Segenggam Cinta Untuk Uci

Segenggam Cinta Untuk Uci
bab 34


__ADS_3

Bab 34


Malam itu, setelah Hengki mendengarkan cerita dan menenangkan uci. Hengki berjanji akan membawa Uci pergi dan melepaskan sang kekasih dari jerat pernikahan dengan juragan Andi. Hengki menginap di sebuah hotel tak jauh dari kediaman pak Bambang.


"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Hengki melalui sambungan telpon. Ia terdiam sejenak mendengarkan penuturan restu dari seberang sana.


("Butuh waktu setidaknya tiga hari agar semuanya jelas.")


"Baiklah, terima kasih. Beri aku informasi secara berkala."


("Bagaimana keadaan di sana?")


"Kami tak bisa berkomunikasi karena hp Uci di sita ibunya. Tapi aku sudah berjanji dan menenangkan nya. Aku menempatkan beberapa orang untuk mengawasi. Sementara ini aku akan mengumpulkan informasi dan bukti di sini."


("Oke. Istirahatlah. Ini sudah malam.")


"O iya satu lagi, Minggu depan pernikahan itu di gelar. Sebelum Minggu depan, Uci harus di tangan kita."


("Tenang saja. Setelah hasil test keluar. Kami bergerak.")


Seusai pembicaraan melalui saluran telepon. Hengki berbaring di ranjang kamar, selama tiga hari ke depan ia harus bersabar. Karena untuk menemui Uci bukan perkara mudah.


Hari berlalu, Hengki masih terus mengawasi kediaman pak Bambang. Saat ada kesempatan, Hengki menyelinap dan mengetuk jendela kamar Uci.


"Ini kamera, letakkan di tempat strategis dan tidak mudah terlihat." Perintah Hengki menyerahkan kamera pengintai pada Uci lewat sela-sela teralis di jendela Uci. Hengki juga berhasil melepas beberapa sekrup pada teralis. Namun sempat terjeda karena ada yang datang.


Di hari berikutnya, Hengki masih mencoba melepas sekrup yang tersisa. Tak lupa ia juga memberi Uci ponsel untuk mereka berkomunikasi. Tentu saja, tak boleh ketahuan oleh penghuni rumah yang lain.


Hari berganti malam, Hengki masih mencoba melepas teralis besi di jendela Uci. Suara pintu yang di buka membuat Hengki terpaksa menyudahi melepas sekrup meski tinggal satu. Ia merunduk dan bersembunyi di bawah jendela.


"Vita."


"Makan malam nya mbak." Ucap Vita masuk ke dalam kamar Uci.


"Mbak masih kenyang, ta."


"Iya, tapi di makan mbak, nanti ibuk marah." Pinta Vita memelas."Kemarin embak nggak makan pas juragan Andi datang, ibuk marah-marah karena di kira nggak kasih makan embak." Jelas Vita.


Uci menghela nafasnya,"apa juragan Andi kemari?"


"Nggak tau mbak, tapi ibuk bilang mbak harus makan sebelum kami pergi." Terang Vita,


"Pergi? Kalian mau pergi?"


"Iya mbak. Ibuk ngajak kami semua fiting baju buat pernikahan embak nanti."


"Apa mbak ikut?"


"Enggak mbak, punya mbak mau di bawakan pas pulang. Makan ya mbak?!"


Uci merasa ini kesempatan bagus. Saat nanti semua pergi, Uci akan kabur lewat jendela.

__ADS_1


"Makan ya mbak."


"Iya nanti mbak makan."


"Kata ibu harus sekarang mbak. Vita nggak boleh pergi kalau nggak liat mbak makan. Ibuk nggak mau mbak Uci terlihat kurus dan di damprat lagi sama juragan Andi." Ujar Vita.


Uci tersenyum kecut, dan memakan makanan yang Vita bawa. Hingga habis beberapa suap dan minum dari gelas yang Vita bawa juga.


"Makaiht ya mbak, aku jadi nggak kena marah ibu kalau begini." Ujar Vita berdiri setelah Uci makan habis separuh.


Vita pamit dan berjalan keluar, dan dihadang oleh Bu Sumi dan pak Bambang.


"Gimana? Di makan nggak sama Uci?" Todong Bu Sumi.


"Di makan kok buk." Ujar Vita menunjukan piring nasi yang tinggal setengah isinya. Begitupun dengan air minum. Bu Sumi tersenyum puas.


Tepat saat itu juragan Andi bertamu.


"Masuk juragan. Mau cari Uci ya? Sebentar saya panggilkan." Ucap Bu Sumi ramah. Lalu membuka pintu kamar Uci dan menarik Uci keluar.


"Ayo! Temani juragan Andi!"


Uci yang berdiri di depan jendela sampai gelagapan karena kaget. "A-apa Bu?"


"Temani juragan Andi!" Tukas Bu Sumi menarik lengan Uci tergesa.


Di ruang tamu, juragan Andi tersenyum melihat Uci. Uci merasa risih dengan senyuman itu. Bu Sumi menjatuhkan tubuh Uci ke kursi hingga terduduk dengan keras.


"O iya, iya, tentu saja."


Uci mendelik mendengarnya, tak ingin di tinggalkan berdua dengan juragan Andi. "U-uci ke kamar aja buk."cetus Uci berdiri.


"Eehh, enggak! Temani juragan, ada tamu kok malah mau di tinggal di kamar. Nggak sopan ci!" Ketus Bu Sumi.


"Pak! Vit! San! Ayo!" Teriak Bu Sumi ke arah dalam. Tiga orang yang dipanggil segera keluar dan melangkah pergi keluar rumah.


"Ibuk, bapak, jangan tinggalin Uci..." Cegah Uci berlari sampai di ambang pintu. Tapi bu Sumi langsung mendorongnya hingga terpentok oleh tubuh tambun juragan Andi yang berdiri dibelakangnya.


"Udah! Kamu sama juragan Andi, kalian kan sebentar lagi menikah nggak apa-apa berduaan di dalam rumah." Jawab Bu Sumi tak mengindahkan teriakan Uci.


"Udah ci, nggak papa sama mas." Ujar juragan Andi memeluk tubuh Uci dari belakang.


Uci merasa risih, "lepaskan saya, jangan menyentuh saya." Teriak Uci, ia merasakan keanehan di tubuhnya. Hawa panas tiba-tiba menyerang Uci.


'kenapa tubuhku terasa panas? Aku tak tahan, kenapa denganku?' batin Uci.


"Lepas juragan!" Pinta Uci mencoba melepaskan diri.


"Yakin mau di lepas? Nggak mau sama mas?" Goda juragan Andi makin berani meraba tubuh Uci.


"Lepas!" Teriak Uci menginjak kaki juragan Andi. Dan akhirnya terlepas kuncian pria mata keranjang itu, Uci berjalan mendekati ambang pintu merasa tak karuan. Ia merasa sangat panas dan ingin di sentuh.

__ADS_1


"Panas, kenapa dengan ku?" Gumam Uci yang sudah memerah wajahnya.


Juragan Andi menyeringai,"ayo kemari, panas, kan? Biar mas bantu lepas baju."


Uci menggeleng dan berlari keluar, ia pikir ini kesempatan baginya.


"Hahaha, jangan lari sayang..." Suara tawa juragan Andi membuat Uci bergidig ngeri, ia terus menyeret tubuh nya yang terasa panas dan berat. Sampai ia menabrak tubuh seseorang di ujung halaman rumahnya.


"Siapa? Tubuhku panas sekali, siapapun tolong aku..."


"Percuma kamu lari ci!" Suara Juragan Andi di belakang tubuhnya semakin dekat.


Uci mengangkat wajahnya yang menunduk di dada orang yang ia tabrak, sangat berharap bukan salah satu orang juragan Andi. Ia merasa lega, orang itu ternyata Hengki. Ternyata pria tampan itu belum pergi.


"Mass...."


Hengki menatap lurus ke arah juragan Andi."Apa Anda sedang berusaha memperkosa seorang wanita?"


"Heh, nggak usah ikut campur kamu." Hardik juragan Andi menunjuk Hengki."Dia calon istri ku. Tidak masalah jika kami bersenang-senang."


"Bersenang-senang? Atau memaksa? Anda bisa saya penjarakan atas kasus percobaan pemerkosaan." Ujar Hengki tak gentar sedikitpun meski ukuran badan juragan Andi lebih besar darinya.


"Hahaha, sudah ku bilang, kami ini sebentar lagi menikah. Itu bukan pemerkosaan." Kelit juragan Andi.


"Dia ketakutan dan dia menolak sampai berlari kemari."


"Sialan kamu! Banyak mulut!" Hardik juragan Andi tak sabar. "Dodit! Rais!" Teriaknya memanggil algojonya.


Dua orang bertubuh besar datang mendekat. Hal itu membuat Uci ketakutan, dan memeluk tubuh Hengki. Namun semakin memeluk tubuh kekasihnya dan mencium aroma Hengki semakin membuat Uci kepanasan. Hasrat di dalam jiwanya meronta meminta untuk di bebaskan. "Ya ampun, kenapa di saat seperti ini aku merasakan dua hal yang berlawanan? Harusnya tak begini."batin Uci.


Menyadari ketakutan Uci, Hengki mengusap kepala kekasihnya dengan lembut agar tenang.


"Aah, mau main keroyokan rupanya? Tidak masalah, ada pasal penganiayaan." Sindir Hengki tenang, ya, ia tak akan tenang jika memang hanya seorang diri disana.


"Hahaha, kau pikir aku takut?" Hardik juragan Andi.


"Ah, benar bekinganmu Gunawan Agustian, kan? Dia akan datang sendiri kemari menjemputmu atas hal yang kamu lakukan barusan." Ucap Hengki yang seketika membuat juragan Andi terkesiap. Di waktu yang bersamaan terdengar suara dering ponsel milik pria bertubuh tambun itu. "Aku tidak menggertak, kau dengar? Ponselmu berdering." Sambung Hengki lagi.


Juragan Andi mengambil hp nya, dan melihat siapa yang memanggil. Ia melirik hengki sesaat sebelum menerima panggilan.


"Halo?"


("Jangan sentuh pria yang sekarang ada di depanmu! Jika kau lakukan juga, bukan hanya kau yang bermasalah. Aku juga.")


"Apa maksud mu?"


("Masih belum paham juga, laki-laki bernama hengki itu bekingannya sudah menekanku disini. Semua sepak terjang kita akan diungkap di publik, kau dengar itu? Bukan hanya kau yang mati, aku juga! Jangan bertindak merugikan hanya demi wanita!")


Juragan Andi menatap pria yang juga memandangnya tanpa rasa takut. "Huuhh, aku lepaskan kamu kali ini. Jika bertemu lagi jangan harap kau bisa lolos." Lontar juragan Andi menggertak.


"Ayo pergi!" Perintah pria bertubuh tambun itu pada para algojo nya.

__ADS_1


Hengki akhirnya bisa bernafas lega. "Kita pergi,"


__ADS_2