Seimbang

Seimbang
Bab 11. Masa Masa SMA telah berakhir


__ADS_3

Dania dan Riki berjalan beriringan tak perduli banyak pasang mata yang mengarah pada mereka berdua.


"Aku ke kelas dulu ya!"


Riki mengantarkan Dania sampai di depan kelas.


"Ciee. Ada yang udah jadian nih!" Renata sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi. "Ya terus kenapa? Ada masalah? " Tanya Dania berbalik menatap Renata. "Ya gak papalah itu kan terserah Lo. Jangan lupa pajak jadian." Renata mengangkat kedua pelipis matanya ke atas.


Entah ajaran siapa tentang pajak bagi orang yang resmi berpacaran.


Dania mengeluarkan kotak makan berisi beberapa potong ayam bakar.


"Nih, makan! Lo pasti suka! Ada sayap ayam juga nih!"


Seketika mata Renata berbinar membuka kotak makan itu tanpa aba aba.


"Wahh.. makasih Dania. Tau aja aku belum sarapan!" Renata mengambil sayap ayam itu dan melahapnya.


"Duh, beneran deh ayam bakar 99 punya kedai Ayah Lo juara banget!" Renata mengacungkan kedua jempolnya. Mulutnya sampai mengerucut karena masih sibuk mengunyah. "Iya deh iya. Masalah makanan aja baru deh muji muji."


"Hehehe."


Renata hanya meringis. Dania kembali teringat Riki, tersenyum lebar. Pasangan yang sedang kasmaran itu sedang berbunga bunga.


"(Gak nyangka aku beneran jadian sama Riki)."


"Apanya Dan?" Renata mendengar Dania berbisik.


"Hehe enggak kok. Udah makan aja sih! Gak usah kepo!"


"Iya deh, siap Bos!"


*


"Brakk." Baru saja datang Dani sudah membuat ulah dan kakinya menendang meja.


"Hahaha. Lo kira mentang mentang udah bisa gebet Dania hidup Lo bisa berubah gitu?"


Riki tak sadar jika Dani mengajaknya berbicara. Sikap acuh Riki membuat Dani semakin emosi.


"Eh! Elo budek apa gimana sih?"


" Lo kenapa? Kesambet? Makanya sebelum berangkat sekolah berdoa dulu. Biar gak di ikutin dhedhemit." balas Riki santai menatap Dani sesaat dan kembali melihat buku.


"Eh sialan!" Dani menarik kerah Riki padahal semua anak sedang menatap mereka.


"Dani, udah deh! Lo jangan bikin ulah." Ucap Edo memperingati.


"Iya. Lagian Riki gak ngapa-ngapain kok Lo yang sewot!''


"Gue sebenernya dari dulu gak setuju sih sama cerita Dani yang suka jelek jelek in Riki."


"Jangan jangan Lo iri ya sama Riki?"


Semua berbalik menyerang Dani. Dani melihat semua teman sedang menyudutkan dirinya. Itulah yang Riki rasakan dulu. Rasa malu berkumpul jadi satu. Padahal sedang tak membuat suatu kesalahan. Dani seakan teringat sikap jahatnya dulu. Melepaskan tangannya dan duduk di kursi duduknya.


Riki menatap Dani heran.


"Tumben Dia gak nglawan? Ahh biarin aja. Bener kata Dania. Kekerasan jangan dibalas kekerasan dan ternyata cara itu berhasil."


Jam istirahat berbunyi Riki berlari menghampiri Dania dikelasnya.


"Dania!!"


"Hai, sini!"


"Ini apa?" Riki melihat kotak makan diatas meja.

__ADS_1


"Khusus buat kamu,dari Ibu?"


"Wahh, terimakasih. Aku buka ya!"


Riki melahap ayam bakar itu. Dania menemani Riki makan dan duduk bersebelahan.


"Kamu gak papa? Kayaknya mereka tahu kita jadian? Kamu malu gak? Kalo malu kita put?" Riki belum selesai berbicara tapi Dania menutup mulutnya dengan telunjuk tangannya.


"Kamu ngomong apa sih ? Aku bahagia punya kamu?"


"Kata orang kita kan gak seimbang?"


Riki menunduk lesu. Dania memegangi wajah Riki mengangkat wajah itu dengan perasaan. " Kamu tahu gak, ada air untuk api. Ada hitam untuk putih. Ada mendung untuk hujan. Dan coba pikir apa semuanya sama? Justru Tuhan itu ciptain perbedaan untuk saling mengisi. Kamu gak usah repot-repot dengerin omongan mereka. Aku gak malu! Tolong jangan mikir kayak gitu Riki!"


Riki menatap dalam wajah Dania. Betapa beruntungnya dia memiliki Dania yang bisa menerima kekurangannya.


"Emuacchh." Riki mengecup bibir Dania.


"Hey! Ini di Sekolahan nanti kita bisa diskorsing loh." Dania melirik dengan mata membulat hampir keluar dari tempatnya.


"Hehe.. maaf aku gemes banget sih."


"Jangan diulangi lagi ya!"


"Iya Putri arang."


"Ih dasar Pengeran arang!"


Masa masa SMA Riki dan Dania berjalan indah, untuk sesaat dirumah Riki tak ada masalah.


Dania mengambil jurusan kuliah di bidang penjualan. Riki mengambil jurusan di Management Bisnis.


Kehidupan Dania dan Riki seakan berbalik. Riki sukses menjadi CEO di sebuah Perusahaan miliknya sendiri.


Sedangkan Dania masih sibuk membuat surat lamaran kerja dikirim ke semua Perusahaan.


"Hah!capek banget kenapa sih gak ada yang mau terima aku jadi karyawannya?" Keluh Dania, melihat kertas berceceran hampir memenuhi ruangan kamarnya.


"Tok."


"Tok."


"Tok."


"Sayang! Ayo makan malam dulu." Ibu Melati mengetuk pintu kamar Dania.


"Ibu duluan aja. Aku nanti saja."


"Brakk."


Ibu Melati justru membuka pintu secara paksa. "Astaga Dania, kenapa kamarmu berantakan seperti ini?"


"Ibu..aku lelah! Kenapa gak ada yang mau menerimaku?"


Dania menatap sedih Bu Melati. Niat hati ingin memarahi justru Bu Melati tak tega mengusap wajah Dania lembut.


"Sabar Sayang. Mungkin belum ada yang cocok. Kamu terus usaha saja ya? Jangan menyerah! Sekarang kita makan dulu." Bu Melati menarik tangan Dania. Diajaknya ke meja makan. Pak Burhan dan Kak Eric sudah duduk disana.


"Makan Lo Dan, lihat tu pipi sampai gak ada dagingnya. Nih piring!"


"Kak, kantor Kakak gak ada lowongan apa?"


"Gak ada. Jadi OB mau?"


"Ya ampun Kak, tega banget!"


Dania menelangkupkan kepalanya diatas meja menatap pantulan wajahnya yang menyedihkan.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak coba kirim lamaran di kantornya Riki?"


"Kalo kesana sih aku udah jelas diterima. Aku gak mau banyak ngrepotin Riki. Aku pengen coba mandiri!"


"Ya silahkan coba, sampai berhasil. Semangat go go go!" Kak Eric mengepalkan tangan dan diangkat keatas menyemangati Dania.


"Haha udah yang penting makan dulu!"


Pak Burhan bahkan mengambilkan nasi.


"Sayang! Ayo makan dulu. Galaunya bersambung dulu."


Dania tersenyum kecut memandang sang Ayah.


*


Aku hanya mengaduk nasi dipiring. Membayangkan nasibku yang kurang mujur.


Riki saja sudah sukses mengapa aku tak bisa menyusul kesuksesan Riki. Jangankan sukses. Cari satu pekerjaan saja aku belum bisa.


Aku malu sekali hanya bisa menjadi beban keluarga serta kekasihku.


Setiap ada acara baik ulang tahun atau acara yang lain, mereka akan memberiku banyak hadiah.


Sedangkan aku? Masak hanya ucapan Doa? Meskipun Mereka tak pernah mengeluh, Aku merasa tak enak hati hanya bisa menerima tanpa memberi.


"Drtt."


"Drtt."


"Drtt."


"My love calling!"


"Hallo Ky."


"Riki : Coba deh kamu keluar!"


"Sekarang?"


"Iyalah masak besok!"


Dania keluar dari kamarnya, membuka pintu utama dan...


"Happy Anniversary Ratu Arang."


Riki sudah bersiap dengan bucket bunga besar dan beberapa hadiah.


"(Astaga. Aku bahkan lupa jika hari ini adalah Anniversaryku dengan Riki)."


"Riki aku minta maaf. Aku lupa!" Dania menepuk dahinya kencang hingga membuat bekas merah.


"Hey gak papa Dania. Aku tahu fikiranmu sedang runyam. Jadi terimalah ini!"


"Terimakasih banyak. Tapi kenapa banyak sekali?"


"Kamu meragukan kekayaan pacarmu ini hah?"


"Hahaha tidak mungkin! Jangan bercanda. Apa kau sedang menyindir pacar pengangguranmu ini? Jujur saja aku tersinggung. Aku sedang miskin sekarang!"


Riki terbelalak dan langsung berlutut meminta maaf. " Dania maaf. Aku tak bermaksud menyinggungmu. "


"Eh! Aku tak serius bangunlah."


Dania menarik tubuh Riki, Ia merasa tak pantas membuat Riki sampai bersujud.


"Riki sebaiknya kitaa???"

__ADS_1


To be continued.....


__ADS_2