Seimbang

Seimbang
Bab 28. Gagal?


__ADS_3

"Fiuhh ada ada saja sih! Padahal rencananya Aku mau bangun siang, mumpung libur kerja " Keluh Dania menggeliatkan badannya.


" Sabar Nak, Bu Jumi pulang dari kampung mulai berulah lagi." Ucap Pak Burhan mencoba sabar.


" Riki, Kau sudah bangun? Selamat pagi pangeran Arang! "


Semua saling menatap ingin tergelak mendengar Dania menyapa Riki seperti itu.


" Dih kayak gak ada panggilan yang lain aja Dan,"


Riki terlihat malu malu tapi tidak dengan Dania, meskipun ada keluarganya Dania merasa tak malu.


" Aku mandi dulu deh." Riki mencoba menghindar dengan pergi mandi Eric terkekeh lagi melihat Riki salah tingkah.


" Gue kayaknya harus belajar banyak deh Dan, sama Lo." Eric melihat Adiknya lebih berpengalaman dalam hal percintaan.


" Iya dong, sembilan tahun Kak. Ibarat kuliah udah ambil jurusan S2 ini." Seloroh Dania semakin percaya diri.


" Kali ini Kakak setuju. Oke kita mulai ya! "


Dania mulai terfikir untuk mengerjai Eric.


" Eh ada uang bimbel nya lah. Masak gratis! No no no." Ucap Dania memainkan telunjuknya dihadapan Eric.


" Ya elah. Perhitungan banget sama Kakaknya sendiri." Ucap Eric sebal.


" Kak, Dania kasih tau ya! Gak ada yang bisa beli sebuah pengalaman. Apalagi pengalaman yang berharga. " Ucap Dania lebih sombong lagi.


" Eleh, apaan tuh motivator malah kasih gratis buka bimbingan kemana mana lagi."


" Yaudah Kakak belajar sama motivator itu aja sono! Jangan sama Dania."


Dania mulai pergi meninggalkan Eric.


" Ya kali! Gue masak harus belajar mandiri dan sukses gak nyambung lah Dan, Dania Lo beneran gak mau bantu nih."


" Enggak! " Jawab Dania dari dalam kamar.


Eric mulai sebal Dania senang sekali mempermainkan perasaannya.


Mereka makan sarapan pagi dengan secangkir teh hangat. Ibu Melati sudah rajin menyiapkan sarapan di sepagi ini. Piring berisi makanan sudah penuh memenuhi meja.


" Riki malah gak mau pulang!" Ucap Riki senang dan merasa lebih betah tinggal disini.


" Hehe Riki boleh kok tinggal disini! Jangan lupa bayar bulanan ya?" Canda Eric pada Riki. Pak Burhan langsung menyenggol siku Eric.


" Eric! Ngomong apa sih? " Sentak Pak Burhan halus.


" Hehe maaf bercanda ya Riki." Eric menyadari jika Pak Burhan tak suka dengan ucapannya itu.

__ADS_1


" Hehe gak papa Kak. Tenang aja kalo harus bayar uang mah Riki siap banget."


" Widih, rejeki nomplok nih. Nanti kalo dibikin film judulnya Kakak Iparku yang matre menyuruhku membayar setiap bulan tanpa ampun! Wkwkw."


Eric tertawa di ikuti semuanya.


" Hahaha itu judul film apa tali jemuran panjang amat Ric?" Ibu Melati sampai menangis karena lelah tertawa akibat candaan Eric yang tiada habisnya itu.


" Apa nih, Dania kok gak diajak!" Dania baru bisa bergabung setelah Ia selesai mandi dan ganti baju.


" Dan, maaf baru bisa kasih tahu sekarang. Sebenarnya keluarga kita punya rahasia!" Ucap Eric dengan wajah serius.


" Apa Kak?" Dania langsung duduk lebih mendekat pada sang Kakak.


" Jadi, hiks Kamu itu anak pungut!"


Pak Burhan dan Bu Melati langsung menatap tajam Eric melihat ekspresi Dania langsung terdiam.


" Kakak beneran?"


" Eric! Gak lucu ya! " Bu Melati mulai ikut memarahinya karena bercandanya mulai keterlaluan.


" Buahahahahahahahah. Tapi bohong. "


Erik memegangi perutnya itu tertawa sampai akhirnya Dania datang dan menjambak rambutnya.


" Aduhh sakit Dania,"


" Aduduhh. Dan stop Dan, ampun! " Rintih Eric mulai merasakan perih dikulit kepalanya.


" Bilang dulu, Dania yang cantik dan imut tolong berhenti ya! Gitu."


Eric mau tak mau menuruti perintah Dania sebelum rambutnya lepas dari tempat asalnya.


" Dania cantik dan imut tolong lepasin." Eric mengatakan hal itu ditambah memasang wajah imutnya.


" Nah pinter! " Dania baru melepaskan tangannya seketika.


**


Setelah acara sarapan pagi telah rampung. Dania dan Riki berpamitan pada Pak Burhan untuk pergi. Mereka belum mengaku, jika kepergian Mereka untuk meminta restu.


" Hati hati dijalan ya! Selamat akhir pekan!"


Suara Pak Burhan dari luar tetap terdengar meskipun Dania dan Riki ada didalam mobil.


Benar-benar Ayah idaman bagi semua orang.


" Aku besok kalo udah punya anak pengen banget jadi sosok Ayah kayak Pak Burhan!" Ucap Riki sesekali melihat depan fokus menyetir.

__ADS_1


" Hehe, Aku beruntung banget berarti yah? Kamu sampai mimpi pengen jadi Ayah!" Ucap Dania bersyukur mempunyai Ayah seperti Beliau.


Riki hanya tersenyum. Mereka telah sampai dirumah Riki setelah satu jam kemudian.


" Tumben ada dirumah!" Ucap Riki melihat mobil Anggoro masih anteng di area halaman.


Dania hanya diam mengikuti Riki masuk kedalam.


Anggoro sedang sarapan sendiri dan Siska sibuk didapur. Ternyata Neneknya datang bahkan duduk bersama Anggoro.


" Wah! Cucu Nenek pulang!" Sapa Nani neneknya Riki dari Papanya Anggoro.


" Nenek? Kapan datang? "


Riki membalas pelukan Neneknya itu dengan senang.


" Nenek baru semalam Ky, Nenek nyariin Kamu, tapi Anggoro bilang Kamu lagi sibuk!" Ucap Nenek tak tahu jika Riki kemarin telah menghajar putranya sampai babak belur.


Anggoro hanya melirik dan kembali membaca koran sepertinya Anggoro tak menceritakan kejadian kemarin pada Ibunya.


" Nenek, kenalkan ini pacar Riki, namanya Dania?" Ucap Riki mengenalkan Dania yang dari tadi ada dibelakangnya.


" Wah. Cantik! Dia dari anak Pengusaha mana Ky? Apa usaha keluarganya? Properti? Atau penjual saham?" Tanya Nani yang mengira jika Dania juga orang berada.


Dania meneguk silvanya sendiri apakah harus berkata jujur jika Dia bukanlah orang berada.


"Hahaha jelaslah Nek, Dia gak bisa jawab malu kali. " Siska keluar lebih semangat untuk memberitahu kenyataan pada Nani.


" Maksudnya apa Siska?" Tanya Nani.


" Dia ini bukan orang kaya Nek, cuma orang miskin yang numpang hidup enak sama Riki. Semua keperluan tentu saja Riki yang penuhi. Ya kan Ky, jawab dong Ky, jangan diem aja." Tante Siska sengaja menekan Riki. Tante Siska masih dendam ketika Riki tak mau menghormatinya.


" Oh jadi Dia orang miskin? Gak seimbang dengan Kita dong Ky? Gimana kalo ternyata Dia cuma mau morotin uang Kamu saja!" Ekspresi wajah Nani semula ramah berubah menjadi sengit memandang remeh Dania.


Tubuh Dania bergetar menahan rasa malu dan sakit hati.


" Saya permisi dulu!" Dania membawa tasnya dan keluar dari rumah itu.


Riki ingin mengejar tapi Nani memegang tangannya.


" Gak usah dikejar biarin aja."


Riki langsung menepis kasar tangan Nani dan mengejar Dania.


Nani tak menyangka Riki akan bersikap kasar padanya.


" Kenapa Riki sekarang berubah? " Ucap Nani sedih, Siska langsung mendekati Nani siap mengompori untuk ikut membenci Dania


Tiba tiba suara..

__ADS_1


"Brakkk."


To be continued...


__ADS_2