,"mas..."


Hengki memasukan tangannya di sela-sela tralis besi membingkai wajah Uci dan menghapus pipi Uci yang basah.


"Gimana mas bisa sampai ke sini?" Tangis Uci merasa lega, dan bersyukur.


"Mas langsung kesini begitu kamu minta ci."


Uci menangis lagi, dan menenggelamkan wajahnya di telapak tangan Hengki yang masih membingkai pipinya.


"Tenang, ci, mas udah di sini. Mas akan bawa kamu pergi. Sabar ya?"


Uci mengangguk setuju.


"Sekarang ceritakan mas apa yang terjadi selama di sini?"


Uci mengangguk lagi menatap sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2