
Bab 30
Malam itu Uci berkemas dengan cepat, mendengar sang ayah yang sekarat membuat Uci gelisah dan membulatkan tekad pulang kampung. Ia juga meminta ijin pada sang atasan untuk bisa cuti sementara karena sang ayah sakit keras.
Pagi-pagi buta, Uci berangkat ke terminal bersama Bu Sumi. Begitu Uci sudah di dalam bus ia mengirim pesan pada Hengki. Pesan langsung di baca dan telpon masuk. Uci tak lantas menerimanya, ia memilih keluar sebentar dari bus.
"Halo mas,"
("Kamu di mana sekarang?")
"Di terminal."
("Kapan bis nya berangkat?")
"Jam setengah enam."
Hengki melihat jam di pergelangan tangan nya. Pukul 5.28 pagi. Tak akan sempat untuk menyusul Uci. Hengki yang sudah memakai jaket terduduk lemas di samping motornya. Ia hanya bisa pasrah saat mendengar Uci pergi.
"Hati-hati di jalan, dan kabari mas kalau sudah sampai kampung." Pesan Hengki.
Di terminal, Uci juga merasa berat meninggalkan tanpa pamit dengan bertatap muka. Uci mengangguk meski Hengki tak bisa melihatnya.
("Kalau ada apa-apa, hubungin mas ya, secepat mungkin mas kirimkan bantuan. Teman mas ada di mana-mana.")
"Iya,"
Dari dalam bis, Bu Sumi melihat tak senang pada sang anak yang di duga sedang menghubungi Hengki. Pria kere yang sangat tidak ia sukai.
"Uci!"
Uci menoleh dan mengangguk."Uci tutup dulu ya mas, bis nya udah mau berangkat."
"Heemmm..."
Bus menuju kampung itu berangkat membawa kekasih Hengki meninggalkan ibu kota. Meninggalkan Hengki dengan rasa yang sulit ia jelaskan. Hanya perasaan tak nyaman dan takut yang lebih mendominasi ruang hatinya. Belum sempat ia mengambil hati sang calon mertua, Uci sudah di bawa pergi meninggalkan dirinya.
Perjalanan dari ibu kota ke kampung halaman Uci memakan waktu skitar 13jam lamanya. Uci menapakkan kaki di halaman rumah yang terasa sepi petang itu.
"Ayo cepat masuk." Titah Bu Sumi melangkah mendahului Uci.
"Vita! Ahsan!" Panggil Bu Sumi begitu membuka pintu rumah.
__ADS_1
"Ibuk!" Vita baru saja keluar dari kamar."Kok udah pulang?"
"Capek ibuk, Vit, bikinkan ibuk minum."
"Mbak Uci?" Ucap Vita heran melihat Uci di belakang Bu Sumi."Mbak ikut pulang juga?"
"Iya ta. Bapak gimana?"
"Vita! Cepat bikinkan minum! Malah ngbrol!" Potong Bu Sumi ketakutan.
"Iya buk."
Uci sendiri merasa aneh. Sang bapak lagi di rumah sakit, tapi Vita seperti bersikap biasa saja. Tapi, Uci tak ambil pusing, mungkin saja kini giliran kakak sulungnya yang menjaga bapaknya.
"Kamu duduk sini aja, ci. Pasti capek naik bus 13jam." Ucap Bu Sumi menyusul Vita ke dalam.
"Iya buk," kata Uci menJatuhkan bobot di sofa. Lalu menghubungi Hengki jika dirinya sudah sampai di rumah.
Vita tengah memasukan gula ke dalam gelas saat sang ibu tiba-tiba menyengolnya.
"Astaghfirullah, ibuk, jangan bikin kagetlah." Protes Vita karrna hampir menjatuhkan tempat gula.
"Dengar ya, Vit. Jangan ngomong macam-macam soal bapak. Uci nggak mau pulang, jadi ibuk bohong kalau bapak sakit. Mana bapakmu?"
"Iihh, orang tua satu itu nyusahain aja." Gerutu Bu Sumi."nanti kalau liat bapak jangan boleh pulang!" Sungut Bu Sumi lalu pergi ke depan lagi.
"Ini buk, mbak." Ucap Vita dari dalam membawa teh hangat.
"Makasih, Ta." Ucap Uci mengambil cangkir teh hangat dan menyeruputnya. Vita duduk di sisi Bu Sumi.
"Gimana mbak di kota?"
"Masih berjuang, ta. Doain mbak ya, biar bisa naik terus jenjang karirnya."
"Iya mbak, selalu."
"Ntar malam, anterin mbak ke rumah sakit ya? Mbak pingin jenguk bapak."
Wajah Vita berubah, dan menoleh kearah Bu Sumi. Bu Sumi sendiri tampak gelagapan, "ummm, anu ci. Jenguk bapak besok aja, nggak ada jam besuk malam. Adanya pagi sama sore." Ujar Bu Sumi beralasan.
"Jadi sekarang yang jaga bapak siapa, Ta?"
__ADS_1
"Ahsan. Biar sama-sama laki-laki nya, ci." Bu Sumi lagi yang menjawab, Uci tampak semakin bingung, ibuk saja baru datang bersamanya tapi bisa sampai tau. Menyadari sudah salah bicara, Bu Sumi mengkoreksi."Tadi ibuk udah tanya sama Vita. Ya kan Vit? Makanya ibuk tau."
Vita mengangguk ragu.
"Udah, Ci. Udah malam. Kamu ke kamar sana, tidur." Titah Bu Sumi untuk mengalihkan pembicaraan."Besok pagi-pagi sekali harus masak buat bapak sama Ahsan di rumah sakit."
Uci menurut tanpa curiga. Akhirnya ia pun masuk ke kamarnya. Sedangkan Bu Sumi memberi peringatan untuk Vita agar jangan keceplosan. Masalah Ahsan, Bu Sumi tak terlalu khawatir karena anak lelakinya itu lebih sering keluyuran dari pada dirumah. Tinggal masalah si bapak yang belum pulang.
"Huuhh, terpaksa nih harus jaga malam di luar. Awas saja kalau kamu balik pak, ku buat beneran kamu masuk rumah sakit." Gerutu Bu Sumi.
Malam itu, Hengki menelpon Uci, rasa rindu di hati sudah tak bisa di bendung.
"Gimana bapak, ci?"
("Di rumah sakit mas.")
"Kamu belum liat?"
("Belum, kata ibuk di RS sini nggak ada jam besuk malam. Adanya besok pagi sama sore. Jadi sementara ini, Uci sabar dulu sambil doa buat kesembuhan bapak.") Jawab Uci jujur, gadis cantik itu sudah terbaring miring di ranjang kamarnya.
"Hmm, aneh ya, biasa nya ada besuk malam jam 7an gitu sampai jam 9 malam. Mungkin karena di kampung kali ya ci?"
("Iya mungkin mas.")
"Terus yang jagain bapak siapa?"
("Ahsan mas, adek Uci.")
Dari wajahnya, Hengki tau jika Uci sudah sangat mengantuk. Tapi ia ingin egois kali ini dengan tidak menutup video call. Ingin menuntaskan rindu yang terpendam dengan menatap wajah Uci lebih lama.
"Kamu udah ngantuk ya?"
("Heemmmm...")
"Tidur aja ci, tapi jangan di tutup telponnya. Mas masih kangen."
Meski merasa ngantuk, Uci dapat merasakan pipinya yang menghangat. Uci mengangguk kecil dalam ketersipuannya dan Hengki tersenyum dengan hati yang membunga.
Malam semakin larut, walau tak bersuara, dan mata yang menutup karena semakin berat tak satupun dari mereka menutup sambungan Vidio. Sampai keduanya terlelap dan panggilan berakhir karena batre ponsel Uci mati.
Keesokan paginya, Uci bangun memasak sarapan dengan bahan-bahan yang ada di kulkas. Uci memang tidak pergi ke pasar ataupun membeli di tukang sayur keliling karena tak ingin bahan mubazir.
__ADS_1
Setelah selesai memasak, Uci menyiapkan rantang untuk di membawa sebagian masakan ke rumah sakit. Ia tau sang bapak sangat menyukai sup Ikan dan pergedel. Oleh karena itu ia membuat dengan porsi yang cukup banyak untuk bapaknya.
Setelah semua siap Uci membersihkan diri. Jam menunjukan pukul setengah tujuh. Uci keluar untuk menyapu halaman yang masih berupa tanah. Daun-daun yang gugur sudah terkumpul, gerakan tangan Uci perlahan terhenti saat melihat sosok di ujung gang mendekat.