
Akhir pekan adalah hari dimana orang beristirahat sejenak dari aktivitas harian yang biasa mereka lakukan.
Orang bekerja pasti akan libur, dan anak sekolahpun sama demikian halnya.
"Hoammhh." Riki menggeliatkan badannya. Suara ayam berkokok menjadi alarm alami bagi Riki.
"Ahh. Sekarang libur sekolah. Aku mau olahraga dulu lah."
Riki melipat selimut, dan merapikan kasur lantai itu kesudut ruangan.
Riki membuka rolling door perlahan. Sinar matahari sudah menyambut Riki.
Riki berlari kecil mengitari perumahan.
"Riki!!" Panggil Dania dari kejauhan.
"Eh, tumben udah bangun?"
"Yey, aku tu emang sering bangun pagi ya, emangnya kamu!"
Dania mengikuti gerakan Riki berlari mengitari perumahan.
"Hari ini kamu ada acara?"
"Enggak! Kenapa?"
"Kamu mau gak pergi ke danau sebelah sana!" Riki mengangkat dagunya kearah danau itu berada.
"Em, boleh. Jam berapa?"
"Jam 3 aja. Sekalian nonton matahari terbenam."
Dania menerima ajakan Riki untuk pergi ke Danau bersama. Dania dan Riki merasa tak sabar ingin segera sore hari.
**
Dania menunggu Riki untuk menjemput, mereka hanya jalan kaki karena letaknya terbilang dekat.
Danau itu terletak disebuah kawasan perumahan. Sengaja dibuat Pemerintah sebagai irigasi untuk pertanian padi.
Riki ingin mengutarakan perasaannya pada Dania disana. Riki tak mau menunda dan merasa menyesal dikemudian hari.
"Buu, saya mau ajak Dania untuk kedanau apakah boleh?"
Riki meminta izin pada Bu Melati.
"Oh, pantes dari tadi Dania mondar mandir lihatin jam terus. Ternyata mau kencan yaa!" Goda Bu Melati.
"Ihh .. Ibu apaan sih bikin Dania malu aja."
"Hehehe. Kalian hati hati yaa! Jangan pulang larut malam."
"Saya nanti agak terlambat bantuin Pak Burhan Bu,"
"Tidak apa apa Nak, silahkan cari angin dulu. Nanti Bapak ada Kak Eric." Ucap Pak Burhan keluar dari dalam rumah.
"Terimakasih banyak Pak, kami pamit dulu!"
"Kalian mau jalan kaki? Itu ada sepeda pakai saja." Ucap Pak Burhan melihat sepeda itu tergeletak tak pernah digunakan lagi.
Riki melirik ke arah Dania meminta persetujuan, Dania mengangguk.
"Ayah, Ibu! Dania pergi dulu."
Dania memeluk pinggang Riki. Riki semakin bahagia seperti mendapatkan lampu hijau dari Pak Burhan dan Ibu Melati.
Angin sore yang tertiup membuat Pasangan itu sangat menikmati pemandangan alam yang alami. Dania membentang tangan kirinya.
"Wahh.. aku udah lama banget gak kesini. Kamu tau tempat ini dari mana?"
__ADS_1
"Aku dulu kalo dikroyok ngumpetnya disini."
"Oh yaa. Maaf kamu kalo dikroyok emangnya kenapa sih?"
"Jadi Ayah aku selingkuh sama salah satu mamanya Alex. Anak SMA sebelah. Dia gak terima! Tapi dilampiasin ke Aku. Aku aja gak bisa ngapa ngapain lagi."
Dania terlihat menyesal bertanya perihal masalah Riki yang sensitif ini.
"Kamu kok kuat sih Ky?"
"Ya gimana kepepet!" Jawab Riki santai. Riki sudah lelah menangis atau merengek agar sang Ayah bisa berubah sayangnya tak mudah untuk merubah watak Anggoro yang sekeras batu itu. Belum lagi masalah Ayahnya selesai, sekarang Atmika juga berubah.
Riki memarkirkan sepeda ditempat yang disediakan.
Dengan santainya Riki menggandeng tangan Dania. Mereka mengitari jalan setapak terletak di pinggir Danau.
Orang orang banyak yang berdatangan sekedar mencari hiburan dan merilekskan pikiran.
"Kamu pasti udah sering ya jalan jalan kayak gini?"
Dengan cepat Dania menggelengkan kepalanya.
"Enggak kok! Aku baru pertama kali pergi berdua kayak gini."
Riki menatap heran, bahkan sebenarnya tak percaya dengan ucapan Dania.
"Seriusan? Kamu kan pernah pacaran?"
"Iya aku emang pernah pacaran. Tapi mantanku itu kutu buku. Dia gak ada waktu buat ajak aku kencan.
"Ah. Sayang banget!" Ucap Riki singkat.
"Kenapa emangnya?"
"Punya pacar cantik kok gak pernah diajak jalan." Kalimat Riki yang terakhir membuatku Dania meleleh. Dania menyingkap rambutnya yang terhempas angin.
Sesaat Riki menatap wajah Dania. Perasaan Riki semakin menekan ingin segera diutarakan.
"Dan, naik itu yuk?"
"Tapi Aku agak takut Riki."
"Gak papa kan ada aku. Aku bisa berenang kok."
Akhirnya Dania setuju menaiki perahu bebek itu. Riki dengan hati hati menolong Dania naik ke perahu bebek itu, mereka di iringi ikan ikan kecil yang mengitari perahu.
Riki dan Dania mengayuh pelan membawa perahu bebek ke tengah danau.
"Dania!"
"Ya!"
"Emh. Boleh gak aku ngomong sesuatu?"
"Apa?"
"Aku suka sama kamu!
"Eh?"
Dania terkejut mendengar ungkapan perasaan itu secara tiba tiba. Meskipun hatinya sangat senang sekarang. Bahkan Dania hampir melompat girang mendengar pernyataan cinta dari Riki.
"Kamu gak mau ya?" Ucap Riki putus asa karena Dania tak menjawab ungkapan cintanya.
"Eh gak gitu. Aku mau. Mau banget!"
"Beneran?"
Dania mengangguk kecil.
__ADS_1
"Ahh. Terimakasih Dania!"
Mereka berpelukan ditepi Danau. Sinar matahari mulai menghilang. Hari mulai gelap. Lampu penerangan menyala menggantikan peran matahari. Dania dan Riki sedang duduk dikursi berbentuk love itu. Hari ini dua insan itu telah resmi menjadi pasangan kekasih.
"Kita pulang yuk! Maaf gakbisa lama lama. Aku mau bantuin Ayah kamu!"
"Iya gak papa kok. Besok bisa kesini lagi kan?"
Riki terlihat sedih, padahal hari mereka sedang jadian. Riki tak bisa menyenangkan hati Dania secara spesial.
"Kamu kenapa Ky, serius aku gak papa? Jangan sedih dong!"
"Kamu kok peka banget sih. Aku jadi malu."
"Haha cie malu, udah yuk!"
Dania mengaitkan tangannya dengan mesra. Mereka berjalan dengan hati yang berbunga bunga.
**
Pak Burhan sedang duduk dipinggir kedai mengipasi tubuhnya yang gerah.
Riki datang dan menyalami tangan Pak Burhan.
"Udah jalan jalannya? Kok cepet!" Alih alih marah, Pak Burhan justru berkata demikian.
"Iya Pak, udah malem kok. Besok lagi aja."
"Pak ayam bakar paha atas tiga, dibungkus ya!" Pinta pembeli yang baru datang. Pak Burhan ingin melayani tapi Riki melarang. "Udah Bapak istirahat aja. Biar gantian Saya yang jualan." Riki mengambil kipas dari tangan Pak Burhan. Mengipasi arang agar menyala.
"Wushh. Wushh..wush." suara angin kencang itu membuat Api segera menyala.
Riki dengan sigap menaruh potongan ayam di atas bara api.
Beberapa menit ayam bakar telah siap.
Riki mengangkat ayam bakar itu dan meletakkan di sterofoam.
"Ini Bu, totalnya tiga puluh ribu!"
"Ini Dek, uangnya!"
Riki mengambil kembalian dan menyerahkan uang itu.
"Terimakasih Bu,"
"Sama sama Dek, mari Pak Burhan!"
"Iya Bu, mari!!"
Pak Burhan bangga melihat sopan santun Riki terhadap pembeli. Meskipun Riki belum lama berjualan, Pak Burhan langsung percaya ketika Riki mengambil alih melayani pelanggannya.
**
Beberapa hari ini Atmika melihat aktivitas Riki secara sembunyi.
"Kamu udah dewasa sekarang Ky, mamah aja sampai kalah."
Atmika lega meskipun Riki hidup di keluarga yang berantakan ternyata tak menjadikan Riki anak yang urakan.
Atmika berniat mengajak Riki pulang. Ia tak mau melihat Riki harus bekerja setiap hari.
Atmika datang sebagai pembeli.
"Kak, tolong bungkus 10 potong ya!"
Riki mendengar suara yang familiar menoleh. "Mamah?"
"Iya Sayang."
__ADS_1
"Mama ngapain kesini?"