
Riki masih terlelap di atas sofa. Dania masih setia menunggu, menemani Riki mengusap tangannya.
" Riki belum bangun Dan? "
Tanya Bu Melati ditangannya membawa secangkir teh hangat.
" Belum Bu, Riki masih tidur."
" Jangan khawatir! Kamu mandi dulu gih! Biar Riki istirahat! " Ucap Bu Melati memegang bahu Dania.
" Iya Bu! " Ujar Dania meninggalkan Riki.
Ibu Melati memandangi Riki sejenak, terlihat rasa lelah dan kesedihan dari wajahnya.
" Anak yang malang! " Bu Melati pergi takutnya membuat Riki bangun.
Kak Eric menyiapkan bajunya untuk diberikan pada Riki. Baju Riki belum ganti dari kemarin.
" Udah bangun? " Tanya Kak Eric melihat Riki membuka matanya.
" Iya Kak!"
Benar saja Riki merasa malu dan canggung membuang arah pandangnya tak beraturan.
" Gak papa santai aja. Tadi Dania mandi. Sekarang lagi ganti baju. Kamu mau mandi? Ini ada baju pake aja." Kak Eric memberikan baju itu, Riki bangun dari duduknya dan pergi ke kamar mandi. Lagi lagi Riki mendapat perhatian yang hangat dari keluarga Dania.
Dania keluar dari kamar melihat Riki tak ada lagi di sofa.
" Riki mana Kak? Kakak usir ya? " Tanya Dania menuduh Kak Eric.
" Sembarangan! Nanti langsung deh dibikin film Iparku yang jahat mengusirku dari rumah. " Ucap Eric dengan mengejek.
" Hahaha. Apaan sih gak jelas."
" Elo yang gak jelas, nuduh orang sembarangan. Sorry ya! Gue gak sejahat itu Dania." Eric mencolek ketiaknya dan mengusap pada hidung Dania.
" Kak Eric baukk tauk. Ihh. Gak sopan! " Dania mulai sebal jika Kak Eric melakukan hal itu.
Riki keluar dari kamar mandi menggunakan baju yang Eric beri. Badannya terasa segar dan wangi. Tubuhnya juga terasa enteng.
" Wih ganteng banget pacarku! " Puji Dania melihat wajah bugar Riki.
" Hehe apaan sih bikin malu aja. "
Riki terlihat salah tingkah, Dania lega, senyuman Riki yang hilang akhirnya kembali.
" Nak, sini makan! " Ajak Bu Melati telah duduk dimeja makan.
__ADS_1
" Iyah, sini nanti Gue habisin loh." Ucap Eric menggoda.
" Ayo Ky! " Dania menggandeng tangan Riki diajaknya menuju meja makan.
Riki mulai merasa seperti sepasang suami-isteri yang hidup dirumah mertua. Meskipun rumah ini kecil dan biasa, tapi nyatanya rumah ini bisa membuat Riki nyaman dan betah.
Dania meladeni Riki mengambilkan nasi dan lauk pauk. Bu Melati dengan wajah teduhnya itu hanya tersenyum. Riki sungguh tak ingin pergi dari rumah ini. Ingin rasanya Riki menikahi Dania secepatnya. Agar Riki bisa setiap hari ada disini.
" Pak Burhan kemana Bu?" Tanya Riki tak melihat Pak Burhan ikut serta makan malam.
" Bapak seperti biasa ada di Kedai. Ini nanti mau Ibu kirim makanan. "
" Boleh gak kalo Riki yang anter? "
Bu Melati menatap Riki sesaat hatinya merasa tak enak jika harus merepotkan Riki.
" Bu, beneran Riki gak papa. Riki pengen ngobrol sama Bapak."
" Yasudah kalo mau Kamu gitu. Boleh! " Ucap Bu Melati melihat kesungguhan Riki.
Mereka makan malam bersama ditemani acara televisi. Sesekali Mereka melihat berita yang menarik.
Riki membawa rantang berisi makanan, mengantarkan pada Pak Burhan.
" Eh Nak Riki, udah enakan?" Tanya Pak Burhan sedang melayani pelanggannya.
" Ah enggak kok. Ada apa nih? "
" Ini ada nasi sama lauk Pak, yang suruh Ibu." Riki meletakkan rantang itu diatas meja. " Pak, Saya bantuin boleh? "
" Kamu gak capek?"
Riki tak menjawab dan mengambil alih membakar ayam. Pak Burhan duduk di kursi samping dan memakan nasi yang Riki bawa tadi.
Saat Riki masih sibuk melayani datanglah seorang tetangga Pak Burhan bernama Bu Jumi.
" Eh Pak Burhan siapa itu? " Tanya Bu Jumi melihat ada orang baru.
" Pacarnya Dania Bu! " Jawab Pak Burhan singkat. Pak Burhan tahu watak Bu Jumi yang suka ingin tahu urusan orang.
" Ih kok dekil amat pacarnya Dania. Kaya pacar anak saya dong Citra, pemborong sukses!" Jawab Bu Jumi dengan bangganya.
Pak Burhan tak ingin meladeni Bu Jumi. Ia hanya tersenyum simpul.
" Pak, kalo bisa suruh putus aja sih. Kasian Dania dapet pengangguran kayak Dia gak seimbang Pak! " Rupanya Bu Jumi masih saja tak pergi.
" Hah! Bu tolong jangan nilai orang dari luarnya aja. Lagipula Ibu tahu gak? Nak Riki ini punya Perusahaan sendiri, jabatannya CEO. Jasnya masih kotor jadi pinjem bajunya Eric. Udah ya Bu Jumi pulang! Tuh, Pak Irwan minta di bikinin Kopi." Pak Burhan mulai jengah akhirnya malah ikut panas memamerkan status Riki.
__ADS_1
Bu Jumi makin panas niat hati ingin membuat iri justru malah tertampar kenyataan.
" Ih sombong amat! Yaudah Saya permisi dulu Pak."
Pak Burhan hanya mengangguk. Riki senang sekali ketika Pak Burhan maju membela dirinya. Ada rasa bangga ternyata Riki ada nilai tersendiri di hati Pak Burhan.
" Nak Kamu yang kuat ya! " Ucap Pak Burhan ikut prihatin dengan kisah hidup Riki.
" Hidup Saya kok menyedihkan gini ya Pak?" Tanya Riki.
" Apanya Nak? " Tanya Pak Burhan.
" Saya gak pernah dapet kehangatan kayak dirumah Bapak. Rumah saya panas dan gak ada kenyamanan."
Pak Burhan mendengar ungkapan hati Riki, dan ketika Riki mencurahkan semuanya barulah Pak Burhan berbicara.
" Nak, mungkin itu ujian yang Tuhan berikan. Kamu punya uang yang banyak tapi gak punya keharmonisan keluarga. Sebaliknya Keluarga Bapak, Bapak punya keharmonisan tapi gak punya uang banyak. Dulu sebelum memutuskan untuk berjualan. Hidup kami terlunta lunta, mau makan aja susah. Bapak inget banget Dania mau minta uang duaribu aja Bapak gak punya. "
Riki termenung mendengarkan kata Pak Burhan.
" Jadi setiap manusia itu pasti ada ujiannya sendiri. Dan ujian setiap manusia itu pasti berbeda. Kamu jangan sedih! Semangat! Laki laki harus kuat! " Pak Burhan menepuk pundak Riki. Tak terasa sakit justru bisa membuat Riki tenang.
Sudah jam sepuluh Riki membantu Pak Burhan merapikan kedai dan membantu mendorong sampai rumah.
" Ayah udah pulang? Habis gak?" Tanya Dania dan ikut membantu.
" Masih dua potong tadi Dan, "
" Yaaa kok masih sih Yah, biasanya kan habis."
" Ya namanya jualan kadang habis kadang masih lah," ucap Pak Burhan datar.
" Riki makasih yaa!" Ucap Pak Burhan pada Riki.
" Pak , Saya boleh nginep disini gak?" Tanya Riki tiba tiba.
" Boleh! Tapi jangan tidur sama Dania ya? Sama Eric aja. Hehe."
Kata kata Pak Burhan membuatku wajah Riki merah. Riki sebenarnya malu sekali, hanya saja hatinya masih membutuhkan kehangatan keluarga ini.
" Terimakasih banyak ya Pak."
" Sama sama. Bapak masuk dulu! "
Bu Jumi tak percaya dengan ucapan Pak Burhan datang kerumah untuk melihat langsung. Terlihat mobil mewah Riki terparkir dihalaman rumah Pak Burhan.
" Cihh, ternyata beneran orang kaya mobilnya aja seporot." Ucap Bu Jumi dengan lidah medhoknya itu,
__ADS_1
Bu Jumi kembali dengan iri hatinya itu