Seimbang

Seimbang
Bab 38. Semangat Kak Eric!


__ADS_3

Eric langsung berdiri dan menzoom foto Dania. " Ini Nila kan?" Ucap Eric.


Eric sampai membuka matanya lebar berharap matanya salah melihat.


" Dari bajunya sih sama yang Nila pakai tadi. Ah Aku telepon aja!" Eric langsung mencari kontak Nila dan mencoba menghubunginya.


" Nut, nut, nut, Maaf nomor yang ada tuju sedang sibuk."


Eric tak menyerah dan mencoba lagi. Sayangnya jawabannya tetap sama.


" Aku telvon Dania aja." Eric akhirnya menghubungi adiknya itu. Untuk bertanya mengenai foto orang yang ada dibelakang Dania.


" Dania : Hallo Kak, " jawab Dania langsung terhubung.


" Eric : Dan, Kamu lagi dimana?"


" Dania : Di Mall Kak, kenapa emangnya?"


" Eric : Kamu lihat cewek sama Bule gak?"


Dania melihat kesekeliling mencari sosok yang dimaksud oleh Eric. Dania melihat ada Bule sedang ngobrol dengan wanita.


" Dania : Ada Kak, kayaknya lagi pacaran. Kenapa emang? Kakak kenal?"


" Eric : Kamu bisa foto yang jelas gak? "


" Dania : Eh? Kenapa? " Tanya Dania tak paham mengapa Ia harus mencuri foto orang asing itu.


" Eric : Please Dan, bantu Gue."


" Dania : Iya tunggu dulu!"


Dania membuka kameranya lagi. Dan secara hati hati mengambil foto pasangan itu.


" Cekrik."


" Send" Dania langsung mengirim foto itu pada Eric.


Eric membuka foto yang Dania kirim saat matanya lebih terbuka lebar saat wajah Nila terlihat lebih jelas difoto kiriman itu.


"Brukk."


Eric kembali duduk lemas di atas sofa.


" Nila, kenapa Kamu tega?" Ucap Eric sedih. Kali ini Eric tak salah lihat lagi. Itu memang Nila pacarnya.


Tapi Eric tak mau salah sangka dulu dan ingin menanyakan langsung pada Nila sang Pacar.


" Eh kok gak aktif!"


Eric mencoba menghubungi lagi, tapi jawaban kali ini membuatnya lebih terkejut. " Maaf Nomor yang Anda tuju salah! Silahkan periksa nomor kembali!"


Eric sampai mencoba berulang kali, tapi hasilnya tetap nihil.

__ADS_1


" Kenapa nomerku di blokir?"


Fikiran Eric semakin runyam. Niat hati ingin berbaik sangka justru malah gagal ketika kenyataan tak sesuai dengan niatnya itu.


" Ric, Kamu gak makan?" Tanya Bu Melati menghampiri Eric.


Pak Burhan dan Bu Melati sudah duduk di meja makan, tapi karena Eric tak kunjung menyusul. Bu Melati langsung mencarinya.


" Makanlah Bu, ayo! Eric udah laper. " Eric langsung bangkit tak mau melampiaskan kesedihannya itu pada Keluarganya.


Keluarga adalah tempat untuk pulang, tempat bercurah kasih sayang, tempat untuk saling mencintai. Biarkan saja rasa sakit hati Eric rasakan sendiri.


*


Nila sudah sangat bahagia bertemu dengan Bule itu. Wajah tampan rupawan dan banyak uang adalah hal yang selalu menjadi mimpinya.


" ( Ah, ganteng banget. Mana baru pertama ketemu, Aku udah di ajak belanja sebanyak ini lagi.) " Nila melihat dilantai, disebelah Ia duduk sudah penuh dengan barang belanjaannya tadi.


" Apa ada yang masih Kamu mau beli? " Tanya Bule itu lagi.


" Ah, nanti saja! Kita istirahat dulu!" Ucap Nila.


Nila semakin dibuat mabuk kepayang saat Bule itu bisa memenuhi segala keinginannya tanpa harus menunggu awal bulan. Nila sedang mengaduk jus alpukat dan Bule itu mengutarakan niatnya.


" Kamu mau menikah dengan Saya?" Tanya Bule itu dengan nada yang kaku, tapi Nila masih bisa memahami ucapannya.


" Nikah? Kamu serius? " Tanya Nila tak menyangka.


" Eh mau, mau banget malahan!" Ucap Nila lagi tak mau kehilangan kesempatan emas ini.


" Benarkah? Saya senang mari Kita segera mengadakan pesta!" Ajak Bule itu terkesan buru-buru.


" Tapi Saya masih bekerja." Ucap Nila.


" Kamu tak perlu bekerja, Saya akan penuhi kebutuhan Kamu. Kamu tak perlu khawatir sekarang!" Ucap Bule itu.


Siapa yang tidak senang ketika ada orang yang akan memenuhi kebutuhan Kita. Tapi bukankah Kita harus curiga?


Karena sudah dibuat buta oleh uang, Nila sama sekali tak merasa takut dan curiga. Justru semakin dibuat senang atas penawaran Bule itu. Nila justru menganggap sebagai rejeki nomplok yang datang secara mendadak.


Nila tak mau ada gangguan untuk acara pernikahannya besok.


" Aku mau blokir nomernya Eric, biarin aja, Aku mau tinggalin Dia tanpa jejak!" Ucap Nila justru akan menghilang tanpa memberikan kabar Eric.


"Klik."


Nila telah memblokir nomer milik Eric.


" Kenapa Dan? " Tanya Riki melihat Dania sedang memotret orang lain.


" Gak tau, tadi kan Aku post story WhatsApp, terus Kak Eric langsung telepon minta kirimin foto orang itu." Ucap Dania,


Mata Mereka kini tertuju lagi pada Pasangan itu.

__ADS_1


" Jangan-jangan itu pacarnya Kak Eric." Ucap Dania sadar akan satu hal. Riki tak tahu jika Eric sudah memiliki pasangan.


" Emang Kak Eric punya pacar?" Tanya Riki.


" Iya, baru seminggu an ini kok, belum lama. Coba, Aku cek ya. Nama Kakak itu!" Ucap Dania berdiri dan mendekati wanita itu.


" Gimana caranya? Masak Kamu mau langsung tanya? Apa gak aneh?" Ucap Riki.


Dania terdiam, otaknya mulai mencari cara agar bisa mengetahui nama wanita itu tanpa membuatnya curiga.


" Ahh, tenang! Aku ada ide. Kamu tunggu disini ya!" Dania langsung pergi tanpa memberitahu Riki tentang rencananya itu.


Riki hanya melihat dari kejauhan.


" Eh Kak Lusi, apa kabar?" Tanya Dania sengaja sok kenal dan menyebutkan nama yang salah. Justru itu sebagai taktik Dania mengetahui nama yang asli.


" Eh, maaf nama saya Nila, bukan Lusi. Mbak kenal sama Saya!"


" Deg." Tepat dugaannya wanita ini adalah pacar Eric.


" Eh, iya ternyata Saya salah orang. Maaf ya Kak. Permisi!" Ucap Dania pergi meninggalkan Mereka.


Dania duduk kembali ditempat semula, wajahnya sedih melihat kenyataan yang sedang terjadi.


" Gimana? Iya bukan?" Tanya Riki ingin tahu.


" Hemh, iya Ky, kayaknya Dia pacarnya Kak Eric. Duh, kasihan banget Kakakku." Dania langsung menangis, padahal itu belum pasti jika itu adalah Nila pacarnya Eric. Tapi entah mengapa Dania merasa jika itu adalah Nila yang itu.


Dania langsung kehilangan rasa nafsunya untuk mencari hiburan. Dania kembali menatap wanita itu.


Laki-laki yang sedang bersamanya terlihat lebih mapan dan sempurna dari Eric, meskipun Eric juga tampan tapi tak seimbang dengan laki-laki itu.


" Pantesan aja, saingan Kak Eric berat banget." Ujar Dania sedih, ia juga mengayunkan kaki maju mundur.


" Dan!" Riki mengusap rambut pacarnya itu.


Dania menoleh.


" Kalo Aku sih beruntung banget, watak cewek itu ketahuan sekarang. Dan Aku juga beruntung lagi, gak jadi nikah sama cewek yang sifatnya jelek kayak gitu. Aku justru lega. Kak Eric bisa lepas tanpa harus lebih tahu lama lagi. Tuhan tu gak mau Kak Eric jatuh ditangan yang salah." Ucap Riki bijak memberi nasihat pada Dania.


Dania justru semakin membuka fikirannya. Dan merasa setuju dengan apa yang Riki ucapkan.


" Kamu bener Ky. Kakak Eric ku terlalu berharga untuk wanita macem remahan peyek itu. Dan Aku akan hibur Kak Eric. Gak akan Aku biarin Kak Eric sedih terlalu lama." Dania mulai semangat lagi dan bertekad akan menolong Sang Kakak untuk move on.


" Ayo kita pulang, terus beli pisang keju buat Kak Eric."


Dania menarik tangan Riki meninggalkan Mall itu.


*


" Oh jadi Mereka lagi jalan jalan di Mall, Ah wanita miskin itu pasti mau minta jatah pada Cucu ku? " Ucap Nani dengan nada tak suka.


To be continued......

__ADS_1


__ADS_2