Seimbang

Seimbang
Bab 58. Berpisah!


__ADS_3

Riki masih menunggu jawaban dari mulut Atmika, tapi Atmika tak mampu untuk menceritakan semuanya pada Riki.


" Mama, udah bilang kan Ky, Dania gak seimbang untuk keluarga kita!" Tegas Atmika lagi, ia masih menggunakan alasan yang sama.


" Riki benci Mama!"


Riki melangkah menuju mobilnya sendiri, dan tak ingin Atmika bisa mengikuti dirinya lagi.


" Nguenggh!"


Riki menginjak pedal Gas agar kecepatan bertambah, rasa sesak didalam dadanya terasa penuh.


Hanya air mata yang mampu menemani Riki. Mendahului beberapa kendaraan dengan kecepatan penuh.


Atmika tertunduk lemas, meskipun sudah tahu akhirnya akan menjadi seperti ini.


Dania sesekali melirik kearah belakang, melihat Riki yang sudah tak terlihat. Ada rasa kasihan pada dirinya.


" Dan, udah jangan sedih ini bukan salah kamu!" Ucap Eric.


" Aku sedih bukan karena itu Kak, tapi kenapa Tante Atmika gak jujur sama Riki? Kan kasihan Riki dibohongin!" Protes Dania halus.


" Yah biarin aja sih! Bukan urusan kamu juga!" Ketus Eric tak ingin Dania merasa bersalah, sebab memang bukan salahnya.


Riki sebenarnya sedang melaju untuk mengejar Dania, tapi Ia lebih dulu sampai. Melihat rumah Dania masih sepi dan kosong, Riki membelokkan stir mobilnya menuju kedai ayam bakar 99.


" Nak Riki?" Ucap Pak Burhan melihat Riki berjalan ke arahnya.


" Hiks hiks," Riki tak menjawab hanya terus berjalan, Pak Burhan mendekat, membekap tubuhnya.


" Bapak! Hiks hiks!"


Pak Burhan hanya mengusap lembut punggung kekar itu, Ia tak dendam meski Dania telah diperlakukan tak adil oleh Keluarganya.


" Sabar!"


"Puk,puk,puk," suara tepukan yang hangat itu mampu menenangkan hati Riki yang sedang kalut.


" Mari kita duduk dulu!" Ajak Pak Burhan.


Riki dan Pak Burhan duduk berdua, melihat asap mengepul dari arang yang terbakar.


" Riki mau mati aja Pak!" Ucapnya tiba-tiba. Pak Burhan menoleh dengan raut wajah tak setuju.


" Loh, jangan gitu Nak Riki!" Ucapnya.

__ADS_1


" Mama jahat! Kenapa dia tuker orang lain ke acara pertunangan Riki? Hiks" ucap Riki sedih.


" Nak, mungkin ada sesuatu alasannya yang belum kamu tahu, dan Siapa tahu itu jodoh terbaik untuk Nak Riki!' Ucap Pak Burhan bijak. Riki menggeleng cepat. Berbalik tak setuju dengan ucapan Pak Burhan.


" Riki gak cinta sama Luna, Riki gak mau Pak, Riki maunya sama Dania!" Kekeh Riki tetap tak berpaling.


" Jangan seperti itu! Coba dulu! Jika memang bukan jodohmu sampai kapanpun itu takkan pernah jadi milikmu Nak Riki! Bapak tahu kamu kecewa tapi pikirkan dengan baik, selama kamu belum menikah cari tahu dulu kekurangan wanita itu. Dan ambil buktinya, jika memang terbukti dia wanita yang jahat Bapak yakin Ibumu akan mengerti dan tak menjodohkan Nak Riki lagi!" Ucap Pak Burhan.


Barulah Riki sadar, ia seperti mengisi kekuatannya dengan petuah yang Pak Burhan berikan padanya.


" Pak, tunggu Riki!" Ucap Riki penuh harap.


" Maaf! Semua ada ditangan Dania Nak, Bapak hanya sebagai orang yang bertanggung jawab saja. Tak bisa memakan kehendak Dania!" Ucap Pak Burhan tak ingin memberi Riki harapan palsu. Meski kecewa Riki sadar diri, dan tak memaksakan kehendaknya itu.


" Udah jangan nangis nanti gantengnya ilang lho!" Goda Pak Burhan, akhirnya bibir Riki bisa mengulas senyuman lagi, hanya Pak Burhan yang bisa mengerti Riki.


Meskipun Atmika tertinggal cukup jauh, Dia bisa mengejar mobil Riki karena sudah dipasangi GPS beberapa hari sebelumnya oleh Atmika.


Atmika makin bersedih, ketika melihat sikap baik Pak Burhan yang masih tercurah untuk Riki.


" Andai aku jadi Bapak itu, mungkin aku sudah memaki Riki habis-habisan. Tapi lihat! Justru Dia menenangkan Riki dan sekarang Riki bisa tersenyum. Aku merasa gagal dan iri melihat kehangatan Mereka berdua. Jika saja kami berbesan mungkin aku akan menjadi ibu yang paling bahagia!" Ucap Atmika penuh sesal, ingin rasanya memutar waktu agar dia tak meminta darah milik Luna mungkin Ia takkan dibenci Riki sebesar ini.


Dania, Dion dan Eric sedang menuju Rumah, tapi melihat mobil Riki sudah terparkir di halaman kedai.


" Loh itu bocah ngilang apa gimana kok udah nyampe disitu aja?" Ucap Eric ketus.


" (Riki, ku akui kamu memang hebat! Tapi maaf sepertinya kamu harus berhenti mulai sekarang!)" Guman Dion takkan memberikan celah untuk Riki merebut Dania lagi.


" Kalian udah pulang?" Tanya Pak Burhan santai.


" Udah Yah, ini arang sama ayamnya!" Eric dibantu Dion menurunkan barang dari dalam bagasi, Riki melihat ekspresi Dion seperti sedang mengejek dirinya.


" Riki bantu ya!" Riki tak ikut menurunkan barang-barang itu, Dion melihat cincin melingkar dijari manis Riki.


" Riki kamu habis tunangan ya? Pantesan ganteng banget pake jas!" Ucapam Dion sukses membuat Riki menjadi pusat perhatian, Dania juga melihat jari kelingkingnya.


" Em, anu. Itu!" Ucap Riki gugup, dan tak tertata semakin memperjelas jika itu memang fakta.


" Ayah, Dania pulang dulu!" Ucap Dania pergi, meskipun sudah berusaha ikhlas tapi tetap saja hatinya merasa sakit dan perih, apalagi melihat Riki sampai menggunakan cincin pertunangannya.


" LO sengaja kan!" Sentak Riki pada Dion.


" Apa sih? Aku kan cuma tanya!" Jawab Dion berani.


" Srakk."

__ADS_1


Riki menarik kerah baju Dion, ingin sekali menghajar wajah tampan itu dengan bogemnya.


" Hey! Stop!" Eric berusaha melerai memegangi badan Dion, dan Pak Burhan memegangi tubuh Riki.


" Nak Riki, sabar!" Ucap Pak Burhan mengusap dada Riki yang sedang panas itu.


" Kamu mendingan pulang! Gak baik tunangan orang datang kerumah mantan pacarnya!" Sentak Eric tak ingin ada keributan lagi.


" Tapi Kak!" Ucap Riki.


" Riki Tolong! Jangan sampai Kakak pakai cara kasar!" Sentak Eric secara halus.


Riki akhirnya kembali dengan perasaan yang tak pernah Ia bayangkan akan terjadi, diusir oleh keluarga wanita yang pernah menjamunya dengan hangat kini berpaling.


Bu Melati sedang menyapu halaman, membersihkan dedaunan kering yang jatuh, melihat Dania sedang berjalan cepat, dan lagi-lagi wajahnya hujan air mata.


" Sayang, kenapa?" Tanya Bu Melati tapi Dania tak menjawab dan terus berjalan.


" Srakk." Bu Melati melempar sapu lidi itu dan menyusul Dania.


" Brakk." Dania menutup pintu kencang.


" Tok, tok, tok,"


" Dania? Kenapa Nak?" Tanya Bu Melati dari balik pintu luar.


" Ibu! Tolong! Jangan ganggu Dania!" Ucap Dania lirih tapi tegas itu, membuat


Bu Melati akhirnya mengalah, dan lebih menunggu Eric datang.


" Ah, aku tanya sama Eric saja!" Ucapnya berlalu memberikan waktu menyendiri untuk Dania.


*


Choky telah sampai di Bandara, Ia langsung mencari hotel untuk beristirahat " Ah, aku cari hotel dulu!" Ucapnya penerbangan yang lama dan panjang itu membuat pinggangnya terasa pegal.


Choky kini bisa melihat Negara tempat ia lahir, Karena satu wanita saja bisa membuatnya hampir gila.


Choky berjalan keluar dari area Bandara, melihat taksi sudah berjejer di depan lobi.


Choky memilih satu diantaranya,


" Pak, boleh antarkan Saya ke Hotel yang bagus!" Pinta Choky pada sang Driver.


" Baik Pak!" Choky berangkat diantar mobil taksi yang berwarna biru muda, Ia percaya pada pilihan hotel sang Driver.

__ADS_1


" Tunggu Aku Atmika!" Seringai Choky.


__ADS_2