
Bab 54
Akhirnya, Hengki, Uci, Arifin dan Nanda malam itu kencan bersama. Membicarakan banyak hal tapi tak menyinggung sedikitpun tentang status Arifin dan juga Nanda. Mereka berbaur bersama sampai malam semakin larut dan akhirnya kembali ke hotel.
Selama hampir 3hari, Arifin di Bandung. Ia lebih banyak mengenal Nanda dan tentu saja Hengki dan Uci selalu mengajak mereka keluar untuk sekedar makan atau refreshing. Urusan pekerjaan, sudah selesai. Akhirnya Arifin dan Nanda kembali ke Jakarta. Pun dengan Hengki dan Uci yang sudah berangkat lebih dulu. Arifin memang pulang belakangan karrna masih ada beberapa kunjungan dan meting ke kantor cabang.
Sesampainya Arifin di rumah, tepat pukul sembilan malam. Pria tampan itu langsung menuju kamarnya.
"Hei! Mau kemana kamu?" Suara sang mama membuat langkah Arifin yang sedang menapaki tangga terpaksa terhenti dan menoleh. Memandang mama Artika yang berdiri di depan ruang tamu sambil melipat tangan di dadanya.
"Kemari!" Mama Artika melangkah lebih dulu ke ruang keluarga. Titah mama Artika adalah mutlak, mau tak mau, Arifin mengikuti langkah sang mama.
Arifin sedikit terkejut melihat seluruh keluarga ada di sana.
"Ada apa, ma?" tanyanya sembari mendudukkan bokong di sofa."Tumben kumpul semua."
"Gimana Bandung, Fin?"
"Kalau masalah kerjaan, lancar dan aman. Kalau masalah tempatnya, bagus dan aku suka. Apalagi si pengantin baru ini terus mengajak main, nggak tau apa mas nya yang satu ini sedang berjuang memajukan perusahaan keluarga?" Cetus arifn melirik adiknya yang duduk di sisi sofa sebelah kirinya. Hengki hanya cengengesan.
"UMM, ma kami pulang dulu ya?" Pamit Hengki, "anak sulung mu sudah pulang, jadi kami mau pulang."
Arifin mendengus,
"Ini rumahmu, mau pulang kemana kamu?"
"Rumah kami, mama. Aku sudah tak sabar pulang dan menikmati malam ini berdua saja. BER-DU-A." Hengki berdiri dan menyalami kedua orang tuanya di ikuti oleh Uci.
"Menginaplah di sini, Ci." Mama Artika membujuk Uci, karena percuma saja bicara pada Hengki.
Uci menatap sang suami, "kenapa kita tak menginap di sini saja malam ini."
"Kita butuh waktu berdua sayang, berdua. Disini ada banyak orang, kamu mau suaramu terdengar oleh mereka." Hengki justru menggoda. Wajah Uci bersemu merah, mencubit perut suaminya.
"Auu, sakit, sayang." Hengki mengaduh sambil menggeliat."sudah ya ma, pa, kami pulang. Urus saja anak mu yang masih perjaka ini."
Mama Artika hanya mendessaah pelan. Menatap anak dan menantunya pergi. Wanita paruh baya itu lalu menatap tajam anak sulung nya yang masih sendiri itu.
"Kamu mau cari sendiri, atau mau mama jodohkan?"
"Aaahh, baiklah, mau mau lihat dulu siapa wanitanya." Arifin menantang.
"Ini!" Mama Artika menyodorkan beberapa lembar foto beserta biodatanya. "Mereka semua anak teman mama."
Dengan sangat malas, Arifin mengambil dan melihat satu persatu.
"Tinggal pilih, saja. Nanti mama yang mengatur pertemuan dengan salah satu dari mereka."
Arifin tidak memiliki minat sedikit pun pada mereka. "Aku tidak berminat, ma. Mereka biasa saja."
"Oohh, begitu? Kalau begitu harusnya kamu sudah mendapatkan yang luar biasa." Ucap mama kesal.
"Sudahlah ma, jangan seperti itu pada anakmu." Papa menginterupsi.
"Tidak bisa pa! Adiknya sudah menikah. Masak kakaknya mau melajang?! Pokoknya dia harus menikah tahun ini." Tegas mama Artika.
Arifin memutar bola matanya malas, tiba-tiba saja ia teringat dengan Nanda. 'dia kan baru saja putus dari pacarnya, hmmm, mungkin kami bisa membuat kesepakatan.' pikirnya.
"Aku sudah ada seseorang yang di sukai. Tapi, aku belum mendapatkannya." Cetus Arifin.
"Siapa? Jangan banyak basa basi." Tuntut sang mama.
"Setelah mendapatkan nya aku akan membawanya kerumah." Cetus Arifin lagi, sambil beranjak dari duduknya dan pergi.
__ADS_1
"Mama harap itu bukan alasanmu! Kalau kau berbohong pada mama, saat itu juga mama nikahkan dengan wanita pilihan mama!" Seru mama lantang.
Di sisi lain.
Hengki dan Uci menikmati malam itu dengan saling berbagi kasih. Pria tampan itu memeluk erat tubuh sang istri yang terbaring diatas dadanya.
"Makasih mas,"
"Hum? Terima kasih untuk apa?"
"Karena telah melakukan banyak hal untukku." Cetus Uci. "Terima kasih karena sudah menyelamatkan ku dari pernikahan dengan juragan Andi, juga dari orang yang kupikir orang tua kandungku. Mereka yang kupikir adalah keluarga, ternyata..."
"Tidak perlu mengingat-ingat lagi. Apalagi hal buruk dalam hidupmu. Kamu sudah pernah mengalami hal buruk, sekarang adalah saatnya kamu berbahagia." Ujar Hengki mengelus kepala Uci.
"Mas adalah anugrah terindah dalam hidupku. Terima kasih."
"Terima kasih juga untuk mu, sayang." Balas Hengki mengecup kepala sang istri."Mari kita saling berjanji untuk tidak menyakiti dan menghianati, apalagi meninggalkan."
Uci mengulas senyumnya, tak mungkin ia akan meninggalkan sebaik pria yang kini menjadi suaminya itu. Dalam hati Uci berterima kasih pada Sang pencipta dan berdoa agar hubungannya menjadi langgeng dan hanya maut yang memisahkan mereka.
***
Keesokan harinya.
Mama Artika masih terus mengejar Arifin untuk memberitahukan siapa wanita yang sedang Arifin kejar. Bahkan wanita paruh baya itu menguntiti sang anak. Arifin yang tau jika sang mama sangat kepo dan terus menguntit sepanjang hari tersenyum tipis.
"Ikuti saja terus ma, sampai kutuan." Batin Arifin tertawa dalam hati.
Kegiatan Arifin hanya seputar kerja dan rumah. Selama beberapa hari mama Artika tak mendapatkan apapun. Akhirnya ia memilih jalan ninja. Apa lagi kalau bukan bertanya pada sang sekertaris dan Hengki. Pertama, ia menemui Nanda.
"Uhuk, pacar pak Arifin, buk?" Nanda meneguk ekspresonya saat mama Artika memanggil nya bertemu di kafe.
"Iya, kamu kan sekertaris nya? Harusnya kamu tau dong."
"Jadi kamu tidak tau?" Selidik mama Artika tak percaya. Nanda menggeleng. Mama Artika terdiam sejenak.
"Oke, baiklah, kamu boleh pergi."
Setelah Nanda pamit undur diri, mama Artika menunggu Hengki datang menyapa.
"Hengki! Mama di sini!" Seru mama Artika saat melihat sosok sang anak berjalan masuk ke kafe.
"Ada apa mama ke sini?" Hengki menjatuhkan bobot nya di kursi.
"Kamu tau siapa wanita yang di sukai oleh mas mu?" Tanya mama Artika to the point.
Mulut Hengki membulat, "mama kemari untuk menanyakan itu?"
"Iya, kamu tau?"
"Dulu dia pernah bilang jika Nanda pacarnya." Jawab Hengki asal.
"Nanda? Maksudmu sekertaris Arifin itu?"
Hengki mengangguk. Mama Artika terlihat bingung, "tapi- tapi, tadi dia bilang tidak tau."
"Dia siapa? Nanda?"
Mama mengangguk, Hengki malah tersenyum. Mama Artika jadi kesal dan memukul kepala Hengki dengan sendok kopi.
"Senyummu menyebalkan! Cepat katakan!"
"Yah, mungkin saja, Nanda orang yang mas Arifin sukai."
__ADS_1
"Benarkah?" Mama Artika terkejut,"dia memang bilang sedang berusaha. Mungkinkah Nanda tak tau?"
Hengki mengendorkan bahu.
Keduanya terdiam, tapi Hengki tau, jika sang mama bertekad.
"Ma!"
"Apa?"
"Biarkan saja mas Arifin. Jika dia serius, pasti akan membawa Nanda pulang dalam waktu dekat." Cetus Hengki. "Biarkan mereka menentukan kemana arah hati itu berjalan."
Mama Artika mengerti maksud Hengki, hanya bisa menghela nafasnya. Benar, tak seharusnya ia ikut campur urusan asmara anaknya.
Sore pun tiba, Hengki menjemput Uci seperti biasa. Gadis cantik yang kini sudah menjadi istri sah nya itu keluar dari kantor bersama Nanda.
"Wah, sudah akrab saja kalian." Seru Hengki menggoda. "Sudah seperti saudara ipar."
Uci tersenyum menyenggol lengan Nanda."Mungkinkah?"
Nanda mengendorkan bahunya dan tersenyum datar. Dari belakang Arifin juga tampak baru keluar dari kantor.
"Doble date?" Ajak Hengki melirik sang kakak. Seketika, Uci dan Nanda menoleh kebelakang.
"Bagaimana?" Arifin bertanya pada kedua wanita yang tampak bingung itu.
Uci menggulum senyuman seolah tau, "ayo," ia menaik-turunkan alisnya menatap Nanda.
Dan akhirnya mereka berempat Doble date lagi. Berjalan-jalan dengan menaiki sepeda motor ke pekan raya. Setelah cukup lelah berjalan-jalan mereka memilih istirahat dan menikmati taman lampion. Pasangan pengantin baru asik menerbangkan lampion. Sedangkan Arifin dan Nanda hanya duduk memandang pasangan itu.
"Nanda?"
"Iya, mas Arifin." Sahut Nanda, ia masih ingat jikka berada di luar kantor memanggil sang bos dengan sebutan mas.
"Ayo menikah."
"Uhuk,uhuk,uhuk." Nanda tersedak, Arifin mengulurkan minuman. Setelah meneguk, Nanda menatap Arifin.
"Kita sudah cukup saling mengenal selama ini. Tau baik dan buruknya, kamu singel, aku juga single. Kenapa kita tidak menikah saja. Bagaimana menurutmu?"
"Kenapa saya?"
"Kenapa? Kamu tidak mau?"Pertanyaan dari Arifin malah bikin Nanda salah tingkah."mama mencoba menjodohkanku. Aku tidak mau, mengenal orang baru rasanya aku sudah lelah. Kalau kamu mau, ayo kita menikah saja. Masalah cinta, akan datang jika terbiasa. Bagaimana menurutmu?" Arifin menoleh menatap intens mata wanita yang kini juga menatapnya.
"Ehem, saya, saya..."
"Apa kamu sudah punya kekasih baru?"
Nanda menggeleng,
"Kalau begitu, apa kamu mau kembali pada mantan pacarmu itu?"
Nanda menggeleng lagi,
"Kalau begitu, aku tidak selevel denganmu?"
"Aaahh, tidak. Saya pikir, saya yang tidak selevel dengan mas Arifin." Cetus Nanda cepat. Arifin mengulas senyum, Nanda menjadi malu sendiri dan menunduk dalam.
"Kalau begitu, ayo menikah."
Nanda mengangkat kepalanya, menatap mata pria yang terus menatapnya lekat. Nanda tersenyum kecil, begitu pun dengan Arifin. Tanpa kata lagi, keduanya berganti memandang lampion-lampion yang terbang meninggi ke angkasa.
__________
__ADS_1